Mubadalah.id – Peluncuran buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia: Profil 31 Tokoh menjadi salah satu rangkaian penting dalam Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BuKUPI) 2026 yang berlangsung di Masjid Cut Nyak Dien, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (24/5/2026).
Peluncuran buku tersebut disampaikan Ketua Divisi Syiar Majelis Musyawarah KUPI, Dr. Faqihuddin Abdul Kodir, di hadapan para ulama perempuan, penggerak komunitas, akademisi, santri, jaringan masyarakat sipil, hingga kelompok muda yang hadir secara langsung maupun daring dalam puncak peringatan BuKUPI 2026.
Dalam sambutannya, Ketua LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon itu menyampaikan bahwa penyusunan buku tersebut merupakan bagian dari ikhtiar KUPI untuk mulai mencatat, menghormati, meriwayatkan, dan mentransmisikan jasa-jasa ulama perempuan Indonesia yang selama ini kerap terpinggirkan dari arus utama sejarah keislaman maupun kebangsaan.
“Ini adalah ikhtiar kami untuk mulai mencatat, menghormati, meriwayatkan, dan mentransmisikan jasa-jasa ulama perempuan,” ujar Faqih.
Menurutnya, selama Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia berlangsung, berbagai lembaga penyangga KUPI seperti Rahima, Fahmina, AMAN Indonesia, Gusdurian, dan Alimat membacakan manaqib atau riwayat tokoh-tokoh ulama perempuan yang dinilai memiliki jasa besar dalam gerakan keulamaan perempuan di Indonesia.
31 Tokoh Ulama Perempuan
Tokoh-tokoh tersebut dibacakan secara bergiliran di hadapan jaringan KUPI dalam forum daring maupun luring yang diikuti puluhan hingga ratusan peserta setiap harinya.
“Kadang yang hadir 100 orang, 150 orang, kadang 70 orang. Kalau malam-malam mungkin 30 orang yang ikut. Tetapi beberapa kali di malam hari juga sampai 100 lebih yang ikut duduk mendengarkan,” katanya.
Faqih menjelaskan, proses pembacaan manaqib tersebut tidak berhenti pada forum diskusi semata. Para kontributor muda Mubadalah.id langsung menuliskan hasil pembacaan dan mendokumentasikannya menjadi naskah buku.
“Pembacaan langsung dituliskan, dan malam tanggal 21 langsung jadi. Nah, inilah bukunya, langsung jadi buku dan diterbitkan,” tuturnya.
Ia menyebut, tradisi pembacaan manaqib selama ini identik dengan tokoh ulama laki-laki. Karena itu, KUPI berupaya menghadirkan tradisi baru dengan membacakan manaqib ulama perempuan sebagai bentuk penghormatan terhadap kiprah mereka dalam membangun masyarakat.
“Biasanya manaqib itu ulamanya laki-laki. Nah, sekarang KUPI mentradisikan membacakan manaqib ulama perempuan,” ujarnya.
Selain pembacaan manaqib, rangkaian Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia juga diisi dengan berbagai kegiatan di komunitas-komunitas, seperti pembacaan puisi, tawasul, hingga mengenang tokoh-tokoh perempuan di wilayah masing-masing.
Faqih mencontohkan, di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon juga menyelenggarakan pembacaan manaqib ulama perempuan. Begitu pula di sejumlah pesantren yang hampir setiap hari menggelar kegiatan serupa selama bulan Mei.
Mei: Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya KUPI mengajak masyarakat Indonesia untuk menjadikan Mei sebagai momentum mengingat jasa para guru, ustaz, ustazah, penggerak komunitas. Serta tokoh-tokoh yang telah berkontribusi terhadap keislaman, kemanusiaan, bangsa, dan negara.
“Ini ikhtiar kami dari KUPI untuk mengajak seluruh komponen bangsa agar setiap bulan Mei juga mengingat guru, ustaz, ustazah, para penggerak komunitas, dan mereka yang telah memiliki kiprah dan peran untuk keislaman, kemanusiaan, serta tentu saja untuk bangsa dan negara,” katanya.
Faqih menegaskan, buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia yang memuat 31 tokoh tersebut bukanlah representasi akhir dari keseluruhan ulama perempuan Indonesia. Buku itu menjadi langkah awal dalam pendokumentasian sejarah ulama perempuan.
Ia menyebut KUPI tengah mengorganisasikan jaringan di berbagai daerah untuk mendata dan menulis lebih banyak profil ulama perempuan dari berbagai latar perjuangan.
“Dalam satu tahun ini akan tertulis, insyaallah, 2.000 profil ulama perempuan, baik yang bergerak di pesantren, perguruan tinggi, komunitas. Termasuk teman-teman aktivis yang melakukan kerja-kerja di lapangan dan di komunitas,” ujarnya.
Selain penerbitan buku, KUPI juga mengembangkan platform digital Kupipedia.id sebagai ruang dokumentasi tokoh-tokoh ulama perempuan Indonesia. Hingga saat ini, kata Faqih, Kupipedia telah menuliskan sekitar 139 tokoh dan mendata lebih dari 320 tokoh ulama perempuan dari berbagai daerah di Indonesia.
Ia berharap dokumentasi tersebut dapat terus berkembang sehingga sejarah perjuangan ulama perempuan tidak lagi terhapus dari ingatan kolektif masyarakat.
Dalam sambutannya, Faqih juga menjelaskan konsep ulama perempuan menurut perspektif KUPI. Menurutnya, ulama perempuan bukan semata-mata perempuan yang mengajar agama di pesantren. Melainkan siapa pun yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk kerja-kerja keislaman dan kemanusiaan.
“Ini adalah senyawa pengetahuan. Bagaimana pengetahuan itu berdampak kepada aktivisme, dan aktivisme juga merupakan bagian dari pengetahuan keislaman,” katanya.
Membangun Kerja-kerja Keulamaan
Pandangan tersebut, lanjutnya, menjadi landasan gerakan KUPI dalam membangun kerja-kerja keulamaan di masyarakat, komunitas, perguruan tinggi, pesantren, kelompok muda, hingga gerakan kemanusiaan dan keadilan gender.
Di akhir sambutannya, Faqih secara resmi meluncurkan buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia: Profil 31 Tokoh atas nama Majelis Musyawarah KUPI.
“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, kami meluncurkan buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia: Profil 31 Tokoh yang dituturkan dalam rangka peringatan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia,” ujarnya.
Peluncuran buku tersebut mendapat antusias peserta yang hadir dalam Hari Puncak BuKUPI 2026. Buku itu menjadi salah satu upaya KUPI untuk terus merawat ingatan kolektif terhadap perjuangan ulama perempuan Indonesia. Sekaligus mentransmisikan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan keislaman kepada generasi mendatang. []












































