Mubadalah.id – Sebuah organisasi baru bernama SELARAS (Solidaritas Perempuan Pembela Keadilan untuk Resiliensi, Aman, dan Sejahtera) resmi diluncurkan di Desa Langensari, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Senin (6/7/2026).
Berbeda dari peluncuran organisasi pada umumnya yang berlangsung di ruang-ruang formal, gelaran syukuran dan peluncuran SELARAS justru di tengah lahan pertanian. Pilihan lokasi ini menjadi simbol bahwa setiap perubahan selalu berawal dari benih-benih harapan yang tertanam, terawat, dan ditumbuhkan bersama.
SELARAS lahir sebagai ikhtiar bersama untuk membangun ekosistem yang melindungi, menguatkan, dan menyejahterakan Perempuan Pembela Keadilan di Indonesia. Kehadirannya berangkat dari kenyataan bahwa perempuan yang selama ini memperluas akses masyarakat terhadap keadilan masih menghadapi berbagai risiko. Sementara sistem perlindungan dan dukungan bagi mereka belum sepenuhnya tersedia. Karena itu, solidaritas, kolaborasi, dan pembelajaran bersama menjadi fondasi utama yang ingin terbangun melalui SELARAS.
Pemilihan Desa Langensari sebagai lokasi peluncuran juga bukan tanpa makna. Menurut Ketua Perkumpulan SELARAS, Fitria Villa Sahara, langkah pertama organisasi ini sengaja memulainya sedekat mungkin dengan kehidupan masyarakat. Sebab keadilan tidak hanya diperjuangkan di ruang-ruang kebijakan, tetapi juga tumbuh dari desa, sawah, pesisir, kampung, dan ruang-ruang kehidupan tempat masyarakat membangun harapan dan masa depannya.
Di balik peluncuran tersebut, sesungguhnya terdapat sebuah pertanyaan sederhana yang jarang kita ajukan. Siapa yang menjaga mereka yang setiap hari membela keadilan?
Para Perempuan Pendamping Penyintas
Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju kepada para korban. Kita membahas bagaimana penyintas kekerasan memperoleh pendampingan, bagaimana kelompok rentan mendapatkan perlindungan, atau bagaimana masyarakat memperoleh hak-haknya. Namun, kita sering lupa bahwa di balik semua kerja-kerja tersebut ada perempuan-perempuan yang setiap hari memilih hadir bagi sesamanya.
Mereka mendampingi korban kekerasan, membantu masyarakat memperoleh identitas hukum, mengorganisasi komunitas, memperjuangkan hak-hak pekerja, menjaga lingkungan hidup, menguatkan masyarakat saat bencana, hingga memastikan suara kelompok rentan tetap didengar.
Selain itu, mereka berasal dari beragam latar belakang—ibu rumah tangga, guru, petani, buruh, kader Posyandu, relawan, pendamping komunitas, aktivis, hingga pemimpin masyarakat—tetapi dipersatukan oleh satu pilihan yang sama. Tidak tinggal diam ketika melihat ketidakadilan.
Ironisnya, mereka yang menjaga orang lain justru sering kali tidak memiliki ruang perlindungan yang memadai. Mereka menghadapi stigma, fitnah, intimidasi, serangan digital, diskriminasi, hingga ancaman kriminalisasi. Bahkan tidak sedikit yang harus menanggung kelelahan fisik dan mental karena terus berada di garis depan perjuangan.
Menilik Survei SELARAS
Survei awal SELARAS terhadap 214 Perempuan Pembela Keadilan memperlihatkan kenyataan yang memprihatinkan. Sebanyak 72 persen responden mengaku pernah mengalami tekanan atau kekerasan psikologis. Sebanyak 59 persen menjadi sasaran fitnah atau pencemaran nama baik, 53 persen mengalami diskriminasi berlapis, 51 persen menghadapi serangan digital, 48 persen mengalami ancaman kriminalisasi, dan 45 persen menghadapi situasi krisis yang memengaruhi keselamatan maupun keberlangsungan kerja mereka.
Namun angka-angka tersebut tidak hanya berbicara tentang ancaman. Di baliknya ada kisah perempuan-perempuan yang tetap memilih bertahan. Ada penyintas kekerasan yang kemudian mendampingi perempuan lain. Lalu ada ibu yang membesarkan anak seorang diri sambil mengorganisasi komunitas.
Selain itu ada perempuan yang terus mendampingi korban meski berkali-kali menerima intimidasi. Dari berbagai daerah di Indonesia, cerita mereka memang berbeda, tetapi keyakinannya sama. Keadilan layak kita perjuangkan dan tidak seorang pun seharusnya berjuang sendirian.
Dari pengalaman-pengalaman itulah lahir keyakinan bahwa yang kita butuhkan bukan hanya semakin banyak Perempuan Pembela Keadilan, melainkan juga sebuah ekosistem yang mampu menjaga mereka. SELARAS tidak hadir untuk memulai gerakan baru. Gerakan itu sesungguhnya telah lama hidup dalam kerja-kerja sunyi para perempuan di berbagai penjuru Indonesia.
Trilogi SELARAS
SELARAS hadir untuk mempertemukan, menghubungkan, dan memperkuat mereka agar tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Atas dasar itu, SELARAS mengembangkan Trilogi SELARAS, yaitu Selaras Tubuh, Selaras Ruang, dan Selaras Daya. Ketiganya menjadi cara pandang bahwa perlindungan terhadap Perempuan Pembela Keadilan tidak hanya berkaitan dengan keamanan fisik, tetapi juga menyangkut ruang hidup yang aman, kesejahteraan, kepemimpinan, dan kemampuan mereka untuk terus bertumbuh serta memimpin perubahan.
Dengan demikian, menjaga Perempuan Pembela Keadilan bukan hanya tugas satu organisasi. Negara perlu memperkuat kebijakan perlindungan. Organisasi masyarakat sipil perlu memperluas solidaritas. Akademisi dapat memperkaya pengetahuan dan riset. Media memiliki tanggung jawab menghadirkan narasi yang lebih adil terhadap kerja-kerja mereka. Dunia usaha dan lembaga filantropi pun dapat mengambil bagian melalui dukungan yang berkelanjutan.
Sebab, sebagaimana benih membutuhkan tanah, air, dan cahaya untuk bertumbuh, perjuangan menuju keadilan juga membutuhkan lingkungan yang merawat para penanamnya. Ketika Perempuan Pembela Keadilan memperoleh ruang yang aman, dihargai, dan diperkuat, sesungguhnya yang sedang kita jaga bukan hanya mereka. Kita sedang merawat harapan, memperkuat gerakan kemanusiaan, dan memastikan bahwa keadilan dapat terus tumbuh dari akar kehidupan masyarakat. []










































