Mubadalah.id – Aborsi yang aman hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih, seperti dokter, bidan, atau perawat yang memiliki kompetensi. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk melaksanakannya.
Pertama, aborsi dengan Penyedotan (Vacuum Aspiration). Aborsi dengan penyedotan kandungan dilakukan menggunakan alat yang disebut kanula (cannula), yaitu semacam tabung kecil.
Alat tersebut masuk melalui vagina hingga mencapai rahim. Tindakan ini dapat Anda lakukan tanpa pembiusan total, meskipun pasien biasanya kita berikan suntikan anestesi lokal di daerah sekitar leher rahim atau bagian bawah perut untuk mengurangi rasa nyeri.
Penyedotan ini menggunakan vacuum aspirator, yaitu alat yang dapat menggerakkan dengan tenaga listrik maupun secara manual menggunakan alat menyerupai suntikan.
Prosedur ini relatif sederhana, tidak sulit bagi tenaga kesehatan yang terlatih, dan umumnya hanya memerlukan waktu sekitar 5–10 menit.
Layanan ini biasanya tersedia di klinik, rumah sakit, atau tempat praktik dokter spesialis kandungan. Metode ini paling aman Anda lakukan ketika usia kehamilan masih sekitar tiga bulan pertama.
Meskipun dalam kondisi tertentu dapat ia lakukan pada usia kehamilan yang sedikit lebih tua. Daripada dengan metode lain, cara ini memiliki risiko komplikasi yang lebih rendah.
Di beberapa tempat, manual vacuum aspirator atau penyedotan manual tanpa mesin juga dapat untuk menangani keterlambatan menstruasi, yang kita kenal sebagai regulasi menstruasi.
Kuret
Kedua, aborsi dengan pengerokan dinding rahim. Metode ini menggunakan alat kita kenal dengan kuret, yaitu alat yang bentuknya menyerupai sendok kecil dengan gagang panjang. Oleh karena itu, prosedur ini sering kita sebut sebagai kuretase atau “kuret”.
Kuret dirancang agar dapat masuk ke dalam rahim setelah mulut rahim dibuka atau dilebarkan terlebih dahulu. Proses pelebaran mulut rahim dapat menimbulkan rasa nyeri sehingga umumnya pasien diberikan pembiusan.
Cara ini memerlukan waktu yang lebih lama, yaitu sekitar 15–20 menit. Selain itu, biayanya lebih mahal, terasa lebih menyakitkan, dan memiliki kemungkinan komplikasi yang lebih besar daripada metode penyedotan. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 320.






































