Mubadalah.id – Rumah sakit dengan fasilitas yang memadai dapat memberikan layanan aborsi yang aman melalui metode penyedotan (vakum aspirasi), kuretase, atau penggunaan obat-obatan.
Setiap pasien yang akan menjalani aborsi harus memperoleh informasi secara lengkap mengenai prosedur yang akan dilakukan, cara kerja tenaga kesehatan, serta risiko yang mungkin terjadi.
Apabila proses aborsi sangat berbeda dari penjelasan berikut. Maka layanan tersebut patut dicurigai sebagai tindakan yang tidak aman.
Pertama, pasien akan ditanyai mengenai kapan terakhir kali mengalami menstruasi, apakah memiliki gejala penyakit menular seksual, atau faktor risiko lain yang berkaitan dengan kondisi kesehatannya.
Kedua, pasien akan menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, terutama pemeriksaan pada vagina dan rahim.
Ketiga, posedur aborsi yang Anda akukan, dan setelah selesai umumnya rasa nyeri di bagian bawah perut akan berangsur berkurang.
Keempat, setelah tindakan selesai, area genital pasien akan mereka bersihkan. Pasien kemudian harus beristirahat selama kurang lebih satu jam sambil dokter atau perawat pantau untuk memastikan kondisinya tetap stabil.
Kelima, pasien akan mendapat penjelasan mengenai perawatan setelah aborsi, tanda-tanda bahaya yang perlu Anda waspadai, serta minta untuk segera menghubungi rumah sakit apabila muncul masalah. Pasien juga akan mereka beri tahu kepada siapa harus menghubungi jika memerlukan pertolongan.
Keenam, pasien akan Anda ajak berdiskusi mengenai keluarga berencana (KB). Kontrasepsi dapat langsung Anda berikan pada hari tindakan aborsi. Selain itu, pasien harus kembali untuk menjalani pemeriksaan kontrol sekitar satu hingga dua minggu setelah tindakan.
Setelah Aborsi
Dalam waktu satu hari setelah aborsi, tanda-tanda kehamilan seperti mual, payudara terasa nyeri, dan gejala lainnya umumnya sudah mulai menghilang.
Apabila gejala tersebut tidak kunjung hilang, ada kemungkinan masih terdapat sisa jaringan kehamilan di dalam rahim atau bahkan terjadi kehamilan di saluran telur (kehamilan ektopik). Kondisi ini merupakan keadaan darurat yang harus segera mendapatkan penanganan di rumah sakit.
Setelah menjalani aborsi, pasien mungkin akan merasakan kelelahan, kram, atau nyeri selama satu hingga dua hari. Kondisi tersebut umumnya masih tergolong normal dan tidak terlalu berat. Perdarahan dari vagina juga merupakan hal yang normal, bahkan dapat berlangsung hingga dua minggu.
Namun, jumlah darah yang keluar seharusnya tidak terlalu banyak dan tidak dengan keluarnya gumpalan darah atau jaringan dalam jumlah besar.
Menstruasi biasanya kembali dalam waktu empat hingga enam minggu setelah aborsi. Jika usia kehamilan yang Anda gugurkan telah mencapai lebih dari lima atau enam bulan, maka menstruasi normal dapat kembali lebih lambat. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 322.






































