Mubadalah.id – Saat kita berbicara tentang pendidikan, maka pasti tak terlepas dari yang namanya guru. Dalam KBBI, menyebutkan secara ringkas bahwa guru adalah orang yang pekerjaannya, mata pencahariannya, atau profesinya mengajar. Dalam pengertian yang lebih familiar, guru adalah seseorang yang mengajarkan ilmu pengetahuan dan karakter atau moral siswa-siswinya.
Terlepas dari problematika kesejahteraan guru di negara ini yang entah sampai kapan berakhir, ada satu keresahan yang begitu menyayat hati dalam benak penulis. Di mana keresahan ini bukan lagi tentang gaji guru yang rendah atau kebijakan pendidikan yang memicu perdebatan publik, melainkan tentang perilaku oknum guru era digital saat ini.
Kita ketahui bersama bahwasanya di era digital ini perkembangan konten kreator semakin masif. Tak terkecuali para guru juga ada yang terlibat menjadi bagian darinya. Sebenarnya penulis pribadi tidak keberatan dan tidak mempermasalahkan ketika seorang guru merangkap profesi sebagai konten kreator. Itu sah-sah saja sebenarnya. Mengingat bahwa hal itu juga merupakan hak kebebasan berekspresi bagi masing-masing individu.
Akan tetapi, bila seorang guru yang merangkap menjadi konten kreator ini membuat konten bernuansa negatif, seperti joget-joget atau bahkan mengajak anak muridnya turut berjoget dalam konten yang ia buat demi mengejar viral. Tentu saja hal ini memberikan efek domino negatif dan menciderai moral pendidikan nasional negeri ini.
Tiap konten ‘joget’ yang terpublikasikan oleh oknum guru era digital di media sosialnya, berapa banyak anak bangsa ini yang menonton? Dan bila mereka menonton konten tersebut, tentu akan berakibat pada bias kognitif psikologis. Anak-anak bangsa ini akan menganggap joget-joget adalah hal yang lumrah dan lazim kita lakukan. Toh guru-guru juga mencontohkannya, bahkan di dalam kelas sekalipun. Terkadang kami (para anak didiknya) juga diajak berjoget bersama. Begitu kira-kira.
Menyoal Oknum Guru
Sebelum melanjutkan tulisan ini, penulis ingin memberikan disclaimer terlebih dahulu bahwa tulisan ini dibuat tidak untuk merendahkan marwah guru. Sama sekali tidak. Penulis tahu bahwa guru adalah profesi mulia dan harus kita muliakan. Tulisan ini saya buat untuk menyampaikan keresahan terhadap perilaku oknum guru tertentu yang agak ‘melenceng’ itu.
Karena memang semua guru, secara general, tidak serta merta berperilaku seperti itu. Banyak juga guru era digital yang membuat konten positif bernuansa mendidik yang patut kita apresiasi. Yang membuat konten-konten negatif itu hanyalah oknum guru. Sekali lagi oknum guru.
Namun, meskipun ini oknum, tapi bila jumlahnya banyak dan terus bertambah setiap hari, apa jadinya nasib generasi muda bangsa ini di masa mendatang? Apa yang terjadi para moral generasi penerus bangsa ini bila sejak kecil sudah terpapar dengan konten joget seperti itu?
Konten-konten joget yang diinisiasi oleh oknum guru semestinya perlu kita minimalisir secara perlahan. Bahkan lebih bagus jika dihilangkan sama sekali. Karena guru memang seyogyanya menjadi teladan moral bagi siswa-siswinya, bukan malah menjadi pihak yang berbuat tidak benar, gemar membuat ‘onar’, dan tidak mencontohkan perilaku yang bermoral. Justru guru yang seharusnya memperbaiki moral anak-anak. Bukan malah diam-diam merusaknya melalui perilaku yang tercermin dalam konten-konten jogetnya itu.
Sampai sini kita perlu merenung. Bahwa kemajuan atau kemunduran suatu bangsa itu di antaranya ditentukan oleh bagaimana kualitas pendidikan bangsa tersebut. Dan kualitas pendidikan suatu bangsa tentu saja ada pada genggaman para guru. Karena guru adalah playmaker utama dalam dunia pendidikan.
Belajar dari Negara Jepang
Ada satu kisah klasik populer dari Jepang tentang bagaimana peran guru membuat Jepang berhasil menjadi negara maju pasca dibom atom oleh Amerika. Pasca peristiwa bom atom tejadi di Hiroshima dan Nagasaki, Kaisar Hirohito mengumpulkan semua jendral masih hidup yang tersisa dan menanyakan kepada mereka “Berapa jumlah guru yang tersisa?”
Sontak para jendral pun bingung mendengar pertanyaan Kaisar Hirohito dan menegaskan kepada Kaisar bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi Kaisar walau tanpa guru.
Namun, Kaisar Hirohito kembali berkata, “Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang. Tapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka? Maka kumpulkan sejumlah guru yang masih tersisa di seluruh pelosok kerajaan ini, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan.”
Dari kisah ini, kita semua (lebih-lebih para guru) semestinya belajar dan mengerti bahwa seorang guru itu memegang peran sentris dalam kemajuan negara ini. Bila gurunya memberikan pengajaran secara optimal, juga memperhatikan tumbuh kembang anak secara moral, dan tak mengabiskan waktu di depan kamera untuk berjoget-joget demi mengejar viral, maka Insya Allah kemajuan bangsa ini telah kita mulai dan tak hanya menjadi mimpi.
Kini sudah saatnya para oknum guru yang hobi joget itu melakukan pertaubatan dan kembali kepada jalan yang benar demi kebaikan bangsa ini. Agar moralitas generasi muda bangsa ini tak semakin terdegradasi.
Dan kini sudah saatnya para oknum guru ini kembali ke dalam kelas untuk menunaikan tugasnya melalui buku dan pena, bukan memuaskan egonya melalui sorot kamera. Karena pepatah Jawa pernah mengatakan, “guru kuwi kudu iso digugu lan ditiru, ora kok wagu tur saru” (guru itu harus bisa dipercaya dan ditiru, bukan malah berbuat aneh dan tidak pantas). Wallahu a’lam. []
____




















































