Mubadalah.id – Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti pembekalan dan pelatihan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas. Acara ini sebagai bentuk pengenalan kepengurusan BEM dan juga pembahasan program kerja. Yang menarik, pembekalan ini juga menjadi sarana untuk merefleksikan tanggungjawab sebagai pemimpin dalam tradisi Kristiani.
Di benak banyak orang, seorang pemimpin identik dengan kekuasaan dan otoritas. Banyak orang menginginkan takhta seorang pemimpin agar ia memiliki kekuasaan untuk memerintah orang lain. Namun, dalam tradisi Kristen, kepemimpinan bukan hanya tentang kekuasaan. Tetapi seorang pemimpin juga menjadi seorang pemimpin.
Dari spirit inilah kami merenungkan tugas dan tanggungjawab kami sebagai pengurus BEM yang juga “memimpin” dalam banyak hal dalam kegiatan kampus. Tulisan ini akan mengajak kita untuk merefleksikan bagaimana Kristiani memaknai tugas dan tanggungjawab sebagai pemimpin.
Yesus Kristus dan Model Kepemimpinan Pelayan
Yang menjadi dasar dan model kepemimpinan dalam Kristiani adalah Yesus Kristus. Dalam karya pelayanannya, Yesus tidak menggunakan kuasa-Nya sebagai pemimpin untuk menguntungkan diri sendiri. Yesus merupakan pemimpin yang dekat dan selalu hadir di tengah semua orang.
Spirit melayani orang tanpa membeda-bedakan menjadi cara Yesus untuk bisa dekat dengan orang. Kepemimpinan Yesus ini berhasil membalik logika berpikir yang sudah lama ada, bahwa pemimpin itu harus dilayani. Bagi Yesus, pemimpin tidak seharusnya mendapat pelayanan, tetapi justru harus melayani.
Kedatangan Yesus sendiri ke dunia ini tidak untuk menjadi raja yang dilayani, tetapi untuk melayani. Hal ini dapat ditemukan dalam Injil Markus 10:45 “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Makna dari sabda ini adalah bahwa Yesus datang ke dunia tidak hanya mengajar, tetapi juga memberi teladan. Ia menempatkan diri sebagai pemimpin yang hadir untuk orang lain. Kepemimpinan tidak berpusat pada diri, melainkan pada kesejahteraan bersama.
Paus Fransiskus dan Semangat Hamba
Semangat pelayanan Yesus ini juga menjadi dasar bagi mendiang Paus Fransiskus dalam karya apostoliknya sebagai pemimpin umat Katolik Roma. Bagi Paus Fransiskus, jabatan kepemimpinan bukanlah sebuah hal yang membanggakan. Tetapi sebagai seorang pemimpin, bagaimana ia harus berani berkorban untuk semua orang yang menjadi tanggungjawabnya.
Paus Fransiskus menempatkan jabatannya sebagai Paus sebagai rahmat dari Tuhan. Gaya kepemimpinan Paus Fransiskus yang sederhana dan dekat dengan umat menjadi ciri khas. Ini juga yang membuat banyak orang mengagumi Paus Fransiskus.
Spirit ini tidak hanya menjadi slogan yang tanpa arti, tetapi juga selalu menjadi ciri khas Paus Fransiskus dalam setiap kunjungannya ke negara-negara. Sebagai contoh adalah saat berkunjung ke Indonesia pada tahun 2024 silam.
Kesederhanaan Paus Fransiskus sudah terlihat ketika perjalanan dari Bandara menuju Gereja Katedral. Ia tidak mau menggunakan kendaraan yang mewah, tetapi memilih untuk menggunakan mobil yang biasa saja. Sepanjang perjalanan ia juga menyempatkan untuk menyapa umat yang berdiri di sepanjang jalan. Masih banyak hal sederhana lainnya yang beliau minta dalam kunjungannya itu.
Banyak orang mengagumi gaya kepemimpinan Paus Fransiskus ini. Menariknya, yang mengaguminya bukan hanya orang Katolik saja. Sebagai seorang Paus, beliau tidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk kepuasan dirinya sendiri. Rasa-rasanya beliau sudah begitu memaknai arti pemimpin.
Martabat Manusia sebagai Inti Kepemimpinan
Kembali dalam pelatihan dan pembekalan kepengurusan BEM. Dalam acara 2 hari 1 malam itu, kami tidak hanya merumuskan program kerja. Yang lebih penting adalah memaknai tugas sebagai seorang yang memiliki jiwa kepemimpinan.
Dalam sesi materi dan pembekalan, romo mengajak kami untuk merenungkan bahwa sebagai seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepedulian terhadap martabat manusia. Menjadi anggota BEM bukan sebagai sarana untuk menunjukkan kehebatan diri sendiri, tetapi harus menjadi sarana untuk melayani dengan semangat belaskasih. Selain itu yang menjadi dasarnya adalah penghormatan terhadap martabat manusia.
Pemimpin yang sejati adalah mereka yang mampu untuk peka terhadap mereka yang tersingkir dan tersisihkan. Keberpihakannya ini membawa sebuah relasi yang setara. Seorang pemimpin yang baik tidak akan membeda-bedakan. Sekali lagi ini menegaskan bahwa seorang pemimpin harus berani untuk menjadi pelayan dan melayani, bukan dilayani.
Kepemimpinan yang Melayani sebagai Jalan Bersama
Pada akhirnya, artikel ini mengajak kita semua untuk merenungkan makna seorang pemimpin sejati. Ia hadir sebagai pelayan bukan hanya untuk umat Katolik, tetapi juga merupakan ajakan bagi semua pemimpin di seluruh dunia.
Dalam konteks komunitas yang lebih luas, para pemimpin tidak muncul sebagai orang yang merasa paling benar, melainkan sebagai sesama peziarah yang bersedia mendengarkan, belajar, dan bekerja sama. Sikap ini sejalan dengan semangat Mubadala yang menekankan timbal balik dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia.
Tradisi Katolik, melalui teladan Yesus dan aktualisasinya dalam kepemimpinan Paus Fransiskus, memberikan kontribusi penting dalam kehidupan sosial. Kepemimpinan yang dekat dengan realitas, peka terhadap penderitaan, dan berpihak pada mereka yang tersisih menciptakan ruang aman bagi partisipasi semua pihak. Ketika kepemimpinan hadir sebagai pelayan, masyarakat lebih berani terlibat karena merasa berharga dan mendapat tempat.
Sekali lagi tulisan ini mengajak kita untuk merefleksikan kembali cara kita memimpin dan, baik dalam Gereja, keluarga, komunitas, maupun ruang publik. Kepemimpinan pelayan tidak selalu menuntut posisi formal. Jiwa pemimpin juga dapat ada dalam keputusan kecil, dalam kesediaan mendengar, dan dalam keberanian memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh.
Harapannya, semakin banyak pemimpin yang memilih jalan melayani, bukan demi citra, tetapi demi kebaikan bersama. Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh kepentingan dan ego, kepemimpinan yang melayani membuka kemungkinan akan masa depan yang lebih adil, dialogis, dan membebaskan. Ini menjadi sebuah jalan bersama yang layak diperjuangkan. []




















































