Judul : Sebelum Harimu Bersamanya
Penulis : Lya Fahmi
Penerbit : EA Books
Tahun Terbit : Cetakan kelima, Januari 2024
Mubadalah.id – Lya Fahmi adalah seorang psikolog di salah satu puskesmas di Kabupaten Sleman. Minatnya terhadap psikologi konseling keluarga dan perkawinan bermula saat ia menjadi mahasiswa Fakultas Psikologi di Universitas Gadjah Mada. Lewat buku ini, Lya Fahmi mengumpulkan pengalamannya selama menjalani pernikahan, dan juga pengalaman orang lain saat melayani konsultasi pranikah maupun masalah rumah tangga di tempat ia bekerja.
Menariknya, pengalaman orang lain saat berkonsultasi di ruang konseling juga pernah ia rasakan selama menjalani pernikahan. Ia mengaku pernah mengeluh karena sulit beradaptasi dengan keluarga pasangan, mengalami hambatan komunikasi dalam relasi, dan jatuh bangun menjalani berbagai dinamika pernikahan. Banyaknya kesamaan itu membuat ia berpikir bahwa mungkin setiap pasangan akan menghadapi permasalahan yang hampir sama dalam pernikahan. Begitulah sekiranya alasan Lya Fahmi menulis buku ini.
Sebelum menjalani pernikahan, banyak pasangan calon pengantin yang sepenuhnya tak sadar atas apa yang akan mereka hadapi. Buku ini penting dibaca bagi setiap pasangan agar menjadi kisi-kisi dan gambaran pernikahan dari orang-orang yang sudah menjalaninya dengan segala pasang surutnya.
Sinopsis
Bagian yang paling awal untuk disadari bahwa dalam pernikahan tidak ada proses pasif yang akan membawa seseorang pada kesempurnaan dan kebahagiaan. Lya Fahmi menegaskan, pernikahan adalah awal dari segala kemungkinan adanya penderitaan, kebahagiaan, atau penderitaan dan kebahagiaan yang datang silih berganti. Setiap individu harus benar-benar mempersiapkan diri atas segala kemungkinan yang akan dihadapi.
Dalam hal ini terkadang kita terlalu membayangkan bahwa menikah seolah isinya kebahagiaan atau yang indah-indah saja. Mungkin sah-sah saja untuk berfikir atau berharap secara positif bahwa setelah menikah akan hidup tentram dan bahagia. Tapi, kita juga perlu menyadari bahwa untuk mencapai bahagia, harus melalui proses dan usaha yang terus diupayakan. Yakni dimulai dengan belajar mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Selain itu, Lya Fahmi turut menaruh perhatian dengan sejumlah pertanyaan tentang bagaimana harapan seseorang ketika hendak memutuskan menikah. Apakah seseorang tidak perlu bekerja lagi karena sudah ada yang memberi nafkah? Harapan hidup sejahtera karena pasangan kaya atau berpotensi kaya? Atau hilangnya perasaan sepi karena pasangan hangat dan ceria?
Sejumlah pertanyaan ini sangat menarik untuk dikupas satu persatu, tidak hanya bagi calon pasangan yang akan menikah. Menurut saya, pasangan yang sudah menikah juga penting untuk membaca buku ini. Sebab roda terus berputar, makna pernikahan bisa tak sama untuk setiap orang, cara pandang dan isunya juga semakin berkembang. Barangkali, dengan membaca buku ini setiap pasangan bisa kembali merefleksikan perjalanan pernikahannya.
Petunjuk Mempersiapkan Pernikahan
Lya Fahmi mengajak setiap pasangan untuk mendiskusikan makna pernikahan. Proses ini yang akan membawa visi, harapan dan bayangan masa depan. Baginya setiap pasangan yang sudah cukup artikulatif dengan makna pernikahan akan lebih mampu menjelaskan harapan pernikahannya secara jelas dan detail. Memahami makna pernikahan akan membentuk marriage mentality yakni saat seseorang sudah menyadari bahwa tanggung jawab dan peran hidupnya akan berubah setelah menikah.
Kebanyakan dari kita pasti sepakat bahwa menikah adalah bagian dari ibadah, bahkan menyempurnakan separuh agama. Lya Fahmi mencoba mendiskusikan pernikahan seperti apa yang orang-orang maknai sebagai ibadah? Pernikahan menjadi ibadah bukan sekedar setelah ijab qobul otomatis sudah menjalankan ibadah.
Serangkaian proses yang dijalani dalam pernikahan akan bernilai ibadah ketika banyak kebaikan yang terus dilakukan dan diusahakan agar mendapat pahala dan keberkahan. Ia kembali menegaskan, tidak bisa disebut ibadah apabila sepasang manusia dalam rumah tangganya diwarnai dengan kekerasan, kerusakan, dan saling menyakiti.
Meski demikian, dalam pernikahan tidak luput dari adanya permasalahan atau konflik. Lya Fahmi menaruh perhatian bagaimana cara mengelola konflik pernikahan. Pertama, mengidentifikasi emosi, kemudian meregulasi emosi dengan olah pernafasan, setelah itu melakukan konfirmasi dan klarifikasi terhadap pasangan, selanjutnya memberi pesan atau menyampaikan maksud dan perasaan, dan ingat! Harus memperhatikan nada bicara saat berkomunikasi.
Mempersiapkan pernikahan bukanlah perkara yang mudah. Selain tips mengelola konflik, Lya Fahmi menyarankan agar setiap pasangan juga mendiskusikan tentang nilai hidup, pembagian peran, batasan dalam keluarga pasangan, dan persiapan kesehatan sebelum menikah.
Kelebihan Buku
Kelebihan dari buku Sebelum Harimu Bersamanya adalah bahasanya ringan dan mudah dimengerti, meski pembahasannya cukup berat. Buku ini juga menghadirkan pengalaman penulis dan orang-orang yang sudah menjalani pernikahan, sehingga menjadi gambaran yang nyata bagi pasangan yang hendak menikah. Selain itu, pada setiap babnya tersampaikan dengan runut dan lugas, setiap pasangan bisa dengan mudah mendiskusikan tentang pernikahan yang akan mereka jalani.
Dalam pernikahan modal cinta saja tidak cukup. Persiapan pernikahan pun bukan sekadar pesta. Agar mengimbangi niat dan cinta dalam kehidupan pernikahan, persiapkan juga banyak hal lainnya yang terkupas tuntas dalam buku Sebelum Harimu Bersamanya. Sebagai sebuah bacaan yang bagus, saya merekomendasikan buku ini agar turut menjadi pelengkap bagi setiap pasangan yang sedang menuju jalan pernikahan. []










































