Mubadalah.id – Pergantian tahun Masehi di pesantren tidak kita perlakukan sebagai peristiwa istimewa. Tidak ada ritual khusus yang membedakannya dari hari lain. Aktivitas berjalan sebagaimana biasa, dengan perhatian tetap tertuju pada urusan yang terus berlangsung.
Kebutuhan air, pengelolaan pangan, serta pemanfaatan ruang tetap berjalan meskipun kalender berganti. Dari keseharian tersebut tampak bahwa hubungan manusia dengan lingkungan berlangsung berkelanjutan dan menuntut kesadaran yang konsisten.
Di ruang publik yang lebih luas, tahun baru kerap kita pahami sebagai garis awal. Banyak orang memaknainya seolah seluruh persoalan dapat kita mulai kembali tanpa membawa jejak masa lalu. Cara pandang ini menyederhanakan kenyataan. Waktu tidak bergerak dalam potongan terpisah.
Kerusakan lingkungan, misalnya, tidak lenyap hanya karena angka tahun berubah. Dampaknya menetap, bertambah, lalu menunggu keputusan manusia berikutnya. Karena itu, pergantian tahun lebih tepat kita baca sebagai kesempatan menilai ulang relasi dengan bumi yang telah terbentuk, bukan sebagai penanda administratif pergantian kalender.
Dalam tradisi pengasuhan pesantren, relasi dengan bumi hadir secara nyata. Air terpahami sebagai kebutuhan bersama yang wajib terjaga serta terbagikan secara adil. Tanah menjadi ruang hidup yang berpengaruh langsung terhadap kesehatan, keamanan, dan kenyamanan santri. Makanan kita perlakukan sebagai hasil kerja panjang alam bersama manusia. Setiap kelalaian segera menghadirkan akibat yang dapat kita rasakan. Kedekatan ini membentuk tanggung jawab yang konkret dan sulit terabaikan.
Menilik Cara Pesantren
Cara pesantren memaknai waktu tumbuh dari disiplin keseharian, bukan dari penekanan pada momen seremonial. Kegiatan belajar, bekerja, serta merawat lingkungan kami jalani dalam ritme berulang. Dari pola tersebut tumbuh kesadaran bahwa kehidupan kita nilai dari kesinambungan laku, bukan dari pergantian penanda waktu. Cara pandang ini membentuk sikap terhadap perubahan, termasuk dalam memperlakukan lingkungan hidup.
Banyak kerusakan lingkungan berawal dari kebiasaan yang kita anggap wajar. Air terbuang karena selalu tersedia. Makanan tersisa karena kita anggap mudah terperoleh. Barang terganti sebelum rusak karena kebaruan terus dikejar. Pergantian tahun sering gagal menjadi ruang refleksi sebab perhatian lebih tertuju pada rencana besar, sementara kebiasaan kecil yang merusak terus berlangsung tanpa koreksi.
Santri perempuan kerap menjadi penanda paling jujur atas kualitas relasi dengan bumi. Tubuh mereka cepat merespons air tercemar atau udara yang tidak sehat. Ketimpangan ekologis tidak memerlukan penjelasan panjang karena dampaknya hadir langsung dalam keseharian. Dari pengalaman tersebut tumbuh pemahaman bahwa lingkungan menjadi dasar keberlangsungan hidup.
Dalam pengajian awal tahun, perhatian tidak terarahkan pada daftar resolusi yang ambisius. Pembahasan bisa berangkat dari pertanyaan sederhana mengenai kebiasaan yang terus berulang beserta dampaknya. Jumlah air yang terbuang setiap hari, sisa makanan, serta kecepatan pergantian barang menjadi bahan refleksi bersama. Pertanyaan tersebut tidak kita maksudkan untuk menghakimi, melainkan membuka kesadaran atas pola hidup yang selama ini kita jalani tanpa banyak pertimbangan.
Relasi Manusia dengan Hasil Bumi
Islam menyediakan kerangka etik yang jelas untuk membaca persoalan ini. Salah satu ayat yang jarang terbicarakan dalam konteks lingkungan justru berbicara langsung tentang hubungan manusia dengan hasil bumi beserta batas-batasnya.
وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَ جَنّٰتٍ مَّعْرُوْشٰتٍ وَّغَيْرَ مَعْرُوْشٰتٍ وَّالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا اُكُلُهٗ وَالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَابِهٍۗ كُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖٓ اِذَآ اَثْمَرَ وَاٰتُوْا حَقَّهٗ يَوْمَ حَصَادِهٖۖ وَلَا تُسْرِفُوْا ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَۙ
“Dialah yang menumbuhkan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, serta zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya. Akan tetapi, janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An‘ām: 141)
Ayat tersebut berbicara tentang ritme dan batas. Konsumsi dibenarkan, tetapi terarah agar kita lakukan dengan kesadaran waktu serta tanggung jawab. Panen kita pahami sebagai bagian dari siklus yang perlu terjaga agar keberlanjutan tetap terpelihara. Pemborosan menunjukkan kegagalan memahami hubungan manusia dengan bumi.
Pergantian tahun seolah menawarkan kebaruan, padahal bumi lebih menuntut kesinambungan. Ketegangan ini kerap luput kita sadari. Ketika kebaruan kita jadikan tujuan, umur pakai dipersingkat. Saat percepatan dianggap kemajuan, daya dukung alam terabaikan. Pesantren, dengan segala keterbatasannya, justru menanamkan nilai sebaliknya bahwa ketahanan jangka panjang lebih penting daripada perubahan yang serba cepat.
Kerja Merawat Lingkungan di Pesantren
Kerja merawat lingkungan di pesantren kami jalankan tanpa bahasa heroik. Banyak peran tersebut diemban oleh perempuan sebagai bagian dari tanggung jawab keseharian. Pengelolaan air, dapur, serta kebersihan dipahami sebagai kerja utama, bukan pekerjaan tambahan. Pada ruang inilah masa depan terawat secara nyata. Hubungan dengan bumi terbangun melalui ketekunan, bukan jargon.
Tahun berganti, sementara bumi terus menanggung akibat dari cara hidup manusia. Oleh karena itu, pergantian waktu tidak cukup kita pahami sebagai awal baru. Perubahan kalender perlu kita maknai sebagai kesempatan menata kembali hubungan yang timpang. Lingkungan tidak menunggu janji dan tidak terpengaruh slogan. Alam merespons kebiasaan.
Apabila tahun baru hanya melahirkan daftar rencana tanpa perubahan pola hidup, waktu akan terus berjalan dan kerusakan mengulang cerita lama. Pesantren memberi pelajaran sederhana bahwa perbaikan hubungan dengan bumi tidak memerlukan perayaan besar. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengubah kebiasaan yang terus berulang. Pada titik inilah makna tahun berganti menemukan pijakan paling nyata. Wallahu a’lam bis-shawab. []




















































