Mubadalah.id — Masjid Cut Nyak Dien di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menjadi lokasi pelaksanaan Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia 2026 pada Minggu, 24 Mei 2026. Masjid ini terkenal sebagai salah satu masjid ikonik di Jakarta yang memiliki sejarah panjang. Serta erat dengan semangat perjuangan perempuan Indonesia.
Masjid yang berada tidak jauh dari Stasiun Gondangdia dan berdekatan dengan Masjid Cut Meutia itu dibangun pada tahun 1984 dan dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sebelum menjadi masjid, bangunan tersebut merupakan rumah milik Umar Husain, seorang saudagar asal Palembang.
Nama Cut Nyak Dien ia pilih karena lokasi masjid yang berdekatan dengan Masjid Cut Meutia. Keduanya sama-sama menggunakan nama pahlawan perempuan asal Aceh yang terkenal gigih melawan penjajahan Belanda. Penggunaan nama tersebut sekaligus menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan perempuan dalam sejarah bangsa Indonesia.
Masjid Cut Nyak Dien juga telah beberapa kali mengalami renovasi. Meski demikian, pengelola tetap mempertahankan bentuk asli bangunan agar nilai sejarah dan karakter masjid tetap terjaga. Masjid ini mampu menampung sekitar 300 jamaah dan selama ini aktif menjadi ruang kegiatan keagamaan, sosial, dan intelektual di Jakarta.
Nama Cut Nyak Dien sendiri mengambil dari sosok pahlawan nasional perempuan asal Aceh yang lahir pada 1848. Ia terkenal sebagai pejuang tangguh dalam perang melawan kolonial Belanda. Setelah suaminya gugur, Cut Nyak Dien tetap melanjutkan perjuangan. Hingga akhirnya tertangkap dan mereka asingkan ke Sumedang sampai wafat pada 1908.
Pemilihan Masjid Cut Nyak Dien sebagai lokasi Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia ini merepresentasikan perjuangan perempuan dalam sejarah bangsa Indonesia.
Bahkan, masjid ini juga menjadi ruang yang merekatkan nilai keislaman, kebangsaan, dan semangat keadilan sosial yang selama ini telah banyak ulama perempuan Indonesia perjuangkan. []












































