Mubadalah.id – Jika tak ada kurban Iduladha di Australia seperti tulisan Hijroatul Maghfiroh, hal itu tak berarti bahwa gema Iduladha tak membunyi di banyak penjuru semesta. Indonesia, sebagai negeri dengan pemeluk ad dien al akmal paling banyak, punya pelbagai tradisi unik untuk merayakan hari raya kurban ini.
Sebagai contoh, di Semarang, masyarakat mengenal tradisi apitan. Apitan berasal dari kata dalam bahasa Jawa yakni apit yang berarti terjepit atau di tengah-tengah. Hal ini dikarenakan tradisi apitan berlangsung diantara bulan Syawal saat idulfitri dan bulan Dzulhijah di mana pelaksanaan Iduladha berlangsung.
Perayaan tradisi apitan mewujud dalam rupa gunungan hasil bumi. Masyarakat mengarak gunungan ini keliling kampung dan kemudian saling berebut barokah. Banyak masyarakat yang meyakini bahwa tradisi apitan merupakan warisan kearifan Walisongo dalam mengekspresikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Welas.
Jika Semarang punya apitan, Pasuruan punya tradisinya sendiri. Di tanah wali ini, masyarakat mengenal tradisi manten sapi. Tradisi manten sapi merupakan kebiasaan masyarakat Pasuruan untuk mendandani sapi-sapi yang akan menjadi hewan kurban. Umumnya, tradisi ini berlangsung sehari sebelum tanggal 10 Muharram tiba.
Masyarakat mengalungkan beragam rangkaian bunga-bungaan ke leher sapi, mengalunginya dengan sorban, hingga membalut sapi dengan kain kafan. Mereka mendandani sapi secantik dan semenarik mungkin bak seorang pengantin, sebelum kemudian mereka mengaraknya ramai-ramai menuju masjid.
Grebeg Jogja, hingga meugang di Aceh
Selanjutnya, masyarakat Yogyakarta punya tradisi grebeg gunungan. Sekilas, tradisi ini mirip dengan tradisi apitan. Bedanya, dalam prosesi grebeg gunungan, masyarakat dan abdi dalem keraton akan mengarak tiga buah gunungan hasil bumi dari keraton menuju Masjid Gedhe Kauman.
Selepas mendapatkan jejampi doa dari para tokoh agama, ketiga gunungan itu akan menjadi bahan rebutan masyarakat. Mereka meyakini bahwa apabila berhasil memperoleh bagian gunungan tadi, mereka akan mendapatkan tuah rezeki yang berlimpah sepanjang tahun.
Menyusul, warga Cirebon mengenal tradisi gamelan sekaten. Gamelan sekaten merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati, salah seorang anggota Walisongo yang mendakwahkan agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya. Nama asli beliau adalah Syarif Hidayatullah.
Tradisi gamelan sekaten mewujud dalam bentuk pembunyiaan gamelan dari dalam Keraton Kasepuhan Cirebon pada perayaan dua hari raya keagamaan Islam, yakni idulfitri dan iduladha. Pembunyian gamelan ini merupakan bentuk pertanda sukacita masyarakat Cirebon dalam menyambut tibanya hari kemenangan.
Sementara itu, di Aceh, ada tradisi meugang. Masyarakat Aceh mengenal tradisi ini sejak ratusan tahun silam sebagai warisan dari Kesultanan Aceh. Perayaan tradisi ini identik dengan kegiatan santap daging hewan kurban bersama kerabat, keluarga, atau sanak saudara. Meugang merupakan representasi ke-gemahripah-an Aceh.
Gema Iduladha di belahan dunia
Selain di Indonesia, keunikan perayaan Hari Raya Iduladha juga berlangsung di berbagai negara lain. Sebagai contoh, di Arab Saudi, ada kebiasaan membagikan daging kurban hanya kepada tetangga dekat saja. Masyarakat memilih kerabat, tetangga, atau karib famili untuk bersama-sama menyantap lezatnya daging.
Sementara itu, perayaan Iduladha di Cina berlangsung semarak. Meski secara populasi China bukanlah negara dengan mayoritas penduduk memeluk agama Islam, namun masyarakat muslim China tak kalah antusias dalam merayakan hari raya udhiyyah ini.
Contohnya, pada tanggal 9 Dzulhijah, masyarakat menggelar buka puasa Arafah bersama-sama. Selain itu, kemeriahan perayaan Iduladha yang mereka lakukan bahkan berlangsung hingga berakhirnya hari tasyriq atau tiga hari selepas hari raya, tepatnya pada tanggal 13 Dzulhijah.
Lalu, di India, masyarakat tak hanya membagikan daging kurban saat perayaan Iduladha. Mereka juga akan membagikan beragam hadiah dan pakaian kepada sanak kerabat sebagai wujud rasa syukur. Tak cuma itu, masyarakat pun menggelar festival idualadha selama tiga hari.
Beralih ke Bangladesh, perayaan iduladha di negara ini justru berjalinan dengan tradisi mudik atau pulang ke kampung halaman. Hal ini tentu amat berbeda dengan tradisi mudik di Indonesia yang lazimnya berlangsung menjelang Hari Raya idulfitri. Masyarakat Bangladesh meyakini bahwa momen Iduladha adalah family time.
Ragam tradisi perayaan Iduladha, baik di tanah air maupun di mancanegara, menunjukkan kreativitas masyarakat dalam memaknai momen istimewa tersebut. Kreativitas ini perlu terus lestari. Tentu, akan menggembirakan sekali bila berkesempatan menikmati perayaan kurban dari berbagai belahan dunia, bukan? []












































