Mubadalah.id – Kala nama Sayyidatuna Hajar (istri kedua Sayyiduna Ibrahim Khalilurrahman) membunyi, narasi yang acap keluar melulu soal dua hal: fisik dan kepatuhan seorang istri. Sebagai seorang budak keturunan Afrika, pilihan Ibrahim meminang Hajar mendapatkan posisi narasi istimewa.
Keistimewaannya bukan melekat pada Sayyidah Hajar, melainkan kepada Ibrahim sahaja. Cerita intinya begini, Ibrahim yang telah beristrikan seorang yang ayu rupawan mau menyunting seorang budak Afrika. Seakan, cerita arus utama ingin bilang kalau sebetulnya tak pantas bagi Hajar menyandingi Sang Kekasih Allah.
Cerita kemudian berlanjut dengan bagaimana Ibrahim yang telah lama mengidamkan seorang keturunan yang mulia (dzurriyyah thayyibah) akhirnya beroleh jawaban. Hajar mengandung jabang bayi yang kelak lahir menjadi Ismail, figur yang menurunkan trah nubuat kepada Sayyidul Mursalin, Muhammad Ibn Abdillah.
Lagi-lagi, dalam fragmen seperti ini, sosok yang lebih mendapat posisi penceritaan adalah Ibrahim. Keikhlasannya meminang seorang hamba sahaya yang tak rupawan menjadi jalan ijabah doanya. Narasi soal fisik juga kembali mengada, dengan ujaran serupa: “Kadang, keturunan hebat justru lahir dari fisik yang tak indah.”
Tentu saja, posisi penceritaan yang demikian itu sangatlah merugikan figur Hajar. Sentralitas penceritaan seputar keluarga Ibrahim seringkali mengarah pada figur lelaki saja. Perempuan mendapat posisi tokenistik yang jelas mengaburkan perjuangan dan kependekarannya.
Hajar hidup sebagai single mom
Standing position Hajar dalam fragmen-fragmen tadi jelas tak menguntungkannya. Setidak-tidaknya, posisi itu membentuk satu kesan bahwa sejarah hanyalah milik kaum lelaki. Perempuan, sebagaimana penggambaran paradigma tokenistik, sekadar sosok di balik “kehebatan seorang lelaki”.
Padahal, pada keseharusannya, Hajar punya peran krusial dalam kisah ali Ibrahim. Kependekarannya tampak kala Allah memerintahkan Ibrahim untuk meninggalkan Hajar dan bayi Ismail di Mekkah, sebuah wilayah tandus yang tiada berpenduduk, minim air, lagi sepi dari rindang pepohonan (واد غير ذي زرع).
Ibnu ‘Abbas menceritakan bahwa saat itu, Ibrahim meletakkan sedikit perbekalan makanan dan sebotol air untuk Hajar dan Ismail. Ia menempatkan keduanya di dekat bangunan Kakbah saat ini. Sebuah tenda sederhana juga ia dirikan, tanpa jaminan bisa melindungi dari dinginnya angin gurun di kala malam.
Sesudahnya, Ibrahim lantas meninggalkannya. Hajar berulang kali memanggil suaminya itu. Ia bertanya apakah sungguh-sungguh Abu al Anbiya wa al Mursalin itu tega meninggalkan ia dan Ismail begitu saja. Tapi Ibrahim bergeming. Ia tak menoleh sedikitpun, tanpa sebutir kata jawaban.
Hajar lantas menggugat, “Apakah Allah yang memerintahkanmu mengerjakan hal ini?” Mendengar gugatan istrinya itu, Ibrahim tak bisa lagi membisu sejuta kata. Ia menjawab pendek, “Ya!” Jawaban sang suami pun menguatkannya, “Kalau begitu, maka Allah tak bakal menyengsarakan kami.”
Sejak itulah, Hajar hidup sebagai seorang ibu tunggal (single mom). Kesungguhan imannya kepada Allah membuatnya kuat. Ia membesarkan Ismail seorang diri. Kala bayinya kehausan, Hajar berlarian antara Safa dan Marwa. Ia mencari kalau-kalau ada orang yang bisa ia mintai air. Meski tentu saja, tak seorangpun ia jumpai.
Ketaatan sejati (hanya) kepada Ilahi
Perbaikan standing position Sayyidah Hajar dalam kisah keluarga Ibrahim melalui pelbagai pembacaan ulang sebetulnya akan menuntun kita keluar dari penjara patriarkisme sejarah. Hajar, seperti halnya para perempuan pendekar terdahulu, merupakan suri teladan bagi generasi selanjutnya.
Keberanian Sayyidah Hajar untuk sangsi dan menggugat suaminya atas perlakuan yang ia terima menunjukkan bahwa ketaatan sejati hanyalah kepada Ilahi semata. Keistimewaan yang Ibrahim sandang selaku utusan Allah tak membuatnya gentar. Ia berani mempersoalkan, alih-alih sendhika dhawuh dan mengangguk saja.
Tentu, gugatannya timbul lantaran derita akan menimpa bayi kecilnya. Panasnya gurun pasir di kala siang, dinginnya angin saat malam, juga gung liwang-liwung-nya Mekkah saat itu jelas bisa saja membunuh Ismail kecil kapanpun. Namun, saat ia tahu bahwa garis nasib itu merupakan ketentuan-Nya, Ia teguh sekeras batu.
Tanpa ragu, kekuatan iman menjadikannya berani menantang maut. Tak ada jaminan ia akan selamat. Tak ada kepastian bahwa larinya berulang kali dari Safa ke Marwa akan menghasilkan air untuk anaknya yang lagi kehausan. Namun, atas nama ta’abbudulLah, ia mengerjakannya.
Tuhan pun senantiasa bersama perempuan tangguh seperti Hajar. Perjuangannya tak sia-sia. Didikan yang ia berikan kepada Ismail kecil menjadikan buah hatinya itu tumbuh sebagai remaja yang cerdas dengan keimanan setangguh batu seperti ibunya.
Hingga, manakala Allah menghendakinya untuk naik ke meja jagal dan menjadi kurban, tanpa ragu sebagaimana sang ibu, Ismail menjawab, “Lakukanlah apa yang Allah perintahkan kepada engkau, Ayah! Semoga engkau akan menjumpaiku sebagai kalangan hamba yang sabar. Semoga Allah menghendaki.” []











































