Mubadalah.id – Transportasi umum Surabaya sampai hari ini belum ramah untuk siapa pun, dan kenyataan itu menjadi pintu masuk paling jujur untuk berbicara tentang inklusi. Suatu sore di tepi jalan, saya menanti bus yang tak kunjung datang.
Aplikasi GoBis bilang armada masih tujuh menit lagi. Tujuh menit berlalu, lalu sepuluh, lalu lima belas. Halte di belakang saya penuh sampah dan kursinya patah. Trotoar yang menuju ke sana putus oleh pot bunga. Lalu oleh sepeda motor parkir, lalu oleh tangga ruko yang turun langsung ke jalan raya. Saya berjalan tegak, tanpa kursi roda, tanpa tongkat, tanpa stroller. Dan saya sudah kewalahan.
Kalau saya saja begini, bagaimana dengan teman netra yang bahkan tidak bisa melihat genangan? Bagaimana ibu yang menggendong bayi sambil menenteng belanjaan?
Lalu bagaimana lansia yang langkahnya pendek-pendek? Bagaimana pengguna kursi roda yang sekadar untuk sampai ke halte saja butuh perjuangan dua kali lipat? Pertanyaan ini bukan retorika, ia adalah pintu pertama empati yang kita semua mengerti bahwa jangan biarkan sesama kewalahan sendirian.
Surabaya Belum Memiliki Sistem
Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia, tapi transportasi umum Surabaya belum punya sistem yang sepadan dengan skalanya. Suroboyo Bus yang diluncurkan pada 2018 dengan banyak fanfare gagal menarik pengguna, terbukti dari jumlah penumpang yang kurang dari 150 ribu per bulan sebelum pandemi menurut komunitas pemerhati transportasi.
Trans Semanggi Suroboyo justru kehilangan 324 ribu lebih penumpang sepanjang 2023. Angkot lyn yang dulu jadi denyut kota pun perlahan menghilang.
Bahkan secara administratif, sebagian armada transportasi umum Surabaya memakai pelat merah, bukan pelat kuning yang menjadi tanda angkutan umum resmi di Indonesia. Sekilas tampak detail teknis. Tapi ecara hukum dan tata kelola, transum Surabaya masih separuh ada, separuh tidak.
Dan jika untuk warga non-difabel saja transportasi umum Surabaya terasa tidak hadir. Maka bagi penyandang disabilitas, ia hampir tidak pernah ada sejak awal. Inilah ketimpangan kesetaraan yang nyata dalam pengalaman sehari-hari, bukan retorika yang dipajang di brosur.
Bergerak Adalah Hak Semua Orang
Setiap manusia, apa pun bentuk tubuhnya, adalah ciptaan Allah yang mulia. Karena itu, transportasi umum Surabaya yang membiarkan pengguna kursi roda diturunkan dari bus oleh dua orang dewasa karena tidak ada ramp, atau memaksa teman netra menebak posisi pintu karena tidak ada panduan suara, sebenarnya sedang merendahkan sesuatu yang seharusnya kita jaga bersama, kehormatan tubuh manusia.
Bergerak adalah hak, bukan privilese. Ketika kota membuat warganya tidak bisa mencapai tempat ibadah, tempat kerja, atau rumah saudara karena infrastruktur yang abai, dapat membatasi kebebasan paling dasar.
Tujuan kita bukan menyalahkan siapa-siapa, tapi mengingatkan bahwa transportasi umum Surabaya menyentuh dua hal sekaligus, kehormatan tubuh dan kebebasan untuk hidup penuh.
Dalam pendekatan arsitektur inklusif, desain yang ramah untuk yang paling rentan akan otomatis ramah untuk semua orang. Sebuah ramp yang dibuat untuk pengguna kursi roda akan dipakai juga oleh ibu yang dorong kereta bayi, oleh kakek dengan tongkat, oleh kurir yang membawa troli. Jalur pemandu untuk teman netra ternyata juga membantu kita semua saat hujan deras membuat pandangan kabur.
Surabaya Masih Gagal Melayani Warga
Transportasi umum Surabaya masih gagal melayani warga, standarnya hampir bisa dipastikan tidak pernah benar-benar memikirkan warganya yang paling rentan. Bahkan penyandang disabilitas selalu jadi yang terakhir diingat.
Persoalan ini bukan sekadar soal teknis, soal armada, rute, tarif, atau aplikasi. Ini soal bagaimana kita, sebagai kota, menjawab pertanyaan paling mendasar, siapa yang kita ingat ketika merancang ruang publik?
Tulisan ini bukan tudingan kepada Pemerintah Kota Surabaya. Banyak inisiatif baik yang sudah berjalan dari Suroboyo Bus yang menerima sampah botol plastik sebagai pembayaran, hingga ide Trans Semanggi yang mencoba memperluas jangkauan. Apresiasi memang perlu. Tapi apresiasi sejati bukan tepuk tangan tanpa kritik. Ini belum cukup, dan kita semua tahu kita bisa lebih baik.
Dalam Islam, ada makruf, sebuah konsep yang mengenalkan bahwa kebaikan menjadi tanggung jawab kolektif. Membangun transportasi umum Surabaya untuk semua warga, termasuk penyandang disabilitas, adalah makruf yang sangat konkret. Ia bukan amal sosial sesekali, melainkan kewajiban tata kelola yang berkelanjutan. Mengkritik dengan jujur, karena itu, adalah bagian dari menjaga kebaikan ini, bukan mengganggunya.
Sampai Kapan Kita Mewariskan Ini?
Siapa yang kita anggap “kita”? Selama warga difabel, lansia, dan ibu hamil tidak masuk dalam bayangan kita saat merancang kota, transportasi umum Surabaya akan terus menjadi rumah yang separuh terbuka.
Kota yang baik tidak meminta penyandang disabilitas terus menyesuaikan diri dengan infrastruktur yang gagal, minta tolong digotong rame-rame, dipikul ke atas tangga. Termasuk diturunkan dari bus oleh dua orang dewasa karena tidak ada ramp.
Harusnya pemerintah dan warga saling mengisi, negara merancang ruang yang adil, warga merawatnya, dan setiap orang bagaimana pun kemampuan tubuhnya, bisa hidup setara di dalamnya.
Surabaya kita sebut Kota Pahlawan karena warganya pernah memilih sulit demi sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Hari ini, sesuatu yang lebih besar itu bisa berupa transportasi umum Surabaya yang dirancang dengan jujur, bahwa warganya bukan hanya laki-laki dewasa berbadan sehat yang naik motor sendirian. Tetapi juga ibu hamil, anak SD, lansia, perempuan yang membawa belanjaan, dan tentu saja, penyandang disabilitas.
Halte yang nyaman, bus yang tepat waktu, trotoar yang utuh, dan ramp yang benar-benar bisa mereka pakai bukanlah kemewahan untuk segelintir orang. Mereka adalah cara kota berkomunikasi kepada warganya, kamu kami ingat, kamu kami pikirkan, kamu adalah bagian dari kami. Dari halte yang patah dan trotoar yang putus itu, mengundang kita semua untuk menata ulang cara kita memandang siapa yang berhak ada di ruang publik. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari kegiatan Mubadalah Goes to Campus. Kerjasama Media Mubadalah dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Sunan Ampel Surabaya, Pada 18-19 Mei 2026 di GreenSA Inn Surabaya







































