Mubadalah.id – Kehilangan tak pernah mudah. Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tetapi siapa pun yang pernah mengalaminya tahu betul bahwa ia menyimpan luka yang tak bisa teringkas oleh kata-kata. Kehilangan bukan sekadar peristiwa, melainkan pengalaman batin yang mengguncang arah hidup seseorang. Ia datang tanpa permisi, menetap tanpa bisa kita tawar, dan sering kali menyisakan sunyi yang panjang.
Rasul dan Riwayat Panjang Kehilangan yang Dialaminya
Jika kita menengok kehidupan Rasulullah Muhammad SAW, kita akan mendapati bahwa beliau adalah manusia yang akrab dengan kehilangan. Sejak kecil, hidup Rasul terpenuhi perpisahan yang tak ringan. Ayahnya wafat bahkan sebelum ia lahir. Ibunya, Aminah, berpulang saat Rasul masih kanak-kanak. Tak lama kemudian, kakeknya Abdul Muthalib, sosok yang menjadi pelindung dan tempat bersandar, meninggalkannya pula.
Di masa dewasa, Rasul kehilangan pamannya, Abu Thalib, yang selama ini menjadi benteng perlindungan dari tekanan Quraisy. Ia juga harus merelakan kepergian Khadijah, istri sekaligus sahabat jiwa yang paling ia cintai. Anak-anaknya pun satu per satu berpulang.
Islam Tidak Mengharamkan Air Mata
Rasul bukan manusia yang asing dengan duka. Ia menangis, bersedih, dan merasakan pedih sebagaimana manusia lain. Ketika putranya, Ibrahim, wafat, Rasul bersabda,
“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridai oleh Tuhan kami.”
Kalimat beliau menunjukkan bahwa Islam tidak pernah mengharamkan kesedihan. Yang terlarang adalah meniadakan empati, meremehkan luka, atau memaksa orang untuk segera “kuat”.
Al-Qur’an sendiri mengakui beratnya kehilangan:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155).
Ayat ini tidak memerintahkan kita untuk kebal terhadap duka, melainkan mengakui bahwa kehilangan adalah bagian dari ujian hidup manusia.
Kehilangan Ibu Membuka Ruang Kesadaranku
Aku mulai memahami makna ayat dan teladan Rasul itu dengan cara yang paling personal. Ibuku berpulang pada 8 Desember 2025, di awal bulan yang tak pernah kuduga. Sejak hari itu, aku belajar bahwa tidak ada satu pun manusia yang benar-benar ingin berada di posisi berduka. Duka bukan sesuatu yang kita pilih. Ia datang begitu saja, dan siapa pun yang mengalaminya sedang berjuang sekuat tenaga untuk tetap bernapas seperti biasa.
Karena mengalami kesedihan yang cukup panjang itu, aku mulai menyadari betapa pentingnya sikap empati. Di masa-masa grief[1], aku masih harus menghadapi banyak orang yang datang, alih-alih khusus mendoakan, justru bertanya berulang-ulang tentang kronologi wafat, sebab kematian, atau detail-detail yang sesungguhnya tidak perlu, dan menurutku sering kali justru memperpanjang luka.
Setelah kepergian ibuku, aku baru benar-benar paham bahwa memotret orang yang sedang berduka, mengunggahnya ke media sosial, atau menjadikan kematian sebagai bahan obrolan, adalah bentuk ketidakpekaan yang sering dinormalisasi.
Adab Takziyah: Hadir Tanpa Melukai
Islam mengajarkan adab yang sangat halus dalam menghadapi duka. Rasulullah SAW mencontohkan untuk hadir, mendoakan, dan menguatkan, alih-alih menginterogasi. Dalam suasana takziyah, yang kita butuhkan bukanlah basa-basi panjang, apalagi nasihat yang tidak diminta. Kalimat seperti “yang sabar ya”, jika tersampaikan tanpa kehadiran empatik, bisa terasa kosong. Lebih baik diam sejenak, menggenggam tangan, atau mendoakan dengan tulus.
Mari hentikan kebiasaan bertanya yang tidak perlu walau telah membudaya. Hentikan membandingkan duka seseorang dengan duka orang lain. Setiap kehilangan punya ceritanya sendiri, dan setiap orang berhak berduka dengan caranya masing-masing. Rasul tidak pernah memaksa orang-orang di sekitarnya untuk segera bangkit, apalagi menuntut mereka tampil tegar demi kenyamanan sosial.
Takziyah sebagai Ruang Kemanusiaan
Takziyah sejatinya adalah ruang kemanusiaan. Datanglah dengan niat meringankan, bukan menambah beban. Ucapkan doa yang singkat dan tulus. Jaga lisan, jaga gestur dan jaga empati. Sebab di masa-masa seperti itu, perasaan manusia sedang rapuh-rapuhnya.
Kehilangan memang tak pernah mudah. Rasul telah mengajarkan bahwa berduka adalah bagian dari menjadi manusia, dan berempati adalah bagian dari menjadi beriman. Jika kita tak tahu harus berkata apa, diam yang penuh doa sering kali jauh lebih bermakna. Karena pada akhirnya, yang paling dibutuhkan oleh mereka yang berduka bukanlah penjelasan panjang, bukan nasihat-nasihat tentang kesabaran, melainkan kehadiran yang manusiawi. []
[1] Grief (duka cita) adalah respons emosional, fisik, dan psikologis yang kompleks dan mendalam terhadap kehilangan seseorang atau sesuatu yang dicintai. Ini adalah proses alami yang melibatkan berbagai perasaan, termasuk kesedihan, kemarahan, kesepian, dan penolakan. Berduka tidak hanya soal kematian, tapi bisa juga perubahan hidup besar lainnya.



















































