Mubadalah.id – “Ngapain sih perempuan ikut bekerja, nanti rumahnya ngga keurus lho,” ungkapan itu sering dilontarkan oleh sebagian masyarakat di dalam kehidupan sehari-hari.
Meski cuma perkataan, namun dapat merubah cara pandang seseorang tentang perempuan sebagai makhluk domestik. Pandangan ini masih hidup di tengah masyarakat dan mengontruksi peran laki-laki dan perempuan.
Sehingga banyak perempuan yang aktif di publik seringkali mendapatkan cemoohan ketika mengabaikan pekerjaan domestik. Juga, hal ini sama dirasakan oleh laki-laki yang terlibat dalam mengurus domestik. Ia akan mendapatkan cemoohan karena tidak bekerja di ruang publik.
Dalam hal ini, pembagian peran yang kaku dapat melahirkan ketimpangan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Beban Ganda dan Dampak Stereotip Perempuan sebagai Makhluk Domestik
Padahal pekerjaan domestik bukanlah kodrat bilogis perempuan dan bukan dari jenis kelamin tertentu. Tetapi siapapun yang hidup dalam sebuah rumah tangga memiliki tanggung jawab untuk saling berkontribusi dengan kondisi dan kesepakatan bersama.
Persoalannya, banyak perempuan yang menghadapi beban ganda. Di sisi lain, mereka yang bekerja di ranah publik, mereka kerapkali dituntut untuk memikul seluruh pekerjaan rumah. Akibatnya, mereka seringkali merasa kelelahan karena harus menanggung beban sebagai seorang istri.
Dalam konteks yang lebih luas, stereotipe terhadap perempuan sebagai makhluk domestik sering menjadi alasan untuk membatasi akses perempuan terhadap pekerjaan, pendidikan, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan.
Hal inilah yang menyebabkan perempuan kurang layak untuk menempati kedudukan posisi strategis karena masih dipandang memiliki tanggungan utama di rumah. Sehingga, kemampuan dan kompetensi yang dimiliki perempuan kerap kali menjadi asumsi-asumsi yang melekat pada identitas gendernya.
Meneladani Nabi dalam Membangun Relasi Setara
Padahal, jika menilik sejarah Islam, pandangan yang membatasi perempuan untuk ke ranah publik tidak sejalan dengan teladan Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana ada riwayat hadis yang menyebutkan bahwa Nabi Saw turut untuk membantu pekerjaan rumah tangga dan melayani kebutuhan keluargannya.
عَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ .
Dari Al-Aswad, ia berkata: Aku bertanya kepada Aisyah r.a., “Apa yang biasa dilakukan Nabi Muhammad saw. ketika berada di rumahnya?” Aisyah menjawab, “Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya (melayani kebutuhan keluarganya). Apabila telah tiba waktu salat, beliau keluar untuk menunaikan salat.” (H.R. Shahih Bukhori No. 680)
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw tidak memandang pekerjaan rumah tangga hanya sebagai tugas perempuan saja. Namun, Nabi juga mengerjakan tugas-tugas rumah tangganya. Sikap seperti inilah yang seharusnya menjadi teladan bagi kita semua.
Pandangan ini seperti Mudir Ma’had Aly Kebon Jambu al-Islamy Dr. KH. Faqihuddin Abdul Kodir sampaikan. Beliau mengatakan bahwa kerja sama suami istri baik domestik maupun ranah publik merupakan dari ajaran kesalingan.
Karena relasi keluarga yang sehat adalah relasi yang memiliki pandangan tentang kesalingan, kerja sama, kemitraan, dan saling menguatkan. Bukan atas dominasi salah satu pihak.
Menjadi Mitra yang Saling Memanusiakan
Oleh karena itu, upaya ini untuk menempatkan pekerjaan domestik sebagai tanggung jawab bersama dalam berumah tangga yang perlu keduanya hormati dan hargai.
Maka, sudah saatnya masyarakat meninggalkan cara pandang yang membatasi gerak perempuan. Salah satunya adalah dengan membangun relasi yang setara dan saling mendukung. Sehingga, laki-laki dan perempuan bisa sebagai mitra yang saling memanusiakan. []








































