Rabu, 10 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

    Nyai Luluk Farida

    Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Manusia Merasa Cukup

    Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

    Keadilan kepada Anak

    Pelajaran dari Rasulullah tentang Keadilan kepada Anak

    Margaretha Subekti

    Empat Dekade Pengabdian Margaretha Subekti untuk Difabel di NTT

    Ruang Berekspresi Difabel

    Ruang Berekspresi Difabel Semakin Terang Hari Ini

    Gen Z Indonesia

    Gen Z Indonesia: Paling Kritis, tetapi Paling Cemas di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

    Dakwah Tauhid

    Membaca Ulang Dakwah Tauhid di Masa Krisis

    Santri Aman

    Santri Aman, Pesantren Beradab; Membaca Ulang Pancasila di Kamar Asrama

    Dunia Akademik

    Integritas Dunia Akademik Sedang Krisis

    Atlet Catur

    Atlet Catur Perempuan Disabilitas beserta Inspirasinya

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hubungan Seksual

    Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

    Hasrat Seksual

    Mengakui Hasrat Seksual Perempuan sebagai Bagian dari Kesehatan Reproduksi

    Seksual Perempuan

    Ketika Hasrat Seksual Perempuan Dianggap Tabu

    Tubuh Perempuan

    Benarkah Tubuh Perempuan adalah Milik Laki-laki?

    Anak Perempuan

    Mengapa Anak Perempuan Tidak Bebas Bertanya tentang Tubuhnya?

    Tubuhnya Sendiri

    Mengapa Banyak Perempuan Sulit Mengenali Tubuhnya Sendiri?

    Laki-laki dan Perempuan sama

    Ketika Laki-laki dan Perempuan Sama-sama Terbebani oleh Peran Gender

    Peran Perempuan

    Beban Ganda Perempuan dalam Konstruksi Peran Gender

    Gender

    Bagaimana Peran Gender Diajarkan?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

    Nyai Luluk Farida

    Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Manusia Merasa Cukup

    Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

    Keadilan kepada Anak

    Pelajaran dari Rasulullah tentang Keadilan kepada Anak

    Margaretha Subekti

    Empat Dekade Pengabdian Margaretha Subekti untuk Difabel di NTT

    Ruang Berekspresi Difabel

    Ruang Berekspresi Difabel Semakin Terang Hari Ini

    Gen Z Indonesia

    Gen Z Indonesia: Paling Kritis, tetapi Paling Cemas di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

    Dakwah Tauhid

    Membaca Ulang Dakwah Tauhid di Masa Krisis

    Santri Aman

    Santri Aman, Pesantren Beradab; Membaca Ulang Pancasila di Kamar Asrama

    Dunia Akademik

    Integritas Dunia Akademik Sedang Krisis

    Atlet Catur

    Atlet Catur Perempuan Disabilitas beserta Inspirasinya

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Hubungan Seksual

    Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

    Hasrat Seksual

    Mengakui Hasrat Seksual Perempuan sebagai Bagian dari Kesehatan Reproduksi

    Seksual Perempuan

    Ketika Hasrat Seksual Perempuan Dianggap Tabu

    Tubuh Perempuan

    Benarkah Tubuh Perempuan adalah Milik Laki-laki?

    Anak Perempuan

    Mengapa Anak Perempuan Tidak Bebas Bertanya tentang Tubuhnya?

    Tubuhnya Sendiri

    Mengapa Banyak Perempuan Sulit Mengenali Tubuhnya Sendiri?

    Laki-laki dan Perempuan sama

    Ketika Laki-laki dan Perempuan Sama-sama Terbebani oleh Peran Gender

    Peran Perempuan

    Beban Ganda Perempuan dalam Konstruksi Peran Gender

    Gender

    Bagaimana Peran Gender Diajarkan?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

Hampir pasti, kalau ambisi ekonomi terus dipertahankan, kiamat iklim dengan dampak yang jauh lebih buruk tidak akan menjadikan apa yang dibangun manusia itu bertahan

Daniel Osckardo by Daniel Osckardo
10 Juni 2026
in Publik
A A
0
Manusia Merasa Cukup

Manusia Merasa Cukup

15
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Tidak boleh tidak, di antara banyak masalah yang terus manusia hadapi, fokus ke persoalan yang satu ini tidak boleh teralihkan. Ambisi untuk pertumbuhan ekonomi tidaklah murah, ia diikuti masalah besar: perubahan iklim. Demi kemajuan tiada batas, manusia menggadaikan tempat tinggalnya: bumi. Bahkan, itu tidak menghentikan laju ambisi manusia.

David Wallace-Wells dalam Bumi yang Tak Dapat Dihuni (2019), seperti yang Naomi Klein prediksi dalam apa yang ia sebutnya sebagai  The Shock Theory bahwa di tengah ancaman iklim, kekuatan kapital akan tetap menuntut hal yang sama sembari menghiraukan kerusakan yang mereka hasilkan.

Tidak peduli bagaimana sejumlah kajian telah memberikan alarm peringatan. Paul J Crutzen & Eujene Stoermer, orang pertama yang memperkenalkan istilah antroposen. Sebuah istilah yang menekankan peran sentral manusia dalam geologi dan ekologi. Ia menyebutkan bahwa manusia telah mengubah biosfer dan banyak bagian lainnya dari fungsi alami bumi (Muhammad Unies Ananda Raja, Apa itu Antroposen?, 2018). Ini adalah situasi mendesak yang harus kita hentikan.

Untuk memperlambat kiamat iklim, pengiriman karbon ke atmosfer bumi harus kita hentikan. Ada satu pertanyaan yang harus terselesaikan terlebih dulu, tentu saja. Kalau ambisi untuk ekonomi dicukupkan sampai di sini, bagaimana cara menyejahterakan orang-orang yang saat ini masih hidup di dalam kemiskinan?

Dalam laporan The Sustainable Development Goals Report 2025, pada tahun 2025 diperkirakan masih ada 808 juta orang (1 dari 10 penduduk global) yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, masih terdapat 3,8 miliar orang yang kesulitan mendapatkan air bersih. Ini adalah dua dari sekian persoalan yang masih dmasyarakat global hadapi hari ini.

Terdengar seperti sebuah ekspresi kebijaksanaan. Karena semua orang belum sejahtera, maka pertumbuhan ekonomi harus terus kita tingkatkan—sekalipun dengan cara merusak alam. Ini adalah logika yang menopang sistem kehidupan global saat ini: kapitalisme.

Selama bergenerasi sudah menjadi mantra keyakinan bersama-sama. Pasar akan menghasilkan kesejahteraan dan keuntungan bersama (Wells, h. 170). Apakah benar produktivitas berbanding positif dengan kesejahteraan? Tidak terlalu susah untuk terjawab. Tanya saja pekerja yang bekerja selama delapan hingga belasan jam per hari, apakah lantas membuat mereka sejahtera.

Barangkali pertumbuhan ekonomi seperti yang jamak kita yakini akan menyelesaikan persoalan umat manusia, bukanlah jalan keluar. Ekonomi yang menghasilkan budaya hidup orang modern nyatanya hanya menyejahterakan segelintir kalangan.

Di saat yang bersamaan, seluruh orang harus menanggung dampak perubahan iklim yang terpicu oleh aktivitas manusia yang mendalihkan kemajuan. Saya membayangkan—dengan sedikit memaksa—manusia benar-benar merasa cukup dengan semua ini, bukan hanya sekadar berganti topeng.

Apakah Pencapaian Ini Belum Cukup?

Pilihan transportasi yang beragam untuk melakukan perjalanan, perangkat-perangkat canggih dengan pelbagai merek yang bisa menghubungkan masyarakat global. Bertambah dengan pelbagai macam fitur yang menyertainya, televisi untuk sekadar hiburan akhir pekan. Ini adalah kemajuan yang tidak terbayangkan sebelumnya dan sudah sangat membantu kehidupan manusia. Persoalannya adalah keinginan untuk selalu mendapatkan lebih: lebih banyak, lebih baru, lebih modis, lebih berkelas.

Pasar terus-menerus memproduksi hal-hal yang bukan lagi ‘harus’ ada untuk keberlangsungan kehidupan manusia, tapi memproduksi apa pun yang dapat mengakumulasikan modal (capital). Manusia menciptakan ilusi untuk diri sendiri yang kemudian melahirkan konflik dan persoalan sosial. Memiliki kendaraan pribadi terbaru atau gadget keluaran terbaru, atau wahana hiburan terbaru menjadi kegiatan yang tidak lagi dapat tertahan. Meskipun tidaklah bersifat esensial beserta persoalan yang muncul di balik semua itu seperti iklim.

Kita memerlukan kesadaran yang besar untuk menghentikan semua ini—setidaknya dengan bertanya: “apakah ini perlu? Untuk apa ini semua? Apakah ini tidak akan menghancurkan alam?”

Memproduksi Lebih Sedikit: Harmonis dengan Alam

Ada satu ungkapan bermakna—sering dinisbatkan kepada Mahatma Gandhi—yang menjadi refleksi bersama. “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, tetapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan manusia”—saya pribadi tidak menemukan sumber yang memadai bahwa kalimat itu pernah diungkapkan oleh Gandhi, namun dapat dijumpai dengan mudah pada mesin pencarian internet. Terlepas apakah itu benar atau tidak dari Gandhi, yang jelas pernyataan semacam itu tidak dapat terabaikan.

Alam benar-benar telah menyediakan banyak hal. Udara bersih untuk bernapas, air jernih untuk menghilangkan dahaga, gunung-gunung menjulang nan indah, lautan luas sebagai tempat kehidupan atau sekadar rekreasi, hutan yang memastikan pasokan oksigen agar manusia bisa bernapas bebas. Begitu banyak tumbuhan dan hewan yang mungkin untuk dikonsumsi untuk sekadar memastikan semua orang tidak kelaparan.

Sayangnya, apa yang terjadi adalah sebaliknya: terdapat 673 juta orang yang kelaparan (Serikat Petani Indonesia, 2025) , ada 1 miliar orang yang tidak memiliki rumah (Damayanti, 2023). Pernyataan “bijaksana” di awal tidak berhasil memahami titik persoalan dengan memadai. Bukan soal seberapa banyak terproduksi, tapi untuk apa diproduksi. Di samping itu, memproduksi lebih banyak berisiko bencana yang lebih besar, dan sebaliknya, memproduksi dalam kadar kebutuhan, ada hal yang bisa terselamatkan.

Kiamat Iklim

Coba bayangkan dampak positif seperti apa yang akan dihasilkan jika manusia tidak lagi memproduksi kendaraan model terbaru. Lee Chapman dalam Transport and Climate Change (2007) menyebutkan  kendaraan berkontribusi melepaskan 26% emisi CO2 global.

Begitu juga setiap ponsel yang ada dalam genggaman manusia. Ia dihasilkan dari serangkaian aktivitas yang berkontribusi dalam bencana iklim, ekstraksi untuk 100g mineral untuk setiap ponsel pintar, bahkan 80% polusi karbon dihasilkan sebelum ponsel berbentuk barang jadi.

Selain produk ini menghasilkan puluhan juta ton limbah elektronik (Cook, 2017). Artinya, jika manusia berhenti memproduksi moda terbaru, perangkat seluler terbaru, manusia akan memangkas kemungkinan laju iklim yang lebih masif. Pembicaraan ini memang lebih jauh melampaui rencana manusia yang—misalnya—sekadar ingin beralih ke kendaraan listrik.

Ilusi kita akan kehebatan pasar dan apa yang ditawarkannya tidak lebih baik daripada kedengarannya. Saya tidak mengatakan bahwa manusia harus melakukan pembalikan radikal. Kendaraan mesin berganti dengan jalan kaki, gawai kita ganti dengan surat-menyurat, orang-orang kembali menjadi bertani keseluruhan.

Namun, tidak kita ragukan lagi, manusia harus berpikir tidak lagi memproduksi untuk kepentingan pasar dan akumulasi modal semata, namun benar-benar untuk kepentingan semua orang. Hampir pasti, kalau ambisi ekonomi terus kita pertahankan, kiamat iklim dengan dampak yang jauh lebih buruk tidak akan menjadikan apa yang dibangun manusia itu bertahan. []

 

Tags: Isu LingkunganKeadilan EkologiskebijakanKrisis IklimmanusiaManusia Merasa CukupRegulasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mengakui Hasrat Seksual Perempuan sebagai Bagian dari Kesehatan Reproduksi

Next Post

Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

Daniel Osckardo

Daniel Osckardo

Penulis merupakan alumni S1 Hukum Tatanegara (Siyasah Syar'iyyah), Fakultas Syari'ah, UIN Imam Bonjol Padang. Memiliki minat kajian pada topik-topik filsafat, politik, hukum, dan keislaman. Saat ini menetap di Yogyakarta, dan aktif menulis esai populer di beberapa media

Related Posts

Indonesia
Publik

Masih Adakah Pancasila dalam Indonesia?

3 Juni 2026
Siti Hajar
Pernak-pernik

Siti Hajar, Simbol Kemuliaan Manusia dalam Ritual Haji

27 Mei 2026
Disabilitas di Jawa Timur
Disabilitas

Membaca Keterbatasan Regulasi Disabilitas di Jawa Timur

25 Mei 2026
Kampus Inklusif
Disabilitas

Slogan Kampus Inklusif : Sudahkah Aksesibel atau Hanya Sebatas Formalitas?

22 Mei 2026
Hak Disabilitas
Disabilitas

Menakar Hak Disabilitas Pada Regulasi Inklusif Kota Surabaya

21 Mei 2026
Nasyiatul Aisyiyah
Aktual

Srikandi Penjaga Peradaban: Menemukan Nafas Ecofeminisme dalam Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah

15 Mei 2026
Next Post
Hubungan Seksual

Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual
  • Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup
  • Mengakui Hasrat Seksual Perempuan sebagai Bagian dari Kesehatan Reproduksi
  • Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual
  • Ketika Hasrat Seksual Perempuan Dianggap Tabu

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0