Rabu, 17 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    SUPI

    Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

    Anak-anak Tuli

    Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

    Disabilitas Autisme

    Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mengusap Kepala Anak Yatim

    Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

    Spermisida untuk

    Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    SUPI

    Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

    Anak-anak Tuli

    Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

    Disabilitas Autisme

    Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mengusap Kepala Anak Yatim

    Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

    Spermisida untuk

    Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Disabilitas

Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

Perubahan kecil pada raut wajah, arah pandangan mata, atau gerakan tubuh sering kali mampu mereka tangkap dengan cepat. Kemampuan inilah yang membuat saya sebagai guru merasa perlu terus belajar, termasuk mempelajari psikologi dan observasi perilaku manusia.

Muhammad Syaroni by Muhammad Syaroni
17 Juni 2026
in Disabilitas
A A
0
Anak-anak Tuli

Anak-anak Tuli

11
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Wicaksana Pasuruan, Jawa Timur, memberi saya kesempatan untuk bertemu dan belajar dari banyak anak dengan beragam disabilitas. Salah satu kelompok yang paling sering saya dampingi adalah anak-anak Tuli.

Sebelum terjun langsung mendampingi mereka, pemahaman saya tentang teman-teman Tuli tidak jauh berbeda dengan kebanyakan masyarakat. Tuli yang saya pahami sebagai kondisi seseorang yang mengalami gangguan fungsi pendengaran sehingga tidak mampu mendengar suara secara sebagian maupun total. Pandangan ini tidak sepenuhnya salah karena memang berangkat dari perspektif medis.

Namun, seiring waktu, saya menyadari bahwa cara pandang tersebut tidak cukup untuk memahami kehidupan teman-teman Tuli secara utuh.

Saat ini banyak anggota komunitas Tuli memilih menggunakan istilah “Tuli” dengan huruf kapital. Pilihan istilah ini bukan tanpa alasan. Bagi mereka, Tuli bukan sekadar kondisi fisik atau kerusakan organ pendengaran. Tuli adalah identitas budaya, bahasa, dan pengalaman hidup yang membentuk cara mereka memandang dunia.

Dari sinilah saya mulai belajar bahwa disabilitas tidak selalu harus dipahami sebagai kekurangan. Ada pengalaman, pengetahuan, bahkan cara hidup yang hanya bisa dipahami jika kita bersedia melihat dunia dari sudut pandang mereka.

Selama ini masyarakat sering berbicara tentang penyandang disabilitas, tetapi jarang memberi ruang kepada mereka untuk berbicara atas nama dirinya sendiri. Padahal keberanian komunitas disabilitas untuk speak up sangat penting.

Suara-suara dari kelompok minoritas kerap terdengar mengganggu bagi sebagian orang. Bukan karena mereka salah, melainkan karena suara itu mengusik kenyamanan yang selama ini dinikmati kelompok mayoritas.

Meminta Kesempatan yang Setara

Ketika komunitas disabilitas menuntut aksesibilitas, kesetaraan, atau ruang partisipasi yang sama, mereka sesungguhnya tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya meminta kesempatan yang setara sebagai manusia dan warga negara.

Sebagai guru yang setiap hari berinteraksi dengan anak-anak Tuli, saya justru menemukan banyak hal yang tidak dimiliki oleh orang dengar.

Salah satu pengalaman yang paling menarik adalah ketika mengamati cara mereka berkomunikasi.

Di lingkungan sekolah, anak-anak Tuli berinteraksi menggunakan bahasa isyarat. Selama bertahun-tahun mengajar, saya melihat bahwa miskomunikasi di antara mereka justru sangat jarang terjadi. Sebaliknya, kita yang dapat mendengar dan berbicara sering kali terlibat kesalahpahaman meskipun menguasai banyak kosakata dan berbagai bahasa.

Tidak sedikit pertengkaran, konflik, bahkan perpecahan yang berawal dari salah memahami ucapan orang lain.

Pengalaman ini membuat saya berpikir bahwa komunikasi ternyata bukan semata-mata soal kemampuan berbicara. Komunikasi lebih banyak ditentukan oleh kemampuan memahami pesan, membaca ekspresi, dan memberikan perhatian penuh kepada lawan bicara.

Anak-anak Tuli mengajarkan hal tersebut setiap hari. Dari mereka saya juga belajar bahwa dunia tidak hanya bisa dipahami melalui suara.

Masyarakat umum sering membayangkan kehidupan Tuli sebagai dunia yang sunyi, sepi, atau penuh keterbatasan. Namun pandangan itu ternyata jauh dari kenyataan.

Dunia Sangat Kaya secara Visual

Bagi komunitas Tuli, dunia justru sangat kaya secara visual. Mereka mengandalkan pengamatan, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan bahasa visual untuk memahami lingkungan sekitarnya.

Dalam kajian sosiologi dan budaya disabilitas, terdapat konsep yang dikenal sebagai Deaf Gain. Konsep ini mengajak masyarakat melihat ketulian bukan sebagai kehilangan, melainkan sebagai cara berbeda dalam mengalami dan memahami dunia.

Perspektif ini menolak anggapan bahwa manusia yang dapat mendengar selalu berada pada posisi yang lebih unggul. Sebaliknya, pengalaman menjadi Tuli juga melahirkan sejumlah kemampuan unik yang tidak dimiliki banyak orang dengar.

Misalnya kemampuan memperhatikan detail visual secara lebih tajam, membaca ekspresi wajah secara akurat, serta menjaga fokus dalam situasi yang penuh gangguan suara.

Mereka dapat tetap berkonsentrasi ketika orang lain terganggu oleh kebisingan. Mereka dapat berkomunikasi melalui bahasa isyarat dari kejauhan, di balik kaca, bahkan dalam kondisi yang menyulitkan komunikasi verbal.

Hal lain yang membuat saya kagum adalah bagaimana teman-teman Tuli memaknai bahasa. Bagi mereka, bahasa isyarat bukan sekadar alat bantu komunikasi. Bahasa isyarat adalah bahasa ibu yang hidup, berkembang, dan memiliki tata bahasa yang kaya.

Di Indonesia, misalnya, terdapat BISINDO yang digunakan secara luas oleh komunitas Tuli. Bahasa ini bukan kumpulan gerakan tangan sederhana sebagaimana sering dipahami masyarakat umum. Di dalamnya terdapat struktur bahasa, ekspresi emosi, identitas budaya, dan keindahan tersendiri.

Semakin lama mendampingi anak-anak Tuli, semakin saya menyadari bahwa mereka memiliki kemampuan membaca emosi yang sangat baik.

Perubahan kecil pada raut wajah, arah pandangan mata, atau gerakan tubuh sering kali mampu mereka tangkap dengan cepat. Kemampuan inilah yang membuat saya sebagai guru merasa perlu terus belajar, termasuk mempelajari psikologi dan observasi perilaku manusia.

Belajar dari Bahasa Tubuh

Mereka mengajarkan bahwa komunikasi tidak selalu dari kata-kata. Terkadang bahasa tubuh berbicara jauh lebih jujur daripada ucapan. Hal yang juga menarik adalah bagaimana teman-teman Tuli berpikir.

Bagi kebanyakan orang dengar, pikiran internal biasanya hadir dalam bentuk suara atau percakapan di dalam kepala. Namun bagi sebagian besar orang Tuli yang lahir tanpa kemampuan mendengar, proses berpikir berlangsung secara visual.

Mereka membayangkan gerakan isyarat, gambar, bentuk, atau teks ketika sedang berpikir dan memecahkan masalah. Cara kerja kognitif yang berbeda ini menunjukkan bahwa tidak ada satu cara tunggal untuk menjadi manusia.

Sayangnya, meskipun dunia mereka kaya dan penuh makna, teman-teman Tuli masih harus berhadapan dengan berbagai hambatan sosial. Banyak fasilitas publik masih dirancang dengan asumsi bahwa semua orang dapat mendengar.

Pengumuman di stasiun, bandara, terminal, rumah sakit, maupun berbagai layanan publik masih didominasi informasi berbasis suara. Sementara penyediaan teks, takarir, atau informasi visual sering kali belum menjadi prioritas. Situasi ini membuat banyak orang Tuli harus bekerja lebih keras untuk memperoleh informasi yang sebenarnya mudah masyarakat umum akses.

Di sinilah kita mengenal istilah audisme, yakni bentuk diskriminasi yang menempatkan kemampuan mendengar sebagai standar utama kehidupan manusia. Padahal dunia tidak hanya berpenghuni oleh orang-orang yang dapat mendengar.

Mengubah Cara Pandang

Sebagai guru, saya merasa beruntung memperoleh kesempatan belajar dari anak-anak Tuli. Mereka mengubah cara saya memandang kehidupan.

Dulu saya sering menganggap bahwa keadilan berarti semua orang memiliki kemampuan yang sama. Kini saya memahami bahwa keadilan justru berarti menghargai perbedaan kemampuan yang setiap orang miliki.

Pengalaman bersama mereka juga membuat saya menyadari bahwa kelebihan yang kita miliki belum tentu menjadikan kita lebih baik daripada orang lain. Bahkan tidak jarang kelebihan itu membuat kita lalai dan lupa melihat kebutuhan mereka yang hidup dengan pengalaman berbeda.

Maka dari itu, anak-anak Tuli mengajarkan satu pelajaran penting kepada saya: dunia akan terasa lebih lengkap ketika kita bersedia melihatnya dari berbagai sudut pandang. Apa yang selama ini kita anggap sebagai keterbatasan, bisa jadi merupakan cara lain untuk memahami kehidupan.

Karena itu, tugas kita bukan mengubah mereka agar menyerupai mayoritas, melainkan mengubah cara pandang kita agar mampu menerima keberagaman manusia.

Semakin lama saya mengajar di SLB, semakin saya percaya bahwa dunia ini sesungguhnya cukup indah dan adil. Bukan karena semua orang memiliki kondisi yang sama, melainkan karena setiap manusia memiliki cara unik untuk menjalani hidupnya.

Dan mungkin, inklusi berawal dari kesediaan sederhana untuk mendengar mereka yang selama ini jarang didengar. Serta melihat dunia melalui mata mereka yang selama ini sering diabaikan. []

Tags: anak-anakbelajarberbedaCaraduniamelihatTuli
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

Next Post

Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

Muhammad Syaroni

Muhammad Syaroni

Lulusan S1 Psikologi dengan ketertarikan pada dunia pendidikan, digital marketing, dan pengembangan sumber daya manusia. Percaya bahwa tulisan dapat menjadi sarana untuk berbagi pengetahuan, membangun kesadaran, dan menginspirasi perubahan positif.

Related Posts

SUPI
Personal

Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

17 Juni 2026
Spermisida untuk
Pernak-pernik

Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

17 Juni 2026
Diafragma
Pernak-pernik

Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

15 Juni 2026
Ber-KB
Pernak-pernik

Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

13 Juni 2026
Berhubungan Seks
Pernak-pernik

Cara Berhubungan Seks yang Lebih Aman untuk Mencegah HIV/AIDS

11 Juni 2026
Hubungan Seksual
Pernak-pernik

Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

10 Juni 2026
Next Post
Mengusap Kepala Anak Yatim

Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI
  • Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah
  • Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda
  • Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I
  • Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0