Rabu, 4 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Merayakan Lebaran

    Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan

    Pernikahan Disabilitas

    Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan

    Life After Campus

    Life After Campus: Ternyata Pintar Saja Tak Cukup!

    Difabel di Sektor Formal

    Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan

    Ideologi Kenormalan

    Kebijakan Publik dan Ideologi Kenormalan

    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    Membaca MBG

    Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah

    Alteritas Disabilitas

    Alteritas Disabilitas dan Makna Kesalingan Etis

    Negara dan Zakat

    Negara dan Zakat; Garis Demarkasi yang Harus Dijaga

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Tanggung Jawab

    QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

    Timbal Balik dalam

    QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan

    Kemitraan

    Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19

    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    Hijrah dan Jihad

    “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad

    Hijrah

    Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

    Ayat Aurat

    QS. At-Taubah 71 Jadi Landasan Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Suara Perempuan sebagai

    Menimbang Ulang Anggapan Suara Perempuan sebagai Aurat

    Hadis Aurat

    Hadis tentang Perempuan sebagai Aurat Ditafsirkan secara Kontekstual

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Merayakan Lebaran

    Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan

    Pernikahan Disabilitas

    Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan

    Life After Campus

    Life After Campus: Ternyata Pintar Saja Tak Cukup!

    Difabel di Sektor Formal

    Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan

    Ideologi Kenormalan

    Kebijakan Publik dan Ideologi Kenormalan

    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    Membaca MBG

    Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah

    Alteritas Disabilitas

    Alteritas Disabilitas dan Makna Kesalingan Etis

    Negara dan Zakat

    Negara dan Zakat; Garis Demarkasi yang Harus Dijaga

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Tanggung Jawab

    QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

    Timbal Balik dalam

    QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan

    Kemitraan

    Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19

    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    Hijrah dan Jihad

    “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad

    Hijrah

    Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

    Ayat Aurat

    QS. At-Taubah 71 Jadi Landasan Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Suara Perempuan sebagai

    Menimbang Ulang Anggapan Suara Perempuan sebagai Aurat

    Hadis Aurat

    Hadis tentang Perempuan sebagai Aurat Ditafsirkan secara Kontekstual

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Tokoh

6 Hal Filsafat Etika yang Dapat Kita Pelajari dari Filsuf Ayn Rand

Bagi Rand, tidak ada kontradiksi antara mengikuti apa yang kita sukai dan juga membantu orang lain. Dia bahkan berpikir bahwa ketika kita jatuh cinta dengan seseorang pun, cinta itu pada dasarnya egois. Sebab apa yang kita lakukan karena cinta sebenarnya berdasar pada keegoisan kita sendiri

Fadlan by Fadlan
5 Juli 2022
in Figur
A A
0
Filsafat Etika

Filsafat Etika

10
SHARES
477
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Ayn Rand adalah seorang penulis dan filsuf Rusia-Amerika yang hidup pada abad ke-20. Dia lahir di Rusia, namun kemudian pindah ke Amerika ketika dia menginjak usia 20-an tahun; di sana dia menulis beberapa novel, di antaranya yang paling terkenal adalah: The Fountainhead dan Atlas Shrugged.

Meskipun dia lebih terkenal sebagai novelis, namun menjelang akhir hayatnya, dia kemudian berfokus pada filsafat dan mendirikan aliran filsafat baru yang terkenal sebagai Objektivisme.

Ada empat prinsip utama di dalam Objektivisme Rand: Pertama, realitas objektif, yaitu realitas ada secara independen dari kesadaran. Kedua, akal mutlak, artinya petunjuk fakta jauh melebihi petunjuk iman atau emosi. Ketiga, individualisme, yang berarti tujuan moral yang tepat dari kehidupan seseorang adalah mengejar kebahagiaannya sendiri. Dan keempat, kapitalisme Laissez-faire, yaitu sistem yang berdasar pada perlindungan hak asasi manusia dan hak milik.

Pandangan Filsafat Ayn Rand

Pandangan filsafat utamanya adalah bahwa pengetahuan hanya dapat kita peroleh melalui proses penalaran. Dia terinspirasi oleh Nietzsche dan John Locke, namun dia juga menentang filsuf seperti Immanuel Kant, yang dia sebut sebagai “pria paling jahat dalam sejarah umat manusia”.

Lebih jauh, selama hidupnya, Ayn Rand sering terlibat dalam banyak gerakan politik dan menjalin hubungan dengan jurnalis dan para ekonom termasuk ekonom Ludwig von Mises. Bahkan Mises pernah menyebut Rand sebagai “pria paling berani di Amerika”, sebuah pujian yang membuatnya senang karena dia disebut “pria ” bukannya “wanita”. Hal ini menyiratkan bahwa meskipun Rand adalah perempuan, namun Rand jauh lebih berani daripada laki-laki mana pun.

Terlepas dari pencapaian-pencapaiannya di atas, dalam hal filsafat etika, Rand memiliki beberapa gagasan yang mungkin dapat menginpirasi kita dalam mengejar kebahagiaan melalui rasio, dan keberanian yang banyak dia contohkan dalam kehidupannya; bagaimana kita dapat mengejar kebenaran dan kehidupan yang memuaskan, berikut adalah 6 pelajaran hidup yang dapat kita petik dari filsafat etika Ayn Rand:

1. Berpikirlah Rasional

“Tidak ada pikiran jahat kecuali satu; penolakan untuk berpikir!”

Salah satu pilar utama Objektivisme Rand adalah akal mutlak, artinya bimbingan fakta jauh melebihi bimbingan emosi atau perasaan. Akal bagi Rand adalah alat untuk bertahan hidup: sebab tanpa akal, kita tidak dapat memahami realitas eksternal — lingkungan fisik kita.

Olehnya, jika ada sesuatu hal yang tidak berjalan sesuai dengan rencana atau harapan kita, Rand menyarankan agar kita perlu memahami situasinya, menganalisisnya. Lalu kemudian memutuskan apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Semua ini harus berjalan tanpa gejolak perasaan apapun. Sebab perasaan, bagi Rand, hanya akan membutakan mata kita dalam melihat jalan keluar dari setiap masalah yang kita hadapi.

2. Bersikaplah Egois

“Setiap orang adalah tujuan bagi dirinya sendiri, bukan sarana bagi tujuan orang lain.”

Bagi Rand, tidak ada kontradiksi antara mengikuti apa yang kita sukai dan juga membantu orang lain. Dia bahkan berpikir bahwa ketika kita jatuh cinta dengan seseorang pun, cinta itu pada dasarnya egois. Sebab apa yang kita lakukan karena cinta sebenarnya berdasar pada keegoisan kita sendiri.

Ketika kita mengorbankan sesuatu untuk seseorang atau ketika kita mengorbankan sesuatu demi suatu hubungan, atau ketika kita menderita demi mendapatkan sesuatu, itu bukanlah pengorbanan atau penderitaan selama kita, pada akhirnya, menikmati hasilnya. Jadi, dalam beberapa hal, kita egois dengan sifat kita sendiri.

Namun masalahnya, kata Rand, kita sering bertindak bertentangan dengan kepentingan dan keinginan kita sendiri. Kita justru lebih mengutamakan keinginan orang lain. Ayn Rand menyarankan kita untuk berhenti mengorbankan diri kita untuk orang lain jika itu tidak bermanfaat bagi kita, atau jika kita tidak merasa senang saat melakukannya.

3. Jangan Berperan Sebagai Korban

“Kejahatan membutuhkan sanksi dari korban.”

Biasanya, kecenderungan untuk berperan sebagai korban muncul dari kebutuhan untuk menunjukkan betapa menderitanya kita demi menarik perhatian orang lain. Tetapi bagi Rand, seseorang harus mencapai kebahagiaannya sendiri — kita tidak bisa menuntut orang lain untuk membuat kita bahagia, dan orang lain juga tidak boleh mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan kita.

Dalam pandangan filsafat etika Rand, mengemis perhatian — untuk merendahkan diri sendiri demi mendapatkan simpati atau cinta dari orang lain itu tidak baik. Dalam hal ini, memiliki sikap positif itu penting. Singkatnya, jangan terjebak dalam peran yang diberikan oleh orang lain, apalagi mengizinkan siapa pun untuk membuat kita merasa terisolasi atau merasa seperti korban.

4. Kembangkan Harga Diri

“Tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain harga diri.”

Menurut Rand, tingkat harga diri dapat dikorelasikan dengan jumlah kegembiraan yang ingin didapatkan karena pencarian kita akan kebahagiaan menunjukkan apakah kita layak bahagia, hidup, dan bebas.

Bagi Rand, semakin banyak kita menggunakan akal, semakin banyak pula harga diri yang dapat kita miliki. Ketika kita memiliki sistem nilai dan prinsip yang membuat kita mampu mengambil keputusan yang rasional dan mencegah kita agar tidak terbawa arus orang lain, saat itulah kita bisa belajar untuk lebih menghargai diri sendiri. Hal ini bertujuan untuk menetapkan batasan yang sehat dan tujuan yang tepat untuk diri kita dan untuk orang lain.

Kita sering stres hanya karena hal-hal kecil, baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan keseharian kita. Mengapa kita stres dan tidak bahagia biasanya karena kita tidak memiliki tujuan yang jelas dan rasional, atau karena kita tidak mengikuti tujuan tersebut karena menganggap diri kita tidak pantas untuk itu. Ketika kita tidak memiliki keberanian untuk memperjuangkan apa yang ingin kita capai dalam hidup, menurut Rand, kita akan kehilangan harga diri dan terjebak dalam hubungan dan impian yang palsu.

5. Jujurlah

“Tidak ada kebohongan putih, yang ada hanya kehancuran yang paling hitam, dan kebohongan putih justru yang tergelap dari semua kebohongan.”

Kejujuran adalah salah satu kebajikan tertinggi dalam Objektivisme Rand. Rand mendefinisikan kejujuran sebagai pengakuan akan fakta, bahwa kita tidak dapat memalsukan sesuatu. Dan pengakuan ini dapat terekspresikan baik dalam pikiran maupun ucapan.

Kita tidak boleh berbohong kepada orang lain dengan berbicara atau menyembunyikan informasi penting. Juga, kita tidak boleh membohongi diri sendiri. Sebab berbohong, dalam bentuk apa pun, sama dengan menjual diri kita sendiri. Selain itu, menurut Rand, jangan menghindari kebohongan hanya karena takut neraka — itu munafik namanya. Hindarilah kebohongan demi diri kita sendiri.

Menurut filsafat etika Rand, melalui rasio, kita akan mencapai kesimpulan bahwa kejujuran ​​adalah kebajikan tertinggi. Bahkan berbohong putih pun sangat merusak. Faktanya, seperti yang Rand katakan, kebohongan putih memang yang paling hitam dari semuanya.

Kebohongan putih adalah kebohongan yang dilakukan demi menyenangkan orang lain. Kita biasa menyebutnya berbohong demi kebaikan. Namun bagi Rand, kebohongan tidak pernah bisa menjadi baik!

6. Jangan Menyerah

“Jangan pernah menyerah apa yang Anda inginkan dalam hidup. Perjuangan itu sepadan.”

Tumbuh di Rusia, Rand hidup di tengah-tengah Revolusi Rusia dan akibatnya, keluarganya pun juga ikut terdampak. Bagaimana tidak, dia terlahir dari keluarga Yahudi borjuis di St. Petersburg dan, karena revolusi, yang terjadi ketika dia berusia 12 tahun, bisnis ayahnya disita. Akhirnya mau tak mau keluarganya melarikan diri ke Krimea.

Namun, penderitaannya dan keluarganya tidak hanya sampai di situ. Kesulitan lain yang harus dia hadapi adalah ketika proses kelulusannya, segala sesuatu menjadi sulit karena dia berasal dari keluarga borjuis. Meskipun demikian, dia akhirnya lulus, dan lalu beremigrasi ke Amerika.

Namun begitu, karena kejadian-kejadian tersebut, dia akhirnya lebih tegar, alih-alih putus asa. Dia menjadi lebih berani menghadapi kesulitan apapun, karena dia percaya bahwa di dalam diri setiap orang selalu ada pahlawan yang akan mengatasi kesulitan apa pun yang ia hadapi.

Pahlawan bukan berasal dari luar, tapi di dalam diri kita sendiri. Kita hanya perlu percaya, bahwa kita dapat mencapai hal yang kita inginkan melalui usaha kita sendiri. Sama seperti apa yang dia lakukan. Demikian nilai-nilai filsafat etika menurut Ayn Rand. []

Tags: Ayn RandfeminismefilsafatFilsafat EtikaFilsufMoralitastokoh perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Doa Ketika Melihat Pohon Berbuah

Next Post

Hadis Tentang Perempuan Bekerja dalam Tafsir Mubadalah

Fadlan

Fadlan

Penulis lepas dan tutor Bahasa Inggris-Bahasa Spanyol

Related Posts

Mukjizat dalam Islam
Publik

Bagaimana Memahami Mukjizat dalam Islam Menurut Dilthey?

19 Januari 2026
Haul Gus Dur
Publik

Membaca Nilai Asasi Agama dari Peringatan Haul Gus Dur dan Natal

29 Desember 2025
sikap ambivalen
Aktual

Julia Suryakusuma Soroti Ancaman Kekerasan Seksual dan Sikap Ambivalen terhadap Feminisme

15 Desember 2025
Feminisme
Aktual

Julia Suryakusuma: Feminisme Masih Dibutuhkan di Tengah Krisis Multidimensi Indonesia

15 Desember 2025
Pengalaman Biologis
Personal

Melihat Perempuan dengan Utuh: Tubuh, Pengalaman Biologis, dan Kesetaraan yang Lebih Manusiawi

3 Desember 2025
Intimate Wedding
Keluarga

Francis Fukuyama: Intimate Wedding sebagai Gejala Runtuhnya Kolektivitas Tradisional

20 November 2025
Next Post
bekerja

Hadis Tentang Perempuan Bekerja dalam Tafsir Mubadalah

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan
  • QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak
  • Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan
  • QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan
  • Life After Campus: Ternyata Pintar Saja Tak Cukup!

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0