Mubadalah.id – Sekalipun Anda merasa tidak menghadapi risiko apa pun—dan penting untuk mempertanyakan keyakinan tersebut secara jujur—tetap perlu memikirkan cara-cara agar hubungan seks berlangsung lebih aman.
Kemampuan untuk melakukan perubahan tidak hanya bergantung pada diri sendiri, tetapi juga pada sikap pasangan seksual. Sebab, hubungan seksual melibatkan dua orang yang sama-sama memiliki peran dalam menjaga kesehatan dan keselamatan satu sama lain.
Jika Anda memiliki pasangan yang terbuka dan mendukung, cobalah membicarakan risiko penularan penyakit melalui hubungan seks. Percakapan seperti ini dapat menjadi langkah penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat dan saling menjaga.
Namun, pembicaraan semacam itu sering kali tidak mudah dilakukan. Banyak perempuan merasa segan memulainya karena khawatir pasangan akan tersinggung, merasa dituduh mengidap penyakit, atau menganggap dirinya dicurigai tidak setia. Dalam beberapa kasus, justru perempuan yang kemudian dicurigai oleh pasangannya.
Selain itu, sejak kecil banyak perempuan ajarkan bahwa membicarakan seks merupakan hal yang tabu, terutama dengan laki-laki, bahkan dengan suami sendiri.
Karena itu, membangun komunikasi yang terbuka mengenai kesehatan seksual sering kali membutuhkan keberanian dan proses yang tidak sederhana.
Respon Tubuh terhadap Rangsangan Seksual
Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki kemampuan untuk merasakan hasrat atau dorongan seksual. Namun, tubuh keduanya memberikan respons yang berbeda terhadap sentuhan maupun rangsangan seksual.
Pada laki-laki, tanda-tanda rangsangan seksual relatif mudah dikenali. Ketika terangsang, penis akan mengeras dan menegang. Saat mencapai puncak kenikmatan seksual, laki-laki mengeluarkan cairan yang mengandung sperma (air mani).
Peristiwa ini disebut ejakulasi dan biasanya terjadi bersamaan dengan orgasme atau klimaks. Setelah itu, penis akan kembali melemas seperti semula.
Pada perempuan, rangsangan seksual juga memicu berbagai perubahan pada tubuh, meskipun tidak selalu mudah terlihat oleh orang lain, bahkan terkadang tidak ia sadari.
Ketika terangsang, klitoris (kelentit) menjadi lebih keras dan membesar. Sementara itu, bibir vagina (labia) dan dinding vagina menjadi lebih peka terhadap sentuhan.
Jika rangsangan berlanjut, ketegangan seksual akan meningkat hingga mencapai puncak kenikmatan yang kita sebut orgasme. Pada banyak perempuan, orgasme sering kali terjadi melalui rangsangan pada klitoris.
Apabila kita bandingkan dengan laki-laki, perempuan umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai orgasme. Setelah orgasme, biasanya muncul perasaan rileks, tenang, dan nyaman.
Sebenarnya, orgasme dapat ia peroleh dalam hubungan seksual. Namun, banyak perempuan yang jarang mengalaminya, bahkan sebagian belum pernah mengalaminya sama sekali. Kemampuan mencapai orgasme dapat Anda pelajari.
Salah satu caranya adalah dengan mengenali tubuh sendiri melalui sentuhan pada bagian-bagian yang memberikan rasa nyaman dan menyenangkan. Selain itu, perempuan juga dapat berkomunikasi dengan pasangan mengenai sentuhan atau bentuk rangsangan yang ia rasakan paling menyenangkan.
Dengan demikian, pasangan dapat lebih memahami kebutuhan satu sama lain dan membangun hubungan seksual yang saling memuaskan. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 245.









































