Mubadalah.id – Anggota Watim Majelis Musyawarah Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), KH. Lukman Hakim Saifuddin, menegaskan pentingnya KUPI mulai memfokuskan perjuangan pada isu-isu yang lebih spesifik dan berdampak besar bagi masyarakat menjelang Kongres Ulama Perempuan Indonesia berikutnya.
Hal tersebut ia sampaikan dalam Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BuKUPI) 2026 di Masjid Cut Nyak Dien, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (24/5/2026).
Mantan Menteri Agama RI itu menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini menjaga dan mengembangkan gerakan Kongres Ulama Perempuan Indonesia sebagai ruang perjuangan keulamaan perempuan di Indonesia.
“Saya ingin menyampaikan rasa hormat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah mendukung Kongres Ulama Perempuan Indonesia sampai hari ini,” ujar Lukman.
Menurutnya, tidak mudah menghimpun orang-orang yang memiliki kepedulian dan visi yang sama untuk memperjuangkan harkat, martabat, dan pengembangan potensi perempuan. Khususnya perempuan pesantren yang mendalami ilmu agama dan mendedikasikan diri bagi kemaslahatan masyarakat.
Ia menilai, kehadiran ulama perempuan Indonesia melalui KUPI mendapat perhatian besar dari berbagai negara. Dalam berbagai pertemuan internasional, kata Lukman, banyak ulama dari negara sahabat menyambut antusias gerakan ulama perempuan Indonesia.
“Dalam pengalaman saya ketika berinteraksi dengan sejumlah ulama di berbagai negara sahabat, mereka sungguh sangat antusias dan menyambut baik adanya ulama perempuan di Indonesia yang berhimpun untuk menjaga, memelihara, dan merawat kehidupan bersama demi kemaslahatan bersama,” katanya.
Isu Fokus dan Spesifik
Karena itu, Lukman berharap menjelang Kongres KUPI berikutnya, gerakan ulama perempuan Indonesia mulai memetakan isu yang lebih fokus dan spesifik untuk diperjuangkan secara serius dan terencana.
Menurutnya, selama ini berbagai deklarasi KUPI masih bersifat umum. Sementara masyarakat membutuhkan jawaban konkret mengenai isu prioritas yang menjadi perhatian utama gerakan ulama perempuan.
“Saya berharap menjelang kongres berikutnya, yang ketiga—dua tahun lagi. Bahkan satu tahun lagi—sudah mulai dipikirkan isu yang lebih spesifik untuk diperjuangkan,” ujarnya.
Ia mengatakan, persoalan perempuan dan keulamaan memang sangat luas. Namun KUPI perlu memilih satu hingga tiga isu strategis yang benar-benar khas dan memiliki dampak besar bagi kehidupan masyarakat.
“Tentu isu seputar perempuan dan keulamaan sangat banyak, tetapi kita harus memilih satu, dua, atau tiga isu yang benar-benar khas dan memiliki dampak besar bagi kehidupan bersama,” katanya.
Selain itu, Lukman juga menyoroti pentingnya membangun kesamaan persepsi mengenai istilah kekerasan di tengah masyarakat, terutama di kalangan generasi muda.
Trilogi Perlawanan Terhadapa Kekerasan
Ia menyinggung pidato Ketua Majelis Musyawarah KUPI, Nyai Badriyah Fayumi, yang sebelumnya memperkenalkan “Trilogi Perlawanan terhadapa Kekerasan”, yakni menolak menjadi korban kekerasan, menolak menjadi pelaku kekerasan, dan berani melaporkan tindak kekerasan.
Menurut Lukman, konsep tersebut sangat penting, namun pemahaman mengenai makna kekerasan perlu diperjelas agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Tadi sangat bagus ketika Nyai Badriyah menyampaikan Trilogi Anti Kekerasan: saya menolak menjadi korban kekerasan, saya menolak menjadi pelaku kekerasan, dan saya siap melaporkan tindak kekerasan,” ujarnya.
Ia menilai, istilah kekerasan sering kali mereka pahami secara keliru oleh masyarakat. Karena itu, kita memerlukan pemahaman bersama mengenai batasan dan makna kekerasan dalam kehidupan sosial.
“Sebab, sering kali istilah ini tidak hanya diplesetkan, tetapi juga dipahami secara keliru. Padahal hidup memang harus dijalani dengan keras dalam pengertian yang positif, yakni penuh semangat dan keteguhan,” katanya.
Menurut Lukman, kesamaan persepsi tersebut penting agar gerakan anti kekerasan tidak menimbulkan tafsir yang salah di tengah masyarakat.
Di akhir sambutannya, ia tetap mengapresiasi perkembangan KUPI yang berhasil menjaga eksistensi sekaligus terus memperluas gerakan keulamaan perempuan Indonesia.
“Sekali lagi, selamat kepada KUPI yang telah mampu menjaga, memelihara, dan merawat eksistensinya sekaligus terus mengembangkan diri,” ujar Lukman.
Ia berharap gerakan ulama perempuan Indonesia terus mendapat keberkahan dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemaslahatan bangsa dan kemanusiaan.
“Mudah-mudahan ulama perempuan Indonesia senantiasa Allah SWT berkahi,” tuturnya. []












































