Mubadalah.id – Jika perang sebelum abad 21 berlangsung dalam bentuk duel senjata, maka perang di abad 22 kini telah berubah menjadi duel adu kaki. Demikianlah gambaran perhelatan akbar Piala Dunia 2026. Semenjak resmi bermula pada 11 Juni 2026 kemarin, gelaran empat tahunan itu telah menyajikan pelbagai hasil pertandingan yang mengejutkan banyak orang.
Tim-tim wakil Asia dan Afrika dapat menunjukkan kualitasnya di hadapan sorot mata dunia. Korea Selatan berhasil menjinakkan Republik Ceko 2-1. Qatar mampu membendung Swiss 1-1. Sementara, Maroko bahkan bisa memaksa Tim Samba untuk puas dengan hasil imbang 1-1. Lalu, Jepang dengan determinasinya sukses bikin Belanda gagal mendulang poin sempurna. Samurai Biru memaksa laga berkesudahan 2-2.
Hasil gemilang yang tim-tim dari “negara dunia ketiga” tadi raih sejatinya memberi aroma poskolonialisme dalam gelaran Piala Dunia tahun ini. Poskolonialisme, seperti penjelasan Leela Gandhi (1998), dipahami sebagai resistensi teoretis pada segala hal-hal yang terlupakan sesudah berlangsungnya kolonialisme / penjajahan.
Lebih lanjut, Lo dan Gilbert (1998) menambahkan bahwa poskolonialisme di antaranya mencakup masalah kebudayaan. Apabila meminjam pandangan Koentjaraningrat tentang definisi kebudayaan, maka olahraga seperti sepakbola merupakan bagian kebudayaan itu. Karenanya, ia tak bisa lepas dari wacana resistensi dalam poskolonialisme. Apalagi, selama ini, sepakbola selalu diyakini berasal dari negeri Barat (Inggris).
Sementara, Inggris merupakan salah satu dari lima negara penjelajah yang menjajah berbagai belahan dunia bersama Portugis, Belanda, Prancis, serta Spanyol. Karenanya, tinggalan kebudayaan Inggris dalam wujud olahraga sepakbola di negara-negara jajahannya merupakan pantikan nyata bagi timbulnya diskursus poskolonialisme di kemudian hari.
Poskolonialisme dan Orientalisme Edward Said
Poskolonialisme yang sedikit banyak meminjam gagasan Orientalisme Edward Said melihat bahwa selalu ada kontestasi antara Barat sebagai negeri penjajah dengan Timur selaku tanah jajahan. Barat selalu ingin mendominasi dan mengajari Timur dalam segala hal, tak terkecuali dalam urusan sepakbola.
Besarnya kehendak Barat untuk mendominasi sepakbola itu mencermin dalam framing yang menempatkan sepakbola Eropa sebagai kiblat dunia. Lima liga top benua Biru, yakni Inggris, Spanyol, Prancis, Jerman, serta Italia selalu tampil sebagai primadona. Setiap pemain sepakbola di dunia bahkan hampir-hampir selalu mengidamkan mimpi merumput bersama tim Eropa.
Pemain Indonesia pun punya mimpi serupa. Misalnya saja, saat Egy Maulana Vikri mendapat kontrak dari Lechia Gdansk di liga Polandia, segenap bangsa Indonesia merasa turut bangga. Padahal, di balik capaian itu, ada wujud kolonialisme yang jelas-jelas belum terdekonstruksi dan masih membelenggu secara hegemonik (halus).
Namun, di tahun ini, agaknya negara-negara Timur telah menyadari perlunya resistensi terhadap kolonialisme sepakbola itu. Banyaknya pemain-pemain dari Asia dan Afrika yang memperkuat tim-tim raksasa Eropa menunjukkan bahwa kualitas Timur tak kalah dari Barat. Fenomena semacam ini—sebagaimana terjadi pada Egy Maulana Vikri—oleh Homi K. Bhabha (2006) disebut sebagai mimikri.
Mimikri sebagai strategi khas poskolonialisme
Mimikri bermakna sebagai kecenderungan untuk meniru dalam rangka melakukan resistensi atau perlawanan. Peniruan para pemain atau klub Asia dan Afrika terhadap teknik sepakbola Barat merupakan strategi untuk menunjukkan bahwa Timur selevel dengan Barat.
Beberapa praktik mimikri dalam sepakbola tersebut tampak jelas dalam beberapa pertandingan Piala Dunia 2026. Misalnya saja, strategi effective football yang diperagakan Hajime Moriyasu di skuad timnas Jepang merupakan hasil mimikri dari tim-tim Eropa. Jepang secara spesifik bahkan tampak jelas berhasil memeragakan praktik mimikri itu.
Apalagi, banyak pemain Jepang yang berkompetisi di liga-liga top Eropa. Jepang punya Takefusa Kubo yang bermain untuk Real Sociedad (Spanyol), Wataru Endo di Liverpool (Inggris), juga Ayase Ueda yang membela Feyenoord (Belanda), serta sederet nama moncer lain.
Indonesia sebagai negara yang juga pernah merasakan pahitnya kolonialisme perlu belajar banyak dari geliat poskolonialisme di ajang Piala Dunia 2026 ini. Keberhasilan tim-tim Asia dan Afrika dalam mengimbangi skuad favorit Eropa layak untuk diteladani. Indonesia selayaknya “berguru” kepada Jepang tentang bagaimana menyiapkan bibit-bibit unggul sepakbola sejak dini.
PSSI perlu serius membangun ekosistem sepakbola yang benar-benar dapat melahirkan pemain-pemain berbakat, sehingga tidak melulu bergantung pada praktik naturalisasi pemain. Jepang yang juga pernah jatuh habis-habisan dalam Perang Dunia II kini telah mengaum ganas di level dunia. Tentu, jika serius, masa bagi Indonesia akan segera tiba! []











































