Mubadalah.id – Sultanah Nahrasiyah adalah salah satu sosok pemimpin perempuan paling terkemuka dalam sejarah Nusantara di wilayah Aceh. IAIN Lokseumawe pada Mei 2025 berubah nama UIN Sultanah Nahrasiyah. Sejarah mencatat bahwa di masa abad 15 sosok perempuan meruntuhkan stigma menjadi permaisuri atau selir. Sultanah tampil sebagai raja perempuan pertama di Nusantara.
Ratu Nahrasiyah atau Nahrisyah, adalah seorang ratu dari kerajaan Samudra Pasai yang berkuasa tahun 1405-1428M. Memimpin selama 20 tahun. Masyarakat tidak begitu mengenalnya, bahkan nama besar Sultan Nahrasiyah kalah besar gaungnya daripada Sultanah Safiatuddin Syah, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, dan Nurul Alam Naqiatuddin Syah dan tokoh perempuan Aceh lainnya.
Siti Nahrasiyah adalah contoh nyata perempuan Nusantara yang terlibat dalam persoalan ekonomi dan politik dalam penyebaran Islam. Sosok ulama perempuan yang kiprahnya berada di puncak kekuasaan masa itu. Dalam peradaban awal Islam di Nusantara, perempuan memiliki ruang yang luas untuk berkiprah di ranah publik, politik, dan hukum.
Kisah ini terungkap melalui kegiatan Pembacaan Biografi Ulama Perempuan yang digelar oleh Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pada Minggu, 3 Mei 2026. Nyai Ruhama Wazna yang menceritakan kisah Sultanah Nahrasiyah di serial kedua tersebut, dalam rangka menyemarakkan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI).
The Great Man Gift Birth To Woman
Great Man Theory atau teori orang hebat, adalah pandangan abad ke-19 yang menyatakan pemimpin besar terlahir dengan bakat, karisma, dan kecerdasan alami, bukan terbentuk. Tokoh ini mendapat anggapan mampu memimpin karena karakteristik bawaan, seperti Sultanah Nahrasiyah.
Sejarah mencatat Sultanah Nahrasiyah sebagai pemimpin yang arif, bijaksana, dan memegang teguh nilai-nilai keadilan serta spiritualitas Islam. Ia mengembangkan pendidikan, dengan mendukung syiar Islam dengan mendirikan madrasah dan masjid sebagai pusat pembelajaran dan ibadah umat.
Karisma yang kuat dan inspiratif dengan memiliki kemampuan menggerakkan orang lain. Bersikap berani dan teguh, tidak mudah menyerah dan visioner, mampu berempati dan mengayomi masyarakat. Sifat ini mMenggambarkan bahwa Sultanah Nahrasiyah terlahir berjiwa pemimpin dan terlahir dari sosok pemimpin.
Sultanah Nahrasiyah merupakan keturunan dari Sultan Malik as-Salih. Pendiri Kesultanan Samudera Pasai. Sultanah adalah raja perempuan pertama di Aceh yang memimpin Kerajaan Samudera Pasai. Sebuah kerajaan Islam pertama di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1267 Masehi.
Sulthanah Nahrisyah memimpin karena menggantikan Sultan Zainal Abidin yang mangkat tahun 1405 Masehi. Sulthanah Nahrisyah wafat di tahun 1428 Masehi dan makamnya berdampingan dengan makam ayahnya, Sultan Zainal Abidin, yang merupakan makam terindah di Asia Tenggara.
Mahakarya Seni Makam Terindah di Asia Tenggara
Jejak sejarahnya bisa terlihat dari nisannya yang ada di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Sekitar 18 km sebelah Timur Kota Lhokseumawe. Makam tersebut berada di kompleks II (Kuta Karang). Lokasinya tidak jauh dari makam Sultan Malikussaleh yang terletak di kompleks I makam Raja-Raja Samudera Pasai.
Peninggalan fisik paling otentik dari Sultanah Nahrasiyah adalah kompleks pemakamannya yang terletak di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Makam tersebut sebagai salah satu makam peninggalan Islam yang paling indah dan megah di Asia Tenggara. Bahannya terbuat dari marmer, hasil impor langsung dari Gujarat, India. Makam Ratu Nahrisyah sangat mewah.
Bahkan C Snouck Hourgronje terinspirasi untuk menjadikannya topik dalam pidato pengukuhan diri sebagai guru besar di Rijksuniversiteit Lainden. Kemudian pada 23 Januari 1907 menuangkan kekaguman ini dalam buku Arabie en Oost-Indie, terbit di Leiden pada 1907 dan mengklaim makam terindah di Asia Tenggara. Makam Sultan Nahrasiyah indah besar terletak di kanan paling besar adalah sebagai ratu pertama di Nusantara.
Nisan Sulthanah Nahrisyah penuh aksara Arab berbahasa Arab dan Melayu Kuno dengan khat Kufi yang indah, yaitu kaligrafi Arab tertua yang berasal dari kota Kufah.
Nisan tersebut memuat keterangan bahwa “Inilah kubur wanita yang bercahaya yang suci, Ratu yang terhormat, Almarhumah yang diampunkan dosanya Nahrasiyah, putri Sultan Zainal Abidin putra Sultan Ahmad putra Sultan Muhammad putra Sultan Malik As-Shaleh. Kepada mereka itu dicurahkan rahmat dan diampunkan dosanya, mangkat dengan rahmat Allah pada hari Senin 17 Dzulhijah 831 H/ 1428”. Selain itu tertuliskan ayat Kursi, surah Yasin, kalimat Syahadat, penggalan surah Ali Imran ayat 18-19 dan surah Al Baqarah ayat 285-286.
Kiprah Sultanah yang Dicintai Rakyat
Sultanah Nahrasiyah sukses di bidang agama, politik dan ekonomi. Sultanah mampu menstabilkan ekonomi Aceh atau Samudera Pasai. Ulama Perempuan yang tidak sebatas ahli di bidang agama saja, Hadist, Al-Qur’an atau Tauhid. Sultanah juga memiliki gelar Almalikah Almu’azzamah. Selain itu memiliki gelar Rabakhsah Kadiyu artinya orang yang sangat diagungkan.
Sultanah Nahrasiyah memegang peranan krusial sebagai salah satu penguasa perempuan pertama di Asia Tenggara yang memimpin sebuah kesultanan Islam. Namanya tidak sepopuler pahlawan perempuan Aceh dari era setelahnya seperti Laksamana Malahayati atau Cut Nyak Dien.
Sultan Nahrasiyah meneruskan kepemimpinan setelah ayah dan suami pertamanya wafat. Kala itu wilayah Samudra Pasai menjadi pusat perdagangan penting. Selama lebih dari dua dekade, Samudera Pasai mengalami masa-masa kejayaan emasnya.
Pasai menjadi pusat perdagangan Internasional. Bandar transito yang sangat ramai saat itu mampu menarik para saudagar dari Arab, India (Gujarat), Persia, hingga Tiongkok. Komoditas utama perdagangan adalah lada dan rempah-rempah yang terkelola dengan sangat baik.
Selain berperan menjaga stabilitas politik juga memiliki kebijakan moneter. Ia memiliki kecakapan dalam manajemen ekonomi kawasan. Kesultanan menerbitkan koin emas berupa dirham dan dinar sebagai mata uang resmi, yang menstabilkan transaksi perdagangan di Selat Malaka.
Catatan perjalanan dari Dinasti Ming, seperti catatan Ma Huan yang mendampingi Laksamana Cheng Ho. Mengonfirmasi posisi Samudera Pasai sebagai kerajaan yang makmur dan sangat dihormati di kancah internasional.
Selama berada di tampuk kepemimpinannya, Sultanah memerintah dengan sifat keibuan dan penuh kasih sayang. Pada masa tersebut, harkat dan martabat perempuan begitu mulia. Banyak perempuan terlibat aktif dalam penyebaran Islam, beberapa di antaranya menjadi penyiar agama.
Tokoh Ulama Perempuan yang Hampir Terlupakan
Selain situs makam sebagai bukti, catatan sejarah mengenai Ratu Nahrisyah juga terdapat pada sejarah Cina, yakni kronik Ying-yai sheng-lan. Dalam naskah tersebut terdapat laporan umum mengenai pantai-pantai Sumatra waktu itu serta menyebutkan raja-raja yang berkuasa.
Dalam kronik dinasti Ming (1368-1643) buku 32 diceritakan, Sekandar (Iskandar) keponakan suami kedua Ratu bersama ribuan pengikutnya menyerang armada Cheng Ho yang sedang melakukan ekspedisi ke Nusantara. Tapi, serdadu-serdadu Cina berhasil mengalahkan penyerang tersebut hingga kemudian Sekandar tertangkap dan dibawa sebagai tawanan Istana Maharaja Cina.
Di sana, Sekandar menerima hukuman mati. Menurut Ibrahim, Ratu yang dimaksud dalam cerita Cina tersebut adalah Ratu Nahrasiyah, putri Sultan Zainal Abidin atau dalam literatur Cina sebagai Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki.
Sejarawan lain yang menulis kebesaran Ratu Nahrisyah adalah JP Moquette. Dia menulis buku De Grafsteenen Te Pase En Grissee Verge Liken Met Dergelijke Mo Menten Uit Hindoestan. Terbit dalam Tijdschrift Voor Indishe Taal Land-en Volkenkunde, Deel LIV, 1921. Menurut JP Moquette Ratu Nahrisiyah meninggal pada 27 September 1428 M.
Bergelar Malikah Muazzamah
Sultanah Nahrisiyah bergelar Malikah Muazzamah, yang memiliki arti ratu yang dipertuan agung. Epitaf pada makamnya menyebutkan bahwa Ratu Nahrasiyah bergelar Ra-Baghsa Khadiyu (Penguasa yang Pemurah). Kata dalam gelar tersebut seperti dari bangsa Persia.
Menurut keterangan juru kunci makam dan sesepuh yang ada di sekitarnya, pada era kemepimpinan Ratu Nahrisyah Samudra Pasai menjadi kerajaan yang mampu mengendalikan ekonomi di Kawasan Asia Tenggara. Pada saat itu beredar enam mata uang asing di Pasai, selain dinar yang menjadi mata uang kerajaan Pasai yang pada masa itu berbentuk koin emas.
Meskipun Ratu Nahrisyah merupakan pemimpin kerajaan yang masyhur, sayangnya namanya tidak tercantum dalam mata uang dinar yang beredar saat itu. Padahal, pencantuman nama sultan di mata uang emas merupakan kebiasaan. Justru nama Salahuddin yang tertera dalam mata uang tersebut dengan gelar Sulthan al Adillah. Salahudin adalah suami Ratu Nahrisiyah yang kedua. Dia menikah dengan Salahudin setelah suami pertamanya wafat. []












































