Jumat, 12 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Keadilan Hakiki

    Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Empat Langkah Kongkrit Membangun Pesantren yang Aman dari Kekerasan Seksual

    Nafkah Anak

    Membicarakan Kelalaian Nafkah Anak Setelah Perceraian

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif di Kantor Urusan Agama

    Manusia Merasa Cukup

    Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

    Keadilan kepada Anak

    Pelajaran dari Rasulullah tentang Keadilan kepada Anak

    Margaretha Subekti

    Empat Dekade Pengabdian Margaretha Subekti untuk Difabel di NTT

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Berhubungan Seks

    Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

    Kondom

    Kondom, Seks Aman, dan Upaya Mencegah HIV/AIDS

    Penyakit Menular

    Berhubungan Seks dengan Pasangan Bukan Jaminan Bebas Penyakit Menular Seksual

    Hubungan Seksual

    Kapan Sebaiknya Mempraktikkan Hubungan Seksual yang Lebih Aman?

    Hubungan Seksual

    Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

    Hasrat Seksual

    Mengakui Hasrat Seksual Perempuan sebagai Bagian dari Kesehatan Reproduksi

    Seksual Perempuan

    Ketika Hasrat Seksual Perempuan Dianggap Tabu

    Tubuh Perempuan

    Benarkah Tubuh Perempuan adalah Milik Laki-laki?

    Anak Perempuan

    Mengapa Anak Perempuan Tidak Bebas Bertanya tentang Tubuhnya?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Invisible Disability

    Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Keadilan Hakiki

    Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Empat Langkah Kongkrit Membangun Pesantren yang Aman dari Kekerasan Seksual

    Nafkah Anak

    Membicarakan Kelalaian Nafkah Anak Setelah Perceraian

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif di Kantor Urusan Agama

    Manusia Merasa Cukup

    Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

    Keadilan kepada Anak

    Pelajaran dari Rasulullah tentang Keadilan kepada Anak

    Margaretha Subekti

    Empat Dekade Pengabdian Margaretha Subekti untuk Difabel di NTT

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Berhubungan Seks

    Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

    Kondom

    Kondom, Seks Aman, dan Upaya Mencegah HIV/AIDS

    Penyakit Menular

    Berhubungan Seks dengan Pasangan Bukan Jaminan Bebas Penyakit Menular Seksual

    Hubungan Seksual

    Kapan Sebaiknya Mempraktikkan Hubungan Seksual yang Lebih Aman?

    Hubungan Seksual

    Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

    Hasrat Seksual

    Mengakui Hasrat Seksual Perempuan sebagai Bagian dari Kesehatan Reproduksi

    Seksual Perempuan

    Ketika Hasrat Seksual Perempuan Dianggap Tabu

    Tubuh Perempuan

    Benarkah Tubuh Perempuan adalah Milik Laki-laki?

    Anak Perempuan

    Mengapa Anak Perempuan Tidak Bebas Bertanya tentang Tubuhnya?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Emansipasi Ekologi: Mengapresiasi Kartini Lingkungan Masa Kini

Kartini lingkungan masa kini membawa perubahan, dan memberi manfaat bagi banyak orang untuk mempertahankan dan merawat ekologis.

Layyin Lala by Layyin Lala
23 April 2026
in Figur, Rekomendasi
A A
0
Kartini Lingkungan

Kartini Lingkungan

25
SHARES
1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Setiap 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai peringatan bangun dan bangkitnya emansipasi perempuan. Raden Ajeng Kartini namanya atau biasa kita kenal dengan sebutan R.A Kartini. Ia sosok yang vokal dan progresif dalam memandang kesetaraan gender pada masanya. Saat itu, masyarakat perempuan di Indonesia tak dapat menikmati pendidikan atau fasilitas yang lain karena gender membatasi peran mereka. 

Hanya laki-laki yang memiliki banyak akses dan berkuasa terhadap pendidikan. Sedang perempuan yang dapat mengenyam pendidikan masih sedikit sekali, terlebih hanya boleh dilakukan perempuan-perempuan kaum priyayi yang memiliki kasta dalam struktur sosial masyarakat. R.A Kartini terkenal dengan gagasan pentingnya pendidikan khususnya untuk perempuan demi kemajuan bangsa. 

R.A Kartini juga terkenal dengan tulisan surat-menyuratnya yang tertuju pada Stella Zeehandelaar. Dalam suratnya, Kartini menuliskan potongan gagasan yang bertuliskan, “Kami memohon diusahakannya pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki, tetapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan.”

Kartini Lingkungan Masa Kini

R.A Kartini pada masanya memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi masyarakat perempuan. Terutama untuk kalangan masyarakat perempuan yang rentan dan marginal. Keberhasilan perjuangan Kartini hari ini terlihat dari semakin terbukanya akses pendidikan bagi perempuan.

Data BPS menunjukkan partisipasi pendidikan perempuan di Indonesia terus meningkat sebesar 75,76% perempuan dalam kelompok usia 7-23 tahun masih bersekolah. Hal ini membuka ruang lahirnya generasi perempuan yang kritis, berdaya, dan mampu berkontribusi di berbagai bidang. 

Saat ini, persoalan bangsa juga berkaitan dengan krisis lingkungan yang semakin terasa. Perubahan iklim, kerusakan alam, dan persoalan sampah menjadi tantangan yang dihadapi bersama. Kondisi inilah yang melahirkan “Kartini lingkungan” masa kini. Perempuan yang memahami persoalan ekologi dan ikut bergerak mencari jalan keluar. Mereka berdampak sebagai peneliti, aktivis, pendidik, dan penggerak komunitas.

Banyak yang bekerja dari tingkat desa hingga kota. Pengalaman hidup dan kepekaan sosial membuat mereka dekat dengan persoalan di lapangan. Cara kerja yang dibangun cenderung mengajak, merangkul, dan berkelanjutan. Gerakan yang dilakukan juga memberi perhatian pada kelompok yang paling terdampak.

Hijroatul Maghfiroh Abdullah: Inisiator Green Pesantren dan Penggerak Komunitas Anak Muda Lingkungan

Hijroatul Maghfiroh Abdullah merupakan intelektual muda, aktivis lingkungan, dan pendidik yang berangkat dari tradisi pesantren dan berkembang dalam ruang akademik global. Ia adalah alumni Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, serta menempuh pendidikan sarjana di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pada bidang Hukum Islam. 

Ketertarikannya pada isu relasi agama, perempuan, dan lingkungan membawanya melanjutkan studi magister di Leiden University dengan fokus kajian Islam dan ekofeminisme, serta studi di Macquarie University pada bidang keberlanjutan. Latar belakang ini membentuk kerangka berpikir interdisipliner yang menghubungkan nilai keislaman dengan isu keadilan ekologis dan gender dalam konteks global.

Dalam praktik profesionalnya, Hijroatul Maghfiroh Abdullah berperan sebagai penggerak program lingkungan di Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU). Lembaga ini fokus pada pengembangan kebijakan dan gerakan berbasis komunitas. Ia dikenal sebagai penggagas program Pesantren Hijau (Green Pesantren) yang mendorong transformasi budaya ramah lingkungan di lingkungan pesantren melalui edukasi ekologis, pengelolaan sampah, dan efisiensi energi.

Selain itu, saat ini ia juga aktif mengembangkan Komunitas Eco-Peace Indonesia yang mempertemukan anak muda lintas iman di seluruh Indonesia untuk merespons isu lingkungan secara kolaboratif. 

Hifni Septina Carolina: Merawat Perempuan dan Ekologi Melalui Komunitas WES Payungi

Hifni Septina Carolina (alm.) merupakan seorang akademisi, aktivis sosial, dan penggerak komunitas yang memiliki perhatian besar pada isu perempuan, gender, dan lingkungan. Ia menjadi salah satu inisiator dan penggerak Women and Environment Studies Payungi (WES Payungi). Sebuah ruang belajar dan pemberdayaan yang berfokus pada penguatan kapasitas perempuan serta kelompok rentan. 

Lahir dan tumbuh di Lampung Tengah, Hifni menempuh perjalanan intelektual dan sosial yang mempertemukan kerja akademik dengan praktik pemberdayaan di tingkat komunitas. Dalam aktivitasnya, ia mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan perspektif keadilan gender, kepedulian lingkungan, dan sensitivitas sosial, sehingga menghasilkan model gerakan yang kontekstual dan berkelanjutan.

Hifni Septina Carolina mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang terangkum dalam konsep HSC (Help, Save, Care) sebagai kerangka etik sekaligus metodologis dalam gerakan sosial. Pendekatan ini menekankan pentingnya tindakan sederhana yang konsisten dalam menolong, menciptakan ruang aman, serta merawat individu dan komunitas secara berkelanjutan. 

Dari WES Payungi, ia mendorong lahirnya berbagai program pemberdayaan, termasuk pendampingan bagi perempuan dan anak, serta penguatan kapasitas anak penyandang disabilitas melalui kegiatan berbasis ketrampilan dan kreativitas. 

Hening Parlan: Perempuan Progresif Muhammadiyah yang Vokal dengan Isu Lingkungan

Hening Purwati Parlan merupakan aktivis lingkungan dan keberagaman asal Indonesia yang lahir di Wonogiri pada 9 Oktober 1972. Ia terkenal sebagai Direktur GreenFaith Indonesia serta penggerak kolaborasi lintas iman dalam isu keadilan iklim. Latar belakang pendidikannya di bidang sosiologi dan manajemen membentuk pendekatan interdisipliner dalam aktivismenya. 

Hening juga terlibat di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia serta Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, termasuk kontribusi dalam penyusunan kebijakan nasional terkait penanggulangan bencana. Aktivisme Hening berfokus pada penguatan peran komunitas agama sebagai aktor strategis dalam menjaga lingkungan. Yakni dengan menempatkan relasi manusia, alam, dan spiritualitas sebagai satu kesatuan yang saling terkait.

Hening mengembangkan model advokasi berbasis kolaborasi lintas agama dan lintas negara untuk merespons krisis ekologis, termasuk isu transisi energi dan dampak pembangkit listrik tenaga uap berbasis batubara. Ia mendorong keterlibatan komunitas akar rumput dalam gerakan lingkungan serta memperkuat narasi bahwa nilai-nilai keagamaan memiliki landasan etis dalam pelestarian alam. Selain itu, melalui perannya di organisasi keagamaan seperti Aisyiyah, ia mengkolaborasikan isu lingkungan dengan pemberdayaan sosial dan kemanusiaan.

Nissa Wargadipura: Pesantren Berdikari dengan Mandiri Pangan

Nissa Wargadipura merupakan tokoh perempuan yang berperan penting dalam pengembangan ekofeminisme berbasis pesantren di Indonesia. Lahir di Garut pada 23 Februari 1972, ia terkenal sebagai pendiri dan pengasuh Pesantren Ekologi Ath-Thaariq. Latar belakang keluarga pertanian membentuk pengetahuan dan praktiknya dalam pertanian organik yang dipelajari secara otodidak sejak usia dini. 

Melalui pesantren yang telah berdiri sejak tahun 2008, Nissa mengkolaborasikan pendidikan keagamaan dengan pendekatan agroekologi. Yaitu sistem pertanian yang menekankan relasi harmonis antara manusia, alam, dan nilai spiritual. Aktivitasnya juga mencakup pendampingan petani di wilayah Pasundan serta advokasi agraria dan lingkungan, dengan tujuan membangun kemandirian pangan dan keberlanjutan ekosistem.

Nissa Wargadipura menempatkan pemulihan ekologi sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup manusia, terutama perempuan dan generasi mendatang. Ia mengkritik sistem pertanian berbasis revolusi hijau untuk meningkatkan ketergantungan petani terhadap industri benih, pupuk, dan pestisida.

Sebagai alternatif, ia mengembangkan gagasan “revolusi meja makan” yang mendorong produksi pangan mandiri berbasis rumah tangga. Keterlibatannya dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia memperkuat posisinya sebagai ulama perempuan yang menghubungkan isu keadilan gender dengan keberlanjutan lingkungan.

Aeshnina Azzahra Aqilani: Kartini Muda, Greta Thunbergnya Indonesia

Aeshnina Azzahra Aqilani, yang akrab dengan panggilan Nina, merupakan aktivis lingkungan muda asal Gresik, Jawa Timur, yang lahir pada tahun 2007. Nina terkenal luas karena konsistensinya dalam mengangkat isu polusi mikroplastik dan praktik impor sampah plastik ke Indonesia.

Sejak usia belia, Nina telah menunjukkan kapasitas advokasi yang kuat melalui berbagai aksi kampanye, baik di tingkat lokal maupun global. Ia aktif menyuarakan dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia serta kerusakan lingkungan yang timbul dari limbah plastik lintas negara. Keterlibatannya dalam forum internasional seperti Plastic Health Summit 2021 di Belanda. Nina sebagai representasi bahwa suara anak muda dari Indonesia memiliki posisi penting dalam diskursus lingkungan global.

Selain itu, Nina juga menggunakan strategi advokasi berbasis komunikasi publik. Ia mengirimkan surat terbuka kepada sejumlah pemimpin dunia. Termasuk Presiden Indonesia dan Presiden Amerika Serikat, untuk menuntut tanggung jawab atas distribusi sampah plastik global. Aksi ini memperlihatkan bentuk partisipasi politik generasi muda dalam isu lingkungan yang semakin kompleks. 

Keterlibatannya dalam kegiatan internasional, seperti pawai lingkungan di Ottawa pada tahun 2024 bersama River Warrior Indonesia. Ia semakin memperkuat perannya sebagai representasi aktivisme muda Indonesia di kancah global. Upaya yang Nina lakukan turut berkontribusi pada penurunan ekspor sampah plastik. Sampah dari Amerika Serikat ke Indonesia, yang tercatat dalam laporkan mencapai sekitar 50 persen.

Refleksi

Selamat Hari Kartini, bagi seluruh teman-teman perempuan di Indonesia. Hari ini kita melihat bahwa Indonesia tak kekurangan perempuan-perempuan cerdas dan cemerlang. Kartini lingkungan masa kini banyak membawa perubahan, dan memberi manfaat bagi banyak orang untuk mempertahankan dan merawat ekologis. Dari pendidikan, komunitas, hingga gerakan sosial. Perempuan-perempuan terus menunjukkan peran besar dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah untuk semua orang. []

Tags: emansipasiHari Bumihari kartiniIsu LingkunganKartini Lingkungan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Menyalahkan dan Superioritas: Dua Sikap yang Merusak Relasi Rumah Tangga

Next Post

Mengapa Kita Mudah Menghakimi Pasangan?

Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

Manusia Merasa Cukup
Publik

Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

10 Juni 2026
Fatimah al-Banjari
Profil

Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

17 Mei 2026
Nasyiatul Aisyiyah
Aktual

Srikandi Penjaga Peradaban: Menemukan Nafas Ecofeminisme dalam Keluarga Muda Tangguh Nasyiatul Aisyiyah

15 Mei 2026
Nyai Hj. Noor Chodijah
Figur

Nyai Hj. Noor Chodijah, Penggerak Pendidikan dan Jalan Sunyi Emansipasi Perempuan Pesantren

9 Mei 2026
Hari Kartini
Figur

Hari Kartini, Kebaya dan Ajang Keluwesan Perempuan: Sebuah Refleksi

27 April 2026
Bersama Kartini
Rekomendasi

Dialog Imajiner Bersama Kartini: Apa Artinya Berani bagi Perempuan?

26 April 2026
Next Post
Menghakimi

Mengapa Kita Mudah Menghakimi Pasangan?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS
  • Film Pesta Babi: Saat Pembangunan Merampas Identitas Masyarakat Adat
  • Kondom, Seks Aman, dan Upaya Mencegah HIV/AIDS
  • Invisible Disability dan Stigma yang Masih Terjadi
  • Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0