Glo, Kau Cahaya adalah sebuah film Indonesia tahun 2023 yang sutradaranya yaitu Ani Ema Susanti. Film ini rilis pada 9 Maret 2023.
Mubadalah.id – Pemain dalam film ini antaranya yaitu Tatyana Akman sebagai Gloria Simbiak, Kevin Royano sebagai Julvri, Ratna Riantiarno sebagai Nenek Isyi dan Monalisa Sembor sebagai Eliza. Ada juga Wulan Guritno, Putri Nere, Cak Percil, dan komika Mamat Alkatiri.
Film Glo, kau Cahaya ini juga terdapat pemain yang difabel asli. Ia Bernama Dani Aditya, seorang komika difabel dan menjadi aktor. Dani bermain peran menjadi salah satu panitia di kegiatan Peparnas dalam film ini.
Selain itu, film ini juga termasuk based on true event. Hal tersebut karena film ini asli mengambil bagian perhelatan Peparnas (Pekan Paralimpik Nasional) XVI yang bertempat di Papua Tahun 2021. Yang mana Peparnas sendiri merupakan ajang kompetisi olahraga untuk atlet difabel di Indonesia.
Film ini bercerita tentang perjuangan atlet renang yang bangkit dari keterpurukannya. Gloria merupakan atlet renang yang berprestasi. Ia bahkan pernah meraih medali emas dalam olimpiade renang.
Tetapi suatu ketika kaki Glo mengalami kehilangan fungsi, karena terpeleset dan mengalami benturan pada posisi duduk. Keterlambatan penanganan juga membuat kelumpuhan total dan menjadikannya disabilitas daksa.
Hal tersebut yang menjadikan Glo merasa hidupnya seperti berhenti. Ia sempat depresi dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya.
Tapi berkat dukungan nenek dan teman-temannya, Glo bangkit. Glo kemudian berprestasi lagi sebagai atlet difabel.
Di Balik Film Glo, Kau Cahaya
Teringat salah satu scene Glo yang mengatakan jika dterjemahkan ke Bahasa Indonesia, “Saya butuh waktu lama baru bisa menerima kalau saya ini difabel. Karena saya berpikir, difabel tidak akan bisa berbuat apa-apa. Selalu bergantung kepada orang lain. Tapi sekarang saya mengerti, kita hanya hidup dengan cara yang berbeda saja.”
Yang membuat film ini terasa dekat dengan realitas adalah bagaimana Glo tidak langsung menjadi sosok kuat yang menerima keadaan begitu saja. Ia marah, kecewa, merasa hidupnya selesai, bahkan kehilangan harapan.
Melalui karakter Glo, mengajak penonton memahami bahwa penerimaan diri membutuhkan proses. Tidak semua luka bisa sembuh dalam hitungan detik. Ada rasa takut maupun trauma yang muncul.
Namun perlahan, Glo belajar bahwa hidupnya belum berakhir. Ia mulai bangkit, kembali berlatih, dan mencoba menemukan makna hidup yang baru.
Film ini juga memperlihatkan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan. Kehadiran nenek, sahabat, dan orang-orang yang tetap percaya kepada Glo menjadi cahaya di tengah keterpurukannya.
Dalam kehidupan nyata, dukungan sosial memang menjadi salah satu hal penting bagi penyandang disabilitas.
Sebagaimana Cuk FK, salah satu produser Film ini dalam kanal YouTube yang mengatakan, “Ceritanya ini tentang kebangkitan mental. Jadi, saudara kita yang mengalami keterpurukan dalam situasi difabel. Semuanya itu butuh support system, akhirnya bangkit lagi dan menjadi juara juga dalam keadaan difabel. Dan dia itu Perempuan”.
Glo tidak hanya berusaha untuk “kembali seperti dulu”, tetapi belajar untuk menjadi versi baru dari dirinya yang tetap kuat, tetap berharga, dan tetap bercahaya.
Film ini menawarkan harapan, bukan harapan yang manis dan instan, tetapi harapan yang lahir dari proses menerima diri, melawan stigma, dan menemukan kembali makna hidup.
Di balik film ini menunjukkan bahwa keberanian terbesar bukan hanya tentang memenangkan pertandingan, tetapi tentang menerima diri sendiri. Semua orang termasuk disabilitas bisa bermimpi, berprestasi, dan menjadi cahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Perjuangan Perempuan Disabilitas
Sutradara film ini yaitu Ani, mengajak penonton untuk lebih memahami arti keberanian, penerimaan, perjuangan perempuan, serta perlawanan terhadap pelecahan seksual.
Dalam film ini, Glo sempat mengalami pelecehan seksual. Karena kondisi kakinya yang tidak memungkinkan untuk berlari, Ia memberontak dengan kemampuannya.
Sehingga, Glo harus berjuang melawan pelecehan seksual yang dia alami yang semakin menambah luka batinnya dan mengusik ketenangannya untuk terus maju menatap masa depan.
Film ini bukan hanya tentang seorang atlet yang kehilangan kemampuan berjalan, tetapi tentang bagaimana seorang perempuan disabilitas berusaha menerima dirinya sendiri di tengah rasa kehilangan, stigma, dan luka yang datang bertubi-tubi.
Bisa dikatakan bahwasanya film ini juga menyinggung persoalan yang jarang dibahas secara terbuka, yaitu kerentanan perempuan disabilitas terhadap kekerasan dan pelecehan seksual.
Hal ini menjadi refleksi penting bahwa perempuan disabilitas sering berada pada posisi yang lebih rentan, tetapi suaranya kerap diabaikan.
Banyak kasus kekerasan terhadap perempuan disabilitas tidak mendapatkan perhatian serius, karena masyarakat masih memandang mereka sebagai kelompok yang “tidak berdaya”.
Masih banyak juga perempuan disabilitas yang justru mengalami penolakan dari lingkungan terdekatnya sendiri.
Selain itu, hal ini juga memperlihatkan bahwa menjadi perempuan disabilitas bukan perkara mudah. Banyak perempuan disabilitas masih hidup dalam stigma masyarakat yang memandang mereka lemah dan selalu bergantung. Padahal, yang mereka butuhkan bukan rasa iba, melainkan kesempatan yang setara.
Salah satu pesan pentingnya yaitu bahwa perempuan disabilitas tidak perlu disamakan dengan standar lama untuk dianggap “cukup”. Mereka sudah cukup, hanya dunia yang perlu belajar melihat dengan cara yang lebih adil.
Pada akhirnya, film ini menunjukkan bahwa perempuan disabilitas tidak membutuhkan belas kasihan untuk bertahan hidup. Mereka membutuhkan ruang yang adil untuk tumbuh. Karena di balik tubuh yang dianggap “berbeda”, ada manusia yang tetap memiliki harapan, kemampuan, dan mimpi yang bercahaya sama besarnya dengan siapa pun. []










































