Mubadalah.id – Tuhan sengaja memberikan limpahan kekayaan berupa keberagaman supaya kita menjadi lebih arif dan dewasa. Senantiasa saling mengenal, memahami, dan menghormati satu sama lain. Tetapi, nampaknya itu sulit sekali dilakukan. Kita masih sering terjebak dalam logika etika yang cenderung performatif dan pilih-pilih. Bahkan tak jarang sengaja berlaku negatif terhadap liyan.
Teman-teman disabilitas menjadi contoh rawan bagi praktik semacam itu. “Mereka masih dianggap noda yang harus ditutupi dan terabaikan.” Begitulah pernyataan yang tertulis dalam salah warta Harian Kompas edisi 23 Ferbruari 2026, Ikhtiar “Memanusiakan” Anak-anak Disabilitas. Bahkan, yang lebih bikin hati ngilu, oleh keluarganya sendiri pun banyak dari mereka tidak dipandang sebagai manusia seutuhnya.
Sulit membayangkan betapa sukarnya hidup mereka bilamana lingkungan kehidupan mereka berpandangan “tidak ramah” semacam itu. Apalagi kebanyakan nasib hidup mereka berada dalam lingkar kondisi keluarga dengan kemiskinan ekstrem. Bertumpuk-tumpuklah kesukaran yang mereka jalani: lingkungan keluarga mengganggap aib, lingkungan sosial menilai beban, perhatian negara masih minim.
Upaya-upaya membangun cara pandang moral dan pengakuan eksistensial bagi keberadaan teman-teman disabilitas akhirnya menjadi ihwal yang wajib dan segera mungkin kita upayakan bersama. Zaman sudah semakin maju. Beriringan dengan semakin berkembangnya perspektif pengetahuan dan cara berkesadaran. Pilihan untuk terus-menerus memperdalam dan memperkaya pemahaman harus sudah jadi kebutuhan akal dan nurani.
Disabilitas bukan aib. Ia tidak hadir di dunia sebagai entitas yang boleh dianggap beban. Alteritas kehadiran mereka dalam semesta kehidupan ini haruslah kita pahami dalam relasi kesalingan: mengedepankan sikap adil dan rasa hormat.
“Wajah” Disabilitas
Alteritas disabilitas dalam ruang sosial kehidupan kita muncul sebagai penampakan “Wajah”, yang oleh Emmanuel Levinas, merupakan “suatu kejadian etis.” Kehadiran dan keberadaannya menyeru kepada kita agar mempraktikkan keadilan dan kebaikan. “Wajah” selalu menyapa kita dan kita tak boleh acuh tak acuh. Ia hadir lebih dari sekadar hubungan silaturahmi. Bahkan, dalam uraian filosofisnya, Levinas kurang setuju dengan model relasi Aku-Engkau ala filsafat dialogis Martin Buber.
Keberatan fundamental Levinas berangkat dari pemahamannya bahwa relasi dengan sesama (sebagai “Yang Lain”) tidaklah ditandai resiprositas, melainkan asimetris. Menurutnya, yang harus kita berikan kepada orang lain, tidak boleh kita tuntut dari orang lain tersebut. Secara ilustratif, begini: saya boleh memberikan hidup saya untuk kebutuhan Anda, tetapi saya tidak berhak membuat Anda menjadi keuntungan dan kegunaan untuk saya.
Bagi Levinas, hadirnya sesama ke hadapan kita bermaksud menyeru agar kita mengambil tanggungjawab etis. Sehingga, relasi kita dengan sesama tidaklah boleh berdasarkan pada do ut des atau balas jasa. Ini bukan sekadar tidak menempatkan “Yang Lain” itu sebagai objek, jika model pemikiran Levinas ini dikaitkan dengan cara kita memahami keberadaan teman-teman disabilitas sebagai “Wajah Yang Lain”.
Sebetulnya pula, ini adalah upaya pencarian Levinas secara metafisis untuk memahami keberadaan Allah. Dimensi Ilahi, menurutnya, membuka diri dalam “Wajah Yang Lain”, sesama mahkluk. Melalui “Wajah Yang Lain” itu, sebenarnya kita sedang menghadapi yang lain sama sekali, yaitu Allah. Tetapi ini tidak berlangsung pada taraf pengenalan teoritis, melainkan dalam konteks praktik etis.
Artinya, Tuhan hadir kepada kita sejauh kita mengamalkan keadilan dan kebaikan kepada sesama yang membutuhkan pertolongan. Relasi kita dengan Tuhan tidak dapat lepas dari relasi etis kita dengan sesama. Mengenal Allah berarti mengetahui apa yang harus kita perbuat terhadap sesama. Sebab, sifat-sifat Allah tidak mewujud dalam modus indicatius, tetapi dalam modus imperativus. Allah itu murah hari, maka hendaklah engkau murah hati seperti Dia.
Disabilitas dan kehadiran autentik
Sebagai entitas, teman-teman disabilitas juga punya hak atas eksistensinya hadir di dunia secara otentik. Sartre dan Beauvoir berpendapat bahwa kita umumnya eksis sebagai “makhluk-untuk-orang-lain” (un être-pour-autrui). Yakni, bahwa “saya memahami atau melihat diri saya seperti yang saya lakukan melalui pandangan Yang Lain (the Other)”. Sebuah kekuatan yang dapat membuat individu terampas kebebasan eksistensinya dan mengubahnya menjadi objek belaka.
Mudahnya kita sebagai suatu konflik. Ajang perebutan kekuasaan diadik ketika individu mencoba menegaskan subjektivitas kebebasannya dengan keberadaan “Yang Lain” menjadi objek. Begitupun sebaliknya. Namun, tentu saja, pergulatan untuk mengobjektifikasi dan memiliki Yang Lain dengan merampas kebebasan mereka adalah manifestasi dari keberadaan-orang-lain yang tidak autentik.
Ada pandangan hubungan yang autentik. Beauvoir telah mengeksplorasi apa artinya mengembangkan dan memupuk kebebasan bagi orang lain dengan uraiannya tentang “cinta autentik” (l’amour authentique). Ia menggambarkannya sebagai hubungan di mana kita mengakui dan memelihara kebebasan dan transendensi orang lain, yang pada saat bersamaan menolak godaan itikad buruk. Tidak melihat orang lain sebagai objek.
Sebagai sikap moral, menurut Beauvoir, keberadaan-orang-lain yang autentik adalah bentuk kesalingan yang melibatkan “pengakuan timbal balik atas dua kebebasan”. Tidak ada yang akan melepaskan transendensi dan tidak ada yang akan memutilasi. Sikap etis kesalingan semacam inilah yang setidak-tidaknya harus kita lakukan kepada teman-teman disabilitas
Dengan cara semacam itu, makna autentik dan moralitas akan saling terkait. Ini mengajari kita akan tugas dan kewajiban bersama untuk membebaskan satu sama lain dari segala asumsi dan stigma-stigma buruk. Relasi ini juga berguna bagi kita sendiri sebagai bentuk tanggung jawab atas kehidupan yang kita jalani.
Sebuah ikthiar yang benar-benar
Menjadi bermoral dan menghendaki diri sendiri menjadi bebas adalah keputusan yang sama. Artinya, kita dalam rangka menghendaki kebebasan untuk diri sendiri, kita wajib menjadi pribadi bermoral. Maka itu, relasi kesalingan mesti benar-benar kita praktikkan dalam silaturahmi sosial kita sehari-hari
Seperti kata Sartre, kebebasan kita terikat dengan keberadaan orang lain. Akan tetapi, (keberadaan) orang lain bukanlah neraka. Dalam hal ini kita perlu ikut Levinas, bahwa (kehadiran) orang lain adalah penampakan “Wajah”, sebagai dimensi ilahi yang mewujud. Pondasi filosofis-etis semacam inilah yang, saya pikir, sekurang-kurangnya akan merobohkan perlahan-lahan cara pandang negatif kebanyakan kita terhadap keberadaan teman-teman disabilitas.
Maka itu, kita perlu mengikhtiarkannya secara benar-benar. Disabilitas bukan aib, bukan beban. Kehadiran mereka adalah wujud dari keragaman nilai kehidupan yang kaya makna. Bahwa pola kehidupan dunia, cara main kerja dunia, juga harus kita pahami dalam “arena bermain” teman-teman disabilitas. Dunia ini tidak melulu tentang “aku”, ada “mereka-mereka” yang menanti giliran tampil—dan diakui. []








































