Mubadalah.id – Sampah di sekolah ternyata tidak selalu berada di tempat sampah. Siang itu aku mengikuti rapat dinas yang rutin berlangsung. Suara guru yang saling menyampaikan pendapat bercampur dengan suara derit kipas yang terdengar pelan. Di sela-sela rapat tanpa sengaja tanganku masuk ke laci meja siswa yang ada di hadapanku. Aku merasa ada sesuatu di dalamnya, sepertinya plastik, karena ada suara kresek-kresek saat aku mencoba meraba.
Aku ambil HP, kuhidupkan senter dan kuarahkan ke dalam laci meja. Spontan saya bergumam, “Ya Allah, apa ini?”. Segera ku rogoh dan ku arahkan keluar. Ada kertas sisa hitungan yang diremas asal-asalan, ada bungkus snack yang menyisakan remahan makanan, dan ada juga sisa air pada gelas bekas air mineral.
Selanjutnya, aku mulai mencari lagi secara lebih detail. Di laci sudah bersih. Namun, ketika aku melihat ke bawah kursi, ada sesuatu yang menguar dari bawah kursi. Bukan bau kayu lembap, bukan juga bau buku yang lama. Melainkan bau sisa makanan yang sudah lama tertinggal. Di sudut kursi aku menemukan bungkus cilok yang sudah kusam. Dengan mengusap hidung, aku mengambilnya. Ada sisa tahu dan somay yang sudah membusuk dan berubah warna.
Pemandangan ini mungkin tidak mengejutkan. Di kelas atau di sekolah lain mungkin juga sudah biasa. Tapi yang jadi pertanyaan di benak saya, ”di kelas, di tempat yang setiap hari digunakan untuk belajar, kok bisa banyak sampah berserakan?”
Sebenarnya siapa yang salah? Anak-anak? Guru? Petugas kebersihan? Atau kita semua?.
Sampah di Sekolah dan Hafalan yang Berhenti di Kepala
Yang membuat pertanyaan semakin menyesakkan adalah kenyataan bahwa sekolah itu adalah tempat penuh nasihat tentang kebersihan. Di depan masing-masing kelas sudah tersedia tempat sampah, bahkan sudah dibedakan. Ada yang tulisannya organik dan nonorganik. Banner larangan membuang sampah sembarangan juga sudah terpampang jelas di mana-mana. Bahkan hampir seluruh siswa hafal hadis nabi yang sering mereka dengar sejak kecil:
النَّظَافَةُ مِنَ الْإيْمَا
“Kebersihan adalah sebagian dari pada iman”
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
”Kesucian itu separuh dari iman” (HR Muslim)
Mereka hafal, kita juga hafal, namun entah mengapa hafalan itu hanya ada pada kepala, tidak sampai ke aksi nyata.
Dari Laci Kelas hingga Gunungan Sampah Kota
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan Indonesia menghasilkan 56,63 juta ton sampah setiap tahun. Pemerintah dapat mengelola dengan baik sebanyak 40%, namun sisanya masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa pengelolaan yang memadai. Selain itu ada yang terbuang di lingkungan melalui pembakaran, illegal dumping, dan dibuang ke badan air.
Di Jember, tumpukan sampah di TPA Pakusari kian menggunung. Pada waktu-waktu tertentu, aroma menyekat bahkan tercium hingga ke kawasan sekitar. Pemandangan ini seolah menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak lagi bisa kita anggap sepele.
Jika menengok saluran-saluran air di kawasan perkotaan, sebagian tampak menghitam akibat bercampurnya limbah domestik yang terus mengalir. Di sejumlah titik, sungai tidak hanya membawa air, tetapi juga plastik, styrofoam, dan berbagai jenis residu rumah tangga. Ketika musim hujan tiba, genangan dan banjir kerap muncul. Tentu penyebabnya beragam, tetapi sampah yang menyumbat aliran air menjadi salah satu faktor yang sulit diabaikan.
Ironisnya, kita sering menjadi bagian dari persoalan yang kita keluhkan sendiri. Kita meninggalkan bungkus jajanan di laci meja, di bawah kursi, atau memilih berlalu ketika melihat sampah berserakan.
Mungkin tindakan itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi dampaknya bisa bertahan jauh lebih lama. Sampah tidak pernah lenyap begitu saja. Ia terus berpindah, menumpuk dari hari ke hari, hingga akhirnya menjelma menjadi gunungan sampah, saluran air yang tersumbat, sungai yang tercemar, dan masalah lingkungan yang harus banyak orang tanggung.
Pendidikan Lingkungan sebagai Teladan
Membuang sampah pada tempatnya mungkin terdengar sepele. Namun setiap kali kita menyelipkan bungkus makanan ke dalam laci, meninggalkan gelas plastik di sudut kelas, atau berpura-pura tidak melihat sampah yang jatuh di depan kaki kita, saat itu juga kita sedang menyerahkan masalah kepada orang lain.
Esok harinya, petugas kebersihan yang harus memungutnya. Teman sekelas yang harus mencium baunya. Seluruh penghuni kelas harus belajar dalam ruang yang kurang nyaman. Padahal, kita hanya membutuhkan beberapa langkah untuk membawa sampah itu ke tempat sampah.
Anak-anak tidak tumbuh menjadi peduli terhadap lingkungan karena membaca tulisan “Buanglah Sampah pada Tempatnya” yang terpajang di dinding kelas. Mereka belajar ketika melihat gurunya memungut sampah yang tercecer tanpa mengomel. Siswa dapat belajar ketika melihat temannya berjalan kembali ke tempat sampah setelah menyadari bungkus jajannya masih berada di atas meja. Mereka juga belajar ketika orang dewasa melakukan apa yang mereka ucapkan.
Karena itu, kita tidak perlu menunggu program besar untuk mulai menjaga lingkungan. Ia dimulai ketika kita berhenti berkata, “Nanti ada yang membersihkan,” lalu membungkuk, mengambil sampah itu, dan membuangnya pada tempatnya. Tindakan sederhana tersebut mungkin tidak mengubah dunia dalam sehari, tetapi dapat mengubah budaya yang kita bangun bersama setiap hari. []










































