Mubadalah.id – Bagaikan dua sisi mata uang yang saling bersinggungan, slow living dan hard living menjadi perbandingan konsep hidup di abad 21 ini. Dan yang Slow-slow menjadi pilihan gaya hidup hari ini.
Setelah terdoktrin dengan ramainya media sosial yang selalu menginspirasi hidup ala-ala Slow Living itu, saya jadi interest dengan konsep tersebut. Akan tetapi tidak dapat menelan mentah-mentah konsep slow living ini, karena jika masih mentah, jatuhnya malah ‘Lazy Life’.
Nah untuk mematangkan pemahaman konsep itu, setidaknya konstruk teoretis Carl Honore (2004) menjadi konsumsi penting bagi kalangan Slow Living-ers. Karena Honore berbicara tentang gerakan hidup lamban ini sebagai perlawanan terhadap pemuja kultus kecepatan dalam masyarakat modern. Filosofinya sederhana saja, yaitu keseimbangan.
Namun, tidak hanya Honore yang menjadi dasar pembahasan tulisan ini, akan tetapi gaya hidup profetik atau kenabian dalam Islam lah yang menjadi grand perspektifnya.
Mengulur Gaya Hidup Masa Nabi Ke Era Kontemporer
Apabila membaca literatur dinamika kehidupan 14 abad silam, sebagai manusia kontemporer, saya merasa problematika kehidupan hari ini merupakan cerminan masa lalu, tidak jauh-jauh dari agama, politik, ekonomi, ekologi, dan kemanusiaan.
Mungkin bedanya cuma tools-nya saja yang berubah. Dulu nggak ada smartphone, sekarang ada. Dulu informasi lambat, sekarang real-time. Tapi esensi masalahnya? Sama! Manusia tetap butuh makna, ketenangan, dan keseimbangan hidup.
Ketika berdakwah, para Nabi memprioritaskan amanat berupa ajaran dari Allah Swt agar sampai kepada objeknya. Sejarah membuktikan perjalanan itu kerap dibubuhi cacian, kekerasan, pelik ekonomi karena pandemi, dan tantangan lainnya yang ekstrem.
Namun, dengan kepribadian yang matang, Nabi pun menjadi problem solving andalan yang menghembuskan etika kedamaian, Rahmat lil aalamiin, dan penuh rasa kemanusiaan.
Hari ini bagaimana? Sebuah otoritas tidak lagi terpaku di dalam kebijakan satu orang, semua orang memiliki otoritas dalam menentukan sesuatu. Misalnya ketika mengejar jam kerja agar tidak terlambat menjadi ngebut-ngebutan dijalanan dan menimbulkan kerusuhan sesama manusia.
Dalam mengelola tambang, para oknum tertentu ‘birahi’ materialistik tanpa melirik kesenjangan hidup warga sekitar, dan tidak menunjukkan keseimbangan alam. Lain lagi dengan lelaku koruptif yang ditokohkan oleh ahli agama.
Meskipun dalam tekanan ekstrem tapi tetap menjaga etika dan keseimbangan, sementara kita yang hidup dengan privilese modern malah kehilangan kendali atas diri sendiri. Kita punya teknologi canggih, tapi miskin kebijaksanaan. Punya akses informasi unlimited, tapi bingung mencari kebenaran.
Akan tetapi, bukan berarti kita harus pesimis. Justru di sinilah relevansi slow living profetik: sebagai “rem” di tengah laju modernitas yang kebablasan. Bukan menolak kemajuan, tapi mengendalikannya dengan etika kenabian.
Bicara Hidup Bicara Etika
Pada akhirnya, slow living adalah pilihan etis. Etika untuk menghormati diri sendiri, menghargai waktu, dan menjalani hidup sesuai nilai-nilai yang kita yakini. Bukan sekadar ikut arus, tapi menciptakan ritme hidup sendiri yang lebih bermakna.
Karena hari ini rasa-rasanya lebih rentan berbohong lewat media sosial. Hoax dan fake news akhirnya menjadi sedemikian masif sirkulasinya, bermula sejak hadirnya teknologi media baru yang berbasis internet.
Setidaknya dalam bingkai Islam, etika kenabian dapat diartikulasikan dengan sikap Tabligh, Siddiq, Amanah, Fathonah adalah empat sifat wajib bagi para rasul Allah, yaitu: Siddiq (jujur/benar), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan ajaran), dan Fathonah (cerdas/bijaksana).
4 Pilar Sikap Kenabian Untuk Slow Living
Siddiq, berarti Jujur. Minimal jujur dulu pada diri sendiri. Melakukan aktifitas dengan tidak tergesa-gesa, menikmati setiap proses yang mendahulukan kualitas daripada kuantitas.
Maka sejatinya, Siddiq mengajarkan kita untuk jujur mengakui: apa yang beneran kita butuhkan? Apa yang bikin kita bahagia? Slow living lahir dari sini, berani bilang “nggak” pada hal-hal yang cuma menguras energi tanpa memberi makna.
Amanah, berarti Tanggung Jawab pada waktu dan diri sendiri. Dalam etika kenabian dan semangat slow living, amanah mengajak manusia hidup lebih terarah, tidak reaktif, serta bijak dalam menggunakan energi dan perhatian. Menghormati waktu berarti menghormati diri sendiri hidup tidak sekadar sibuk, tetapi bermakna.
Tabligh, berarti mendahulukan kualitas komunikasi. Di era kontemporer ini, gaya komunikasi kadang bias kesopanan. Interaksi lebih gampang dan efisien dengan media sosial, hate Speech, bulliying virtual, Cyberstalking, Flaming dan berbagai bentuk kekerasan simbolik lainnya yang berseliweran tanpa kendali.
Dengan demikian, memahami slow living dalam etika kenabian menuntun komunikasi digital agar tidak terjebak pada logika viral dan reaktif.
Tabligh juga menjadi praktik merawat kemanusiaan: menahan diri sebelum menyebar, memilih kata yang menenangkan, serta menjadikan komunikasi sebagai jalan pencerahan dan kedewasaan bersama, bukan sekadar pelampiasan emosi di tengah hiruk-pikuk informasi.
Fatanah, yang artinya Cerdas memilih prioritas. Hidup modern menawarkan jutaan pilihan. Tapi fatanah mengajarkan kita untuk cerdas memilih mana yang penting, mana yang urgent, dan mana yang sebenarnya bisa kita skip. Dalam konteks slow living, kecerdasan ini membantu kita nggak terjebak dalam kesibukan yang nggak produktif atau tren yang nggak penting.
Empat sikap Nabi tersebut dapat diaplikasikan guna menuju Slow Living ala-ala Nabi. Carl Honore menawarkan keseimbangan, tapi Islam melalui keteladanan Nabi menawarkan sesuatu yang lebih dalam: keseimbangan yang berlandaskan spiritualitas, tanggung jawab moral, dan tujuan akhirat.
Slow living bukan cuma untuk hidup seimbang di dunia, tapi juga untuk mempersiapkan kehidupan yang lebih baik di akhirat. Jadi, seberapa siap mengaplikasikan Slow Living berdasarkan sikap teladan Nabi? []




















































