Minggu, 12 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    Individualis

    Ketika Masyarakat Semakin Individualis, Saatnya Menghidupkan Kembali Kepedulian

    Percaya Pondok Pesantren

    Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren dan Praktik Collective Care di Lingkungan Pesantren

    Bertumbuh bersama Pesantren

    Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

    Kesehatan Mental Disabilitas

    Kesehatan Mental Disabilitas Belum Menjadi Prioritas

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    Luka Dalam Aborsi

    Luka Dalam Setelah Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Cara Penanganannya

    Infeksi Aborsi

    Kapan Infeksi Setelah Aborsi Menjadi Berbahaya? Ini Tanda-Tandanya

    Infeksi setelah Aborsi

    Infeksi Setelah Aborsi: Penyebab, Gejala, dan Cara Penanganan Awalnya

    Aborsi

    Pasien Pingsan Setelah Aborsi? Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pendarahan Aborsi

    Pendarahan Hebat Setelah Aborsi, Ini Langkah Pertolongan Pertama yang Perlu Dilakukan

    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Bulan KUPI, Momen Bersejarah Gerakan Keulamaan Perempuan

Saya menjadi saksi bagaimana ruang diskusi yang terbuka, jejak sejarah ulama perempuan, dan gagasan yang terus mengalir, menjadi produk pengetahuan yang abadi

Zahra Amin by Zahra Amin
26 Mei 2026
in Personal, Rekomendasi
A A
0
Bulan KUPI

Bulan KUPI

44
SHARES
2.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Mengawali catatan ini, saya ingin meminjam satu baris puisi Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni. //Tak ada yang lebih tabah// dari hujan bulan Juni//Dirahasiakannya rintik rindunya//Kepada pohon berbunga itu. Saya meminjam untuk satu bulan Mei ini, di momen Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI) yang ketabahannya tak kalah dengan Juni. Karena ia, terus melindap dalam ingatanku secara diam maupun lantang.

//Tak ada yang lebih tabah//dari sejarah bulan Mei//Dirahasiakannya rintik rindunya//Kepada para penggerak ulama perempuan itu.

Momen pertama saat rapat perdana panitia. Ketua Panitia BKUPI Pera Sopariyanti menyampaikan bahwa akan ada pembacaan biografi ulama perempuan secara online. Kegiatan tersebut berlangsung secara bergiliran di antara lima lembaga penyangga KUPI, yaitu Alimat, Fahmina, Rahima, Gusdurian dan Aman Indonesia.

Ada 30 (Terakhir bertambah 31, dengan memasukkan Nyai Walidah Ahmad Dahlan atas usulan Ibu Nyai Badriyah Fayumi) nama ulama perempuan. Terpetik ide dalam benakku, penuturan cerita ini harus tertuliskan, karena ia tak mungkin ada dalam buku, apalagi buku sejarah yang dibuat oleh pemerintah.

Insiatif ini terus menggedor-gedor kesadaran, seakan meminta perhatian. Lalu ketika saya sampaikan usulan, bersambut hangat oleh teman-teman. Pertanyaannya kemudian, siapa yang akan menulis? Dan, ya Mubadalah punya basis kontributor militan yang siap bergerak untuk menuliskannya.

Singkat cerita, setelah melalui proses panjang, akhirnya jadilah buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia. Profil 31 tokoh yang dituturkan dalam Peringatan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia tahun 2026.

Tentang Otoritas yang Tak Tunggal

Meski tak cukup punya modal, karena saya hanya punya gagasan dan semangat untuk mengajak orang lain menulis. Kiai Faqih sebagai founder Mubadalah.id berkirim satu pesan bermakna, “Kamu harus sudah memulai membangun otoritas sejak sekarang,” tuturnya.

Karena itu, di momen kedua ketika terganjal persoalan anggaran yang terbatas, saya terus mendesak agar proses penulisan buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia harus selesai dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sebab momen puncak Bulan KUPI tidak akan datang dua kali. Kesempatan itu akan hilang ketika momentumnya juga sudah terlewatkan.

Bicara otoritas, lantas saya teringat pada satu gagasan penting dari Ismail Fajri Alatas melalui bukunya What is Religious Authority? Alatas mengajak pembaca melihat otoritas sebagai sesuatu yang bekerja dalam relasi.

Antara guru dan murid, ulama dan jamaah, teks dan konteks, juga antara institusi, media, dan masyarakat. Otoritas, dalam kerangka ini, bukan benda mati yang dimiliki seseorang, tetapi proses sosial yang terus terbentuk, teruji, dan terakui.

Salah satu gagasan penting penting lainnya adalah bahwa otoritas agama tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu bergantung pada kepercayaan. Seorang ulama, pendakwah, penulis, atau tokoh agama menjadi punya otoritas bukan hanya karena pengetahuan yang ia miliki, tetapi karena ada komunitas yang menganggap pengetahuan itu sah, relevan, dan layak kita ikuti.

Sebagaimana gerakan keulamaan perempuan melalui jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) hari ini. Dengan kata lain, otoritas bukan hanya soal “siapa”, tapi juga “bagaimana” dan “dalam relasi apa” seseorang didengar.

Respons KUPI terhadap Situasi Sosial dan Politik

Berangkat dari Ikrar KUPI Bangsri Jepara tahun 2022, yang menegaskan bahwa,

“Saat dunia, bumi dan kemanusiaan sedang genting dan rapuh, ulama perempuan Indonesia bertekad untuk membangun peradaban yang berkeadilan sebagai panggilan iman dan tuntutan zaman. Di akar rumput bersama mereka yang terpinggirkan dan terluka, ulama perempuan bergerak untuk menjadi bagian dari solusi bagi umat, bangsa, dunia, dan semesta. Untuk itu, otoritas keulamaan perempuan wajib terus dirawat dan dikembangkan agar menjadi kekuatan transformatif di ruang khidmahnya masing-masing.”

Maka melalui momentum BKUPI 2026 ini, kekerasan seksual di lingkup pesantren menjadi perhatian KUPI. Sejak beberapa tahun terakhir, KUPI melakukan upaya mendorong banyak pesantren untuk memiliki SOP Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai langkah untuk menjadikan pesantren menajdi ruang yang aman.

Ketua Majelis Musyawarah KUPI Badriyah Fayumi mengutip penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) 2025 yang menunjukkan bahwa keterlibatan ulama perempuan di pesantren terbukti mampu menekan potensi terjadinya kekerasan seksual.

Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan

Dalam sambutannya di acara puncak BKUPI Minggu (24/05/2026) Badriyah Fayumi memperkenalkan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan.” Trilogi ini sebagai semangat kolektif yang perlu dibangun bersama oleh masyarakat, lembaga pendidikan, komunitas, dan seluruh elemen bangsa.

Trilogi tersebut meliputi pernyataan ,“Saya tidak mau menjadi korban kekerasan.” Lalu, “Saya tidak mau menjadi pelaku kekerasan”, dan “Saya mau melaporkan kekerasan yang menimpa siapa pun”.

Menurutnya, tiga pernyataan itu sebagai bentuk keberanian dalam mencegah dan melawan segala bentuk kekerasan yang selama ini kerap dinormalisasi.

“Dengan tiga kalimat ini, kita memiliki Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan. Ini penting untuk membangun keberanian amar ma’ruf nahi munkar dan kepedulian kolektif demi menciptakan lingkungan yang bebas dari kekerasan,” ujar Badriyah.

Ia menjelaskan, pernyataan “Saya tidak mau menjadi korban kekerasan” merupakan ajakan pada perempuan, anak, santri dan mahasiswa. Selain itu, masyarakat juga harus berani menolak kekerasan, sekalipun pelakunya memiliki kuasa atau kedudukan tinggi.

Sementara pernyataan “Saya tidak mau menjadi pelaku kekerasan” menjadi pengingat bahwa setiap orang harus membangun kesadaran untuk menghormati sesama manusia dan mengendalikan diri dalam kehidupan sehari-hari. Baik di ruang nyata maupun digital.

Sedangkan pernyataan “Saya mau melaporkan kekerasan yang menimpa siapa pun” menjadi penting untuk membangun keberanian kolektif. Terutama dalam membela korban dan menghentikan budaya diam terhadap kekerasan seksual.

Risalah Cut Nyak Dien

Sementara itu, pimpinan lima lembaga penyangga KUPI juga membacakan Risalah Cut Nyak Dien di acara puncak. Risalah ini memuat tiga poin yang KUPI usulkan untuk menghapus kekerasan. Mulai dari peneguhan peran ulama, kecaman kekerasan struktural oleh negara. Hingga penghapusan kekerasan seksual di pesantren.

Pertama, Risalah Cut Nyak Dien meneguhkan bahwa ulama perempuan bukan entitas baru dalam sejarah pergerakan Indonesia. Dari era pra-kemerdekaan hingga reformasi. Para ulama perempuan telah berdiri di garis depan dalam membangun ketahanan sosial melawan kolonialisme dan ketidakadilan.

KUPI menolak segala upaya yang mereduksi peran perempuan hanya sebagai objek kebijakan, dan menuntut pengakuan setara atas kapasitas ulama perempuan dalam memutus rantai kekerasan di akar rumput.

Kedua, risalah tersebut menegaskan kekerasan terhadap aktivis demokrasi dan hak asasi manusia di berbagai daerah bertentangan dengan konstitusi, agama, dan kemanusiaan, serta merupakan pelanggaran terhadap amanat amar ma’ruf nahi munkar.

KUPI juga mengingatkan bahwa kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih, meski berniat luhur, tidak boleh menjadi instrumen mobilisasi politik dan ekonomi yang mengabaikan keragaman pangan lokal. Selain itu, membuka celah korupsi anggaran, mendorong masuknya militerisme ke ruang-ruang sipil, dan memutus rantai ekonomi perempuan di sektor pangan skala kecil.

Selanjutnya, KUPI mendesak agar Proyek Strategis Nasional (PSN) tidak dijalankan dengan mengabaikan hak masyarakat adat dan merusak alam sebagai sumber kehidupan. Serta menciptakan konflik agraria berkepanjangan.

Terakhir, Risalah Cut Nyak Dien menyatakan bahwa maraknya kekerasan seksual di institusi pendidikan dan pesantren telah mencapai kondisi darurat. KUPI mengecam keras para pelaku dan mendesak seluruh institusi pendidikan untuk tidak lagi menutupi kejahatan ini dengan dalih menjaga nama baik lembaga.

Menjadi Saksi Dua Tahun BKUPI

Dua tahun sudah peringatan Bulan KUPI ini berjalan. Sejak dari Masjid Puser Bumi Cirebon di tahun 2025, dan berpindah ke Masjid Cut Nyak Dien Jakarta di tahun 2026 ini. Bulan KUPI menjadi momen bersejarah bagi gerakan keulamaan perempuan.

Saya menjadi saksi bagaimana pergulatan wacana, ruang diskusi yang terbuka, jejak sejarah para ulama perempuan yang terasa hidup, dan gagasan-gagasan yang terus mengalir. Semuanya menjadi produk pengetahuan yang tak lekang oleh zaman.

Saya bangga menjadi bagian dari seluruh proses pengalaman dan pengetahuan itu.

Ada Atlas ulama perempuan Indonesia yang peluncurannya bersamaan dengan buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia. Dua karya ini akan menjadi tinta abadi penulisan sejarah ulama perempuan, tentang kiprah dan karyanya yang beragam dan penuh makna.

Lalu ada pernyataan Ulama Perempuan Indonesia untuk Indonesia tanpa Kekerasan. Pernyataan ini menyampaikan pesan penting terkait komitmen jaringan KUPI. Sehingga ke depan akan menjadi jihad selanjutnya untuk mendakwahkan tiga kalimat perlawanan terhadap kekerasan.

Terakhir, pernyataan sikap melalui Risalah Cut Nyak Dien. Risalah ini juga semakin menegaskan Ikrar KUPI Bangsri Jepara, bahwa ulama perempuan Indonesia berkomitmen untuk terus berjuang, berkarya dan berkhidmah bagi peradaban yang berkeadilan hakiki. Yaitu peradaban yang memungkinkan kehidupan bermartabat, ma’ruf, bahagia dan membahagiakan bagi setiap manusia dan menjamin generasi penerus menjadi anugerah bagi semesta dalam rahmat Allah SWT. []

 

 

 

Tags: Atlas Ulama PerempuanBulan Kebangkitan Ulama Perempuan IndonesiaBulan KUPIIkrar Bangsri JeparaManaqib Ulama Perempuan IndonesiaRisalah Cut Nyak Dien
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

Next Post

BuKUPI 2026, Nyai Badriyah Tegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan”

Zahra Amin

Zahra Amin

Zahra Amin Perempuan penyuka senja, penikmat kopi, pembaca buku, dan menggemari sastra, isu perempuan serta keluarga. Kini, bekerja di Media Mubadalah dan tinggal di Indramayu.

Related Posts

ToT KUPI
Personal

ToT KUPI: Memahami Jejak Keulamaan Perempuan hingga Anatomi Gerakan KUPI

2 Juli 2026
Cut Nyak Dien
Aktual

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

26 Mei 2026
Atlas Ulama Perempuan KUPI
Aktual

Atlas Ulama Perempuan KUPI Resmi Diluncurkan, Rekam Jejak Perjuangan Ulama Perempuan

24 Mei 2026
Siti Baroroh Baried
Figur

Nyai Siti Baroroh Baried: Profesor Perempuan Pertama di Indonesia

24 Mei 2026
Nyai Walidah
Figur

Mengenal Nyai Walidah dan Momentum Lahirnya Kesadaran Baru Perempuan Muslim Indonesia

23 Mei 2026
Nyai Nur Ishmah
Figur

Nyai Hj. Nur Ishmah Abdullah Abdussalam: Ulama Perempuan itu Bertarekat

23 Mei 2026
Next Post
Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan

BuKUPI 2026, Nyai Badriyah Tegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan”

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • 6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati
  • Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman
  • Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam
  • Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan
  • Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0