Kamis, 15 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Menjaga Kelestarian Alam

    Membangun Kesadaran Sejak Dini untuk Menjaga Kelestarian Alam

    Disabilitas

    Disabilitas, Trilogi KUPI, dan Perjuangan Melawan Ketidakadilan

    Pelestarian di Pesantren

    Pesantren Memiliki Peran Strategis dalam Pelestarian Lingkungan

    Pemerintah

    Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

    sahabat tuli

    Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

    Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan Berdampak Luas pada Ekonomi, Sosial, dan Budaya Masyarakat

    Qawwam

    Memaknai Qawwam dalam Relasi Pernikahan: Refleksi Kewajiban Suami untuk Menafkahi Istri

    Kerusakan Lingkungan

    Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

    Real Food

    Real Food, Krisis Ekologi, dan Ancaman di Meja Makan Kita

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Menjaga Kelestarian Alam

    Membangun Kesadaran Sejak Dini untuk Menjaga Kelestarian Alam

    Disabilitas

    Disabilitas, Trilogi KUPI, dan Perjuangan Melawan Ketidakadilan

    Pelestarian di Pesantren

    Pesantren Memiliki Peran Strategis dalam Pelestarian Lingkungan

    Pemerintah

    Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

    sahabat tuli

    Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

    Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan Berdampak Luas pada Ekonomi, Sosial, dan Budaya Masyarakat

    Qawwam

    Memaknai Qawwam dalam Relasi Pernikahan: Refleksi Kewajiban Suami untuk Menafkahi Istri

    Kerusakan Lingkungan

    Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

    Real Food

    Real Food, Krisis Ekologi, dan Ancaman di Meja Makan Kita

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Disabilitas, Trilogi KUPI, dan Perjuangan Melawan Ketidakadilan

Perjuangan teman-teman disabilitas sebetulnya adalah jilid lanjut dari upaya perlawanan seluruh umat terhadap sistem yang tidak adil.

Ahmad Thohari Ahmad Thohari
15 Januari 2026
in Publik
0
Disabilitas

Disabilitas

4
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Kalau kita punya niat dan tekad kuat untuk memedulikan masalah-masalah sosial-ekonomi, dan kalau karena itu kita suka sekali menggunakan istilah “diskriminasi”, “kaum tertindas”, “golongan yang dilemahkan”, atau “mustad’afin”, maka kita harus mulai peduli dengan kelompok yang sedang memperjuangkan nasibnya dewasa ini, yaitu teman-teman disabilitas.

Ada banyak alasan untuk itu. Pertama-tama dan paling utama, karena mereka harus berjuang dengan situasi kultural-sosial masyarakat yang tidak ramah. Sesuatu yang sifatnya struktural-sistemik. Saat berbicara tentang disabilitas, seringkali perhatian kita hanya tertuju pada kondisi individu mengenai apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh tubuh dan pikiran seseorang.

Pandangan tersebut jelas keliru. Disabilitas itu bukan saja masalah tubuh dan pikiran. Banyak disabilitas sebetulnya muncul karena lingkungan sosial yang tidak inklusif. Baru-baru saja ada trotoar landai, gedung yang dengan akses lift khusus, dan fasilitas-fasilitas ramah disabilitas lainnya.

Sebelum-sebelumnya, jangankan fasilitas ramah disabilitas, kita saja masih sering terjebak dalam bahasa yang tidak inklusif sekadar untuk menyebut mereka sebagai sama-sama manusia yang juga punya martabat dan hak hidup setara.

Kalau toh kita sudah kenal dengan istilah yang lebih ramah dan bermartabat, menyebut mereka sebagai disabilitas. Saya ulangi lagi: “perhatian kita hanya tertuju pada kondisi individu mengenai apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh tubuh dan pikiran seseorang”.

Ableisme struktural

Tak ayal, teman-teman disabilitas akhirnya terpaksa harus beradaptasi dengan lingkungan yang sebetulnya tidak ramah bagi kelangsungan hidup mereka, bahkan seringkali harus menghadapi “diskriminasi terselubung” dari sistem yang seharusnya melindungi mereka.

Ejekan, stigma, dan imajinasi tentang mereka dalam benak kita bisa dibilang sifatnya masih “jahat” secara moral. Celakanya, ableisme semacam itu bersifat struktural. Sistem kehidupan kita hampir, di manapun tempatnya, selalu memusuhi yang “berbeda”. Andaikan pun bukan dark joke, masih sering kita jumpai entah di ruang nyata maupun maya candaan-candaan ringan yang sebetulnya menyakiti mereka.

Situasi “jahat” semacam itu akhirnya membuat mereka harus melakukan masking atau social camouflaging. Upaya terus-menerus untuk “menyesuaikan diri” dengan standar “normal”. Terpaksa menyembunyikan apa yang sebenarnya mereka alami demi oleh karena “berbeda”. Melelahkan sekali itu. Bayangkan jika kamu hidup dengan harus menyembunyikan apa yang sebenarnya kamu “butuh” dan “rasakan”.

Robert Chapman, tokoh yang dikenal dengan istilah neurodiversitas, sudah mengenalkan tentang “paradigma patologi”. Suatu cara pikir dominan yang menganggap perbedaan neurologis dalam relasi sosial kehidupan kita sebagai “penyakit” atau “kesalahan”.

Jadi jika kamu adalah seorang disabilitas, dalam paradigma tersebut, maka kamu harus bersedia “diobati” atau “diperbaiki”. Kalau tidak bisa? Berarti itu salahmu. Paradigma demikian itu sudah tentu bermaksud menciptakan manusia ideal yang homogen—dan karenanya “jahat”. Ras kulit putih, laki-laki, kuat (misalnya, “sehat jasmani dan rohani” dalam kualifikasi syarat loker), produktif, mandiri, dan (tentu saja) rasional.

Siapa pun yang berada di luar standar tersebut akhirnya mau tidak mau akan masuk dalam kategori menyimpang, alias “tidak normal”. Mirip cara pikir yang sejak lama sukses termainkan oleh kapitalisme dengan cara pikir kolonialnya. Akhirnya, kebebasan manusia untuk hidup bermartabat tidak pernah terpenuhi secara adil.

Rezim “normal” kapitalisme

Silvia Federici mengafirmasi itu. Melalui bukunya Caliban and the Witch, ia menjelaskan bagaimana kapitalisme awal dengan gerakan penjajahannya sengaja menegakkan norma-norma dan fungsi “produktif” sebagai kontrol guna menertibkan (baca: menindas) tubuh dan mental mereka yang “berbeda”.

Persis yang pernah Michel Foucault kritikkan tentang “sejarah kegilaan” dalam karyanya Madness and Civilization. Bahwa tubuh yang tidak sesuai dengan narasi zaman (sebutlah: “narasi pasar” dalam logika kapitalisme), alias “tidak berguna”, “tidak menguntungkan”, “berlebihan”, akan terabaikan atau minimal mendapatkan represi melalui kekerasan sistemik.

Artinya, norma atau aturan “normal” tidak hanya berkaitan semata-mata soal standar fisik atau mental saja. Akan tetapi lebih sebagai alat kekuasaan untuk mengatur siapa yang berhak hidup, bekerja, dan dihargai. Celakanya, dewasa ini kita hidup dalam logika kapitalisme yang jauh lebih canggih cara mainnya.

Ketika logika kapitalisme menuntut efisiensi dan produktivitas, maka tubuh dan pikiran yang berbeda terpaksa untuk memilih hanya dua pilihan belaka: menyesuaikan diri atau tersisih. Apalagi ada warisan penjajahan menambah lapisan diskriminasi dengan menyematkan modus “nilai lebih” pada tubuh dan budaya tertentu. Sehingga juga meremehkan dan menghapus keberadaan mereka yang adalah entitas “lain”, alias “berbeda”.

Melalui bukunya Empire of Normality, Robert Chapman juga menegaskan kalau konsep “normal” yang selama ini menjadi common sense dan kita anggap sebagai standar universal sebetulnya bukanlah sesuatu yang netral dan natural. Konsep itu berakar kuat sekali dalam logika kapitalisme dan warisan penjajahan.

Kapitalisme menuntut sekali capaian produktivitas dan efisiensi maksimal. Sehingga mengharuskan setiap orang untuk “berfungsi” sesuai standar tertentu; harus membentuk diri berdasarkan kemampuan tubuh dan pikiran yang ideal sesuai sistem yang berlaku. Membuat mereka yang tidak sesuai standar sebagai person yang “tidak normal” dan “bermasalah” sehingga rawan mendapatkan eksklusi dan eksploitasi.

Trilogi KUPI dan perjuangan sosial-ekonomi

Perjuangan teman-teman disabilitas sebetulnya adalah jilid lanjut dari upaya perlawanan seluruh umat terhadap sistem yang tidak adil. Dengan kata lain, disabilitas bukanlah sekadar tentang kondisi tubuh dan pikiran, tetapi juga tentang status sosial yang termarjinalisasi. Siapapun yang mendapatkan klaim tidak sesuai standar terpaksa harus terus kelihatan normal. Harus masking terus-terusan.

Sistem kehidupan selalu tersaji timpang dan tidak adil. Maka, ketika kita mulai peduli dan ikut berjalan dalam jalur perjuangan teman-teman disabilitas, kita sebenarnya sekaligus sedang mengkritik sistem sosial-ekonomi yang menciptakan ketidakadilan. Yakni, sistem yang tidak hanya mengeksploitasi tubuh dan pikiran, tetapi yang juga mengukuhkan dominasi politik, ekonomi, dan budaya toxic.

Dalam hal ini, Trilogi KUPI sebagai pijakan nilai sekaligus pendekatan metodologis menjadi penting sebagai panduan etis guna melakukan perjuangan dan perlawanan terhadap ketidakadilan sistem. Secara garis besar, Trilogi KUPI adalah sebuah pijakan dan pendekatan metodologis yang memuat tiga nilai fundamental: Ma’ruf, Mubadalah, dan Keadilan Hakiki.

Joker dan implementasi Trilogi KUPI

Guna meneguhkan upaya perjuangan ini, kita kiranya perlu pula memahami dan memaknai film Joker justru dalam kerangka pendekatan skizoanalisis Deleuze dan Guattari. Melampaui model pendekatan psikoanalisis Freud serta Lacan. Deleuze dan Guattari berusaha memberi pemahaman radikal mengenai hasrat manusia yang mesti menolak patuh pada standar normal khas kapitalisme.

Sementara Freud serta Lacan menganjurkan hasrat harus tunduk dalam tatanan simbolis yang ini mengejawantah dalam sistem-sistem toxic bikinan kapitalisme itu. Nah, Deleuze dan Guattari justru mendorong hasrat harus bebas dan menikmati kebebasan dengan cara yang tidak harus seragam dan interseksional.

Joker adalah “subjek skizo”, subjek yang tidak stabil dan menolak bahasa kestabilan. Dalam kerangka pendekatan skizoanalisis Deleuze dan Guattari, ia adalah representasi dari simbol perjuangan dan perlawanan terhadap seluruh sistem dan standar normal (logika kapitalisme) yang tidak adil dan menindas mereka yang “berbeda”, entah secara tubuh, mental, juga status sosial serta ekonomi.

Dengan kata lain, Joker hanyalah simbol perjuangan dan perlawanan terhadap sistem yang tidak adil dan menindas. Tidak kemudian harus meniru persis perilaku dan tindakan perlawanannya. Artinya, segala jenis perjuangan dan perlawanan demi terwujudnya cita-cita kebebasan, juga keadilan, tetap harus berlangsung secara ma’ruf dan mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan. Pada titik inilah Trilogi KUPI memiliki relevansi konkret untuk dijadikan pijakan nilai perjuangan dan perlawanan itu.  []

*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Surakarta, kerjasama Media Mubadalah dengan UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta pada Selasa-Rabu, 13 s/d 14 Januari 2026.

Tags: ableismeAksesibilitasDisabilitasDiskriminasiInklusi SosialketidakadilanTrilogi KUPI
Ahmad Thohari

Ahmad Thohari

Ahmad Miftahudin Thohari, lulusan mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Raden Mas Said Surakarta, punya minat kajian di bidang filsafat, sosial dan kebudayaan. Asal dari Ngawi, Jawa Timur.

Terkait Posts

sahabat tuli
Publik

Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

14 Januari 2026
Tokenisme
Publik

Representasi Difabel dalam Dunia Perfilman dan Bayang-bayang Tokenisme

10 Januari 2026
Masjid
Publik

Masjid untuk Semua? Membaca Akses Ibadah dari Perspektif Disabilitas

5 Januari 2026
Disabilitas Rentan Kekerasan
Publik

Disabilitas Rentan Kekerasan Namun Sulit Akses Keadilan

3 Januari 2026
Bencana
Publik

Bencana dan Refleksi 2025: Bagaimana Pemenuhan Akses Informasi Kebencanaan bagi Penyandang Disabilitas?

31 Desember 2025
Disabilitas sebagai Kutukan
Publik

Memaknai Disabilitas sebagai Keberagaman, Bukan Kekurangan atau Kutukan

28 Desember 2025
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Real Food

    Real Food, Krisis Ekologi, dan Ancaman di Meja Makan Kita

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sahabat Tuli Salatiga: Representasi Gerakan Kelompok Disabilitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kerusakan Lingkungan Berdampak Luas pada Ekonomi, Sosial, dan Budaya Masyarakat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Membangun Kesadaran Sejak Dini untuk Menjaga Kelestarian Alam
  • Disabilitas, Trilogi KUPI, dan Perjuangan Melawan Ketidakadilan
  • Pesantren Memiliki Peran Strategis dalam Pelestarian Lingkungan
  • Dalam Keheningan yang Tak Lagi Menakutkan: Reading Note’s Broken Strings
  • Pemerintah dan Masyarakat Didorong Berkolaborasi Jaga Kelestarian Lingkungan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID