Mubadalah.id – Dalam satu dekade terakhir, gerakan populisme sayap kanan yang mengampanyekan nasionalisme sempit kian berkembang pesat di Eropa. Di sejumlah negara seperti Inggris, Jerman, dan Belanda, demonstrasi kelompok sayap kanan semakin sering terjadi. Bahkan, beberapa di antaranya berakhir ricuh akibat bentrokan dengan petugas kepolisian serta berujung pada perusakan fasilitas umum, termasuk pembakaran pusat suaka bagi para pengungsi.
Gerakan populisme ini secara konsisten mempromosikan narasi bahwa Eropa harus memprioritaskan budaya mereka sendiri sekalligus menolak keberadaan Islam. Sentimen anti-Islam kerap disuarakan secara lantang sebagai penegasan identitas bahwa nilai-nilai Eropa dan Islam tidak dapat disatukan. Guna menepis propaganda negatif tersebut, pemerintah di berbagai negara Eropa telah menerapkan sejumlah kebijakan inklusi, salah satunya melalui program edukasi masyarakat dan kebijakan integrasi budaya yang lebih ramah terhadap keberagaman.
Di Kota Amsterdam, contohnya, pemerintah setempat secara aktif melawan diskriminasi ini. Melalui komite inklusi dan anti-diskriminasi, diluncurkan sebuah buku panduan sejarah setebal 65 halaman yang merangkum jejak warisan sejarah dan kontribusi budaya Muslim di Amsterdam. Buku tersebut mengulas secara mendalam bagaimana Islam dan komunitas Muslim sebenarnya telah ikut mewarnai dan membentuk sejarah kebudayaan Amsterdam sejak masa lampau.
Melihat Komunitas Muslim di Amsterdam
Pengaruh komunitas Muslim di Amsterdam sendiri mulai menguat sejak akhir abad ke-19 (tahun 1800-an). Kala itu, Amsterdam berkembang menjadi kota dagang global yang menjadi pusat bisnis dan arus komoditas dari berbagai wilayah kolonial Belanda. Pesatnya aktivitas perdagangan ini menarik minat banyak imigran untuk datang, termasuk warga Muslim dari berbagai belahan dunia. Para pendatang Muslim ini tidak hanya berprofesi sebagai pedagang, melainkan juga sebagai pelaut, pekerja pelabuhan, hingga mahasiswa.
Salah satu rekam jejak yang paling menarik dari hubungan sejarah ini melibatkan Indonesia. Perempuan bumiputra pertama yang berhasil meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang kedokteran dari universitas di Belanda adalah seorang Muslimah asal Indonesia bernama Dr. Ida Loemongga Nasution. Ia lahir di Padang, Sumatera Barat pada tanggal 22 Maret 1905.
Ayahnya adalah Haroen Al Rasjid Nasution, dokter lulusan Docter Djawa School di tahun 1902. Ibunya adalah Alimatoe Saadiah br. Harahap, perempuan pribumi pertama yang mendapat pelajaran dari kurikulum sekolah Eropa. Orang tuanya berasal dari Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan.
Tak lama setelah Ida Loemongga lahir, keluarganya pindah ke Sibolga. Barulah setelah sang ayah pensiun, mereka berpindah lagi ke Teluk Betung, Lampung, tempat ayahnya membuka praktik. Ida Loemongga sendiri memulai perjalanan akademisnya pada tahun 1918, ketika ia diterima sebagai siswa di Prins Hendrik-school, Batavia.
Meniti Karier di Dunia Medis
Pada tahun 1922 Ida Loemongga lulus afdeeling-B (IPA) di Prins Hendrik School, lantas diterima ujian masuk di STOVIA. Namun karena Ida Loemongga tergolong cerdas, maka Ida Loemongga termasuk yang direkomendasikan langsung untuk melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda.
Setelah menyelesaikan studi kedokteran di Utrecht dan Leiden, Ida Nasution berhasil mempertahankan disertasinya tentang penyakit jantung bawaan di Universitas Amsterdam pada tahun 1931 dengan promotor Dr. Lang dengan judul disertasi, ‘Diangnose en Prognose van aangeboren Hartgebreken (Diagnosa dan Prognosa Cacat Jantung Bawaan).
Setelah menyelesaikan studi doktornya, Ida Nasution tetap setia meniti karier di dunia medis. Meski demikian, kepastian mengenai di mana ia menghabiskan masa praktiknya masih memicu perbedaan pendapat di kalangan sejarawan. Sejumlah sumber mencatat bahwa ia memilih kembali ke tanah air untuk mengabdikan ilmunya bagi masyarakat Indonesia. Di sisi lain, ada pula literatur yang menyebutkan bahwa ia menikah dengan warga lokal Belanda dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai dokter anak di sana. []











































