Selasa, 28 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Hukum Indonesia

    Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah: Di Persimpangan Manakah Kiblat Hukum Indonesia?

    Mendidik Anak

    Bagaimana Mendidik Anak untuk Mengasihi Sesama Makhluk?

    PBNU

    Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nama Website Pelayanan Publik

    Mengapa Nama Website Pelayanan Publik Banyak Mengandung Seksisme?

    Vaginal Rejuvenation

    Menimbang Ulang Vaginal Rejuvenation: Ikhtiar Medis atau Tuntutan Patriarki?

    Li'an

    Transformasi Islam terhadap Praktik Relasi Perkawinan Toksik Jahiliyah Arab: Li’an, Ila dan Zihar

    Sunat Perempuan

    Sunat Perempuan: Akhlak dan Kemuliaan Tak Dibentuk oleh Sayatan

    Anak-anak Disabilitas

    Ketika Madrasah Sederhana di Madura Membuka Jalan bagi Anak-anak Disabilitas

    Pernikahan Anak

    Mengapa Hukum Negara Saja Tak Cukup untuk Menghentikan Pernikahan Anak?

    Wayang

    Wayang, Membela Mereka yang Tak Menjadi Tokoh Utama

    Nafkah adalah Amanah

    Nafkah adalah Amanah: Mencegah Penelantaran Ekonomi dalam Rumah Tangga

    Perkemahan

    Belajar Empati dari Perkemahan di SLB

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Bercak Putih

    Bercak Putih di Mulut pada Orang dengan AIDS, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

    Luka

    Orang dengan AIDS Sering Mengalami Luka Mulut dan Jamur, Ini Cara Perawatannya

    Gangguan Mulut

    Cara Mengatasi Gangguan Mulut dan Tenggorokan pada Orang dengan AIDS

    pneumonia

    4 Tanda Pneumonia yang Perlu Diwaspadai Orang dengan AIDS

    Tuberkulosis

    Orang dengan AIDS Rentan Terkena Tuberkulosis dan Pneumonia, Kenali Gejalanya

    Berita Bohong

    Melihat Al-Qur’an Berbicara tentang Perempuan dan Berita Bohong di Era Digital

    Batuk Dahak

    Cara Meredakan Batuk Berdahak pada Orang dengan AIDS agar Tidak Semakin Parah

    Muntah

    Langkah Tepat Mengatasi Mual dan Muntah pada Orang dengan AIDS

    Herpes zoster

    Kenali Herpes Zoster dan Mual Berkepanjangan pada Orang dengan AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Hukum Indonesia

    Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah: Di Persimpangan Manakah Kiblat Hukum Indonesia?

    Mendidik Anak

    Bagaimana Mendidik Anak untuk Mengasihi Sesama Makhluk?

    PBNU

    Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nama Website Pelayanan Publik

    Mengapa Nama Website Pelayanan Publik Banyak Mengandung Seksisme?

    Vaginal Rejuvenation

    Menimbang Ulang Vaginal Rejuvenation: Ikhtiar Medis atau Tuntutan Patriarki?

    Li'an

    Transformasi Islam terhadap Praktik Relasi Perkawinan Toksik Jahiliyah Arab: Li’an, Ila dan Zihar

    Sunat Perempuan

    Sunat Perempuan: Akhlak dan Kemuliaan Tak Dibentuk oleh Sayatan

    Anak-anak Disabilitas

    Ketika Madrasah Sederhana di Madura Membuka Jalan bagi Anak-anak Disabilitas

    Pernikahan Anak

    Mengapa Hukum Negara Saja Tak Cukup untuk Menghentikan Pernikahan Anak?

    Wayang

    Wayang, Membela Mereka yang Tak Menjadi Tokoh Utama

    Nafkah adalah Amanah

    Nafkah adalah Amanah: Mencegah Penelantaran Ekonomi dalam Rumah Tangga

    Perkemahan

    Belajar Empati dari Perkemahan di SLB

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Bercak Putih

    Bercak Putih di Mulut pada Orang dengan AIDS, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

    Luka

    Orang dengan AIDS Sering Mengalami Luka Mulut dan Jamur, Ini Cara Perawatannya

    Gangguan Mulut

    Cara Mengatasi Gangguan Mulut dan Tenggorokan pada Orang dengan AIDS

    pneumonia

    4 Tanda Pneumonia yang Perlu Diwaspadai Orang dengan AIDS

    Tuberkulosis

    Orang dengan AIDS Rentan Terkena Tuberkulosis dan Pneumonia, Kenali Gejalanya

    Berita Bohong

    Melihat Al-Qur’an Berbicara tentang Perempuan dan Berita Bohong di Era Digital

    Batuk Dahak

    Cara Meredakan Batuk Berdahak pada Orang dengan AIDS agar Tidak Semakin Parah

    Muntah

    Langkah Tepat Mengatasi Mual dan Muntah pada Orang dengan AIDS

    Herpes zoster

    Kenali Herpes Zoster dan Mual Berkepanjangan pada Orang dengan AIDS

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Mengapa Nama Website Pelayanan Publik Banyak Mengandung Seksisme?

Sudah saatnya pemerintah berhenti menciptakan akronim yang viral dan mulai membangun komunikasi yang bermartabat.

Hilda Rizqi Elzahra by Hilda Rizqi Elzahra
28 Juli 2026
in Publik
A A
0
Nama Website Pelayanan Publik

Nama Website Pelayanan Publik

8
SHARES
393
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Saya masih ingat momen ketika sedang membantu seorang teman kerja mencari informasi layanan pemerintah melalui Nama Website Pelayanan Publik. Alih-alih langsung menemukan informasi yang saya butuhkan, perhatian justru teralihkan oleh nama situsnya. Kami saling berpandangan, lalu teman saya tertawa kecil. Saya rasa, dia menyeringai bukan karena isi layanannya, melainkan karena nama yang terdengar begitu janggal.

Rasa penasaran itu terus membuat kami mencari layanan lain. Ternyata di lain situasi, saya menemukan ada nama SiCantik, SiManis, SIMASGanteng, bahkan nama-nama seperti SISEMOK, SIMONTOK, SIPEPEK dan SIPEDO. Semuanya merupakan akronim resmi dari berbagai Nama Website Pelayanan Publik

Simontok adalah nama program pemerintah Kota Surakarta yang merupakan singkatan dari Sistem Monitoring Stok dan Kebutuhan Pangan Pokok. Sisemok, singkatan dari Sistem Informasi Organisasi Kemasyarakatan, pembuatnya Pemkab Pemalang atau Sipepek, singkatan dari Sistem Pelayanan Program Penanggulangan Kemiskinan dan Jaminan Kesehatan, pembuatnya Pemkab Cirebon. Mungkin beberapa ada yang sudah terganti, tapi masih banyak yang beredar.

“Serius? Namanya begitu?” tanyaku yang masih mecerna informasi.

“Lah, itu kan cuma singkatan,” kata seorang teman. “Jangan dibawa serius.”

Beberapa orang yang bekerja dalam birokrasi ini menganggapnya sekadar kreativitas birokrasi dalam merangkai singkatan agar mudah teringat. Saya terdiam sejenak. Mungkin benar, niat pembuatnya bukan untuk melecehkan. Namun, bukankah sebuah nama tidak hanya kita nilai dari niat orang yang membuatnya, tetapi juga dari bagaimana masyarakat memahaminya?

Jika sebuah nama memancing tawa, mengundang konotasi seksual, atau membuat sebagian orang merasa tidak nyaman, apakah cukup bagi kita untuk berkata, “Itu cuma singkatan”?

Percakapan singkat itu terus terngiang di kepala saya. Sebab, persoalan ini tampaknya menyangkut tentang seberapa peka lembaga publik dalam memilih bahasa. Ketika negara berbicara kepada warganya melalui nama sebuah layanan, setiap kata yang terpilih seharusnya mencerminkan profesionalisme, kehati-hatian, dan penghormatan kepada semua orang.

Membendung Seksisme dalam Layanan Publik

Puncaknya, saya mulai mencari tahu tentang etika berbahasa dalam pelayanan publik. Duarrrrr..! sebelum saya menggali informasi mengenai hal tersebut belum juga menemukan informasi dasar, beberapa isu langsung terpampang, yang membahas aplikasi program pemerintah di berbagai wilayah di Indonesia.

Hasil riset yang sangat mengejutkan, saya menemukan data beberapa aplikasi bernama “LUBANG DUDUK” Sistem Informasi Konsultasi Hukum Online milik Kota Semarang. Saat ini sudah tidak bisa terakses dan menghilang websitenya.

Ada lagi, JESIKA IMUT PISAN: Jendela Informasi Karantina Ikan Penuh Informasi Penuh Kesan (Badan Karantina Ikan Kota Bandung). SISKA KUINTIP, yakni Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma (Prov. Kalimantan Selatan). JEBOL YA MAS, yang mana berisi program inovasi puskesmas Anggut Atas milik Kota Bengkulu.

Saya mulai naik darah dan ada rasa jengkel yang sulit untuk terabaikan. Semakin banyak nama layanan publik yang saya temukan, semakin saya ingin mendobrak siapa biang keladi di balik nama-nama aplikasi ini?

Mengapa dalam satu birokrasi tidak ada yang peka terhadap permasalahan ini? Mengapa bahasa yang lembaga negara gunakan justru begitu abai terhadap makna yang hidup di tengah masyarakat?

Gelisah bukan main!

Bahasa dan Etika Komunikasi Publik

Dalam perspektif feminis, penggunaan istilah-istilah semacam ini berpotensi memperkuat bias gender dan objektifikasi yang terselubung dalam bahasa. Ketika lembaga publik memilih nama layanan yang mengandung stereotip gender atau konotasi vulgar, komunikasi negara tidak lagi kita pandang sepenuhnya netral dan inklusif.

Alih-alih membangun kedekatan dengan masyarakat, justru memaksakan akronim yang tidak senonoh dengan dalih agar mudah teringat. Penamaan seperti ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan membuat sebagian warga merasa martabatnya tidak dihargai. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berisiko mengurangi kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah untuk menghadirkan pelayanan yang profesional, setara, dan menghormati seluruh lapisan masyarakat.

Menguji Alasan di Balik Penamaan Layanan Publik

Dalam berbagai klarifikasi kepada media, sejumlah instansi pemerintah menjelaskan bahwa penamaan tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengandung makna vulgar atau seksis. Akronim itu, menurut mereka, dipilih semata-mata agar terdengar menarik, unik, dan mudah diingat. Penjelasan ini menunjukkan bahwa tujuan utamanya adalah membangun identitas layanan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Namun, dalam komunikasi publik, niat baik tidak selalu berbanding lurus dengan dampak yang publik terima. Sebuah nama tidak hanya dimaknai oleh pembuatnya, tetapi juga oleh masyarakat yang menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sebuah akronim memunculkan konotasi seksual, stereotip gender, atau makna yang dianggap merendahkan oleh sebagian masyarakat, persoalannya tidak lagi berhenti pada niat. Akan tetapi pada tanggung jawab etis dalam memilih bahasa.

Justru karena layanan tersebut dibuat oleh lembaga negara, harusnya standar kehati-hatian dalam penggunaan bahasa lebih mereka utamakan. Kreativitas dalam menyusun akronim tentu patut kita apresiasi, tetapi kreativitas tidak boleh mengabaikan sensitivitas sosial, budaya, dan gender yang hidup di tengah masyarakat.

Dengan demikian, persoalan ini bukan untuk menghakimi bahwa para pembuat program memiliki niat buruk. Sebaliknya, kritik ini merupakan pengingat bahwa dalam pelayanan publik, sebuah nama tidak hanya kita ingat. Ia adalah representasi negara.

Karena itu, ketika sebuah nama menimbulkan kontroversi atau memancing tafsir yang tidak selaras dengan nilai penghormatan terhadap manusia, evaluasi bukanlah bentuk mencari kesalahan. Namun bagian dari upaya membangun komunikasi publik yang lebih beretika dan berkeadilan.

Bahasa yang Memuliakan Martabat Manusia

Persoalan penamaan Nama Website Pelayanan Publik tidak hanya dapat terlihat dari perspektif linguistik atau gender, tetapi juga dari sudut pandang agama. Dalam Islam, bahasa bukan sekadar alat untuk menyampaikan informasi, tetapi juga cerminan akhlak dan penghormatan terhadap martabat manusia. Karena itu, setiap pilihan kata mengandung tanggung jawab moral, terlebih ketika digunakan oleh institusi negara yang mewakili kepentingan publik.

Saya kemudian menelusuri berbagai panduan Islam mengenai etika berbahasa. Dari sana saya menemukan bahwa Al-Qur’an memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana seorang muslim berkomunikasi di ruang publik.

Komunikasi yang baik tidak hanya kita nilai dari efektivitasnya, tetapi juga dari nilai-nilai yang terkandung. Konsep qaulan ma’rūfan (perkataan yang baik), qaulan sadīdan (perkataan yang benar), dan qaulan karīman (perkataan yang mulia) menjadi prinsip yang menuntun seseorang agar menggunakan bahasa yang santun, menghormati lawan bicara, serta menjaga kehormatan sesama manusia.

Dalam konteks ini, penggunaan akronim layanan publik yang memunculkan konotasi seksis, stereotip gender, atau makna vulgar patut menjadi bahan evaluasi. Terlepas dari niat pembuatnya, penamaan semacam itu kurang sejalan dengan prinsip komunikasi yang diajarkan Islam. Bahasa yang digunakan negara seharusnya memuliakan manusia, bukan membuka ruang bagi candaan yang mengarah pada objektifikasi tubuh atau menimbulkan rasa tidak nyaman bagi sebagian masyarakat.

Ketika pemerintah memilih sebuah nama untuk layanan publik, yang dipertaruhkan bukan hanya kreativitas dalam menyusun akronim, melainkan juga wibawa negara dalam berkomunikasi dengan rakyatnya. Sebab, pelayanan publik yang baik bukan hanya diukur dari kemudahan akses dan kualitas sistem, tetapi juga dari bahasa yang mencerminkan penghormatan, kesantunan, dan keadilan bagi setiap warga negara.

Dariku, Seorang Pengajar Bahasa

Belajar bahasa, memuat sisi kesantunan. Sebagai pengajar Bahasa, di kelas saya mengajarkan pentingnya memilih diksi yang santun, menghargai lawan bicara, dan menghindari ungkapan yang berpotensi menyinggung atau merendahkan martabat seseorang. Namun, bagaimana jika negara malah menyajikan hal demikian?

Negara adalah pendidik yang paling besar. Ia mendidik bukan hanya melalui undang-undang saja. Ketika bahasa dalam sebuah negara kehilangan kepekaan, masyarakat perlahan akan menganggap bahwa seksisme, konotasi vulgar, dan candaan yang merendahkan adalah sesuatu yang lumrah. Padahal, setiap kata yang keluar dari institusi publik membawa legitimasi. Ia membawa pesan tentang nilai apa yang ingin terwariskan kepada masyarakat.

Sudah saatnya pemerintah berhenti menciptakan akronim yang viral dan mulai membangun komunikasi yang bermartabat. Sebab, pelayanan publik adalah ruang di mana setiap warga negara berhak diperlakukan dengan hormat.

Jika bahkan sebuah nama layanan publik gagal menghormati martabat manusia, bagaimana mungkin masyarakat yakin bahwa negara akan menghormati manusia yang terlayani?

Tabik! []

Tags: GenderkebijakanLembaga NegaraNama Website Pelayanan Publikstigma
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Orang dengan AIDS Sering Mengalami Luka Mulut dan Jamur, Ini Cara Perawatannya

Next Post

Bercak Putih di Mulut pada Orang dengan AIDS, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Hilda Rizqi Elzahra

Hilda Rizqi Elzahra

Mahasiswi Magister UIN Salatiga aktif menulis di berbagai media

Related Posts

Kontrasepsi Laki-laki
Personal

Melawan Tabu: Kontrasepsi Laki-laki yang Diperkusi Norma

23 Juli 2026
Kepemimpinan Beragam Gender
Publik

Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

18 Juli 2026
Militerisasi
Publik

Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

17 Juli 2026
Kepemimpinan Abu Bakar
Hikmah

Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

15 Juli 2026
Perempuan Pembela Keadilan
Publik

Siapa Menjaga Perempuan Pembela Keadilan?

15 Juli 2026
Romina Pourmokhtari
Figur

Romina Pourmokhtari Ubah Pandangan Dunia: Perempuan Tak Harus Memilih Antara Karier dan Keluarga

12 Juli 2026
Next Post
Bercak Putih

Bercak Putih di Mulut pada Orang dengan AIDS, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Bercak Putih di Mulut pada Orang dengan AIDS, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
  • Mengapa Nama Website Pelayanan Publik Banyak Mengandung Seksisme?
  • Orang dengan AIDS Sering Mengalami Luka Mulut dan Jamur, Ini Cara Perawatannya
  • Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah: Di Persimpangan Manakah Kiblat Hukum Indonesia?
  • Cara Mengatasi Gangguan Mulut dan Tenggorokan pada Orang dengan AIDS

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0