Mubadalah.id – Selama tiga hari, suasana belajar kami sebagai Mahasantri SUPI (Sarjana Ulama Perempuan Indonesia) terasa berbeda dari biasanya. Jika sehari-hari kami mengikuti pengajian dan perkuliahan di rumah joglo pesantren, kali ini proses belajar berlangsung di sebuah resort di Kabupaten Kuningan dengan latar megah Gunung Ciremai yang menjulang di kejauhan.
Pada 5–7 Juni 2026, kami mengikuti pelatihan kesehatan mental dalam Program MERAWAT (Mental Health, Equity and Relational Wellbeing Transformation) Pesantren. Program ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman tentang kesehatan mental, membangun budaya pesantren yang lebih aman dan nyaman. Serta menumbuhkan sikap empati di antara para santri.
Sejak hari pertama, rangkaian kegiatan berlangsung padat sekaligus menyenangkan. Kami diajak mengenali karakter diri melalui berbagai aktivitas interaktif, mempelajari konsep manajemen stres berdasarkan panduan WHO, memahami perbedaan antara distress dan eustress. Hingga mengenali lingkar kendali emosi yang dapat membantu seseorang mengelola berbagai tekanan hidup.
Tidak hanya itu, kami juga berlatih membangun komunikasi empatik melalui metode RASA: Receive, Ask, Summarize, dan Appreciate. Metode ini mengajarkan bahwa mendengarkan bukan sekadar menunggu giliran berbicara. Melainkan upaya sungguh-sungguh untuk memahami pengalaman orang lain.
Prinsip yang terus diulang selama pelatihan adalah, “Berbicara untuk dipahami, mendengarkan untuk memahami.” Sebuah kalimat yang ternyata tidak mudah dipraktikkan. Sebab dalam keseharian, manusia sering kali lebih cepat memberi penilaian daripada memberi ruang bagi orang lain untuk bercerita.
Deep Talk
Salah satu sesi yang paling membekas adalah kegiatan deep talk pada malam hari. Dalam suasana yang cukup dingin, kami saling berbagi pengalaman hidup, kegelisahan, bahkan luka-luka batin yang selama ini tersimpan. Tidak ada penghakiman. Tidak ada upaya membandingkan penderitaan satu dengan yang lain. Yang hadir hanyalah kesediaan untuk mendengar.
Malam itu saya menyadari bahwa di balik wajah yang terlihat kuat, sering kali tersimpan kecemasan, kelelahan, atau luka yang tidak pernah diketahui orang lain.
Namun, dari seluruh materi yang disampaikan, ada satu hal yang paling menggugah kesadaran saya. Yakni ketika persoalan kesehatan mental dibahas melalui perspektif KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia).
Selama ini, diskusi mengenai kesehatan mental sering dianggap sebagai konsep yang berasal dari teori-teori psikologi modern atau pendekatan barat. Akan tetapi, KUPI menghadirkan cara pandang yang berbeda. Perspektif ini lahir dari tradisi keilmuan Islam dan pengalaman panjang pesantren dalam mendampingi manusia.
Melalui perspektif tersebut, saya mulai melihat bahwa selama ini terdapat cara pandang yang cukup mengakar di sebagian lingkungan pesantren: seolah-olah kesehatan mental dan kesalehan spiritual adalah dua hal yang terpisah.
Tidak sedikit santri yang ketika mengalami kecemasan, stres berat, atau kelelahan mental justru mendapatkan respons seperti, “kurang ibadah,” “imannya sedang lemah,” atau “kurang ikhlas.” Kalimat-kalimat semacam ini sering kali membuat seseorang merasa bersalah atas kondisi yang sedang dialaminya.
Akibatnya, banyak orang memilih memendam masalahnya sendiri. Mereka takut dianggap kurang beriman ketika mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Pandangan Nyai Nur Rofi’ah
Pandangan tersebut mulai berubah ketika sesi yang dibawakan oleh Hanifah dan Nyai Nur Rofi’ah berlangsung. Dalam pemaparannya, Nyai Nur Rofi’ah menjelaskan bahwa Islam tidak pernah memisahkan kesehatan fisik, kecerdasan intelektual, dan kesehatan mental atau spiritual. Ketiganya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari diri manusia.
Tubuh, hati, dan jiwa merupakan amanah dari Allah SWT yang harus kita jaga. Karena itu, merawat kesehatan mental sesungguhnya merupakan bagian dari menjaga kemaslahatan jiwa atau hifz an-nafs, salah satu tujuan utama syariat Islam.
Bagi saya, penjelasan tersebut terasa seperti tamparan sekaligus pelukan. Tamparan, karena saya menyadari betapa sering manusia memaksa hidupnya untuk bekerja melampaui batas. Pelukan, karena akhirnya saya memahami bahwa menjaga diri bukanlah bentuk kelemahan.
Selama ini, banyak santri hidup dalam tekanan. Mereka belajar keras karena takut mengecewakan orang tua, berusaha memenuhi standar tertentu karena takut dinilai gagal, atau terus memaksa diri karena dihantui rasa bersalah jika beristirahat.
Dalam psikologi, kondisi tersebut kita kenal sebagai introjected value, yakni dorongan yang muncul karena tekanan internal yang terbentuk dari ekspektasi orang lain.
Kita hidup dengan kalimat Saya harus: Saya harus kuat. Saya harus berhasil. Saya harus sempurna.
Padahal, tidak ada manusia yang selalu kuat setiap waktu.
Di titik inilah saya menemukan relevansi perspektif KUPI. Melalui prinsip unconditional positive regard atau penerimaan tanpa syarat, KUPI mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki martabat dan nilai yang melekat pada hidupnya, terlepas dari segala keterbatasan dan kerapuhan yang ia miliki.
Menjadi Manusia yang Berharga
Seseorang tidak menjadi berharga karena prestasinya. Tidak pula karena kesempurnaannya. Manusia berharga karena ia adalah manusia.
Kesadaran ini membawa saya pada pemahaman baru bahwa merawat kesehatan mental bukanlah bentuk keluhan, apalagi tanda kurang bersyukur. Sebaliknya, ia merupakan bentuk tanggung jawab atas amanah kehidupan yang Tuhan berikan.
Jika tubuh yang sakit perlu kita obati, maka jiwa yang terluka juga berhak mendapatkan perhatian dan pemulihan.
Refleksi lain yang sangat membekas muncul ketika membahas relasi sehat. Nyai Nur Rofi’ah menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki status hakiki yang sama sebagai hamba Allah sekaligus khalifah fil ardh yang bertugas menghadirkan kemaslahatan di muka bumi.
Dari prinsip tersebut lahir kesadaran bahwa segala bentuk kekerasan bertentangan dengan nilai rahmah dan ma’ruf yang menjadi fondasi ajaran Islam.
Kekerasan tidak hanya berupa tindakan fisik yang dilakukan orang lain kepada kita. Kekerasan juga dapat hadir dalam bentuk yang lebih halus, yaitu ketika seseorang terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri, menolak emosinya sendiri, mengabaikan luka batinnya sendiri, atau memaksakan diri hingga mengalami kelelahan yang berkepanjangan.
Sering kali, musuh terbesar seseorang bukanlah orang lain. Melainkan suara di dalam dirinya sendiri yang terus mengatakan bahwa dirinya tidak cukup baik.
Padahal Allah kita kenal dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Jika Allah menghadirkan kasih sayang yang begitu luas kepada manusia, mengapa manusia sering kali begitu keras kepada hidupnya sendiri?
Pertanyaan itu terus terngiang di kepala saya hingga pelatihan berakhir.
Peer Counselor
Pelatihan ini juga memperkenalkan konsep peer counselor atau pendamping sebaya bersama Abi Marzuki. Dalam perspektif KUPI, pendamping sebaya bukanlah orang yang paling pandai memberi nasihat atau paling banyak mengutip dalil. Pendamping sebaya adalah mereka yang mampu hadir sebagai pendengar yang aman, menjaga kerahasiaan, serta menemani seseorang melewati masa sulit.
Konsep ini terasa sangat relevan bagi kehidupan pesantren. Sebab tidak semua persoalan membutuhkan ceramah panjang. Terkadang seseorang hanya membutuhkan teman yang bersedia mendengarkan.
Dari seluruh rangkaian kegiatan, saya sampai pada satu kesimpulan penting: pesantren tidak cukup hanya menjadi tempat mencetak santri yang kuat secara intelektual dan spiritual. Pesantren juga harus menjadi ruang yang aman bagi kesehatan jiwa para santrinya.
Di balik hafalan yang terus bertambah, tugas pengabdian yang menumpuk, serta tuntutan akademik yang tinggi, ada manusia-manusia muda yang membutuhkan ruang untuk didengar, dipahami, dan diterima.
Melalui perspektif KUPI, upaya merawat kesehatan mental di pesantren sesungguhnya merupakan bentuk nyata dari Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang tidak hanya berbicara tentang kewajiban. Tetapi juga tentang kasih sayang. Islam yang tidak hanya mengajarkan ketangguhan, tetapi juga penghargaan terhadap batas-batas kemanusiaan.
Dengan begitu, saya sebagai Mahasantri SUPI pulang dari pelatihan ini dengan langkah yang terasa lebih ringan. Bukan karena semua persoalan hidup tiba-tiba selesai, melainkan karena saya memperoleh cara pandang baru dalam melihat diri sendiri dan orang lain.
Saya pulang dengan kesadaran bahwa menjaga kesehatan mental adalah bagian dari menjaga amanah yang telah Allah Swt titipkan.
Dan lebih dari itu, saya pulang untuk berusaha menjadi telinga yang mau mendengar, hati yang mau memahami, dan teman yang siap menemani sesama santri yang sedang lelah berjuang. []











































