Sabtu, 25 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Mendidik Anak

    Bagaimana Mendidik Anak untuk Mengasihi Sesama Makhluk?

    PBNU

    Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perkemahan

    Belajar Empati dari Perkemahan di SLB

    Spanyol

    Spanyol, Palestina, dan Misi Kemanusiaan di Panggung Dunia

    Pengampunan

    Pengampunan di Tengah Dunia yang Menghakimi

    Inovasi Teknologi

    Mengapa Inovasi Teknologi Harus Mendengarkan Pengalaman Perempuan dan Penyandang Disabilitas?

    Kontrasepsi Laki-laki

    Melawan Tabu: Kontrasepsi Laki-laki yang Diperkusi Norma

    Konselor

    Konselor, dari Merawat Diri Menuju Merawat Sesama

    Ibu Sud

    Mengajak Anak-anak Mengidung Bumi Bersama Ibu Sud Hari Ini

    Islam Kita

    Islam Kita Bukan di Tampilan, Tapi di Hati dan Cara Kita Memperlakukan yang Lain

    Harga Diri Laki-laki

    Harga Diri Laki-laki Tidak Diukur dari Besarnya Gaji

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dehidrasi

    Cara Mengatasi Dehidrasi akibat Diare pada Orang dengan AIDS

    Orang dengan AIDS

    Orang dengan AIDS Mengalami Diare? Waspadai Risiko Dehidrasi

    Orang dengan AIDS

    Cara Mengatasi Demam pada Orang dengan AIDS dan Tanda Bahayanya

    AIDS

    Cara Mencuci Pakaian Orang dengan AIDS agar Tetap Aman dari Penularan HIV

    Merawat AIDS

    Cara Mencegah Penularan HIV Saat Merawat Orang dengan AIDS di Rumah

    AIDS

    Merawat Orang dengan AIDS di Rumah, Apa yang Perlu Diperhatikan?

    Persalinan HIV

    Panduan Persalinan bagi Ibu Pengidap HIV

    Ibu dengan HIV

    Tidak Semua Bayi dari Ibu dengan HIV Dapat Terinfeksi, Ini Penjelasannya

    Kehamilan HIV

    Kehamilan pada Perempuan dengan HIV: Risiko bagi Ibu dan Bayi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Mendidik Anak

    Bagaimana Mendidik Anak untuk Mengasihi Sesama Makhluk?

    PBNU

    Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Perkemahan

    Belajar Empati dari Perkemahan di SLB

    Spanyol

    Spanyol, Palestina, dan Misi Kemanusiaan di Panggung Dunia

    Pengampunan

    Pengampunan di Tengah Dunia yang Menghakimi

    Inovasi Teknologi

    Mengapa Inovasi Teknologi Harus Mendengarkan Pengalaman Perempuan dan Penyandang Disabilitas?

    Kontrasepsi Laki-laki

    Melawan Tabu: Kontrasepsi Laki-laki yang Diperkusi Norma

    Konselor

    Konselor, dari Merawat Diri Menuju Merawat Sesama

    Ibu Sud

    Mengajak Anak-anak Mengidung Bumi Bersama Ibu Sud Hari Ini

    Islam Kita

    Islam Kita Bukan di Tampilan, Tapi di Hati dan Cara Kita Memperlakukan yang Lain

    Harga Diri Laki-laki

    Harga Diri Laki-laki Tidak Diukur dari Besarnya Gaji

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dehidrasi

    Cara Mengatasi Dehidrasi akibat Diare pada Orang dengan AIDS

    Orang dengan AIDS

    Orang dengan AIDS Mengalami Diare? Waspadai Risiko Dehidrasi

    Orang dengan AIDS

    Cara Mengatasi Demam pada Orang dengan AIDS dan Tanda Bahayanya

    AIDS

    Cara Mencuci Pakaian Orang dengan AIDS agar Tetap Aman dari Penularan HIV

    Merawat AIDS

    Cara Mencegah Penularan HIV Saat Merawat Orang dengan AIDS di Rumah

    AIDS

    Merawat Orang dengan AIDS di Rumah, Apa yang Perlu Diperhatikan?

    Persalinan HIV

    Panduan Persalinan bagi Ibu Pengidap HIV

    Ibu dengan HIV

    Tidak Semua Bayi dari Ibu dengan HIV Dapat Terinfeksi, Ini Penjelasannya

    Kehamilan HIV

    Kehamilan pada Perempuan dengan HIV: Risiko bagi Ibu dan Bayi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Gen Z Indonesia: Paling Kritis, tetapi Paling Cemas di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Kecemasan Generasi Z tidak muncul tiba-tiba. Ia ada karena realitas sosial dan ekonomi yang mereka hadapi sehari-hari.

Hilda Rizqi Elzahra by Hilda Rizqi Elzahra
9 Juni 2026
in Publik
A A
0
Gen Z Indonesia

Gen Z Indonesia

24
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

“Sekolah yang pinter, biar sukses”

Mubadalah.id – Kalimat itu mungkin merupakan salah satu nasihat yang paling sering terdengar oleh Generasi Z sejak kecil. Kalimat yang dibuat oleh generasi sebelum kita. Mereka mewariskan nasihat tentang kerja keras. Yang mereka lupa, mereka juga mewariskan dunia yang jauh lebih mahal untuk kita tinggali.

Kita diajarkan bahwa pendidikan adalah jalan menuju kehidupan yang lebih baik, bahwa mimpi harus kita gantung setinggi langit, dan kerja keras akan membawa kita pada kesuksesan. Namun, ketika Gen Z mulai memasuki dunia dewasa, semakin banyak yang mempertanyakan apakah janji tersebut masih relevan.

Kita disebut generasi malas karena tidak membeli rumah, seolah-olah masalahnya terletak pada kopi yang kita minum, bukan pada harga properti yang melesat jauh lebih cepat daripada pendapatan. Setiap hari kita diminta optimistis tentang masa depan, sementara setiap hari pula kita tersuguhi berita tentang PHK, korupsi, perang, dan krisis ekonomi.

Kelompok Demografis Terbesar di Indonesia

Hari ini, Generasi Z adalah kelompok demografis terbesar di Indonesia. Data BPS menunjukkan bahwa jumlah mereka mencapai 27,94 persen dari total populasi atau sekitar 74,93 juta jiwa. Mereka lahir di tengah keterbukaan informasi dan perkembangan teknologi yang belum pernah generasi sebelumnya alami. Kita mengetahui hampir segala hal yang terjadi di dunia, mulai dari perang, krisis iklim, gejolak ekonomi global, hingga dinamika politik nasional.

Namun, pengetahuan yang melimpah tidak selalu menghasilkan optimisme. Sebaliknya, semakin banyak yang kita ketahui, semakin besar pula kesadaran kita terhadap berbagai risiko yang mengancam masa depan. Sosiolog Ulrich Beck menyebut kondisi ini sebagai risk society, yaitu masyarakat yang hidup dalam bayang-bayang risiko global yang sulit terkendalikan oleh individu. Pandemi COVID-19, ancaman resesi, konflik geopolitik, hingga perkembangan kecerdasan buatan yang berpotensi mengubah dunia kerja membuat masa depan terasa semakin sulit terprediksi.

Kondisi ini diperkuat oleh pemikiran Zygmunt Bauman tentang liquid modernity. Dalam dunia yang serba cair, tidak ada lagi kepastian yang benar-benar dapat kita pegang. Pekerjaan, identitas sosial, bahkan prospek masa depan dapat berubah sewaktu-waktu. Akibatnya, banyak anak muda tumbuh dengan perasaan bahwa mereka sedang mempersiapkan diri untuk masa depan yang bentuknya sendiri belum jelas.

Ketika Mimpi Berhadapan dengan Realitas Ekonomi

Kecemasan Generasi Z tidak muncul tiba-tiba. Ia ada karena realitas sosial dan ekonomi yang mereka hadapi sehari-hari.

Indonesia Gen Z Report 2024 menunjukkan bahwa 60 persen Gen Z merasa kesenjangan sosial dan ekonomi berdampak signifikan terhadap kehidupan mereka. Banyak yang tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi, sementara akses terhadap pendidikan berkualitas dan pekerjaan layak masih belum merata.

Fenomena ini sejalan dengan konsep anomie yang Émile Durkheim kemukakan. Menurut Durkheim, kegelisahan sosial muncul ketika harapan yang masyarakat terbangun tidak sejalan dengan peluang yang tersedia. Kita terus terdorong untuk bermimpi besar, tetapi struktur sosial sering kali membuat jalan menuju mimpi tersebut semakin sempit.

Tidak mengherankan jika persoalan kesehatan mental menjadi isu utama bagi Gen Z. Indonesia Gen Z Report 2024 menunjukkan bahwa 51 persen Gen Z menjadikan kesehatan mental sebagai salah satu kekhawatiran terbesar mereka.

Krisis Kepercayaan pada Pemerintah dan Lahirnya Generasi Skeptis

Selain menghadapi ketidakpastian ekonomi, Generasi Z juga tumbuh dalam situasi politik yang membentuk cara pandang mereka terhadap kekuasaan.

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z menyaksikan politik secara langsung melalui media sosial. Mereka mengikuti berita tentang korupsi, konflik kepentingan, penyalahgunaan kekuasaan, serta berbagai kebijakan yang mereka anggap tidak selalu berpihak kepada masyarakat. Akses informasi yang luas membuat mereka lebih kritis, tetapi juga lebih skeptis.

Dalam perspektif politik, kondisi ini berkaitan dengan melemahnya kepercayaan terhadap institusi publik. Ilmuwan politik Robert D. Putnam menjelaskan bahwa kepercayaan sosial merupakan fondasi penting bagi demokrasi. Ketika masyarakat mulai meragukan kemampuan institusi dalam mewakili kepentingan mereka, maka legitimasi politik akan ikut melemah.

Gen Z bukan generasi yang tidak peduli pada politik. Sebaliknya, mereka justru sangat sadar terhadap berbagai persoalan publik. Namun, kesadaran tersebut sering kali berbarengan dengan rasa frustrasi karena merasa suara mereka tidak memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap arah kebijakan.

Di sinilah paradoks itu muncul. Semakin tinggi kesadaran politik, semakin besar pula potensi kekecewaan. Banyak anak muda akhirnya terjebak dalam sikap skeptis terhadap pemimpin, partai politik, maupun institusi negara karena merasa perubahan yang dijanjikan tidak pernah benar-benar terwujud.

Aturan Permainan Terus Berubah ketika Mereka Baru Saja Mulai Bermain

Dahulu, generasi muda menerima gambaran yang relatif sederhana, sekolah yang baik, kuliah, mendapat pekerjaan, lalu membangun kehidupan yang stabil. Namun ketika Gen Z memasuki dunia kerja, banyak dari mereka menemukan bahwa jalur tersebut tidak lagi berjalan seperti yang dijanjikan.

Misalnya, ketika mereka masih sekolah, menganggap gelar sarjana sebagai modal utama untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun saat lulus kuliah, mereka mendapati bahwa gelar saja tidak cukup. Perusahaan meminta pengalaman kerja, sertifikasi tambahan, kemampuan bahasa asing, kemampuan digital, portofolio, bahkan pengalaman magang. Akhirnya banyak lulusan baru terjebak dalam situasi paradoks. Sulit mendapatkan pekerjaan karena tidak memiliki pengalaman, tetapi tidak bisa memperoleh pengalaman karena belum mendapatkan pekerjaan.

Aturan permainan kembali berubah ketika mereka berhasil masuk dunia kerja. Dahulu menganggap pekerjaan tetap sebagai simbol keamanan ekonomi. Kini banyak perusahaan menerapkan sistem kontrak jangka pendek, outsourcing, atau bahkan kerja berbasis proyek (gig economy). Seorang pekerja muda bisa saja memiliki pekerjaan hari ini, tetapi tidak memiliki kepastian apakah kontraknya akan diperpanjang enam bulan kemudian.

Perubahan lain terlihat pada persoalan kepemilikan rumah. Banyak orang tua Gen Z mampu membeli rumah pada usia 20-an atau awal 30-an karena harga properti masih sebanding dengan pendapatan mereka. Kini, banyak pekerja muda yang bahkan setelah bekerja penuh waktu bertahun-tahun masih kesulitan mengumpulkan uang muka rumah. Ketika mereka berusaha mengejar target yang sama, garis finisnya ternyata sudah bergeser jauh lebih depan.

Hal yang sama terjadi dalam dunia kerja digital. Banyak anak muda menghabiskan waktu dan biaya untuk mempelajari keterampilan tertentu karena dianggap menjanjikan. Namun sebelum mereka benar-benar mapan, teknologi kembali berubah. Kemunculan kecerdasan buatan misalnya, membuat sebagian pekerjaan yang sebelumnya dianggap aman mulai dipertanyakan masa depannya. Mereka baru belajar mengikuti aturan lama, tetapi dunia sudah menciptakan aturan baru.

Kritis, Apatis, dan Dianggap Ancaman

Dalam konteks yang lebih luas, Gen Z juga memasuki pasar kerja setelah pandemi COVID-19, di tengah ancaman resesi global, gelombang pemutusan hubungan kerja, dan meningkatnya biaya hidup. Mereka dituntut lebih produktif, lebih kompetitif, dan lebih fleksibel daripada generasi sebelumnya, tetapi tidak selalu memperoleh imbalan yang setara.

Karena itu, kemarahan banyak anak muda bukan berasal dari ketidakmampuan menerima kegagalan. Mereka marah karena merasa telah melakukan apa yang diminta oleh masyarakat. Belajar dengan giat, kuliah, mengikuti pelatihan, membangun keterampilan, dan bekerja keras. Namun setiap kali mereka mendekati tujuan, syarat untuk mencapai tujuan itu kembali berubah.

Mereka tidak merasa kalah dalam permainan. Mereka merasa sedang bermain dalam permainan yang aturannya terus berubah di tengah pertandingan. Dan ketika hal itu terjadi berulang kali, yang lahir bukan hanya kekecewaan, tetapi juga perasaan bahwa masa depan semakin sulit terprediksi dan semakin sulit kita percaya.

Salah satu ironi terbesar yang Generasi Z alami adalah posisi mereka dalam ruang demokrasi. Di satu sisi, mereka terdorong untuk menjadi warga negara yang aktif, kritis, dan peduli terhadap persoalan publik. Namun di sisi lain, ketika mereka menyuarakan kritik, tidak jarang suara tersebut dianggap sebagai ancaman.

Sejarah menunjukkan bahwa anak muda selalu menjadi motor perubahan sosial. Dari gerakan mahasiswa hingga berbagai gerakan sosial kontemporer, kelompok muda sering kali berada di garis depan dalam memperjuangkan perubahan. Karena itulah, generasi muda yang kritis sering dipandang mengganggu kenyamanan kekuasaan.

Pada saat yang sama, banyak anak muda mulai mengalami kelelahan politik. Mereka terus mengikuti isu publik, menyampaikan kritik, bahkan terlibat dalam berbagai gerakan sosial, tetapi sering kali merasa bahwa perubahan yang diharapkan tidak kunjung datang. Dari sinilah lahir sikap apatis.

Gen Z, Generasi yang Paling Cemas

Apatisme Generasi Z bukanlah bentuk ketidakpedulian, melainkan akumulasi kekecewaan. Mereka kritis, tetapi merasa tidak dilibatkan. Mereka memahami masalah yang ada, tetapi tidak memiliki cukup kekuasaan untuk mengubahnya. Pada akhirnya, kecemasan Generasi Z tidak dapat terpahami hanya sebagai persoalan individu. Ia merupakan gejala sosial dan politik yang lahir dari ketidakpastian ekonomi global, kesenjangan sosial, krisis kepercayaan terhadap pemimpin, serta terbatasnya ruang partisipasi yang terasa oleh generasi muda.

Mungkin benar bahwa Gen Z adalah generasi yang paling cemas. Namun kecemasan itu ada karena mereka melihat terlalu banyak persoalan yang perlu mereka perbaiki. Mereka adalah generasi yang paling sadar terhadap masalah zaman, tetapi belum sepenuhnya memiliki kuasa untuk mengubahnya. Itulah sebabnya Gen Z menjadi generasi yang paling kritis, sekaligus paling cemas.

Banyak anggota Generasi Z juga menghadapi posisi yang unik sekaligus berat. Mereka bukan hanya sedang berjuang membangun masa depan mereka sendiri, tetapi juga sering kali harus membantu menopang kondisi ekonomi keluarga. Dalam banyak kasus, mereka menjadi bagian dari generasi sandwich, yakni kelompok yang harus memikirkan kebutuhan diri sendiri sekaligus membantu orang tua atau anggota keluarga lainnya.

Namun, persoalannya lebih kompleks dari sekadar beban finansial keluarga. Generasi Z tumbuh pada saat banyak peluang ekonomi yang pernah generasi sebelumnya nikmati semakin sulit terakses. Jika pada masa orang tua mereka harga rumah masih relatif terjangkau, biaya pendidikan belum setinggi sekarang, dan persaingan kerja belum seketat hari ini, maka Gen Z justru memasuki dunia dewasa ketika biaya hidup meningkat lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan.

Intergenerational Inequality

Kacamata Sosiologi menyebut fenomena ini sebagai intergenerational inequality, yaitu ketimpangan peluang antar generasi. Dalam kondisi tersebut, generasi muda tidak memulai perlombaan dari titik yang sama dengan generasi sebelumnya. Mereka mewarisi dunia yang lebih kompetitif, biaya hidup yang lebih mahal, serta berbagai krisis yang tidak mereka ciptakan sendiri.

Karena itu, tidak sedikit anak muda yang merasa menjadi generasi yang “kehabisan masa jaya”. Mereka lahir setelah berbagai momentum pertumbuhan ekonomi yang generasi sebelumnya nikmati telah berlalu. Mereka tidak menikmati harga tanah yang murah, akses pekerjaan yang lebih longgar, atau mobilitas sosial yang relatif lebih mudah seperti yang pengalaman sebagian orang tua mereka pada dekade-dekade sebelumnya.

Akibatnya, muncul perasaan bahwa mereka diminta untuk bermimpi sebesar generasi sebelumnya, tetapi dengan sumber daya dan peluang yang jauh lebih terbatas. Dalam konteks ini, kecemasan Generasi Z bukan semata-mata persoalan mentalitas. Hal tersebut merupakan respons rasional terhadap kenyataan bahwa mereka harus memikul beban masa depan dalam kondisi yang jauh lebih berat daripada generasi sebelumnya.

Tulisan ini akan saya tutup dengan catatan yang pernah saya tulis pada saat notulensi pada life coaching dan bisa kita renungkan bersama:

“Jika generasi sebelumnya tumbuh dengan keyakinan bahwa kehidupan anak-anak mereka akan lebih baik daripada kehidupan mereka sendiri, maka banyak anggota Gen Z justru tumbuh dengan ketakutan bahwa mereka mungkin tidak akan pernah mencapai tingkat kesejahteraan yang pernah dinikmati orang tua mereka.” []

Tags: Anak Muda IndonesiaGenerasi Z IndonesiaKecemasan Gen ZKetidakpastian EkonomiPolitik Indonesia
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Ketika Laki-laki dan Perempuan Sama-sama Terbebani oleh Peran Gender

Next Post

Mengapa Banyak Perempuan Sulit Mengenali Tubuhnya Sendiri?

Hilda Rizqi Elzahra

Hilda Rizqi Elzahra

Mahasiswi Magister UIN Salatiga aktif menulis di berbagai media

Related Posts

No Content Available
Next Post
Tubuhnya Sendiri

Mengapa Banyak Perempuan Sulit Mengenali Tubuhnya Sendiri?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Belajar Empati dari Perkemahan di SLB
  • Spanyol, Palestina, dan Misi Kemanusiaan di Panggung Dunia
  • Cara Mengatasi Dehidrasi akibat Diare pada Orang dengan AIDS
  • Bagaimana Mendidik Anak untuk Mengasihi Sesama Makhluk?
  • Orang dengan AIDS Mengalami Diare? Waspadai Risiko Dehidrasi

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0