Menjadi buta itu bukan kutukan, tapi cara semesta mengajariku melihat dunia dengan lebih jujur.
Mubadalah.id – Ketika kalian menyelami dunia digital, dimedia sosial khususnya Instagram. Cobalah sesekali mampir di akun @Gusrus Yuwanda. Kreator digital dengan pengikut 59,2RB itu merupakan suami dari Made Ayu Wandari. Seorang disabilitas netra, yang menjadi guru honorer asal Bali. Mulanya, satu reels miliknya lewat dalam beranda saya, sebuah video ketika sang suami menjemput istrinya yang turun dari bus umum sepulang dari kerja.
Terlihat biasa, namun menjadi begitu istimewa ketika saya membaca caption yang tertuliskan dalam video tersebut. Ia menuliskan, POV Punya istri tunanetra dengan caption karena menunggu adalah bentuk cinta paling sederhana, mungkin bagimu ini hanya sekadar jemputan biasa, tapi bagi kami, setiap detik penantian adalah rindu yang terbayar. Cinta tak butuh mata untuk melihat, karena ia sudah punya hati untuk mesra. Terima kasih sudah menjadi pelengkap hidupku.
Video yang mendapat like 373rb dan komentar mencapai 5.190 tersebut menuai banyak rasa kagum dari warga net. Beberapa menuliskan rasa irinya karena keromantisannya, energi yang positif dari keduanya, dan ragam doa-doa baik serta ungkapan setara dari pasangan tersebut.
Saya sepakat dengan seluruh komentar positif yang dilayangkan kepada pasangan ini, tertambah ketika saya menelusuri akun Instagram milik @Gusrus Yuwanda tersebut. Kekaguman saya bertambah ketika banyak unggahan video-video reels yang menunjukkan perhatian dan rasa bangga suami terhadap istrinya.
Konsep Utama Cinta Bukan Lagi Pada Mata
Meski secara fisik sang istri memiliki kemampuan yang berbeda, namun suami tak sedikit pun melihatnya sebagai permasalahan atau kendala. Justru sebaliknya, rasa cinta, penghormatan, perhatian, keromantisan, dan segala bentuk apresiasi terhadap istrinya menjadi bukti bahwa cinta tak melulu tumbuh dari apa yang terlihat oleh mata. Tetapi dari apa yang dipahami dan diterima oleh hati.
Relasi pernikahan disabilitas yang terbangun dari keduanya dapat terbaca sebagai peristiwa kemanusiaan yang melampaui persepsi fisik. Makna “melihat” pasangan secara biologis mampu tergeser dengan pengalaman batin untuk melihat pasangan tidak lagi dengan mata, melainkan dengan hati. Pernyataan itu bukan sekadar ungkapan romantis, tetapi tentang bagaimana memahami pasangan secara utuh. Seluruh, tak lagi hanya separuh.
Sebuah pernikahan yang tergambarkan secara ideal, kerap kali sering bertumpu pada kesempurnaan fisik atau kenormalan tubuh. Bahkan dalam banyak budaya dan fenomena sosial, daya tarik visual kerap menjadi titik awal legitimasi sebuah relasi. Perempuan dengan disabilitas, khususnya netra identik dengan kekurangan dan tak cukup mampu menjalankan perannya sebagai istri maupun ibu untuk merawat rumah. Namun, kita bisa meneladani dari Gusrus Yuwanda. Memberikan dukungan penuh terhadap istri, mengizinkan untuk tetap berkarier dan menjadi ibu yang berhasil mendidik anak-anaknya meski memiliki kemampuan yang berbeda.
Melawan Standar Sosial
Melalui kisah pernikahan disabilitas Gusrus Yuwanda pula, kita belajar bahwa seorang laki-laki memilih menikahi perempuan disabilitas netra dengan kesadaran penuh. Ia sedang melawan standar sosial mengenai pasangan yang ideal dalam pandangan masyarakat. Melalui kesadaran penuh, ia bertekad memindahkan pusat relasi dari penampilan fisik menuju kualitas batin; karakter, kecerdasan emosional, keimanan, keteguhan, dan kemampuan membangun kedekatan secara menyeluruh.
Setidaknya dari fenomena pernikahan disabilitas di atas, kita turut menelaah bahwa cinta yang dewasa bukanlah proyek penyelamatan. Bukan pula sebagai ajang mengasihi, mengedepankan untung rugi, melainkan mengakui kesetaraan martabat. Cinta yang tumbuh dari hati secara tidak langsung dapat melihat potensi, bukan hanya sekadar kondisi.
Solidaritas dan Dukungan pada Disabilitas
Selaras dengan moral Foundation bahwa konsep mubadalah yang menekankan pada aspek kerja sama dan kesalingan menuntut kita untuk melihat sesama secara utuh. Bukan belas kasihan secara sepihak. Mendorong solidaritas dan dukungan sesama termasuk pada orang-orang inklusi sebagai tanggung jawab kolektif umat.
Apa yang tergambar dalam cerita di atas, mampu mematahkan stigma masyarakat bahwa pernikahan dua orang yang memiliki kemampuan berbeda, bukanlah sebuah alasan untuk meragukan kebahagiaan. Apalagi merendahkan martabat salah satunya. Justru dari perbedaan semacam itu, lahir ruang untuk saling menguatkan, melengkapi, dan memahami lebih dalam. Relasi yang terbangun berlandaskan kesetaraan dan penerimaan patut dihargai dan dirayakan bersama.
Maka, apa yang dilakukan oleh Gusrus Yuwanda di atas, menuntun kita untuk membuka mata dan hati dari berbagai sisi. Tak melulu kebahagiaan milik setiap orang yang memiliki kesempurnaan fisik. Sering kali justru tumbuh dari penerimaan, kesetaraan, dan keberanian untuk mencintai tanpa syarat. Pernikahan yang dibangun oleh keduanya mengajarkan bahwa keteguhan hati dalam menghargai martabat dan keutuhan pasangan sebagai manusia menjadi landasan utamanya. []







































