Mubadalah.id – Program Menulis Ulama Perempuan oleh KUPI menarik ketertarikan saya mendokumentasikan profil ulama-ulama perempuan kota Malang. Salah satu tantangan terbesar dalam mencari profil-profil ulama perempuan terutama yang bergerak di akar rumput ialah menolak tawaran untuk saya dokumentasikan. Terlebih, belum banyak profil-profil ulama perempuan Malang yang terdokumentasi secara formal. Namun, alangkah senangnya saya ketika satu persatu ulama perempuan di kota Malang bersedia saya dokumentasikan kerja-kerja sosialnya dalam tulisan saya.
Kali ini saya ingin bercerita mengenai ulama perempuan kota Malang yang progresif dan aktif dalam mengedukasi pendidikan seksual berbasis nilai-nilai keislaman (tarbiyatul jinsiyyah) di berbagai pesantren. Kiprahnya bersama ulama perempuan yang lain dalam memberdayakan santri-santri putri mengenai kesadaran akan kesehatan organ reproduksi. Hingga kesadaran akan pelecehan dan kekerasan seksual di pesantren patut kita apresiasi. Terlebih, kita banyak mendengar kasus KS yang justru datang dari pesantren, tempat aman untuk santri dapat belajar dengan aman dan tenang.
Ning Nuvisa Rizqid Diiny El-Ulya
Nuvisa Rizqid Diiny El Ulya, yang akrab disapa Ning Nuvisa Diiny, merupakan seorang ulama perempuan pendidik sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Khaira Ummah Malang bersama suaminya. Dalam kesehariannya, ia mengemban tanggung jawab membina dan mendidik para santri secara langsung di lingkungan pesantren.
Ning Nuvis dikenal luas sebagai ulama perempuan dalam kajian fikih, khususnya fikih ibadah dan fikih perempuan, serta kajian pranikah dan parenting Islami yang menjadikannya rujukan bagi berbagai kalangan dalam memahami hukum Islam. Keterlibatannya dalam organisasi pun cukup luas, mencakup posisi Koordinator 1 Nawaning Nusantara serta kepengurusan di Gerakan Nasional Ayo Mondok, dua lembaga yang berperan strategis dalam penguatan tradisi kepesantrenan di tingkat nasional.
Fokus pengabdian Ning Nuvis saat ini mencakup tiga ranah yang saling berkaitan erat. Pertama, pembinaan santri secara langsung di pesantren sebagai pondasi utama pendidikan karakter Islami. Kedua, dakwah melalui media sosial dan kajian fikih perempuan serta parenting Islami, berlandaskan keyakinan bahwa perempuan yang memahami agama secara mendalam akan melahirkan generasi yang kuat, tangguh, dan berakhlak mulia.
Ketiga, edukasi pencegahan kekerasan seksual melalui peran sebagai fasilitator tarbiyah jinsiyah bagi santri putri. Isu ini ia anggap sangat mendesak. Mengingat pembahasan seputar pelecehan dan kekerasan seksual kerap masih dipandang tabu pada lingkungan pesantren. Sehingga penguatan kesadaran dan perlindungan diri perlu terbangun secara sistematis dan berkelanjutan.
Menilik Perjalanan Hidup Ning Nuvis
Perjalanan pendidikan formal Ning Nuvisa Rizqid Diiny El Ulya dimulai di SMP Khadijah Surabaya. Kemudian dilanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri 1 Malang. Seiring dengan pendidikan formal tersebut, ia menempuh pendidikan pesantren secara berjenjang. Mengawali belajar pada Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Nurul Huda Mergosono Malang. Berlanjut ke Pondok Pesantren HMQ Lirboyo Kediri. Dan kemudian kembali ke Malang untuk menyelesaikan pendidikan pesantrennya di Pondok Pesantren Annuriyah Kacuk.
Terdapat dua momen yang meninggalkan kesan mendalam. Momen pertama adalah saat ia menerima amanah sebagai pengasuh pondok pesantren khusus mahasiswi. Tanggung jawab tersebut mendorongnya untuk terus belajar, baik dalam aspek manajerial pengelolaan pesantren maupun dalam hal mendampingi santri mahasiswi dengan segala kompleksitas dinamika kehidupan mereka. Momen kedua adalah kepercayaan yang ia berikan kepadanya untuk memimpin kepanitiaan Halaqah pertama Nawaning Nusantara.
Teladan Ulama Perempuan
Sosok ulama perempuan yang paling berpengaruh dalam kehidupan Nuvis adalah sang ibundanya sendiri, Almaghfurlaha Ummi Hj. Qibtiyah Zaini. Beliau merupakan seorang istri yang salihah, ibu yang penuh kasih, dan perempuan berdaya yang mengabdikan untuk masyarakat. Meskipun aktif sebagai aktivis hingga tingkat wilayah, beliau tetap hadir di tengah masyarakat sekitar dengan mengajar anak-anak di TPQ, membimbing ibu-ibu membaca Al-Qur’an, serta menghidupkan pengajian di sekitar tempat tinggalnya.
Figur berpengaruh lainnya adalah Ummi Nyai Hj. Azzah Noor Laila Lirboyo, yang menjadi teladan dalam hal mendidik dan mendampingi santri. Satu kalimat dari beliau senantiasa menjadi pegangan hidup Nuvis: “Tugas seorang guru adalah harus selalu ridha dengan santri atau muridnya, bagaimanapun kondisi dan keadaannya.”
Mencatat Kerja-kerja Sosial Ning Nuvis
Kontribusi Ning Nuvis dalam ranah keulamaan mencakup berbagai bidang yang saling melengkapi. Ia aktif tampil sebagai narasumber kajian dan seminar seputar fikih ibadah, fikih perempuan, pranikah, dan parenting Islami, baik di lingkungan pesantren berbagai daerah maupun di lingkungan kampus.
Di samping itu, ia menjalankan peran sebagai fasilitator tarbiyah jinsiyah Nawaning Nusantara dengan memberikan edukasi pencegahan pelecehan dan kekerasan seksual kepada sejumlah pesantren di wilayah Malang Raya. Peran pengabdiannya juga meliputi pendampingan jamaah haji dan umrah sebagai pembimbing ibadah, serta keterlibatan aktif dalam divisi penguatan ideologi pesantren melalui Gerakan Nasional Ayo Mondok.
Saat saya bertanya mengenai apa prinsip hidup Ning Nuvis sebagai seorang ulama perempuan dalam sebuah percakapan di aplikasi perpesanan, Ning Nuvis menjawab:
Prinsip utama yang selalu saya pegang adalah tidak berhenti belajar dan terus berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari. Ini berangkat dari dawuh Rasulullah ﷺ:
اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ ثُمَّ بِمَنْ تَعُوْل
“Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian orang-orang yang ada dalam tanggunganmu.”
Bagi saya, sebelum mengajak orang lain, saya harus terlebih dahulu berbenah dan memperbaiki diri sendiri. Manfaat yang diberikan kepada orang lain hanya bisa tumbuh dari pribadi yang terus bertumbuh.
Prinsip ini juga diperkuat oleh apa yang telah diajarkan oleh guru-guru saya tentang pentingnya bermanfaat bagi sesama, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
Dua prinsip ini saya jadikan kompas dalam setiap peran yang saya emban sebagai pengasuh pesantren, sebagai narasumber, maupun sebagai bagian dari komunitas.
Program Tarbiyatul Jinsiyyah oleh Nawaning Nusantara
Tarbiyatul jinsiyyah oleh Nawaning Nusantara yang terdiri dari berbagai ulama-ulama perempuan Indonesia. Sebagai program edukasi seksual berbasis nilai keislaman lingkungan pesantren. Program tersebut terrancang melalui workshop, pengembangan materi ajar, serta penyebaran konten edukati media digital yang terhubung antar pengampu pesantren.
Materi tarbiyatul jinsiyyah mencakup pemahaman fitrah seksual manusia, batasan pergaulan, serta kesiapan menghadapi perubahan fisik dan emosional pada masa remaja. Pendekatan pedagogis yang ia gunakan menggabungkan pengetahuan biologis dengan nilai Islam. Sehingga santri memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai tubuh dan relasi sosial.
Implementasi program terlihat melalui kegiatan pembelajaran langsung bagi santri putri di berbagai pesantren. Melalui fokus pada penguatan kesadaran diri, perlindungan dari kekerasan seksual, serta pemahaman hak atas tubuh.
Selain itu, tarbiyatul jinsiyyah terhubung dengan pengajian transformatif yang mengkaji teks keagamaan melalui perspektif keadilan gender. Sehingga memperluas wawasan santri terkait relasi laki-laki dan perempuan. Upaya tersebut berkontribusi pada pembentukan lingkungan pendidikan yang aman. Sekaligus mendorong lahirnya mekanisme pencegahan seperti pembentukan satuan tugas anti-kekerasan di pesantren. []












































