“Then I realize what it is… there’s a man.”
Mubadalah.id – Penggunaan alimat itu belakangan ramai di TikTok. Audio dalam tren ini berasal dari film Mulholland Drive (2001). Dalam adegan bernuansa mimpi buruk tersebut, seorang tokoh menceritakan ketakutannya terhadap sosok misterius yang ia lihat dalam mimpinya. Meski konteks aslinya tidak berkaitan dengan isu gender, potongan dialog itu kemudian memperoleh makna baru ketika pengguna TikTok gunakan untuk menyoroti berbagai bentuk bias dan standar ganda dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu video memperlihatkan seorang ayah yang memasak atau mengasuh anak. Lalu mendapat pujian sebagai sosok yang penyayang dan bertanggung jawab. Di video lain, seorang ibu melakukan pekerjaan yang sama, tetapi menganggapnya sekadar menjalankan kewajiban. Ada pula video yang menunjukkan laki-laki menerima pujian, karena mampu mengurus rumah. Sementara perempuan yang melakukan hal serupa menganggapnya sedang memenuhi peran yang memang melekat padanya. Di awal video, terdengar kalimat, “Then I realize what it is… there’s a man.”
Kalimat tersebut bukan dimaksudkan untuk menunjuk laki-laki sebagai penyebab setiap persoalan. Frasa itu menjadi cara untuk mengajak penonton menyadari bahwa di balik suatu penilaian, ekspektasi, atau kebiasaan sosial, sering kali terdapat cara pandang yang lebih menguntungkan laki-laki. Artinya, menjadikan pengalaman mereka sebagai ukuran utama. Karena itu, tren ini banyak digunakan untuk membicarakan standar ganda, bias gender, dan dalam beberapa konteks, misogini yang masih kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.
Media sosial memang terpenuhi tren yang datang dan pergi. Namun, sesekali sebuah tren mampu membuka ruang refleksi yang lebih luas. “There’s a Man” adalah salah satunya. Ia mengajak kita mempertanyakan hal-hal yang selama ini kita terima sebagai sesuatu yang wajar.
Ketika Standar Ganda Menjadi Kebiasaan
Banyak orang mungkin pernah mendengar komentar seperti, “Suaminya hebat ya, mau menjaga anak.” Kalimat itu terdengar positif, dan memang tidak ada yang salah dengan mengapresiasi ayah yang terlibat dalam pengasuhan. Namun, mengapa pujian serupa jarang kita berikan kepada ibu yang setiap hari melakukan pekerjaan yang sama?
Fenomena inilah yang banyak tersoroti dalam tren “There’s a Man”. Tindakan yang sama memperoleh penilaian yang berbeda karena ekspektasi terhadap laki-laki dan perempuan tidak terbangun dengan ukuran yang sama.
Ketika laki-laki melakukan pekerjaan domestik, ia sering kita anggap melampaui perannya. Sebaliknya, ketika perempuan melakukannya, masyarakat menganggap hal tersebut sebagai kewajiban. Standar ganda semacam ini tidak selalu tampak sebagai bentuk diskriminasi yang terang-terangan. Justru karena terus berulang dalam kehidupan sehari-hari, ia perlahan kita anggap sebagai sesuatu yang normal.
Ketika Pengalaman Laki-Laki Menjadi Ukuran
Fenomena yang ramai di media sosial sebenarnya memiliki kaitan dengan pembahasan yang lebih luas. Caroline Criado Perez, dalam bukunya Invisible Women: Data Bias in a World Designed for Men, menjelaskan adanya gender data gap. Yaitu kondisi ketika data, penelitian, maupun proses pengambilan keputusan lebih banyak menggunakan laki-laki sebagai acuan. Akibatnya, berbagai produk, kebijakan, hingga layanan publik tampak netral. Padahal belum tentu sepenuhnya mengakomodasi pengalaman perempuan.
Meskipun tidak semua video dalam tren “There’s a Man” membahas persoalan tersebut, benang merahnya serupa. Banyak hal yang kita anggap sebagai standar ternyata terbentuk oleh pengalaman kelompok tertentu. Lalu menerapkannya seolah-olah mewakili semua orang. Ketika pengalaman perempuan kurang terperhitungkan, lahirlah berbagai bentuk bias yang sering kali tidak tersadari.
Kesadaran inilah yang membuat tren tersebut mendapat banyak perhatian. Ia membantu banyak orang menemukan cara untuk menjelaskan pengalaman yang selama ini terasa janggal, tetapi sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Belajar Melihat dari Sudut Pandang yang Berbeda
Dalam perspektif Islam, laki-laki dan perempuan sama-sama dimuliakan sebagai manusia dan dipanggil untuk saling bekerja sama dalam mewujudkan kebaikan. Relasi keduanya dibangun atas dasar saling menolong, bukan saling mendominasi. Semangat inilah yang juga menjadi dasar perspektif mubadalah, yaitu melihat pengalaman dan kebutuhan kedua belah pihak sebagai sesuatu yang sama-sama penting untuk kita pertimbangkan.
Tren “There’s a Man” tidak perlu dipahami sebagai ajakan untuk mempertentangkan laki-laki dan perempuan. Yang lebih penting adalah menjadikannya sebagai pengingat bahwa cara kita menilai seseorang sering kali terpengaruhi oleh kebiasaan yang telah lama hidup dalam masyarakat. Ketika kebiasaan itu melahirkan standar yang tidak adil, sudah semestinya kita kaji kembali.
Keadilan tidak hanya lahir dari perubahan aturan, tetapi juga dari keberanian mempertanyakan cara pandang yang selama ini dianggap biasa. Jika sebuah tren media sosial mampu mendorong lahirnya kesadaran semacam itu, maka ia telah menghadirkan lebih dari sekadar hiburan. Ia menjadi ruang refleksi untuk membangun relasi yang lebih setara dan saling menghargai. []











































