Mubadalah.id – Ketua Majelis Musyawarah Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Nyai Hj. Badriyah Fayumi, menegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan” dalam Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BuKUPI) 2026 di Masjid Cut Nyak Dien, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (24/5/2026).
Dalam pidatonya, Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits itu menjelaskan bahwa gerakan ulama perempuan Indonesia harus berada di garis depan dalam melawan seluruh bentuk kekerasan. Baik kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, perundungan, maupun kekerasan struktural yang terjadi di tengah masyarakat.
Untuk itu, Badriyah memperkenalkan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan” sebagai semangat kolektif yang perlu dibangun bersama oleh masyarakat, lembaga pendidikan, komunitas, dan seluruh elemen bangsa.
Trilogi tersebut meliputi pernyataan “Saya tidak mau menjadi korban kekerasan”, “Saya tidak mau menjadi pelaku kekerasan”, dan “Saya mau melaporkan kekerasan yang menimpa siapa pun”.
Menurutnya, tiga pernyataan itu sebagai bentuk keberanian dalam mencegah dan melawan segala bentuk kekerasan yang selama ini kerap biasa.
“Dengan tiga kalimat ini, kita memiliki Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan. Ini penting untuk membangun keberanian amar ma’ruf nahi munkar dan kepedulian kolektif demi menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan,” ujar Badriyah.
Ia menjelaskan, pernyataan “Saya tidak mau menjadi korban kekerasan” merupakan ajakan agar perempuan, anak, santri dan mahasiswa. Serta masyarakat berani menolak kekerasan, sekalipun pelakunya memiliki kuasa atau kedudukan tinggi.
Sementara pernyataan “Saya tidak mau menjadi pelaku kekerasan” menjadi pengingat bahwa setiap orang harus membangun kesadaran untuk menghormati sesama manusia dan mengendalikan diri dalam kehidupan sehari-hari. Baik di ruang nyata maupun digital.
Sedangkan pernyataan “Saya mau melaporkan kekerasan yang menimpa siapa pun” menjadi penting untuk membangun keberanian kolektif dalam membela korban dan menghentikan budaya diam terhadap kekerasan seksual.
Tidak Boleh Berhenti Hanya Pada Penolakan
Badriyah menegaskan, Islam mengajarkan umatnya untuk melawan segala bentuk kemungkaran melalui tindakan nyata, lisan, maupun sikap hati. Namun menurutnya, ulama perempuan tidak boleh berhenti hanya pada penolakan di dalam hati.
“Ulama perempuan tidak boleh berhenti,” katanya.
Ia juga menilai, penyusunan SOP pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di pesantren dan perguruan tinggi merupakan bagian dari implementasi nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Karena itu, Badriyah memberikan apresiasi kepada lembaga pendidikan yang mulai membangun mekanisme perlindungan bagi korban kekerasan seksual melalui pembentukan satgas, SOP, dan sistem pendampingan yang lebih berpihak kepada korban.
Menurutnya, upaya tersebut merupakan bentuk kerja sama laki-laki dan perempuan dalam membangun keadilan yang hakiki.
Di akhir penjelasannya mengenai Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan, Badriyah berharap gerakan tersebut dapat menjadi energi bersama untuk mewujudkan Indonesia tanpa kekerasan.
Merawat Ingatan Kolektif
Selain menyoroti isu kekerasan, Badriyah menegaskan, Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia yang diperingati setiap Mei merupakan upaya KUPI untuk merawat ingatan kolektif terhadap perjuangan ulama perempuan Nusantara.
Menurutnya, pengarsipan sejarah ulama perempuan penting dilakukan agar sejarah Islam Nusantara dan Indonesia menjadi lebih lengkap. Serta memberi ruang yang setara bagi perempuan dalam tradisi keulamaan.
“Keulamaan perempuan Indonesia hari ini bukan sesuatu yang baru, melainkan memiliki akar sejarah yang nyata,” katanya.
Dalam pidatonya, Badriyah juga menyoroti meningkatnya berbagai bentuk kekerasan di tengah masyarakat. Mulai dari kekerasan dalam keluarga, kekerasan seksual di lembaga pendidikan, hingga kekerasan struktural akibat eksploitasi alam dan pembangunan.
Ia mengaku prihatin karena berbagai kasus kekerasan seksual kini terbongkar satu per satu. Bahkan di lembaga yang seharusnya menjadi benteng moral masyarakat.
“Setiap hari hati kita dibuat pilu dan malu karena kasus kekerasan seksual di lembaga pendidikan terbongkar satu demi satu. Baik di pesantren maupun perguruan tinggi,” katanya.
Karena itu, jaringan ulama perempuan Indonesia terus bergerak melakukan dakwah, sosialisasi dan pencegahan. Serta penanganan kekerasan seksual di berbagai daerah secara mandiri.
Badriyah bahkan mengutip hasil penelitian PPIM tahun 2025 yang menunjukkan bahwa pesantren dengan peran ulama perempuan yang kuat memiliki ketahanan lebih. Baik terhadap ancaman kekerasan seksual dibanding lembaga yang minim keterlibatan ulama perempuan.
“Pesantren yang memiliki peran ulama perempuan lebih kuat memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap ancaman kekerasan seksual dibandingkan lembaga yang peran ulama perempuannya minim,” ujarnya.
Apresiasi Kepada Semua
Badriyah juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, penutur cerita, lembaga penyangga, dan jaringan KUPI yang terlibat dalam penyelenggaraan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia 2026.
“Saya ingin menyampaikan apresiasi khusus kepada seluruh panitia Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia tahun 2026, para penutur cerita, lembaga penyangga, dan seluruh pihak yang menyelenggarakan rangkaian acara ini. Untuk semuanya, kami hanya bisa memberikan gelar 3M: Makasih Mbak dan Mas,” ujarnya disambut tepuk tangan peserta.
Menurutnya, kerja-kerja KUPI selama ini ia bangun atas dasar gotong royong dan pengabdian sukarela demi perjuangan kemanusiaan dan keadilan gender.
“Jazakumullahu khairan, karena semuanya bekerja tanpa KUPI bayar. Inilah salah satu jati diri gerakan KUPI yang akan senantiasa kita rawat dan kita besarkan. Juga kita jalankan bersama dalam kehidupan kebersamaan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Badriyah juga menjelaskan alasan pemilihan lokasi BuKUPI 2026 di Masjid Cut Nyak Dien. Menurutnya, setiap tempat yang KUPI pilih selalu memiliki jejak sejarah perjuangan perempuan Indonesia.
Ia menjelaskan, Cut Nyak Dien tidak hanya kita kenal sebagai pahlawan nasional. Tetapi juga seorang ulama perempuan yang mengajar ngaji bagi perempuan dan anak-anak saat Belanda mengasingkann di Sumedang.
“Jadi, Cut Nyak Dien juga seorang ulama perempuan,” ujarnya. []












































