Mubadalah.id – Sejumlah warga Nahdlatul Ulama (NU), akademisi, aktivis sosial, petani, nelayan, guru, pedagang kecil, hingga pendamping buruh migran berkumpul dalam Halaqah Pra-Musyawarah Besar (Mubes) Warga NU Cirebon Raya di Pondok Pesantren Khatulistiwa Kempek, Kabupaten Cirebon, Senin (1/6/2026).
Mengusung tema “NU dan Krisis Kehidupan Rakyat: Mendengar Suara Akar Rumput dan Ketahanan Warga NU di Tengah Krisis Ekonomi, Sosial, dan Kebijakan Negara”, forum tersebut menjadi ruang untuk mendengarkan langsung pengalaman masyarakat akar rumput yang menghadapi berbagai tekanan kehidupan sehari-hari.
Keynote speaker, KH. Marzuki Wahid, mengatakan halaqah tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial maupun forum diskusi kalangan elite. Menurutnya, forum ini sengaja dirancang sebagai ruang mendengar suara masyarakat yang selama ini jarang mendapatkan tempat dalam forum-forum resmi organisasi.
“Hari ini kita ingin mendengar secara langsung suara petani, nelayan, guru, pedagang kecil, pendamping buruh migran, aktivis sosial, akademisi, santri, dan warga NU. Mereka adalah pihak yang merasakan langsung dampak dari berbagai kebijakan dan kondisi sosial-ekonomi yang sedang terjadi,” ujarnya.
Rektor ISIF Cirebon itu menjelaskan, penyelenggaraan Musyawarah Besar Warga NU memiliki akar historis dalam perjalanan NU. Ia mengingatkan bahwa forum serupa pernah digelar di Babakan pada 2004 sebagai ruang refleksi dan kritik konstruktif bagi organisasi.
Menurutnya, penggunaan istilah Musyawarah Besar Warga NU bukan tanpa alasan. Selama ini forum-forum resmi NU seperti muktamar, konferensi wilayah, konferensi cabang, maupun konferensi tingkat MWC lebih banyak menjadi arena para pengurus organisasi.
“Warga NU yang bukan pengurus sering kali hanya menjadi penonton. Mereka tidak memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan pengalaman, kritik, maupun gagasan. Karena itu, forum ini hadir untuk memberikan ruang yang lebih luas kepada warga,” katanya.
Menjadi Ruang Warga
Ia menegaskan bahwa Musyawarah Besar Warga NU bukan forum tandingan terhadap struktur organisasi NU dan bukan pula arena perebutan jabatan. Forum tersebut, katanya, semata-mata menjadi ruang warga untuk menyampaikan aspirasi serta melakukan refleksi terhadap berbagai persoalan yang masyarakat hadapi.
“Kalaupun ada kritik yang disampaikan, itu bukan karena ingin merebut jabatan atau melawan siapa pun. Kritik lahir dari pengalaman nyata warga yang merasakan dampak berbagai kebijakan dan kondisi sosial yang terjadi,” ujar Marzuki.
Ia menambahkan bahwa NU tidak boleh tercerabut dari realitas kehidupan rakyat. Sebagai organisasi yang memiliki basis massa terbesar di Indonesia, NU harus tetap dekat dengan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari
Selain itu, Marzuki juga mengatakan bahwa berbagai pandangan dan kesaksian yang muncul dalam halaqah akan kita himpun menjadi catatan sosial warga NU. Hasil diskusi tersebut selanjutnya akan kita rumuskan menjadi rekomendasi yang dapat ditujukan kepada masyarakat, pemerintah, maupun institusi NU.
“Forum ini ingin menghasilkan catatan sosial warga NU, refleksi kebangsaan, rekomendasi bersama, dan solidaritas nyata antarwarga. Kita ingin membangun kesadaran bahwa persoalan rakyat tidak boleh kita pandang sebagai persoalan kelompok tertentu saja,” katanya.
Ruang Dialog
Ia menilai berbagai persoalan yang masyarakat hadapi saat ini membutuhkan ruang dialog yang terbuka. Karena itu, forum halaqah memberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk menyampaikan pandangan tanpa rasa khawatir selama tetap mengedepankan data, pengalaman nyata, dan etika berdiskusi.
Menurutnya, NU harus terus menjadi rumah bersama bagi warga yang mengalami kegelisahan sosial, ekonomi, maupun kemanusiaan. Kritik terhadap kondisi yang ada tidak seharusnya kita pahami sebagai bentuk permusuhan. Melainkan sebagai upaya memperkuat organisasi agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“NU adalah kita semua. Ketika kita berbicara tentang NU, kita sedang berbicara tentang diri kita sendiri. Karena itu, kritik harus menjadi bahan introspeksi bersama untuk memperkuat peran NU di tengah masyarakat,” ujarnya.
Melalui halaqah tersebut, para peserta berharap Musyawarah Besar Warga NU yang akan mereka gelar mendatang mampu melahirkan rumusan-rumusan yang lebih komprehensif mengenai kondisi masyarakat akar rumput.
Rumusan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memperkuat peran sosial, ekonomi, dan kebangsaan warga NU di tengah berbagai tantangan yang rakyat saat ini hadapi. []












































