Senin, 27 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Mendidik Anak

    Bagaimana Mendidik Anak untuk Mengasihi Sesama Makhluk?

    PBNU

    Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Li'an

    Transformasi Islam terhadap Praktik Relasi Perkawinan Toksik Jahiliyah Arab: Li’an, Ila dan Zihar

    Sunat Perempuan

    Sunat Perempuan: Akhlak dan Kemuliaan Tak Dibentuk oleh Sayatan

    Anak-anak Disabilitas

    Ketika Madrasah Sederhana di Madura Membuka Jalan bagi Anak-anak Disabilitas

    Pernikahan Anak

    Mengapa Hukum Negara Saja Tak Cukup untuk Menghentikan Pernikahan Anak?

    Wayang

    Wayang, Membela Mereka yang Tak Menjadi Tokoh Utama

    Nafkah adalah Amanah

    Nafkah adalah Amanah: Mencegah Penelantaran Ekonomi dalam Rumah Tangga

    Perkemahan

    Belajar Empati dari Perkemahan di SLB

    Spanyol

    Spanyol, Palestina, dan Misi Kemanusiaan di Panggung Dunia

    Pengampunan

    Pengampunan di Tengah Dunia yang Menghakimi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Tuberkulosis

    Orang dengan AIDS Rentan Terkena Tuberkulosis dan Pneumonia, Kenali Gejalanya

    Berita Bohong

    Melihat Al-Qur’an Berbicara tentang Perempuan dan Berita Bohong di Era Digital

    Batuk Dahak

    Cara Meredakan Batuk Berdahak pada Orang dengan AIDS agar Tidak Semakin Parah

    Muntah

    Langkah Tepat Mengatasi Mual dan Muntah pada Orang dengan AIDS

    Herpes zoster

    Kenali Herpes Zoster dan Mual Berkepanjangan pada Orang dengan AIDS

    Sarkoma Kaposi

    Sarkoma Kaposi dan Gatal-gatal pada Orang dengan AIDS, Ini Penanganannya

    Gatal

    Cara Mengatasi Gatal dan Infeksi Jamur pada Orang dengan AIDS

    Obat Diare

    Diare pada Orang dengan AIDS: Kapan Harus Minum Obat dan Segera ke Dokter?

    Dehidrasi

    Cara Mengatasi Dehidrasi akibat Diare pada Orang dengan AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Mendidik Anak

    Bagaimana Mendidik Anak untuk Mengasihi Sesama Makhluk?

    PBNU

    Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Li'an

    Transformasi Islam terhadap Praktik Relasi Perkawinan Toksik Jahiliyah Arab: Li’an, Ila dan Zihar

    Sunat Perempuan

    Sunat Perempuan: Akhlak dan Kemuliaan Tak Dibentuk oleh Sayatan

    Anak-anak Disabilitas

    Ketika Madrasah Sederhana di Madura Membuka Jalan bagi Anak-anak Disabilitas

    Pernikahan Anak

    Mengapa Hukum Negara Saja Tak Cukup untuk Menghentikan Pernikahan Anak?

    Wayang

    Wayang, Membela Mereka yang Tak Menjadi Tokoh Utama

    Nafkah adalah Amanah

    Nafkah adalah Amanah: Mencegah Penelantaran Ekonomi dalam Rumah Tangga

    Perkemahan

    Belajar Empati dari Perkemahan di SLB

    Spanyol

    Spanyol, Palestina, dan Misi Kemanusiaan di Panggung Dunia

    Pengampunan

    Pengampunan di Tengah Dunia yang Menghakimi

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Tuberkulosis

    Orang dengan AIDS Rentan Terkena Tuberkulosis dan Pneumonia, Kenali Gejalanya

    Berita Bohong

    Melihat Al-Qur’an Berbicara tentang Perempuan dan Berita Bohong di Era Digital

    Batuk Dahak

    Cara Meredakan Batuk Berdahak pada Orang dengan AIDS agar Tidak Semakin Parah

    Muntah

    Langkah Tepat Mengatasi Mual dan Muntah pada Orang dengan AIDS

    Herpes zoster

    Kenali Herpes Zoster dan Mual Berkepanjangan pada Orang dengan AIDS

    Sarkoma Kaposi

    Sarkoma Kaposi dan Gatal-gatal pada Orang dengan AIDS, Ini Penanganannya

    Gatal

    Cara Mengatasi Gatal dan Infeksi Jamur pada Orang dengan AIDS

    Obat Diare

    Diare pada Orang dengan AIDS: Kapan Harus Minum Obat dan Segera ke Dokter?

    Dehidrasi

    Cara Mengatasi Dehidrasi akibat Diare pada Orang dengan AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Emansipasi Ekologi: Mengapresiasi Kartini Lingkungan Masa Kini

Kartini lingkungan masa kini membawa perubahan, dan memberi manfaat bagi banyak orang untuk mempertahankan dan merawat ekologis.

Layyin Lala by Layyin Lala
23 April 2026
in Figur, Rekomendasi
A A
0
Kartini Lingkungan

Kartini Lingkungan

25
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Setiap 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai peringatan bangun dan bangkitnya emansipasi perempuan. Raden Ajeng Kartini namanya atau biasa kita kenal dengan sebutan R.A Kartini. Ia sosok yang vokal dan progresif dalam memandang kesetaraan gender pada masanya. Saat itu, masyarakat perempuan di Indonesia tak dapat menikmati pendidikan atau fasilitas yang lain karena gender membatasi peran mereka. 

Hanya laki-laki yang memiliki banyak akses dan berkuasa terhadap pendidikan. Sedang perempuan yang dapat mengenyam pendidikan masih sedikit sekali, terlebih hanya boleh dilakukan perempuan-perempuan kaum priyayi yang memiliki kasta dalam struktur sosial masyarakat. R.A Kartini terkenal dengan gagasan pentingnya pendidikan khususnya untuk perempuan demi kemajuan bangsa. 

R.A Kartini juga terkenal dengan tulisan surat-menyuratnya yang tertuju pada Stella Zeehandelaar. Dalam suratnya, Kartini menuliskan potongan gagasan yang bertuliskan, “Kami memohon diusahakannya pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki, tetapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan.”

Kartini Lingkungan Masa Kini

R.A Kartini pada masanya memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi masyarakat perempuan. Terutama untuk kalangan masyarakat perempuan yang rentan dan marginal. Keberhasilan perjuangan Kartini hari ini terlihat dari semakin terbukanya akses pendidikan bagi perempuan.

Data BPS menunjukkan partisipasi pendidikan perempuan di Indonesia terus meningkat sebesar 75,76% perempuan dalam kelompok usia 7-23 tahun masih bersekolah. Hal ini membuka ruang lahirnya generasi perempuan yang kritis, berdaya, dan mampu berkontribusi di berbagai bidang. 

Saat ini, persoalan bangsa juga berkaitan dengan krisis lingkungan yang semakin terasa. Perubahan iklim, kerusakan alam, dan persoalan sampah menjadi tantangan yang dihadapi bersama. Kondisi inilah yang melahirkan “Kartini lingkungan” masa kini. Perempuan yang memahami persoalan ekologi dan ikut bergerak mencari jalan keluar. Mereka berdampak sebagai peneliti, aktivis, pendidik, dan penggerak komunitas.

Banyak yang bekerja dari tingkat desa hingga kota. Pengalaman hidup dan kepekaan sosial membuat mereka dekat dengan persoalan di lapangan. Cara kerja yang dibangun cenderung mengajak, merangkul, dan berkelanjutan. Gerakan yang dilakukan juga memberi perhatian pada kelompok yang paling terdampak.

Hijroatul Maghfiroh Abdullah: Inisiator Green Pesantren dan Penggerak Komunitas Anak Muda Lingkungan

Hijroatul Maghfiroh Abdullah merupakan intelektual muda, aktivis lingkungan, dan pendidik yang berangkat dari tradisi pesantren dan berkembang dalam ruang akademik global. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, serta menempuh pendidikan sarjana di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pada bidang Hukum Islam. 

Ketertarikannya pada isu relasi agama, perempuan, dan lingkungan membawanya melanjutkan studi magister di Leiden University dengan fokus kajian Islam dan ekofeminisme, serta studi di Macquarie University pada bidang keberlanjutan. Latar belakang ini membentuk kerangka berpikir interdisipliner yang menghubungkan nilai keislaman dengan isu keadilan ekologis dan gender dalam konteks global.

Dalam praktik profesionalnya, Hijroatul Maghfiroh Abdullah berperan sebagai penggerak program lingkungan di Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU). Lembaga ini fokus pada pengembangan kebijakan dan gerakan berbasis komunitas. Ia dikenal sebagai penggagas program Pesantren Hijau (Green Pesantren) yang mendorong transformasi budaya ramah lingkungan di lingkungan pesantren melalui edukasi ekologis, pengelolaan sampah, dan efisiensi energi.

Selain itu, saat ini ia juga aktif mengembangkan Komunitas Eco-Peace Indonesia yang mempertemukan anak muda lintas iman di seluruh Indonesia untuk merespons isu lingkungan secara kolaboratif. 

Hifni Septina Carolina: Merawat Perempuan dan Ekologi Melalui Komunitas WES Payungi

Hifni Septina Carolina (alm.) merupakan seorang akademisi, aktivis sosial, dan penggerak komunitas yang memiliki perhatian besar pada isu perempuan, gender, dan lingkungan. Ia menjadi salah satu inisiator dan penggerak Women and Environment Studies Payungi (WES Payungi). Sebuah ruang belajar dan pemberdayaan yang berfokus pada penguatan kapasitas perempuan serta kelompok rentan. 

Lahir dan tumbuh di Lampung Tengah, Hifni menempuh perjalanan intelektual dan sosial yang mempertemukan kerja akademik dengan praktik pemberdayaan di tingkat komunitas. Dalam aktivitasnya, ia mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan perspektif keadilan gender, kepedulian lingkungan, dan sensitivitas sosial, sehingga menghasilkan model gerakan yang kontekstual dan berkelanjutan.

Hifni Septina Carolina mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang terangkum dalam konsep HSC (Help, Save, Care) sebagai kerangka etik sekaligus metodologis dalam gerakan sosial. Pendekatan ini menekankan pentingnya tindakan sederhana yang konsisten dalam menolong, menciptakan ruang aman, serta merawat individu dan komunitas secara berkelanjutan. 

Dari WES Payungi, ia mendorong lahirnya berbagai program pemberdayaan, termasuk pendampingan bagi perempuan dan anak, serta penguatan kapasitas anak penyandang disabilitas melalui kegiatan berbasis ketrampilan dan kreativitas. 

Hening Parlan: Perempuan Progresif Muhammadiyah yang Vokal dengan Isu Lingkungan

Hening Purwati Parlan merupakan aktivis lingkungan dan keberagaman asal Indonesia yang lahir di Wonogiri pada 9 Oktober 1972. Ia terkenal sebagai Direktur GreenFaith Indonesia serta penggerak kolaborasi lintas iman dalam isu keadilan iklim. Latar belakang pendidikannya di bidang sosiologi dan manajemen membentuk pendekatan interdisipliner dalam aktivismenya. 

Hening juga terlibat di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia serta Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, termasuk kontribusi dalam penyusunan kebijakan nasional terkait penanggulangan bencana. Aktivisme Hening berfokus pada penguatan peran komunitas agama sebagai aktor strategis dalam menjaga lingkungan. Yakni dengan menempatkan relasi manusia, alam, dan spiritualitas sebagai satu kesatuan yang saling terkait.

Hening mengembangkan model advokasi berbasis kolaborasi lintas agama dan lintas negara untuk merespons krisis ekologis, termasuk isu transisi energi dan dampak pembangkit listrik tenaga uap berbasis batubara. Ia mendorong keterlibatan komunitas akar rumput dalam gerakan lingkungan serta memperkuat narasi bahwa nilai-nilai keagamaan memiliki landasan etis dalam pelestarian alam. Selain itu, melalui perannya di organisasi keagamaan seperti Aisyiyah, ia mengkolaborasikan isu lingkungan dengan pemberdayaan sosial dan kemanusiaan.

Nissa Wargadipura: Pesantren Berdikari dengan Mandiri Pangan

Nissa Wargadipura merupakan tokoh perempuan yang berperan penting dalam pengembangan ekofeminisme berbasis pesantren di Indonesia. Lahir di Garut pada 23 Februari 1972, ia terkenal sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Ekologi Ath-Thaariq. Latar belakang keluarga pertanian membentuk pengetahuan dan praktiknya dalam pertanian organik yang dipelajari secara otodidak sejak usia dini. 

Melalui pesantren yang telah berdiri sejak tahun 2008, Nissa mengkolaborasikan pendidikan keagamaan dengan pendekatan agroekologi. Yaitu sistem pertanian yang menekankan relasi harmonis antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Aktivitasnya juga mencakup pendampingan petani di wilayah Pasundan serta advokasi agraria dan lingkungan, dengan tujuan membangun kemandirian pangan dan keberlanjutan ekosistem.

Nissa Wargadipura menempatkan pemulihan ekologi sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup manusia, terutama perempuan dan generasi mendatang. Ia mengkritik sistem pertanian berbasis revolusi hijau untuk meningkatkan ketergantungan petani terhadap industri benih, pupuk, dan pestisida.

Sebagai alternatif, ia mengembangkan gagasan “revolusi meja makan” yang mendorong produksi pangan mandiri berbasis rumah tangga. Keterlibatannya dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia memperkuat posisinya sebagai ulama perempuan yang menghubungkan isu keadilan gender dengan keberlanjutan lingkungan.

Aeshnina Azzahra Aqilani: Kartini Muda, Greta Thunbergnya Indonesia

Aeshnina Azzahra Aqilani, yang akrab dengan panggilan Nina, merupakan aktivis lingkungan muda asal Gresik, Jawa Timur, yang lahir pada tahun 2007. Nina terkenal luas karena konsistensinya dalam mengangkat isu polusi mikroplastik dan praktik impor sampah plastik ke Indonesia.

Sejak usia belia, Nina telah menunjukkan kapasitas advokasi yang kuat melalui berbagai aksi kampanye, baik di tingkat lokal maupun global. Ia aktif menyuarakan dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia serta kerusakan lingkungan yang timbul dari limbah plastik lintas negara. Keterlibatannya dalam forum internasional seperti Plastic Health Summit 2021 di Belanda. Nina sebagai representasi bahwa suara anak muda dari Indonesia memiliki posisi penting dalam diskursus lingkungan global.

Selain itu, Nina juga menggunakan strategi advokasi berbasis komunikasi publik. Ia mengirimkan surat terbuka kepada sejumlah pemimpin dunia. Termasuk Presiden Indonesia dan Presiden Amerika Serikat, untuk menuntut tanggung jawab atas distribusi sampah plastik global. Aksi ini memperlihatkan bentuk partisipasi politik generasi muda dalam isu lingkungan yang semakin kompleks. 

Keterlibatannya dalam kegiatan internasional, seperti pawai lingkungan di Ottawa pada tahun 2024 bersama River Warrior Indonesia. Ia semakin memperkuat perannya sebagai representasi aktivisme muda Indonesia di kancah global. Upaya yang Nina lakukan turut berkontribusi pada penurunan ekspor sampah plastik. Sampah dari Amerika Serikat ke Indonesia, yang tercatat dalam laporkan mencapai sekitar 50 persen.

Refleksi

Selamat Hari Kartini, bagi seluruh teman-teman perempuan di Indonesia. Hari ini kita melihat bahwa Indonesia tak kekurangan perempuan-perempuan cerdas dan cemerlang. Kartini lingkungan masa kini banyak membawa perubahan, dan memberi manfaat bagi banyak orang untuk mempertahankan dan merawat ekologis. Dari pendidikan, komunitas, hingga gerakan sosial. Perempuan-perempuan terus menunjukkan peran besar dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah untuk semua orang. []

Tags: emansipasiHari Bumihari kartiniIsu LingkunganKartini Lingkungan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Menyalahkan dan Superioritas: Dua Sikap yang Merusak Relasi Rumah Tangga

Next Post

Mengapa Kita Mudah Menghakimi Pasangan?

Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

Pesantren di Pesisir
Lingkungan

Pesantren di Pesisir dan Aktivitas Ekoteologinya

26 Juni 2026
Sampah di Laci Kelas
Lingkungan

Sampah di Laci Kelas dan Pelajaran yang Kita Tinggalkan

24 Juni 2026
Popok Bayi
Lingkungan

Popok Bayi, Sampah, dan Beban Ibu

23 Juni 2026
Manusia Merasa Cukup
Publik

Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

10 Juni 2026
Fatimah al-Banjari
Profil

Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

17 Mei 2026
Nasyiatul Aisyiyah
Aktual

Srikandi Penjaga Peradaban: Menemukan Nafas Ecofeminisme dalam Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah

15 Mei 2026
Next Post
Menghakimi

Mengapa Kita Mudah Menghakimi Pasangan?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Transformasi Islam terhadap Praktik Relasi Perkawinan Toksik Jahiliyah Arab: Li’an, Ila dan Zihar
  • Orang dengan AIDS Rentan Terkena Tuberkulosis dan Pneumonia, Kenali Gejalanya
  • Melihat Al-Qur’an Berbicara tentang Perempuan dan Berita Bohong di Era Digital
  • Cara Meredakan Batuk Berdahak pada Orang dengan AIDS agar Tidak Semakin Parah
  • Langkah Tepat Mengatasi Mual dan Muntah pada Orang dengan AIDS

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0