“Sekolah yang pinter, biar sukses”
Mubadalah.id – Kalimat itu mungkin merupakan salah satu nasihat yang paling sering terdengar oleh Generasi Z sejak kecil. Kalimat yang dibuat oleh generasi sebelum kita. Mereka mewariskan nasihat tentang kerja keras. Yang mereka lupa, mereka juga mewariskan dunia yang jauh lebih mahal untuk kita tinggali.
Kita diajarkan bahwa pendidikan adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik, bahwa mimpi harus kita gantung setinggi langit, dan kerja keras akan membawa kita pada kesuksesan. Namun, ketika Gen Z mulai memasuki dunia dewasa, semakin banyak yang mempertanyakan apakah janji tersebut masih relevan.
Kita disebut generasi malas karena tidak membeli rumah, seolah-olah masalahnya terletak pada kopi yang kita minum, bukan pada harga properti yang melesat jauh lebih cepat daripada pendapatan. Setiap hari kita diminta optimistis tentang masa depan, sementara setiap hari pula kita tersuguhi berita tentang PHK, korupsi, perang, dan krisis ekonomi.
Kelompok Demografis Terbesar di Indonesia
Hari ini, Generasi Z adalah kelompok demografis terbesar di Indonesia. Data BPS menunjukkan bahwa jumlah mereka mencapai 27,94 persen dari total populasi atau sekitar 74,93 juta jiwa. Mereka lahir di tengah keterbukaan informasi dan perkembangan teknologi yang belum pernah generasi sebelumnya alami. Kita mengetahui hampir segala hal yang terjadi di dunia, mulai dari perang, krisis iklim, gejolak ekonomi global, hingga dinamika politik nasional.
Namun, pengetahuan yang melimpah tidak selalu menghasilkan optimisme. Sebaliknya, semakin banyak yang kita ketahui, semakin besar pula kesadaran kita terhadap berbagai risiko yang mengancam masa depan. Sosiolog Ulrich Beck menyebut kondisi ini sebagai risk society, yaitu masyarakat yang hidup dalam bayang-bayang risiko global yang sulit terkendalikan oleh individu. Pandemi COVID-19, ancaman resesi, konflik geopolitik, hingga perkembangan kecerdasan buatan yang berpotensi mengubah dunia kerja membuat masa depan terasa semakin sulit terprediksi.
Kondisi ini diperkuat oleh pemikiran Zygmunt Bauman tentang liquid modernity. Dalam dunia yang serba cair, tidak ada lagi kepastian yang benar-benar dapat kita pegang. Pekerjaan, identitas sosial, bahkan prospek masa depan dapat berubah sewaktu-waktu. Akibatnya, banyak anak muda tumbuh dengan perasaan bahwa mereka sedang mempersiapkan diri untuk masa depan yang bentuknya sendiri belum jelas.
Ketika Mimpi Berhadapan dengan Realitas Ekonomi
Kecemasan Generasi Z tidak muncul tiba-tiba. Ia ada karena realitas sosial dan ekonomi yang mereka hadapi sehari-hari.
Indonesia Gen Z Report 2024 menunjukkan bahwa 60 persen Gen Z merasa kesenjangan sosial dan ekonomi berdampak signifikan terhadap kehidupan mereka. Banyak yang tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi, sementara akses terhadap pendidikan berkualitas dan pekerjaan layak masih belum merata.
Fenomena ini sejalan dengan konsep anomie yang Émile Durkheim kemukakan. Menurut Durkheim, kegelisahan sosial muncul ketika harapan yang masyarakat terbangun tidak sejalan dengan peluang yang tersedia. Kita terus terdorong untuk bermimpi besar, tetapi struktur sosial sering kali membuat jalan menuju mimpi tersebut semakin sempit.
Tidak mengherankan jika persoalan kesehatan mental menjadi isu utama bagi Gen Z. Indonesia Gen Z Report 2024 menunjukkan bahwa 51 persen Gen Z menjadikan kesehatan mental sebagai salah satu kekhawatiran terbesar mereka.
Krisis Kepercayaan pada Pemerintah dan Lahirnya Generasi Skeptis
Selain menghadapi ketidakpastian ekonomi, Generasi Z juga tumbuh dalam situasi politik yang membentuk cara pandang mereka terhadap kekuasaan.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z menyaksikan politik secara langsung melalui media sosial. Mereka mengikuti berita tentang korupsi, konflik kepentingan, penyalahgunaan kekuasaan, serta berbagai kebijakan yang mereka anggap tidak selalu berpihak kepada masyarakat. Akses informasi yang luas membuat mereka lebih kritis, tetapi juga lebih skeptis.
Dalam perspektif politik, kondisi ini berkaitan dengan melemahnya kepercayaan terhadap institusi publik. Ilmuwan politik Robert D. Putnam menjelaskan bahwa kepercayaan sosial merupakan fondasi penting bagi demokrasi. Ketika masyarakat mulai meragukan kemampuan institusi dalam mewakili kepentingan mereka, maka legitimasi politik akan ikut melemah.
Gen Z bukan generasi yang tidak peduli pada politik. Sebaliknya, mereka justru sangat sadar terhadap berbagai persoalan publik. Namun, kesadaran tersebut sering kali berbarengan dengan rasa frustrasi karena merasa suara mereka tidak memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap arah kebijakan.
Di sinilah paradoks itu muncul. Semakin tinggi kesadaran politik, semakin besar pula potensi kekecewaan. Banyak anak muda akhirnya terjebak dalam sikap skeptis terhadap pemimpin, partai politik, maupun institusi negara karena merasa perubahan yang dijanjikan tidak pernah benar-benar terwujud.
Aturan Permainan Terus Berubah ketika Mereka Baru Saja Mulai Bermain
Salah satu ironi terbesar yang Generasi Z alami adalah posisi mereka dalam ruang demokrasi. Di satu sisi, mereka terdorong untuk menjadi warga negara yang aktif, kritis, dan peduli terhadap persoalan publik. Namun di sisi lain, ketika mereka menyuarakan kritik, tidak jarang suara tersebut dianggap sebagai ancaman.
Sejarah menunjukkan bahwa anak muda selalu menjadi motor perubahan sosial. Dari gerakan mahasiswa hingga berbagai gerakan sosial kontemporer, kelompok muda sering kali berada di garis depan dalam memperjuangkan perubahan. Karena itulah, generasi muda yang kritis sering dipandang mengganggu kenyamanan kekuasaan.
Pada saat yang sama, banyak anak muda mulai mengalami kelelahan politik. Mereka terus mengikuti isu publik, menyampaikan kritik, bahkan terlibat dalam berbagai gerakan sosial, tetapi sering kali merasa bahwa perubahan yang diharapkan tidak kunjung datang. Dari sinilah lahir sikap apatis.
Gen Z, Generasi yang Paling Cemas
Apatisme Generasi Z bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan akumulasi kekecewaan. Mereka kritis, tetapi merasa tidak dilibatkan. Mereka memahami masalah yang ada, tetapi tidak memiliki cukup kekuasaan untuk mengubahnya. Pada akhirnya, kecemasan Generasi Z tidak dapat terpahami hanya sebagai persoalan individu. Ia merupakan gejala sosial dan politik yang lahir dari ketidakpastian ekonomi global, kesenjangan sosial, krisis kepercayaan terhadap pemimpin, serta terbatasnya ruang partisipasi yang terasa oleh generasi muda.
Mungkin benar bahwa Gen Z adalah generasi yang paling cemas. Namun kecemasan itu ada karena mereka melihat terlalu banyak persoalan yang perlu mereka perbaiki. Mereka adalah generasi yang paling sadar terhadap masalah zaman, tetapi belum sepenuhnya memiliki kuasa untuk mengubahnya. Itulah sebabnya Gen Z menjadi generasi yang paling kritis, sekaligus paling cemas.
Banyak anggota Generasi Z juga menghadapi posisi yang unik sekaligus berat. Mereka bukan hanya sedang berjuang membangun masa depan mereka sendiri, tetapi juga sering kali harus membantu menopang kondisi ekonomi keluarga. Dalam banyak kasus, mereka menjadi bagian dari generasi sandwich, yakni kelompok yang harus memikirkan kebutuhan diri sendiri sekaligus membantu orang tua atau anggota keluarga lainnya.
Namun, persoalannya lebih kompleks dari sekadar beban finansial keluarga. Generasi Z tumbuh pada saat banyak peluang ekonomi yang pernah generasi sebelumnya nikmati semakin sulit terakses. Jika pada masa orang tua mereka harga rumah masih relatif terjangkau, biaya pendidikan belum setinggi sekarang, dan persaingan kerja belum seketat hari ini, maka Gen Z justru memasuki dunia dewasa ketika biaya hidup meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan.
Intergenerational Inequality
Kacamata Sosiologi menyebut fenomena ini sebagai intergenerational inequality, yaitu ketimpangan peluang antar generasi. Dalam kondisi tersebut, generasi muda tidak memulai perlombaan dari titik yang sama dengan generasi sebelumnya. Mereka mewarisi dunia yang lebih kompetitif, biaya hidup yang lebih mahal, serta berbagai krisis yang tidak mereka ciptakan sendiri.
Karena itu, tidak sedikit anak muda yang merasa menjadi generasi yang “kehabisan masa jaya”. Mereka lahir setelah berbagai momentum pertumbuhan ekonomi yang generasi sebelumnya nikmati telah berlalu. Mereka tidak menikmati harga tanah yang murah, akses pekerjaan yang lebih longgar, atau mobilitas sosial yang relatif lebih mudah seperti yang pengalaman sebagian orang tua mereka pada dekade-dekade sebelumnya.
Akibatnya, muncul perasaan bahwa mereka diminta untuk bermimpi sebesar generasi sebelumnya, tetapi dengan sumber daya dan peluang yang jauh lebih terbatas. Dalam konteks ini, kecemasan Generasi Z bukan semata-mata persoalan mentalitas. Hal tersebut merupakan respons rasional terhadap kenyataan bahwa mereka harus memikul beban masa depan dalam kondisi yang jauh lebih berat daripada generasi sebelumnya.
Tulisan ini akan saya tutup dengan catatan yang pernah saya tulis pada saat notulensi pada life coaching dan bisa kita renungkan bersama:
“Jika generasi sebelumnya tumbuh dengan keyakinan bahwa kehidupan anak-anak mereka akan lebih baik daripada kehidupan mereka sendiri, maka banyak anggota Gen Z justru tumbuh dengan ketakutan bahwa mereka mungkin tidak akan pernah mencapai tingkat kesejahteraan yang pernah dinikmati orang tua mereka.” []






































