Sabtu, 18 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    Milik Suami

    Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    Zuhud

    Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

    Obat

    Mengapa Obat Antibiotik Harus Dihabiskan? Kenali Bahaya Resistensi Antibiotik

    Infeksi Area Kelamin

    Tips Meredakan Nyeri akibat Infeksi pada Area Kelamin

    kelenjar Bartholin

    Cara Mengatasi Vagina Bengkak Akibat Infeksi Kelenjar Bartholin

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    Milik Suami

    Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    Zuhud

    Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

    Obat

    Mengapa Obat Antibiotik Harus Dihabiskan? Kenali Bahaya Resistensi Antibiotik

    Infeksi Area Kelamin

    Tips Meredakan Nyeri akibat Infeksi pada Area Kelamin

    kelenjar Bartholin

    Cara Mengatasi Vagina Bengkak Akibat Infeksi Kelenjar Bartholin

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

Tim pemimpin beragam gender cenderung membangun budaya kerja yang lebih mengutamakan tanggung jawab jangka panjang

Layyin Lala by Layyin Lala
18 Juli 2026
in Publik
A A
0
Kepemimpinan Beragam Gender

Kepemimpinan Beragam Gender

8
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Krisis lingkungan yang kita hadapi sekarang, mulai dari perubahan iklim, hingga sampah yang menumpuk. Membutuhkan cara berpikir baru dalam mengelola perusahaan dan organisasi. Salah satu ide yang belakangan ramai oleh para peneliti adalah soal siapa yang duduk di kursi pemimpin. 

Sebuah kajian yang terpublish dalam jurnal Environment and Social Psychology mencoba menjawab pertanyaan sederhana dan penting ini. Apakah organisasi yang terpimpin oleh lebih banyak perempuan cenderung lebih peduli. Dan lebih berhasil menjaga lingkungan dibanding organisasi yang jajaran pemimpinnya dominasi laki-laki. 

Penelitian tersebut menganalisis lima puluh organisasi dari berbagai sektor, mulai dari energi, manufaktur, jasa lingkungan, teknologi, sampai logistik. Tersebar di Amerika Utara, Eropa, dan kawasan Asia Pasifik. Hasilnya cukup menarik untuk kita bahas bersama dengan bahasa yang lebih santai.

Ketika Perempuan Naik ke Kursi Pemimpin

Selama bertahun-tahun, dunia kerja masih menghadapi kesenjangan yang lebar. Antara jumlah laki-laki dan perempuan yang duduk di posisi pengambil keputusan tertinggi. Padahal, perempuan sudah lama berperan penting dalam pengelolaan sumber daya alam di tingkat komunitas. Misalnya dalam menjaga hutan, mengelola air, atau membangun ketahanan masyarakat menghadapi bencana. 

Sayangnya, peran besar itu belum sepenuhnya tercermin di ruang rapat perusahaan besar. Para peneliti melihat ini sebagai celah yang perlu diisi, karena keragaman pandangan dalam tim pemimpin dipercaya bisa memperluas cara organisasi melihat masalah dan mencari solusi.

Studi ini menggunakan pendekatan campuran. Yaitu menggabungkan data angka dari laporan lingkungan perusahaan dengan wawancara mendalam kepada sepuluh eksekutif senior. Data soal emisi karbon, konsumsi energi, tingkat daur ulang sampah, dan efisiensi penggunaan air dikumpulkan dari laporan keberlanjutan resmi perusahaan.

Lalu dicocokkan dengan data dari lembaga independen seperti Carbon Disclosure Project dan basis data ESG dari Refinitiv serta Bloomberg. Cara tersebut dipakai supaya angka yang dianalisis benar-benar bisa dipercaya. Sesuai dengan standar pelaporan internasional seperti Global Reporting Initiative.

Organisasi dalam penelitian ini kemudian dikelompokkan menjadi empat kuartil berdasarkan persentase perempuan di jajaran pemimpin. Mulai dari kelompok dengan proporsi perempuan paling rendah sampai kelompok dengan proporsi perempuan paling tinggi. Pembagian kelompok semacam ini membantu peneliti melihat pola secara lebih jelas. Apakah semakin tinggi keterwakilan perempuan, semakin baik pula performa lingkungan organisasi tersebut.

Angka-angka yang Berbicara

Hasil dari penelitian ini memperlihatkan pola yang cukup konsisten di seluruh indikator yang diukur. Organisasi dengan proporsi perempuan pemimpin paling rendah rata-rata melepaskan sekitar 25.000 ton karbon dioksida per tahun. Sedangkan organisasi dengan proporsi perempuan pemimpin paling tinggi melepaskan sekitar 14.800 ton, atau turun sebanyak 40,8 persen.

Pola serupa juga terlihat pada konsumsi energi, di mana kelompok dengan keterwakilan perempuan tertinggi mampu menekan pemakaian energi hingga 28,6%. Lebih rendah daripada kelompok dengan keterwakilan perempuan terendah.

Selain soal emisi dan energi, penelitian ini juga melihat pengelolaan sampah dan air. Tingkat daur ulang sampah pada organisasi dengan keterwakilan perempuan tertinggi mencapai 72 persen. Jauh lebih tinggi dibanding 60 persen pada kelompok dengan keterwakilan perempuan terendah. Untuk penggunaan air, kelompok dengan keterwakilan perempuan tertinggi mencatat penghematan sekitar 24,1 persen dibanding kelompok lainnya. 

Ketika seluruh indikator ini digabungkan menjadi satu skor gabungan yang kita sebut indeks keberlanjutan komposit. Kelompok dengan keterwakilan perempuan tertinggi meraih skor 84 dari 100. Jauh mengungguli skor 65 pada kelompok dengan keterwakilan perempuan terendah.

Dampak Presentase Keterwakilan Perempuan

Peneliti juga menghitung seberapa erat hubungan antara persentase perempuan pada jajaran pemimpin dengan setiap indikator lingkungan menggunakan metode statistik yang disebut korelasi Pearson.

Hasilnya menunjukkan hubungan yang cukup kuat. Keterwakilan perempuan berkaitan erat secara terbalik dengan emisi karbon dan konsumsi energi. Artinya semakin tinggi keterwakilan perempuan, semakin rendah kedua angka tersebut. 

Sebaliknya, keterwakilan perempuan berkaitan erat secara searah dengan tingkat daur ulang sampah dan efisiensi penggunaan air. Artinya semakin tinggi keterwakilan perempuan, semakin baik pula kedua indikator itu.

Seluruh angka ini muncul dengan tingkat kepercayaan statistik yang tinggi, sehingga peneliti cukup yakin bahwa pola ini merupakan pola yang konsisten. Dan kemungkinan kebetulan dalam pengambilan sampel sangatlah kecil.

Analisis statistik lanjutan yang dilakukan peneliti juga menguatkan pola tersebut. Setelah memperhitungkan faktor lain seperti ukuran organisasi, sektor usaha, dan wilayah geografis. Persentase perempuan di jajaran pemimpin tetap menjadi faktor yang berkaitan erat dengan performa keberlanjutan secara keseluruhan. Dan mampu menjelaskan sekitar 61persen.

Para peneliti sendiri berhati-hati dalam menyimpulkan hasil ini. Mereka menekankan bahwa hubungan yang ada bersifat keterkaitan, dan perlu penelitian jangka panjang untuk memastikan arah sebab akibatnya.

Mengapa Ini Bisa Terjadi?

Pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita adalah, mengapa organisasi dengan beragam gender atau keterwakilan perempuan lebih tinggi cenderung memiliki performa lingkungan yang lebih baik. Dari wawancara dengan para eksekutif, peneliti menemukan beberapa pola menarik. Tim pemimpin yang lebih beragam gender cenderung membangun budaya kerja yang lebih mengutamakan tanggung jawab jangka panjang. Daripada mengejar keuntungan jangka pendek semata. 

Para eksekutif yang terwawancarai juga menceritakan bagaimana pemimpin perempuan sering mendorong pendekatan yang lebih hati-hati, konsisten, dan terstruktur dalam menyusun kebijakan lingkungan. Misalnya dengan membangun sistem pemantauan yang lebih rapi atau menjalin kerja sama jangka panjang dengan mitra daur ulang.

Selain itu, keragaman pandangan yang terbawa oleh tim pemimpin yang lebih beragam gender juga membantu organisasi melihat masalah lingkungan dari berbagai sudut. Sehingga solusi menjadi lebih menyeluruh. Hal tersebut terlihat dari angka standar deviasi pada setiap indikator, yang cenderung lebih kecil pada kelompok dengan keterwakilan perempuan tinggi. Artinya, performa lingkungan pada kelompok ini lebih stabil dan konsisten dari waktu ke waktu, daripada kelompok lain yang variasinya lebih lebar.

Catatan yang Perlu Kita Kritisi

Meski begitu, penelitian ini juga mengingatkan kita untuk tetap kritis. Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebelum kita menarik kesimpulan terlalu jauh mengenai kepemimpinan beragam gender. Pertama, keragaman gender di sini masih terukur secara sederhana, yaitu perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan saja, sehingga belum mencakup identitas gender yang lebih luas seperti kelompok non-biner. 

Kedua, penelitian tersebut belum sepenuhnya memperhitungkan perbedaan tekanan regulasi pada setiap sektor dan wilayah. Padahal aturan pemerintah juga besar pengaruhnya terhadap performa lingkungan sebuah organisasi. Ketiga, penelitian ini masih bersifat potret sesaat, sehingga belum bisa menjelaskan apakah pola tersebut akan bertahan dalam jangka panjang, misalnya ketika terjadi pergantian pemimpin pada masa depan.

Terlepas dari berbagai catatan tersebut, hasil penelitian ini tetap memberi gambaran yang berguna bagi siapa pun yang peduli pada masa depan lingkungan kita. Ketika perusahaan dan organisasi mulai serius membuka ruang lebih luas bagi perempuan untuk memimpin, ada kemungkinan besar bahwa langkah kecil ini akan berdampak besar bagi lingkungan sekitar kita. 

Mendukung Keterwakilan Perempuan

Kebijakan yang mendukung keterwakilan perempuan pada posisi strategis, misalnya melalui program pengembangan kepemimpinan atau sistem penilaian kinerja yang menghargai pencapaian keberlanjutan. Layak kita pertimbangkan oleh para pengambil kebijakan dan pemimpin organisasi pada berbagai sektor.

Selain data angka, waancara dengan para eksekutif juga memperlihatkan gambaran yang lebih hidup soal bagaimana proses pengambilan keputusan berjalan di lapangan. Beberapa eksekutif menceritakan bagaimana kehadiran pemimpin perempuan sering membawa cara pandang yang lebih peka terhadap dampak jangka panjang sebuah kebijakan, baik terhadap lingkungan maupun terhadap karyawan dan masyarakat sekitar. 

Cara pandang semacam ini, menurut para peneliti, membantu organisasi membangun sistem tata kelola lingkungan yang lebih rapi, mulai dari pelatihan karyawan soal isu lingkungan, penyusunan target emisi yang lebih terukur, sampai kerja sama dengan mitra eksternal untuk mendukung praktik ramah lingkungan.

Hasil dari kajian ini tentu perlu kita baca dengan pikiran yang terbuka dan kritis. Sampel lima puluh organisasi memang tergolong cukup untuk menemukan pola statistik yang jelas, meski jumlah ini masih terbatas jika kita bandingkan dengan puluhan ribu perusahaan yang beroperasi di seluruh dunia. Setiap sektor usaha juga punya tantangan lingkungan yang berbeda beda. Sehingga perusahaan pada sektor energi misalnya, punya tekanan regulasi yang jauh berbeda daripada perusahaan pada sektor teknologi. 

Refleksi

Penelitian ini mengajak kita untuk melihat keberlanjutan lingkungan juga sebagai soal siapa yang duduk pada meja pengambil keputusan (selain soal teknologi atau anggaran). Semakin beragam suara yang kita dengar dalam sebuah organisasi, semakin besar pula peluang munculnya kebijakan yang lebih peka terhadap kebutuhan bumi kita. 

Penelitian lanjutan tentu masih kita butuhkan, terutama untuk melihat pola ini dalam jangka waktu yang lebih panjang dan pada berbagai wilayah dengan latar belakang budaya serta aturan yang berbeda. Meski begitu, keberagaman kepemimpinan dan kepedulian pada lingkungan bisa berjalan beriringan, saling menguatkan satu sama lain menuju masa depan yang lebih hijau. []

Sumber:

Saad Ahmed, O., Saad Jasim, D., Mohammed, Z.M., Abduljabbar Al-Dargazaly, R.A. and Abbas, H.A. (2025). Gender Diversity in Environmental Leadership and Its Impact on Sustainability. Environment and Social Psychology, 10(11). doi:10.59429/esp.v10i11.3977.

 

Tags: cara pandangkebijakanKepemimpinan Beragam GenderKepemimpinan PerempuanketerwakilanRefleksi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

Next Post

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

Scrolling
Buku

Meminjam Kacamata Kebahagiaan di Tengah Doomscrolling: Refleksi Membaca The Atlas of Happiness

17 Juli 2026
Militerisasi
Publik

Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

17 Juli 2026
Kepemimpinan Abu Bakar
Hikmah

Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

15 Juli 2026
Perempuan Pembela Keadilan
Publik

Siapa Menjaga Perempuan Pembela Keadilan?

15 Juli 2026
There's a Man
Personal

“There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

9 Juli 2026
Pemadaman Listrik
Aktual

Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

30 Juni 2026
Next Post
HIV

Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?
  • Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender
  • Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS
  • Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi
  • Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0