Mubadalah.id – Pada tahun 1963, Presiden Soekarno mengeluarkan larangan terhadap penyebaran dan pertunjukan musik Barat yang dinilai bertentangan dengan semangat Revolusi Indonesia. Musik The Beatles dan Elvis Presley menjadi sasaran utama. Menganggap karakter lagu-lagu mereka hedonis dan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Polisi bersama aparat pemerintah melakukan razia terhadap berbagai atribut kebarat-baratan, mulai dari potongan rambut gondrong ala The Beatles hingga celana ketat. Piringan hitam disita, bahkan mereka hancurkan.
Musisi yang terbukti memainkan lagu-lagu Barat juga mendapat sanksi. Salah satunya adalah grup musik Koes Bersaudara, yang kemudian terkenal sebagai Koes Plus. Mereka pernah masuk penjara selama kurang lebih tiga bulan karena membawakan lagu I Saw Her Standing There milik The Beatles dalam sebuah pesta pada pertengahan tahun 1965.
Pada masa pemerintahan Soeharto, pelarangan terhadap jenis musik “cengeng” juga pernah terjadi. Melalui Menteri Penerangan (Menpen) Harmoko, pemerintah melarang pemutaran lagu-lagu pop yang dianggap mendayu-dayu atau cengeng di TVRI dan RRI.
Betharia Sonata terkena dampaknya. Saat itu lagu Hati yang Luka sedang berada di puncak popularitas. Padahal, lagu tersebut tidak berkaitan dengan gerakan politik apa pun dan tidak mengandung unsur subversif. Lagu ciptaan Obbie Messakh itu hanya berkisah tentang kekerasan dalam rumah tangga.
Perhatikan cuplikan lirik lagu berikut.
Lihatlah tanda merah di pipi,
Bekas gambar tanganmu.
Sering kaulakukan bila kau marah,
Menutupi salahmu.
Pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku.
Lirik lagu tersebut menggambarkan pengalaman seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Ia hidup dalam penderitaan sekaligus keputusasaan. Dalam video klipnya, Betharia Sonata menyanyikan lagu itu dengan nada memelas, penuh keperihan, beserta mimik wajah yang sangat sedih. Air mata yang terus mengalir di pipinya semakin memperkuat kesan bahwa tokoh dalam lagu tersebut benar-benar berada pada titik penderitaan yang mendalam.
Pada masa itu, lagu-lagu semacam ini dianggap tidak sejalan dengan semangat pembangunan nasional yang menekankan optimisme, produktivitas, dan etos kerja. Lagu-lagu yang diputar di TVRI dan RRI diharapkan bisa membangkitkan semangat perjuangan, kerja keras, keluarga bahagia, dan nasionalisme.
Jika lagu Betharia Sonata merepresentasikan penderitaan seorang perempuan, lagu karya Didi Kempot berikut ini menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Kali ini, korbannya adalah laki-laki yang terkhianati oleh perempuan yang ia cintai. Berikut adalah lagu “cidro” yang terjemahan liriknya sebagai berikut:
Sudah semestinya hati ini merana.
Orang yang kucintai mengingkari janji.
Kau sampai tega mengingkari janji?
Apa karena keadaan hidupku ini,
Miskin harta benda dibanding hidupmu.
Perbedaan kedua lagu tersebut terletak pada cara mengekspresikan penderitaan. Betharia Sonata menyampaikannya melalui irama yang lambat, sendu, dan penuh ratapan. Sebaliknya, Didi Kempot membalut kisah patah hati itu dengan irama campursari yang relatif riang. Meski liriknya terpenuhi kesedihan pendengar tetap dapat sambil bergoyang.
Jika dua lagu sebelumnya menggambarkan penderitaan akibat terkhianati pasangan, lagu “Salah” yang dinyanyikan Melly Goeslaw justru menghadirkan karakter yang sangat berbeda.
Perhatikan cuplikan lirik berikut.
Selama ini kau masih merasa
Aku selalu menantimu
Selama ini aku pun mendua
Tapi kau tak tahu, sayang
Pikirmu kau yang menyakitiku
Bukan, bukan kamu, sayang
Kucinta kamu
Bukan berarti ku tak mendua
Sayang, kau nilai aku salah
Syair lagu ini terbawa dengan irama yang ceria, centil, dan penuh nuansa jenaka sehingga memberi kesan seolah-olah sedang meledek pasangan laki-laki yang tergambarkan polos, mudah percaya sekaligus gampang terperdaya.
Berbeda dengan lagu-lagu bertema patah hati yang menempatkan perempuan sebagai pihak yang terluka, lagu “Salah” justru membalikkan posisi tersebut. Tokoh perempuan dalam lagu ini tampil sebagai sosok yang memegang kendali atas hubungan dan tidak ragu mengakui bahwa dia juga mendua.
Karena itu, lagu ini disambut antusias oleh banyak pendengar perempuan yang ingin melepaskan diri dari citra perempuan yang cengeng, selalu mengalah, pasrah, dan hanya menerima ketika tersakiti oleh laki-laki.
Spirit di balik lirik lagu “Salah” dapat kita baca sebagai bentuk perlawanan simbolik terhadap stereotip tentang kelemahan perempuan. Lagu ini sekaligus menghadirkan representasi perempuan yang lebih berani, mandiri, percaya diri, dan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam relasi percintaannya.
Kekuatan Pengaruh Lirik Lagu
Jika lagu “Salah” yang dinyanyikan Melly Goeslaw dinilai mampu menumbuhkan keberanian perempuan untuk bangkit dan menolak stigma sebagai makhluk yang lemah, pengaruh serupa juga dapat ditemukan dalam lagu “Strange Fruit” yang dipopulerkan oleh Billie Holiday pada tahun 1939.
Bedanya, jika “Salah” berbicara tentang relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan, “Strange Fruit” mengangkat persoalan yang jauh lebih besar, yakni ketidakadilan rasial yang warga kulit hitam alami di Amerika Serikat. Tidak mengherankan jika pada tahun 1999 majalah Time menobatkan lagu tersebut sebagai lagu antirasisme paling berpengaruh dalam sejarah.
Sekilas, lirik “Strange Fruit” hanya menggambarkan buah-buah aneh yang menggantung di sebuah pohon. Namun, metafora tersebut sesungguhnya melukiskan salah satu babak paling kelam dalam sejarah rasisme di Amerika Serikat. Kata fruit melambangkan jasad-jasad warga kulit hitam yang tergantung di pohon sebagai korban pembunuhan brutal tanpa melalui proses hukum.
Jenazah mereka sengaja terbiarkan tergantung sebagai tontonan sekaligus teror bagi masyarakat kulit hitam. Banyak korban dihukum hanya karena dianggap menghina orang kulit putih, menunjukkan rasa percaya diri, bahkan sekadar membeli sebuah mobil.
Lagu Strange Fruit tidak hanya merekam luka sejarah, melainkan juga menjadi simbol perlawanan terhadap rasisme sekaligus seruan untuk menegakkan martabat kemanusiaan. Begitu besarnya dampak lagu tersebut hingga mendorong para pendukung undang-undang federal anti-eksekusi mati untuk mendesak agar salinan lagu itu terkirim ke Kongres Amerika Serikat.
Kini saya paham mengapa para penguasa begitu memperhatikan lagu-lagu yang beredar di tengah masyarakat. Mereka sadar bahwa lirik tidak sekadar menghibur, tetapi juga mampu membentuk cara orang berpikir, merasakan, bersikap lalu bangkit untuk melawan. []










































