Mubadalah.id - Sebagai lulusan pesantren, aku bangga bisa bermanfaat di kampungku. Meski hanya mengajar anak-anak mengaji sambil mengajar di madrasah...
Read moreDetails“Nah, siapa menurutmu yang paling berhak?” “Si tukang kayu,” Kata Bulbul “Si Penjahit,” kata Pangeran Shahzada. Mubadalah.id - Mereka kembali...
Read moreDetailsMubadalah.id - Kala itu, ketika langit kota Sanana diselimuti awan mendung dan sesekali nyanyian hujan gerimis menusuk atap-atap bangunan,memaksa anak-anak...
Read moreDetailsMubadalah.id - Kisah sebelumnya, menceritakan bagaimana awal mula Sahir bertemu dengan Sahira. Namun sayang, takdir tak dapat ditolak. Sahir yang...
Read moreDetailsMubadalah.id - Sahira yang cantik. Berkulit coklat cerah dengan rambut berwarna coklat tua keriting. Panjang dan terurai indah. Matanya besar...
Read moreDetailsMubadalah.id - Sekali dalam setahun, kamu berharap disinggahi rupa ibumu di halaman mimpi-mimpimu yang gelap di hari-hari yang panjang. Kamu...
Read moreDetailsMubadalah.id - Pagi telah tiba, matahari menyapa dengan lembut lewat sinarnya, menghalau rasa dingin di kota yang terkenal sebagai kota...
Read moreDetailsMubadalah.id - Aku terlambat mengunjungi Bapak di perkebunan, meskipun hanya melihat-lihat tanaman sekitar. Daunnya elips memanjang berwarna merah pucat, tidak...
Read moreDetailsMubadalah.id - Suasana ramai, teriakan, candaan, saling meledek dan ada yang menyanyi cukup lantang, sama sekali tidak mempengaruhi Udin yang...
Read moreDetailsMubadalah.id - “Tidak Ayah, Aila tidak ingin menikah, Aila mau kuliah!!!” terdengar isak tangis Aila dari bilik kamar. “Aila! berani...
Read moreDetails Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0
Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0