Mubadalah.id – Menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Wicaksana Pasuruan, Jawa Timur, memberi saya kesempatan untuk bertemu dan belajar dari banyak anak dengan beragam disabilitas. Salah satu kelompok yang paling sering saya dampingi adalah anak-anak Tuli.
Sebelum terjun langsung mendampingi mereka, pemahaman saya tentang teman-teman Tuli tidak jauh berbeda dengan kebanyakan masyarakat. Tuli yang saya pahami sebagai kondisi seseorang yang mengalami gangguan fungsi pendengaran sehingga tidak mampu mendengar suara secara sebagian maupun total. Pandangan ini tidak sepenuhnya salah karena memang berangkat dari perspektif medis.
Namun, seiring waktu, saya menyadari bahwa cara pandang tersebut tidak cukup untuk memahami kehidupan teman-teman Tuli secara utuh.
Saat ini banyak anggota komunitas Tuli memilih menggunakan istilah “Tuli” dengan huruf kapital. Pilihan istilah ini bukan tanpa alasan. Bagi mereka, Tuli bukan sekadar kondisi fisik atau kerusakan organ pendengaran. Tuli adalah identitas budaya, bahasa, dan pengalaman hidup yang membentuk cara mereka memandang dunia.
Dari sinilah saya mulai belajar bahwa disabilitas tidak selalu harus dipahami sebagai kekurangan. Ada pengalaman, pengetahuan, bahkan cara hidup yang hanya bisa dipahami jika kita bersedia melihat dunia dari sudut pandang mereka.
Selama ini masyarakat sering berbicara tentang penyandang disabilitas, tetapi jarang memberi ruang kepada mereka untuk berbicara atas nama dirinya sendiri. Padahal keberanian komunitas disabilitas untuk speak up sangat penting.
Suara-suara dari kelompok minoritas kerap terdengar mengganggu bagi sebagian orang. Bukan karena mereka salah, melainkan karena suara itu mengusik kenyamanan yang selama ini dinikmati kelompok mayoritas.
Meminta Kesempatan yang Setara
Ketika komunitas disabilitas menuntut aksesibilitas, kesetaraan, atau ruang partisipasi yang sama, mereka sesungguhnya tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya meminta kesempatan yang setara sebagai manusia dan warga negara.
Sebagai guru yang setiap hari berinteraksi dengan anak-anak Tuli, saya justru menemukan banyak hal yang tidak dimiliki oleh orang dengar.
Salah satu pengalaman yang paling menarik adalah ketika mengamati cara mereka berkomunikasi.
Di lingkungan sekolah, anak-anak Tuli berinteraksi menggunakan bahasa isyarat. Selama bertahun-tahun mengajar, saya melihat bahwa miskomunikasi di antara mereka justru sangat jarang terjadi. Sebaliknya, kita yang dapat mendengar dan berbicara sering kali terlibat kesalahpahaman meskipun menguasai banyak kosakata dan berbagai bahasa.
Tidak sedikit pertengkaran, konflik, bahkan perpecahan yang berawal dari salah memahami ucapan orang lain.
Pengalaman ini membuat saya berpikir bahwa komunikasi ternyata bukan semata-mata soal kemampuan berbicara. Komunikasi lebih banyak ditentukan oleh kemampuan memahami pesan, membaca ekspresi, dan memberikan perhatian penuh kepada lawan bicara.
Anak-anak Tuli mengajarkan hal tersebut setiap hari. Dari mereka saya juga belajar bahwa dunia tidak hanya bisa dipahami melalui suara.
Masyarakat umum sering membayangkan kehidupan Tuli sebagai dunia yang sunyi, sepi, atau penuh keterbatasan. Namun pandangan itu ternyata jauh dari kenyataan.
Dunia Sangat Kaya secara Visual
Bagi komunitas Tuli, dunia justru sangat kaya secara visual. Mereka mengandalkan pengamatan, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan bahasa visual untuk memahami lingkungan sekitarnya.
Dalam kajian sosiologi dan budaya disabilitas, terdapat konsep yang dikenal sebagai Deaf Gain. Konsep ini mengajak masyarakat melihat ketulian bukan sebagai kehilangan, melainkan sebagai cara berbeda dalam mengalami dan memahami dunia.
Perspektif ini menolak anggapan bahwa manusia yang dapat mendengar selalu berada pada posisi yang lebih unggul. Sebaliknya, pengalaman menjadi Tuli juga melahirkan sejumlah kemampuan unik yang tidak dimiliki banyak orang dengar.
Misalnya kemampuan memperhatikan detail visual secara lebih tajam, membaca ekspresi wajah secara akurat, serta menjaga fokus dalam situasi yang penuh gangguan suara.
Mereka dapat tetap berkonsentrasi ketika orang lain terganggu oleh kebisingan. Mereka dapat berkomunikasi melalui bahasa isyarat dari kejauhan, di balik kaca, bahkan dalam kondisi yang menyulitkan komunikasi verbal.
Hal lain yang membuat saya kagum adalah bagaimana teman-teman Tuli memaknai bahasa. Bagi mereka, bahasa isyarat bukan sekadar alat bantu komunikasi. Bahasa isyarat adalah bahasa ibu yang hidup, berkembang, dan memiliki tata bahasa yang kaya.
Di Indonesia, misalnya, terdapat BISINDO yang digunakan secara luas oleh komunitas Tuli. Bahasa ini bukan kumpulan gerakan tangan sederhana sebagaimana sering dipahami masyarakat umum. Di dalamnya terdapat struktur bahasa, ekspresi emosi, identitas budaya, dan keindahan tersendiri.
Semakin lama mendampingi anak-anak Tuli, semakin saya menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan membaca emosi yang sangat baik.
Perubahan kecil pada raut wajah, arah pandangan mata, atau gerakan tubuh sering kali mampu mereka tangkap dengan cepat. Kemampuan inilah yang membuat saya sebagai guru merasa perlu terus belajar, termasuk mempelajari psikologi dan observasi perilaku manusia.
Belajar dari Bahasa Tubuh
Mereka mengajarkan bahwa komunikasi tidak selalu dari kata-kata. Terkadang bahasa tubuh berbicara jauh lebih jujur daripada ucapan. Hal yang juga menarik adalah bagaimana teman-teman Tuli berpikir.
Bagi kebanyakan orang dengar, pikiran internal biasanya hadir dalam bentuk suara atau percakapan di dalam kepala. Namun bagi sebagian besar orang Tuli yang lahir tanpa kemampuan mendengar, proses berpikir berlangsung secara visual.
Mereka membayangkan gerakan isyarat, gambar, bentuk, atau teks ketika sedang berpikir dan memecahkan masalah. Cara kerja kognitif yang berbeda ini menunjukkan bahwa tidak ada satu cara tunggal untuk menjadi manusia.
Sayangnya, meskipun dunia mereka kaya dan penuh makna, teman-teman Tuli masih harus berhadapan dengan berbagai hambatan sosial. Banyak fasilitas publik masih dirancang dengan asumsi bahwa semua orang dapat mendengar.
Pengumuman di stasiun, bandara, terminal, rumah sakit, maupun berbagai layanan publik masih didominasi informasi berbasis suara. Sementara penyediaan teks, takarir, atau informasi visual sering kali belum menjadi prioritas. Situasi ini membuat banyak orang Tuli harus bekerja lebih keras untuk memperoleh informasi yang sebenarnya mudah masyarakat umum akses.
Di sinilah kita mengenal istilah audisme, yakni bentuk diskriminasi yang menempatkan kemampuan mendengar sebagai standar utama kehidupan manusia. Padahal dunia tidak hanya berpenghuni oleh orang-orang yang dapat mendengar.
Mengubah Cara Pandang
Sebagai guru, saya merasa beruntung memperoleh kesempatan belajar dari anak-anak Tuli. Mereka mengubah cara saya memandang kehidupan.
Dulu saya sering menganggap bahwa keadilan berarti semua orang memiliki kemampuan yang sama. Kini saya memahami bahwa keadilan justru berarti menghargai perbedaan kemampuan yang setiap orang miliki.
Pengalaman bersama mereka juga membuat saya menyadari bahwa kelebihan yang kita miliki belum tentu menjadikan kita lebih baik daripada orang lain. Bahkan tidak jarang kelebihan itu membuat kita lalai dan lupa melihat kebutuhan mereka yang hidup dengan pengalaman berbeda.
Maka dari itu, anak-anak Tuli mengajarkan satu pelajaran penting kepada saya: dunia akan terasa lebih lengkap ketika kita bersedia melihatnya dari berbagai sudut pandang. Apa yang selama ini kita anggap sebagai keterbatasan, bisa jadi merupakan cara lain untuk memahami kehidupan.
Karena itu, tugas kita bukan mengubah mereka agar menyerupai mayoritas, melainkan mengubah cara pandang kita agar mampu menerima keberagaman manusia.
Semakin lama saya mengajar di SLB, semakin saya percaya bahwa dunia ini sesungguhnya cukup indah dan adil. Bukan karena semua orang memiliki kondisi yang sama, melainkan karena setiap manusia memiliki cara unik untuk menjalani hidupnya.
Dan mungkin, inklusi berawal dari kesediaan sederhana untuk mendengar mereka yang selama ini jarang didengar. Serta melihat dunia melalui mata mereka yang selama ini sering diabaikan. []








































