Mubadalah.id – Nahdlatul Ulama (NU) dinilai menjadi salah satu organisasi masyarakat sipil yang konsisten dalam menyuarakan isu lingkungan di Indonesia. Organisasi Islam terbesar di tanah air ini telah terlibat aktif dalam berbagai upaya pelestarian alam, baik di tingkat nasional maupun komunitas.
Sejak era kepemimpinan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, perhatian terhadap persoalan lingkungan telah menjadi bagian dari agenda strategis NU. Gus Dur, kita kenal getol menyuarakan dampak kerusakan alam, terutama yang terjadi di Indonesia.
Selama menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 1984–1999, isu lingkungan mulai mendapatkan tempat dalam diskursus organisasi. Gus Dur menilai bahwa nilai-nilai agama, khususnya Islam, mengajarkan tanggung jawab manusia sebagai penjaga bumi.
“Agama tidak boleh diam ketika alam banyak yang merusak,” demikian pandangan yang sering Gus Dur sampaikan dalam berbagai forum.
Dengan usia organisasi yang hampir satu abad, NU kini semakin menunjukkan keseriusannya dalam merespons isu lingkungan. Tidak hanya dalam ranah kultural, pembahasan soal krisis ekologis juga masuk dalam forum-forum formal organisasi.
NU memiliki kekuatan besar karena berbasis pada komunitas pesantren dan warga Nahdliyin yang tersebar luas. Basis ini membuat pesan-pesan lingkungan lebih mudah mereka terjemahkan dalam praktik keseharian.
Pengamat menilai, pendekatan NU yang menggabungkan nilai agama dan isu lingkungan mampu menjangkau masyarakat secara lebih efektif. Hal ini menjadi penting di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim.
Melalui peran tersebut, NU dipandang tidak hanya sebagai organisasi keagamaan, tetapi juga sebagai aktor sosial yang berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan alam.
Sumber tulisan: Buku Membumikan Fatwa KUPI: Pembelajaran dari Pengelolaan Sampah di Pesantren.



















































