Mubadalah.id – Meskipun HIV dapat menginfeksi siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, penyakit ini memiliki dampak yang berbeda bagi perempuan karena beberapa alasan berikut:
Pertama, perempuan lebih mudah tertular HIV dibandingkan laki-laki. Dalam hubungan seksual, air mani laki-laki masuk ke dalam tubuh perempuan dan dapat bertahan di sana dalam waktu yang cukup lama. Apabila air mani tersebut mengandung virus HIV, virus dapat dengan mudah masuk ke dalam tubuh perempuan melalui vagina dan leher rahim, terutama jika terdapat lecet atau luka pada bagian tersebut.
Kedua, perempuan sering terinfeksi HIV pada usia yang lebih muda dibandingkan laki-laki. Hal ini terjadi karena remaja putri dan anak perempuan lebih rentan mengalami hubungan seksual yang tidak aman atau paksaan seksual, serta sering kali memiliki kemampuan yang lebih terbatas untuk melindungi diri.
Selain itu, perempuan juga lebih berpeluang menjalani transfusi darah, misalnya saat persalinan yang dapat menyebabkan kehilangan darah dalam jumlah banyak.
Perempuan Lebih Rentan
Setelah terinfeksi HIV, perempuan dapat mengalami perkembangan penyakit menuju AIDS lebih cepat daripada laki-laki. Seperti telah kita jelaskan sebelumnya, seseorang yang terinfeksi HIV umumnya masih tampak sehat selama beberapa waktu.
Namun, pada perempuan, rentang waktu antara infeksi HIV dan berkembangnya AIDS dapat lebih singkat. Kondisi gizi yang buruk, kehamilan, serta persalinan dapat membuat daya tahan tubuh perempuan lebih lemah dalam melawan berbagai infeksi.
Masih beredar anggapan yang keliru dan tidak adil bahwa perempuan merupakan penyebab utama penularan AIDS. Padahal, laki-laki juga memiliki peran yang sama, bahkan bisa lebih besar, dalam penyebaran penyakit ini.
Sebagai contoh, pekerja seks perempuan sering mereka tuduh sebagai penyebar AIDS. Padahal orang-orang yang menggunakan jasa mereka juga memiliki tanggung jawab yang sama terhadap penularan penyakit tersebut.
Ketiga, perempuan yang hidup dengan HIV dan sedang hamil dapat menularkan virus kepada bayinya selama kehamilan, persalinan, atau menyusui apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Keempat, perempuan juga sering menjadi pihak yang merawat anggota keluarga yang hidup dengan AIDS, bahkan ketika mereka sendiri sedang sakit. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 371.






































