Mubadalah.id – Muharram Tahun 1448 Hijriyah akan segera datang. Bulan pertama dalam kalender Islam ini banyak masyarakat gunakan untuk menjalankan salah satu ajaran Islam yang sangat luhur yaitu memberikan perhatian kepada anak-anak yatim.
Pemberian perhatian ini sering terwujudkan dalam bentuk seremoni yang menghadirkan banyak orang. Di mana anak-anak yatim kita beri kesempatan untuk maju ke atas panggung guna menerima santunan berupa uang dan atau barang. Penyerahan hadiah ini lazim beserta dengan ritual mengusap kepala setiap anak yatim yang berlanjut dengan mengulurkan punggung tangan untuk dicium oleh mereka.
Pengusapan kepala seperti di atas kemudian menjadi kelumrahan acara sebagai bagian yang tak terpisahkan dari drama pertunjukan khas Muharam. Kita sebut pertunjukan karena melakukannya di atas panggung dan banyak orang yang menyaksikan. Lalu mendokumentasikan dan tidak jarang mereka unggah di media sosial.
Secara teologis, mengusap kepala anak yatim memiliki rujukan dari sebuah hadis riwayat Umamah, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa mengusap kepala yatim semata-mata karena Allah, maka setiap rambut yang ia usap memperoleh satu kebaikan. Barang siapa berbuat baik kepada yatim di sekitarnya, maka ia denganku ketika di surga seperti dua jari ini. Nabi menunjukkan dua jarinya; jari telunjuk dan jari tengahnya.”
Terhadap pertunjukan santunan dan usapan kepala ini, beberapa tahun terakhir banyak kritik dan saran bermunculan. Mulai dari para influencer di media sosial, mubaligh-mubalighah hingga kaum intelektual.
Kritik ini mempermasalahkan pertunjukan tersebut yang memandang secara psikologis dapat melukai batin anak-anak yatim. Sehingga mereka menjadi sedih akan keyatimannya, mengeksploitasi status yatim mereka untuk kepentingan pembentukan citra penyelenggara dan penyantun sebagai orang-orang yang saleh. Bertolak dari pandangan ini, para pengkritik menyarankan agar santunan untuk anak yatim dapat terformulasikan dengan lebih sopan. Yakni dengan menempatkan anak-anak yatim berserta keluarganya secara lebih bermartabat.
Menyoal Kritik dan Saran Mengusap Kepala Anak Yatim
Kritik dan saran ini menurut hemat penulis penting untuk kita indahkan karena beberapa alasan. Pertama, mengusap kepala adalah bahasa simbolik yang sarat makna. Makna lugasnya memang mengusap secara fisik, namun pengalaman empiris menunjukkan pengusapan di atas panggung secara massal seringkali terjebak pada ritual yang hampa. Dalam arti terkesan formalitas, kering tanpa ruh, tanpa kelembutan, tanpa senyum hangat dan tanpa nuansa kasih.
Pertunjukan usapan kering ini cukup mudah kita temukan dalam unggahan-unggahan masyarakat di media sosial. Adapun mengusap kepala secara majazi merupakan anjuran untuk memberikan love language atau ekspresi cinta kasih kepada anak yatim dalam bentuk phyisical touch.
Sebagai love language, ekspresi ini seharusnya kita lakukan dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Tujuannya agar anak yatim yang kita usap kepalanya dapat merasakan makna perhatian tersebut sampai ke dalam hati. Lalu menyimpannya sebagai kenangan indah beserta kesan bahwa keberadaannya kita terima, terakui, kita hargai dan dianggap penting oleh orang lain.
Hal ini sangat penting mengingat anak yatim telah mengalami kepahitan dalam hidupnya. Yakni kehilangan sosok ayah beserta segala fungsinya, meliputi fungsi ekonomi, edukasi, proteksi hingga afeksi.
Kehilangan ayah secara umum dapat menjadi penyebab mental anak terguncang. Sehingga rentan mengalami stres, depresi, putus asa dan hilang arah. Oleh karena itu, menunnukkan kasih sayang kepada mereka secara fisik akan bermanfaat untuk menguatkan mentalnya. Selanjutnya mereka dapat melanjutkan hidup dengan lebih bahagia, merasa diri penting dan berharga karena merasa tersayangi dan dihargai oleh orang-orang di sekitarnya.
Maka, mengusap kepala di atas panggung secara formalistik sekedar agar mendapat tambahan pahala justru dapat menimbulkan kenangan buruk bagi mereka. Dalam kolom-kolom komentar unggahan tentang pertunjukan santunan dan pengusapan kepala anak yatim tidak jarang kita temukan testimoni. Terutama dari orang-orang dewasa yang memiliki pengalaman dipanggil ke atas panggung. Mereka diberi santunan dan terusap kepalanya oleh orang-orang dewasa. Di mana mereka tidak kenal dekat, bahkan kadang tidak kenal sama sekali.
Reformulasi Pemberian Santunan Anak Yatim
Sebagian dari mereka juga mengungkapkan bahwa sebenarnya mereka malu ditonton banyak orang untuk menerima santunan. Pengakuan merasa malu ini juga banyak para ibu dari anak-anak yatim sampaikan, yang dipertunjukkan, di samping rasa sedih karena status anak yatim menjadi alasan mereka menerima santunan, suatu posisi yang setara orang miskin.
Terlepas dari benar-benar miskin atau tidak. Memang ada yang mengaku senang karena kita beri uang, namun itu seperti kamuflase karena mereka belum dapat memahami apa yang terjadi secara penuh.
Berdasarkan pengalaman ketidaknyamanan tersebut, ke depan penting untuk kita lakukan reformulasi pemberian santunan untuk anak yatim, baik dalam maupun di luar bulan Muharram. Pemberian santunan harus menghilangkan kesan “eksploitasi” status anak yatim semata-mata untuk mendatangkan pahala bagi pihak yang menyantuni. Semangat mubadalah penting untuk kita terapkan dalam konteks ini sehingga keinginan mendapat pahala terimbangi dengan semangat menjaga mental dan martabat anak-anak yatim beserta ibu dan keluarganya.
Hal ini perlu kita upayakan agar pesan kasih sayang yang tersirat dalam hadis Nabi benar-benar tersampaikan, baik dalam aspek substansi maupun teknis. Implikasinya, pahala yang kita harapkan sebagai imbalan atas pemberian kasih sayang tersebut dapat kita raih, bahkan bukan hanya pahala mengusap kepala melainkan pahala menciptakan rasa bahagia (idkhal al surur).
Selain itu, pahala menghargai sesama manusia, pahala bersikap rendah hati (tawadhu) dan pahala membagikan harta yang kita miliki. Tawadhu dalam konteks ini perlu menjadi standar nilai agar panitia dan pemberi santunan tidak terjebak dalam perasaan sebagai orang hebat dan memandang anak-anak yang tersantuni sebagai orang yang lebih rendah.
Maka, teknis pemberian santunan dapat kita ubah dengan mengunjungi dan mengantarkan santunan atau mempersilakan anak-anak untuk mengambil di ruang yang telah ditentukan tanpa pertunjukkan di atas panggung.
Mengusap kepala anak yatim dengan demikian dapat kita maknai dengan menyentuh hatinya, menguatkan perasaannya, menanamkan ingatan. Bahwa Islam sebagai agama yang mereka warisi dari generasi sebelumnya adalah agama yang ramah pada mereka. Agama yang tidak hanya mengajarkan agar menerima takdir kematian orang tuanya. Tetapi juga agama yang mendorong siapapun yang masih hidup untuk memahami kesulitan anak-anak yatim dan menjadi bagian dari solusi. Wallahu a’lam bish shawab. []










































