Mubadalah.id – Sebagian orang berusia lanjut mengalami kesulitan mengingat banyak hal, dan sulit berpikir jernih. Dalam bahasa sehari-hari problema ini biasa disebut pikun, atau penurunan kemampuan mental. Kalau parah, dalam bahasa kedokteran disebut dementia.
Tanda-tanda pikun:
Pertama, sulit memusatkan perhatian (konsentrasi), atau terhenti tiba-tiba di tengah percakapan. Kalimat yang diutarakan berhenti di tengah jalan.
Kedua, mengulang-ulang pembicaraan tentang sesuatu, dan lupa kalau sebelumnya sudah Anda utarakan.
Ketiga, sulit mengerjakan tugas sehari-hari, termasuk barangkali melupakan cara mengenakan pakaian atau menyiapkan makanan.
Keempat, terjadi perubahan perilaku yang mengejutkan atau membingungkan orang di sekitarnya, misalnya mendadak gampang tersinggung, suka marah, atau melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Semua itu terjadi akibat perubahan dalam otak. Biasanya pikun tidak terjadi secara mendadak, tapi perlahan-lahan melewati jangka waktu yang lama.
Pikun mendadak mungkin bukan disebabkan oleh penuaan usia, melainkan timbunan limbah obat-obatan yang terlalu banyak di dalam tubuh, disebut toksisitas, semacam keracunan, suatu infeksi yang parah, kurang gizi, atau tekanan batin yang terlalu berat. Bila akar masalahnya dapat diatasi, biasanya pikun mendadak ini hilang.
Tidak ada obat untuk menghalau pikun. Yang harus Anda lakukan adalah memperhatikan dan membantu orang yang pikun, dan ini bisa sangat memberatkan anggota keluarganya.
Bila mungkin, usahakan bantuan orang luar. Usahakan pula:
Pertama, agar lingkungan sekitarnya aman. Kedua, kegiatan rutin sehari-hari yang Anda lakukan secara teratur atau dalam urutan yang sama, agar ia tidak bingung.
Ketiga, barang-barang yang sudah dikenalnya ditaruh di sekitar rumah. Keempat, bicara padanya dengan nada pelan dan tenang, berikan waktu yang cukup untuk menjawab.
Kelima, tetapkan pilihan yang tegas tanpa banyak kemungkinan lain, misalnya pertanyaan sebaiknya bisa Anda jawab “ya” atau “tidak” saja. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 174.










































