Mubadalah.id – Perkenalkan, dia adalah manusia pengidap disabilitas autisme tingkat I. Dia yang tidak pernah berniat mengganggu siapa pun dari kita. Dia yang sejatinya sama dengan kita. Dan dia yang keberadaannya ingin diakui juga.
Di sudut-sudut kampus UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, terutama di ruang kelas, barangkali kita pernah melihat seorang teman yang kerap berkedip-kedip sendiri, tiba-tiba tertawa tanpa alasan jelas, atau berbicara dengan nada dan artikulasi yang sulit kita pahami dan seringkali membuat kita tidak nyaman.
Namun, jujur saja, hampir seluruh isi kelas termasuk kita, sering kali memilih cara halus untuk menjauhinya dengan memilih tidak menyapa, tidak mengajaknya duduk bersama, dan sengaja melewatkan namanya saat pembagian kelompok.
Sikap ini sering kita anggap sebagai jalan tengah yang paling aman. Sebuah prinsip, sesederhana “kalau nggak bisa menemani, setidaknya nggak menyakiti, sih” yang kita merasa cukup dengannya. Namun, apakah pilihan kita untuk abai dan diam ini benar-benar netral bagi dia yang berada di tengah keheningan itu?
Terasing di “Lingkungan” yang Asing
Untuk memahami dilema yang kita hadapi, mari kita bayangkan sebuah situasi bersama-sama.
Bayangkan kita tiba-tiba dilempar dan harus hidup di lingkungan asing. Kita tidak bisa bahasa mereka, tidak paham budayanya, dan tidak tahu aturan tak tertulis di sana.
Setiap kali kita mencoba berbicara, orang-orang menatap kita dengan aneh atau tertawa. Kita ingin sekali membaur, tapi otak kita tidak memiliki chipset yang mumpuni untuk memahami lingkungan baru itu. Kita terisolasi, bingung, minder dan ketakutan di tengah keramaian.
Seperti itulah rasanya menjadi seorang dengan disabilitas autisme tingkat I di kelas reguler tempat kita belajar. Kesulitan mereka untuk berkomunikasi dengan normal seperti kita bukanlah karena mereka sombong atau tidak mau peduli.
Mereka hanya sedang berjuang bertahan hidup di “lingkungan” orang normal dengan kemampuan adaptasi yang sangat terbatas. Mereka melihat kita berinteraksi dengan mudah, sementara bagi mereka, obrolan santai kita adalah teka-teki rumit yang menguras energi.
Saat kita memilih untuk diam dan menjauh karena merasa canggung, kita sebenarnya sedang membiarkan mereka tersesat sendirian di negara asing tersebut. Ironis, bukan?
Diabaikan Itu Benar-Benar Menyakitkan
Kita sering kali terjebak dalam asumsi keliru bahwa teman autisme tidak peduli dengan dinamika sosial di sekitarnya karena mereka terlihat asik dengan dunianya sendiri. Nyatanya, mereka sangat sadar.
Mahasiswa pengidap Disabilitas Autisme tahu kapan namanya sengaja kita lewati saat pembagian kelompok. Mereka menyadari ketika kita memilih pindah kursi agar tidak duduk di sampingnya, bahkan mampu membedakan mana tawa ramah kita dan mana tawa yang sedang menertawakan mereka.
Dalam perspektif psikologi sosial, ilmuwan menyebut kondisi ini dengan social invisibility, kondisi di mana seseorang ada secara fisik, tetapi lingkungan sekitarnya menganggapnya tidak ada. Tahukah kamu? Riset menunjukkan bahwa rasa sakit akibat diabaikan dan dikucilkan secara sosial itu mengaktifkan area otak yang sama dengan rasa sakit fisik.
Jadi, ketika kita memilih diam dan mengabaikan mereka, kita sebenarnya sedang memberikan luka fisik yang nyata ke dalam hati mereka. Kita yang diam bersama-sama di dalam kelas bukanlah sekumpulan orang netral, melainkan pencipta sebuah bentuk kesepian terstruktur yang menyiksa bagi mereka.
Mengisi Ruang di Antara Dua Kutub
Dilema moral yang kita rasakan sebagai golongan non-disabilitas sangatlah valid. Rasa canggung kita, kebingungan kita harus merespons apa, atau ketakutan kita jika salah bicara adalah hal yang sangat manusiawi. Tidak ada yang menuntut kita untuk langsung menjadi sahabat karib yang mengorbankan seluruh waktu untuk mereka.
Namun, di antara kutub menjadi sahabat dan mengabaikan keberadaannya, ada, loh ruang kosong yang bisa kita isi dengan empati.
Kita bisa mulai dengan menyapa duluan saat berpapasan. Tidak perlu obrolan panjang, sebuah senyuman dan sapaan “Hai” dari kita sudah cukup membuat mereka merasa utuh sebagai manusia. Saat diskusi kelompok, mari ajak mereka terlibat meski responsnya mungkin tidak selalu nyambung dengan kita. Atau yang paling mudah, jangan pindah tempat duduk ketika hanya ada kursi kosong di sebelahnya.
Berhenti abai bukan berarti kita harus menjadi pahlawan. Ini hanya soal kita menjadi manusia yang memanusiakan sesama. Rasa tidak nyaman kita memang nyata, tetapi keinginan kita untuk memberikan kehangatan bagi mereka yang sedang berjuang di “lingkungan asing” ini harusnya jauh lebih besar.
Jangan sampai kita berlindung di balik diksi netral, sebab netralitas di tengah ketidakadilan adalah sikap pecundang paling hina. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari kegiatan mubadalah goes to community kerjasama media mubadalah dengan UIN kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo pada 11-12 Juni 2025











































