Selasa, 23 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Belajar Mubadalah

    Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

    Melihat Sakit

    Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

    Disabilitas Netra

    Di Balik Kesempatan Kerja bagi Disabilitas Netra

    Li Shixing

    Ketika Li Shixing Datang Belajar tentang Pesantren, Tubuh, dan Ruang Aman

    Platonic Love

    Platonic Love Dan Potret Relationship Manusia Hari Ini

    Podcast

    Prinsip Mubadalah dalam Tren Podcast bagi Teman Tuli

    Angelus

    Angelus dan Seni Mengenal Diri Sendiri dalam Tradisi Katolik

    Parfum Perempuan

    Benarkah Islam Melarang Perempuan Memakai Parfum?

    Gender Equality

    Gender Equality dan Gender Equity: Mencari Titik Temu antara Hak dan Keadilan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB Spiral

    KB Spiral Progestin: Manfaat, Efek Samping, dan Kondisi yang Perlu Diwaspadai

    KB

    Mengenal KB Spiral (IUD), Alat Kontrasepsi yang Bisa Mencegah Kehamilan hingga 10 Tahun

    Suntik KB

    Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur

    Suntikan KB

    Suntik KB sebagai Pilihan Kontrasepsi, Apa Saja Kelebihan dan Risikonya?

    Menggunakan Susuk KB

    Susuk KB: Siapa yang Boleh Menggunakannya dan Apa Efek Sampingnya?

    Memilih Susuk KB

    Sebelum Memilih Susuk KB, Kenali Manfaat dan Risikonya Terlebih Dahulu

    Pil KB Mini

    Cara Menggunakan Pil KB Mini yang Benar

    Pil KB Mini

    Tak Cocok dengan Pil KB Kombinasi? Pil KB Mini Bisa Menjadi Pilihan

    Minum Pil KB

    Bagaimana Jika Lupa Minum Pil KB?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Belajar Mubadalah

    Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

    Melihat Sakit

    Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

    Disabilitas Netra

    Di Balik Kesempatan Kerja bagi Disabilitas Netra

    Li Shixing

    Ketika Li Shixing Datang Belajar tentang Pesantren, Tubuh, dan Ruang Aman

    Platonic Love

    Platonic Love Dan Potret Relationship Manusia Hari Ini

    Podcast

    Prinsip Mubadalah dalam Tren Podcast bagi Teman Tuli

    Angelus

    Angelus dan Seni Mengenal Diri Sendiri dalam Tradisi Katolik

    Parfum Perempuan

    Benarkah Islam Melarang Perempuan Memakai Parfum?

    Gender Equality

    Gender Equality dan Gender Equity: Mencari Titik Temu antara Hak dan Keadilan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB Spiral

    KB Spiral Progestin: Manfaat, Efek Samping, dan Kondisi yang Perlu Diwaspadai

    KB

    Mengenal KB Spiral (IUD), Alat Kontrasepsi yang Bisa Mencegah Kehamilan hingga 10 Tahun

    Suntik KB

    Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur

    Suntikan KB

    Suntik KB sebagai Pilihan Kontrasepsi, Apa Saja Kelebihan dan Risikonya?

    Menggunakan Susuk KB

    Susuk KB: Siapa yang Boleh Menggunakannya dan Apa Efek Sampingnya?

    Memilih Susuk KB

    Sebelum Memilih Susuk KB, Kenali Manfaat dan Risikonya Terlebih Dahulu

    Pil KB Mini

    Cara Menggunakan Pil KB Mini yang Benar

    Pil KB Mini

    Tak Cocok dengan Pil KB Kombinasi? Pil KB Mini Bisa Menjadi Pilihan

    Minum Pil KB

    Bagaimana Jika Lupa Minum Pil KB?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Belajar Pengasuhan Ala Denmark Sebagai Negara Paling Bahagia Part II

Keluarga di Denmark faktanya selalu senang dengan kebersamaan yang panjang bersama keluarga mereka tanpa drama

Alfiyah by Alfiyah
9 November 2024
in Keluarga
A A
0
Pengasuhan Ala Denmark

Pengasuhan Ala Denmark

28
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Sebelumnya, telah saya tuliskan tentang Belajar Pengasuhan Ala Denmark Sebagai Negara Paling Bahagia Part I. Pada tulisan kali ini ada temuan lain tentang pola pengasuhan oleh banyak keluarga di Denmark. Yakni bagaimana mereka mempraktikkan kejujuran.

Kejujuran tampak dari bagaimana industri perfilman Denmark menampilkan akhir dari sebuah cerita. Denmark memproduksi film yang berbeda dari film-film produksi Disney dan Hollywood yang menampilkan sisi bahagia. Film-film Denmark terasa lebih menampilkan akhir menyakitkan atau dekat dengan realitas kehidupan.

Authenticity

Selain itu, isu pada film Denmark juga sensitif, nyata dan tidak terbungkus dengan kepalsuan. Hal ini, menurut Profesor komunikasi dari Ohio State, Silvia Knobloch-Westerwick bahwa berbeda dengan kepercayaan populer. Menonton film sedih sebenarnya membuat orang merasa bahagia serta terefleksikan pada kehidupan sendiri dengan rasa syukur. Hal ini berdampak pada perasaan lebih kaya dan menyentuh sisi kemanusiaan sendiri.

Hal lain juga tampak dari sisi bagaimana akhir sebuah dongeng populer yang berasal dari Denmark buatan Hans Christian Anderson yaitu The Little Mermaid, The Ugly Duckling, dan The Emperor’s New Clothes. Pada banyak cerita tersebut saat ini telah mengalami perubahan. Dongeng-dongeng ini kemudian menyesuaikan dengan kebudayaan dari bagaimana sesuatu tersebut seharusnya terjadi.

Keluarga Denmark mempercayai bahwa membicarakan tragedi dan kesedihan merupakan sesuatu yang harus kita lakukan. Dengan begitu, akan lebih banyak mempelajari karakter dari suatu penderitaan. Sehingga, penting untuk mengetahui banyak realitas kehidupan dengan lebih jujur. Mengenali dan menerima semua emosi sejak dini  termasuk yang paling sulit membuat anak lebih mudah mengatur strategi bagi semua masalahnya.

Reframing

Melalui pemaknaan ulang atas suatu peristiwa merupakan cara untuk melihat sesuatu dengan kacamata yang baru. Maka dengan memaknai ulang harapannya bisa mendapatkan perasaan yang lebih baik, sehingga dapat menurunkan aktivitas dalam otak kita yang melibatkan emosi negatif. Selain itu meningkatkan aktivitas di otak yang melibatkan kendali kognitif maupun integrasi adaptif.

Kegiatan ini juga berarti mengubah sesuatu menjadi lebih suportif dan lebih tidak definitif. Yakni dengan mengubah cara dalam merasakan sesuatu. Sehingga dengan demikian, memaknai ulang, bukan tentang membuang kejadian buruk dalam diri kita melainkan menempatkan hal yang tidak penting pada proporsinya dan menjadi fokus tentang apa yang kita sukai.

Empathy

Pada zaman dahulu manusia perlu bertarung untuk mempertahankan hidup mereka. Sehingga, banyak kebijakan pemerintah yang berdasarkan pada kehidupan alam merupakan perjuangan hidup serta hal itu melalui egoisme dan kompetisi penuh antar sesama.

Sedangkan, setelah sekian lamanya manusia berevolusi, empati menjadi sebuah nilai yang membuat manusia mampu bertahan dalam suatu kelompok. Hal ini meruntuhkan argumen didepan bahwa bukan karena taring dan cakar manusia bertahan. Tetapi manusia bertahan karena komunikasi dan kolaborasi.

Program yang mendorong sikap empati yang dikembangkan di Denmark adalah step-by-step. Anak-anak melalui pengasuhan ala Denmark dengan program tersebut melihat gambar tentang beragam jenis emosi dan mengatakan emosi apa yang mereka rasakan.

Hal ini selain untuk belajar untuk mengungkapkan perasaan dirinya juga perasaan orang lain. Selain itu, program untuk mengembangkan empati adalah CAT-kit. Menggunakan kartu bergambar wajah, stik pengukur intensitas emosi, gambar aspek fisik dan lokasi dari emosi. Selain itu, salah satu cara orang Denmark dalam membesarkan anaknya adalah dengan tidak menghakimi mereka.

No Ultimatum

Salah satu sekolah Denmark menerapkan tanpa ultimatum melalui pilar demokrasi. Yaitu membolehkan anak sekolah dengan membuat aturan setiap tahunnya bersama dengan guru mereka. Selain itu, mencoba untuk tetap selaras pada nilai tanpa membentak, memukul dan membuat garis batas yang jelas antara apa yang boleh pada anak yang akan timbal balik kediri orang tua.

Untuk melatih sikap ini,  para orang tua dapat bercermin serta memikirkan hal apa yang paling tidak mereka sukai dari  sosok depannya. Jika ia tak menyukai bentakan, kekerasan fisik maka jangan lakukan kepada anak-anak. Karena apa yang mereka lihat adalah apa yang akan anak-anak tiru.

Teriakan, tindakan kekerasan yang muncul dari pengasuhan ala Denmark dalam keluarga seringkali muncul karena khawatir tentang apa yang terpikirkan oleh orang lain. Jangan khawatir dengan cara orang lain memandang pola pengasuhan kamu sebagai orang tua. Mengingat jika kita melakukan perubahan, artinya membutuhkan usaha yang lebih susah dan lebih besar.

Togetherness dan Hygge

Keluarga di Denmark faktanya selalu senang dengan kebersamaan yang panjang bersama keluarga mereka tanpa drama. Hal ini menurut riset bahwa salah satu predikator teratas dari kesejahteraan dan kualitas kebahagiaan adalah waktu berkualitas dengan teman dan keluarga.

Kebersamaan ini mereka rawat dengan adanya budaya yang disebut Hygge (dibaca huga). mereka membuat waktu santai bersama keluarga dan teman-teman benar-benar terwujud. Dengan menempatkan atmosfer hangat seperti lilin, dan makanan yang lezat serta terlihat saling membantu satu sama lain. Hal ini menandai satu hal penting bahwa , merasa terhubung dengan yang lain memberikan sebuah arti dan tujuan bagi kita.

Kelompok riset di Chicago mempelajari efek ini serta mengkonfirmasinya. Faktanya, dukungan sosial membantu mengelola stress. Jika kita tahu bahwa kita mempunyai orang yang bisa diajak bicara atau dimintai pertolongan pada waktu sulit, maka seseorang tersebut lebih siap untuk menghadapi tantangan hidup tanpa takut tumbang.

Pada akhirnya untuk menerapkan pola pengasuhan ala Denmark yang telah berhasil menempati urutan teratas sebagai negara yang paling bahagia, butuh latihan terus-menerus. Yakni kesabara dan kesadaran, namun hasilnya akan sepadan dengan apa yang ingin kita wariskan kepada anak-anak kelak. Semoga dengan kacamata pengasuhan yang kita pelajari ini mampu menuntun perjalanan keluarga kita menuju kebahagiaan. []

Tags: Berbuat Baik pada KeluargakeluargaKesalinganpengasuhanPengasuhan Ala DenmarkRelasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Festival Beda Setara Siapkan Bioskop Rakyat, Hadirkan Film-Film Keberagaman dan Toleransi

Next Post

Pameran Best 2024, Suarakan Isu Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan melalui Karya Kreatif

Alfiyah

Alfiyah

Alumni Fakultas Dakwah Institut Pesantren Mathali'ul Falah Tahun 2022 | Mari saling sapa di instagram @imalfi__

Related Posts

Belajar Mubadalah
Keluarga

Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

22 Juni 2026
Wahnan 'ala Wahnin
Buku

Wahnan ‘ala Wahnin: Ketika Pengalaman Biologis Khas Perempuan Dibahas oleh Santri Perempuan

22 Juni 2026
Gender Equality
Publik

Gender Equality dan Gender Equity: Mencari Titik Temu antara Hak dan Keadilan

19 Juni 2026
Dawuh Nyai Noor Chodijah
Personal

Membaca Dawuh Mbah Nyai Noor Chodijah tentang Laku Batin Perempuan

19 Juni 2026
Tanggung Jawab Moral
Keluarga

Menakar Batas Tanggung Jawab Moral dalam Pengasuhan Kesalingan

18 Juni 2026
Sebelum Harimu Bersamanya
Buku

Buku “Sebelum Harimu Bersamanya”: Sebuah Panduan Sebelum Menikah

17 Juni 2026
Next Post
Pameran Best

Pameran Best 2024, Suarakan Isu Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan melalui Karya Kreatif

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • KB Spiral Progestin: Manfaat, Efek Samping, dan Kondisi yang Perlu Diwaspadai
  • Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati
  • Mengenal KB Spiral (IUD), Alat Kontrasepsi yang Bisa Mencegah Kehamilan hingga 10 Tahun
  • Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah
  • Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0