Jumat, 17 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    Milik Suami

    Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

    Krisis Pangan

    Krisis Pangan dan Kerentanan Ganda yang Dialami Difabel

    Nafkah Keluarga

    Reinterpretasi Tafsir Nafkah Keluarga

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    Zuhud

    Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

    Obat

    Mengapa Obat Antibiotik Harus Dihabiskan? Kenali Bahaya Resistensi Antibiotik

    Infeksi Area Kelamin

    Tips Meredakan Nyeri akibat Infeksi pada Area Kelamin

    kelenjar Bartholin

    Cara Mengatasi Vagina Bengkak Akibat Infeksi Kelenjar Bartholin

    Radang Mulut Rahim

    Radang Mulut Rahim (PID): Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Penanganannya

    Hepatitis B

    Cara Mengenali Hepatitis B dan Langkah Perawatan yang Tepat

    Kepemimpinan Abu Bakar

    Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    Milik Suami

    Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

    Krisis Pangan

    Krisis Pangan dan Kerentanan Ganda yang Dialami Difabel

    Nafkah Keluarga

    Reinterpretasi Tafsir Nafkah Keluarga

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    Zuhud

    Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

    Obat

    Mengapa Obat Antibiotik Harus Dihabiskan? Kenali Bahaya Resistensi Antibiotik

    Infeksi Area Kelamin

    Tips Meredakan Nyeri akibat Infeksi pada Area Kelamin

    kelenjar Bartholin

    Cara Mengatasi Vagina Bengkak Akibat Infeksi Kelenjar Bartholin

    Radang Mulut Rahim

    Radang Mulut Rahim (PID): Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Penanganannya

    Hepatitis B

    Cara Mengenali Hepatitis B dan Langkah Perawatan yang Tepat

    Kepemimpinan Abu Bakar

    Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Sastra

Joko Pinurbo; Penyair Senja yang Telah Tuntas Menunaikan Ibadah Puisi

Jokpin pergi dengan meninggalkan puisi-puisi yang bukan hanya berindah-indah di dalam diksi, namun puisi yang sarat akan makna dan kritik

Nikmara by Nikmara
30 April 2024
in Rekomendasi, Sastra
A A
0
Joko Pinurbo

Joko Pinurbo

26
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Pada  27 April 2024 kemarin, salah satu penyair ternama negeri kita telah berpulang. Setelah terbaring sakit selama beberapa waktu. Ialah Joko Pinurbo (Jokpin), yang meninggal dalam damai sebagaimana penyair WS Rendra ataupun novelis Pram, dengan lantaran sakit sebagai jalan berpulang. Sebuah kematian di atas ranjang yang hangat, di kelilingi orang-orang yang disayang.

Senja Sebagai Simbol Kematangan dan Kedewasaan

Jokpin pergi dengan meninggalkan puisi-puisi yang bukan hanya berindah-indah di dalam diksi, namun puisi yang sarat akan makna dan kritik.

Jokpin sedikit mirip dengan Sapardi Djoko Damono, menyampaikan puisi dengan bahasa lembut dan halus. Jika diumpamakan, Sapardi adalah penyair hujan, Agus Noor adalah penyair kopi, sedang Jokpin adalah penyair senja. Penyebutan ini bukan sembarang, sebab nuansa puisi Jokpin menunjukkan citarasa senja. Selain ia juga pernah menulis puisi berjudul Pacar Senja.

Senja adalah simbol kematangan dan kedewasaan. Dalam siklus kehidupan manusia, orang yang berumur lebih dari 50 tahun, sudah memasuki usia matang dan dewasa. Usia sebagaimana perjalanan matahari yang sudah mulai condong ke arah barat, menjadi sebab munculnya mega merah dan meredam teriknya matahari siang. Semiotika puisi Pacar Senja akan sampai juga pada pemaknaan perjalanan kehidupan manusia yang menjelang purna.

Senja adalah tanda telah sempurnanya tugas matahari menyinari bumi. Manusia di usia menjelang “senja” adalah mereka yang diharapkan bisa menuntun anak muda karena telah melanglang buana menapaki pengalaman hidup. Puisi dan pribadi Jokpin menggambarkan kematangan dan kedewasaan layaknya senja, yang mengajari manusia menjadi pribadi yang tenang dalam menghadapi manis dan pahitnya kehidupan.

Kritik Halus ala Jokpin

Jokpin adalah sang inspirator di mana dengan puisi-puisinya, ia mampu menginspirasi ribuan anak muda. Semua mahasiswa sastra yang belajar puisi, pastilah mengenal Jokpin. Pecinta dan penikmat sastra yang punya ketertarikan untuk mereguk nikmatnya puisi juga pasti mengenalnya.

Prosa adalah tentang menjabarkan dunia, sedangkan puisi adalah menyederhanakan dunia dalam satu-dua kata. Jokpin berhasil menciptakan puisi-puisi indah, menyampaikan pelajaran dan potret kehidupan melalui satu-dua kata dengan caranya sendiri yang otentik.

Bukan hal yang mudah menulis puisi, karena selain seorang penyair dituntut membaca banyak buku, ia juga dituntut melakukan banyak instrospeksi dan perenungan, lalu mengungkapkannya dalam himpunan kata yang harmonis dan sublim.

Puisi Jokpin lahir dari pembacaan dan perenungan yang mendalam. Hebatnya, sekalipun mengkritik fenomena sosial yang keruh, Jokpin berhasil menyampaikannya dengan bahasa yang halus dan lembut, tanpa kehilangan kelugasannya. Ia mengkritik intoleransi agama dengan hangat. Ia menyoroti keber-agama-an manusia dengan cara yang tenang dan damai.

Seperti dalam sajak: Apa agamamu? Agamaku adalah air yang menghapus pertanyaanmu. Puisi ini muncul dari kegelisahan seorang Jokpin terhadap fenomena maraknya orang bertanya agama sebagai tolak ukur memergauli orang lain.

Jika berbeda kepercayaan, akan menjaga jarak, namun jika beragama yang sama, akan lebih ramah. Padahal dalam berkehidupan, sudah seharusnya manusia memergauli siapapun dengan baik tanpa pandang agama, kepercayaan, ataupun warna kulit.

Jokpin, Media, dan Perempuan

Jokpin memang terkenal menyoroti hal-hal domestik keseharian, Jokpin dalam puisinya juga sempat menyatakan pendapat dan kegelisahannya tentang media dan hiruk-pikuknya. Seperti dalam sajak Telepon Genggam dan Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Berkantor di Ponselnya.

Perempuan dalam puisi Jokpin juga punya posisi khusus, Maria, dan diksi Ibu, sering disebut-sebut dalam puisi Jokpin, baik secara gamblang sebagai sosok Ibu dari seorang anak, ataupun sebagai personifikasi. Ibu yang digambarkan Jokpin kebanyakan merupakan sosok mulia, penyayang, bijaksana, aktif dalam urusan domestik dan pemegang otoritas namun tidak otoriter.

Puisi Kemacetan Tercinta:

“Selamat malam, Bu. Apakah di tengah kemacetan ini kecantikan masih berguna?”

Ibu tak menjawab malah berkata, “kemacetan ini terbentang antara hati yang kusut dan pikiran yang ruwet. Kamu dan negara sama-sama mumet.”

Sosok Ibu sebagai sosok yang aktif di ranah domestik (puisi Keluarga Puisi):

Pagi-pagi ibu sudah mengepul di dapur

Ayah berderai di halaman

Dan aku masih gemericik di tempat tidur.

Selain itu, Jokpin juga tak luput mendefinisikan dan mengkritik kecantikan dengan cara lembut namun tajam, lewat puisinya Kecantikan Belum Selesai dan Doa Para Pesolek. Di dalam puisi Kecantikan Belum Selesai, tersirat makna bahwa di balik kecantikan fisik yang penuh riasan, ada kehampaan. Tak ada kecantikan yang sempurna, mendamba kecantikan yang sempurna adalah ilusi. Manusia akan senantiasa merasa kurang meski ia telah bersolek habis-habisan. Puisi ini mengajak perempuan untuk merenungkan kembali definisi kecantikan dan pentingnya menerima kertidaksempurnaan. Penggalan sajak Kecantikan Belum Selesai:

Belum. Belum selesai. Beri aku sentuhan terakhir

pada rambut, mata dan bibir agar melihatku

adalah melihat kecantikan yang belum selesai.

Perlukah, manis, kuoleskan darah pada bibirmu

yang skeptis agar semua yang mendamba kau

sangsai: apakah kecantikan sudah/belum selesai?

Menuju Otensitas Diri dan Puisi

Meski Jokpin sempat dikritik karena puisinya yang dinilai “sepele” dan tidak memiliki keunikan, namun ia tidak patah arang. Dalam wawancara dengan Whiteboard Jurnal, Jokpin mengatakan setelah buku kumpulan puisinya ditolak tiga kali oleh penerbit, ia mengevaluasi lagi semua sajak-sajaknya dan melakukan riset untuk mengidentifikasi kekurangan puisi-puisinya, dari gaya bahasa hingga tema dan gaya penulisan.

Ia berhasil menemukan kelemahan puisinya, lalu mengubah gaya penulisannya yang awalnya liris menjadi naratif. Ia melakukan eksperimen menulis puisi dengan objek sederhana, seperti celana, sarung, kaleng khong guan, angkringan, dan lain-lain. Yang mana hal itu belum dilakukan oleh para penyair pendahulunya. Dan kemudian itulah yang menjadi keunikan dan ciri khasnya. Dengan kecerdasannya, Jokpin menjadi ahli menulis puisi dengan diksi dan gaya sederhana namun memiliki makna yang tidak sederhana.

Jokpin dan Humor

Tak jarang, Jokpin menyelipkan humor dalam puisinya. Baginya, humor adalah cara terbaik untuk menghadapi absurditas hidup. Hidup yang berisi pengulangan dan rutinitas, harus dihadapi dengan hati yang lentur. Menurut Jokpin, Humor yang ia buat bukan semata untuk memberi efek kelucuan, namun berisi visi cara orang menyikapi hidup. Humor yang ia buat memuat tujuan yang lebih filosofis.

Hidup adalah serangkaian rutinitas yang membosankan. Bagaimana menghadapinya? Dengan relaksasi. Humor adalah relaksasi. Kehidupan yang suram dan sulit hanya bisa dihadapi dengan batin yang rileks. Ya, saat membaca puisi-puisi Jokpin kita seolah dibawa berekreasi dan relaksasi, membuat syaraf-syaraf jadi kendur, mendapat efek terapi.

Penyair Senja

Dunia kesusasteraan Indonesia melahirkan banyak nama penyair legendaris yang sekaligus menjadi maestro dan patron sastra seperti HB Jassin, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Subagio Sastrowardoyo, W.S. Rendra, Taufiq Ismail, Abdul Hadi WM, hingga Sutardji Calzoum Bachri dan Sapardi.

Jokpin dan puisinya telah memberi warna baru dalam dunia puisi Indonesia. Ia menyeimbangi cadas dan kuatnya kritik Wiji Thukul, ataupun puisi-puisi eksploratifnya Ahmadun Yosi Herfanda. Jokpin sangat pantas masuk dalam jajaran penyair kenamaan karena kualitas puisinya yang unik, dalam, jenaka, kadang dipenuhi satire, dan membawa kebaruan dalam dunia sastra Indonesia.

Jokpin adalah penyair senja, penyair yang telah purna dan lebur dalam ekstase bahasa. Tentu penyebutan penyair senja bukan untuk mengkotak-kotakkan, sebab Jokpin juga beberapa kali menulis sajak tentang kopi dan beberapa kali menggunakan diksi hujan.

Sajak Lubang Kopi:

Jam tiga pagi Waktu Indonesia Bagian Kopi

lampu tidur di matanya menyala kembali.

Hujan tinggal bekas dan kopi sudah menjadi miras.

Sajak Litani Terima Kasih:

Ibu hujan mendaraskan rincik-rincik merdu

Terimalah kasihku

Sepanjang karir kepenyairannya, Jokpin juga pernah membuat sajak yang bernuansa kritik sosial, kritik terhadap norma, dan juga tragedi Mei, melalui sajak Korban, Daerah Terlarang, Patroli, sajak Mei, dan lainnya. Demikian penyair lain juga tidak berhenti bersajak pada satu tema khusus, namun mereka semua juga menyoroti beragam fragmen kehidupan.

Pergeseran Makna Puisi dan Kapitalisasi Puisi

Jokpin pernah mengkritik posisi puisi di era teknologi informasi kini yang hanya menjadi bumbu tabur dalam beragam konten. Puisi kehilangan nilai sejatinya dan seolah sudah tidak menjadi tuan di dalam rumahnya sendiri.

Puisi adalah karya yang muncul dari kedalaman dan ruang sunyi para penyair, ia merupakan sintesa dari beragam kegelisahan. Para penyair telah melakukan ritual pembacaan dan tirakat keilmuan hingga tersembullah ke permukaan, barisan kata-kata yang seperti mata air jernih yang menjadi sumber kehidupan, menghapus dahaga manusia.

Puisi mengungkapkan realitas yang tak bisa dilakukan oleh angka. Puisi adalah kata yang hadir dari pergulatan hidup dan proses berfikir para penyair, namun kini dijadikan layaknya topping makanan secara serampangan. Penghormatan terhadap puisi telah berkurang, dikarenakan minimnya pengetahuan tentang puisi.

Bahkan di kematian Jokpin pun, banyak dari mereka yang tidak mengerti puisi, tiba-tiba memposting Jokpin dengan hanya sekali-dua kali browsing, lalu mendaku telah mengenal Jokpin dan seorang pecinta Jokpin—sekaligus pecinta puisi.

Namun demikian, baguslah jika anak muda dan orang-orang yang dibawa algoritma dan hastag medsos, kini mengenal nama Jokpin. Setidaknya mereka mengetahui bahwa di Indonesia ada penyair hebat bernama Jokpin. Semoga menjadi awal yang bagus bagi literasi bangsa. Menjadi awal bagi siapapun untuk mulai menyukai sastra, belajar sastra, dan hidup dengan sastra.

Selamat jalan Jokpin, puisimu abadi dan abadilah dalam puisi. []

Tags: Joko PinurboJokpinPenyairPuisiSastra
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mengapa Perjodohan Hingga saat Ini Masih Ada?

Next Post

Pernikahan yang Kokoh adalah Pernikahan Tanpa Paksaan

Nikmara

Nikmara

Related Posts

Bersama Kartini
Rekomendasi

Dialog Imajiner Bersama Kartini: Apa Artinya Berani bagi Perempuan?

26 April 2026
As Long as the Lemon Trees Grow
Buku

As Long as the Lemon Trees Grow: Suara Kecil dari Suriah kepada Dunia

25 April 2026
Lelaki dalam Ponsel
Sastra

Lelaki dalam Ponsel

5 April 2026
Entrok
Buku

Entrok: Realitas Pahit Masa Lalu yang Relevan hingga Masa Kini

19 Februari 2026
Joko Pinurbo
Publik

Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

27 Januari 2026
Ujung Sajadah
Rekomendasi

Tangis di Ujung Sajadah

16 November 2025
Next Post
Pernikahan

Pernikahan yang Kokoh adalah Pernikahan Tanpa Paksaan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan
  • Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja
  • 7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat
  • Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian
  • Meminjam Kacamata Kebahagiaan di Tengah Doomscrolling: Refleksi Membaca The Atlas of Happiness

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0