Selasa, 10 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kekerasan di Tempat Kerja

    Perempuan Dibayangi Kekerasan di Tempat Kerja

    Bertetangga

    Di Era Digital, Apakah Bertetangga Masih Perlu Etika?

    Surat Mahasiswa

    Surat Mahasiswa ke UNICEF: Mengapa Tragedi Ini Tidak Boleh Dianggap Insiden?

    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kehormatan

    Fungsi Pernikahan dalam Menjaga Kehormatan Manusia

    Pakaian Istri

    Makna Pakaian dalam Relasi Suami Istri Menurut Al-Qur’an

    Penyapihan Anak

    Al-Qur’an Tekankan Musyawarah dalam Keputusan Penyapihan Anak

    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kekerasan di Tempat Kerja

    Perempuan Dibayangi Kekerasan di Tempat Kerja

    Bertetangga

    Di Era Digital, Apakah Bertetangga Masih Perlu Etika?

    Surat Mahasiswa

    Surat Mahasiswa ke UNICEF: Mengapa Tragedi Ini Tidak Boleh Dianggap Insiden?

    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kehormatan

    Fungsi Pernikahan dalam Menjaga Kehormatan Manusia

    Pakaian Istri

    Makna Pakaian dalam Relasi Suami Istri Menurut Al-Qur’an

    Penyapihan Anak

    Al-Qur’an Tekankan Musyawarah dalam Keputusan Penyapihan Anak

    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Rujukan Metodologi

Perspektif Mubadalah dalam Kaidah Fiqh Isu Keluarga

Faqih Abdul Kodir by Faqih Abdul Kodir
7 Desember 2022
in Metodologi, Rekomendasi, Rujukan
A A
0
Relasi Laki-laki dan Perempuan

Relasi Laki-laki dan Perempuan

45
SHARES
2.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam bab terakhir bukuku “Qira’ah Mubadalah” (2019), aku jelaskan bahwa paradigma Mubadalah (relasi kesalingan antara laki-laki dan perempuan) ini masih pada langkah sangat awal. Ia memerlukan berbagai upaya akademik untuk menguatkan konsep dan metodologinya (tanzhir), maupun kerja-kerja konseptualisasinya pada kerangka pemikiran fiqh (taq’id) misalnya, atau implementasinya (tafri’) pada contoh-cotoh kasus hukum maupun yang lain. Di antara upaya lanjutannya adalah konseptualisasi kembali (i’adah at-tanzhir) kaidah-kaidah fiqh yang sudah ada dan mengaktualisasikannya (i’adah at-tafri’) pada isu-isu hukum keluarga saat ini, misalnya, dengan perspektif mubadalah.

Kita bisa berangkat dari khazanah agung fiqh mengenai kaidah induk yang dicetuskan Imam Izzuddin bin Abdussalam (w. 660 H/1262 M), seoang ulama fiqh yang zahid, tokoh besar Mazhab Syafi’i. Yaitu pernyataannya bahwa inti dari hukum Islam itu “mewujudkan segala kebaikan dan menolak segala keburukan (jalb al-mashalih wa dar’ al-mafasid)”. Pernyataan ini dijelaskan secara sistematis dalam magnum opusnya “Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al-Anam” (Kaidah-kaidah hukum Islam mengenai kemaslahatan manusia). Pernyataan fundamental ini, oleh berbagai ulama, dijadikan induk bagi semua kaidah-kaidah fiqh.

Fiqh sendiri, yang sering diterjemahkan sebagai hukum Islam, adalah pemahaman (ijtihād) parsial untuk kasus per-kasus hukum Islam, yang terkadang sangat spesifik (al-juz’iyyah). Tetapi kasus-kasus fiqh ini bisa ditarik ke dalam sebuah kesimpulan hukum (al-qawā’id al-kulliyah) yang bisa dirujuk oleh sejumlah kasus parsial dari berbagai bab yang berbeda dalam persoalan fiqh. Di dalam kajian fiqh, ini disebut sebagai kaidah fiqh. Kaidah ini, sedikit banyak bisa disebut sebagai prinsip-prinsip dasar yang memudahkan pemahaman lebih luas dan detail dalam persoalan hukum fiqh. Kaidah-kaidah fiqh ini biasa disebut sebagai formulasi dasar hukum Islam, atau legal maxims of Islamic law.

Lima kaidah utama (qawa’id al-khams al-asas) dalam fiqh adalah: (1) kaidah `al-umuru bi-maqashidiha‘ (bahwa segala sesuatu itu didasarkan pada); (2) kaidah al-yaqin la yuzal bi asy-syakk (bahwa sesuatu yang sudah bisa dipastikan, tidak bisa dianulir oleh sesuatu yang masih diragukan); (3) kaidah al-masyaqqah tajlib at-taysir (kondisi sulit menuntut adanya kemudahan); (4) kaidah adh-dharar yuzal (setiap kerusakan harus diketepikan); (5) al-`adah muhakkamah (bahwa adat kebiasaan masyarakat bisa dijadikan dasar hukum di antara mereka). Lima kaidah ini merupakan turunan dan bisa dirujukkan pada kaidah induk di atas, jalb al-mashalih wa dar’ al-mafasid.

Kaidah induk dan lima kaidah dasar dalam fiqh, termasuk sebagai kaidah fiqh isu keluarga, saat ini, perlu dikonseptualisasikan kembali (i’adah at-taq’id) dan diaktualiasikan (i’adah at-tafri’) dengan memasukkan pengalaman biologis dan sosiologis perempuan yang dinarasikan Nur Rofi’ah dalam konsepnya mengenai Keadilan Gender Islam (KGI) sehingga menjadi relevan dalam menggulirkan kaidah fiqh isu keluarga. Dengan upaya integrasi pengalaman perempuan ini, diharapkan norma atau hukum yang keluar dari kaidah-kaidah ini akan benar-benar memperkuat peluang perempuan untuk secara nyata memperoleh kemaslahatan hidup (jalb al-mashalih) dan terhindar dari keburukannya (dar’ al-mafasid).

Penerapan Mubadalah dalam Kaidah Fiqh Isu Keluarga

Perempuan yang mengalami menstruasi, misalnya, bagaimana norma dan hukum yang dinarasikan adalah bukan yang membuatnya malah semakin sakit, terkucil, disalahkan, sehingga mereka tidak memperoleh asupan energi yang cukup atau fasilitas yang memadai. Semua kondisi ini adalah keburukan yang harus diupayakan segala sistem syari’ah Islam yang berinduk pada kaidah “dar’ al-mafasid” untuk dihapuskan dalam kehidupan nyata perempuan. Sebaliknya, narasi norma dan hukum Islam justru harus mendukung pemenuhan perempuan yang menstruasi ini agar terlindungi dari kesakitan dan kekerasan, dapat memperoleh asupan energi yang prima dan fasilitas yang berkualitas, bisa mengakses kebaikan-kebaikan publik secara bermartabat, dan dapat mendekatkan diri, dengan amal yang dibenarkan, kepada Allah Swt tanpa stigma kotor dan memalukan. Semua kondisi baik ini adalah kemaslahatan yang harus didorong terpenuhi bagi perempuan oleh segala sistem syari’ah Islam yang berinduk pada kaidah “jalb al-mashalih”.

Begitupun perempuan yang mengalami kehamilan, yang disebut al-Qur’an sebagai kondisi “sangat lemah” (wahnan ‘ala wahnin, QS. Luqman, 31: 14) dan “sangat tidak nyaman” (kurhan, QS. Al-Ahqaf, 46: 15), harus didukung sistem norma dan hukum Islam saat ini, agar mereka dapat melakukan peran ini dengan perlindungan penuh secara spiritual, material, dan sosial. Semua dukungan dan perlindungan ini adalah aktualitasi kongkrit dari kaidah induk “jalb al-mashalih wa dar’ al-mafasid” dan kaidah dasar “adh-dharar yuzal”. Hal yang sama juga dengan pengalaman perempuan melahirkan, nifas, dan menyusui. Dalam konteks hukum keluarga Islam, norma-norma ini bisa dimasukkan dalam penjelasan mengenai pembagian peran yang fleksibel dalam kehidupa rumah tangga antara suami dan istri.

Kaidah induk ini juga bisa di-tanzhir, taq’id, dan tafri’ kembali untuk mengkonstruksi relasi pasangan suami istri yang lebih mencerminkan kemaslahatan kedua belah pihak, dengan relasi kesalingan, sinergi dan kerjasama. Definisi pernikahan, misalnya, harus diformulasikan kembali yang lebih merepresentasikan tujuan kemaslahatan bersama, suami dan istri. Misalnya, pernikahan adalah ikatan antara laki-laki (calon suami) dan perempuan (calon istri) untuk hidup bersama berumah tangga dalam relasi yang saling menopang, menguatkan, dan melengkapi satu sama lain. Definisi ini diperlukan agar kaidah induk jalb al-mashalih wa dar’ al-mafasih benar-benar dapat diimplementasikan pasutri dan kemudian dirasakan bersama, terutama oleh perempuan, dari pernikahan yang dijalankanya.

Kaidah “al-umur bi maqashidiha (segala sesuatu didasarkan pada tujuan-tujuannya)” juga bisa dikonseptualisasikan kembali untuk mengkonstruksi pilar-pilar pernikahan atau rumah tangga yang harus selalu dijaga dan diimplementasikan oleh pasangan suami istri. Setidaknya, ada lima pilar relasi pernikahan yang disebutkan al-Qur’an; (1) ikatan kokoh (mitsaqan ghalizan, QS. An-Nisa, 4: 21) yang harus dijaga bersama; (2) semangat berpasangan (zawaj atau hunna libasun lakkum wa antum libasun lahunn, QS. Al-Baqarah, 2: 187); (3) saling berbuat baik (mu’asyarah bi al-ma’ruf, QS. An-Nisa, 4: 19); (4) saling bermusyawarah (tasyawurin, QS. Al-Baqarah, 2: 233); dan (5) saling rela satu sama lain (taradhin, QS. Al-Baqarah, 2: 233).

Ketika kita memastikan kelima pilar al-Qur’an ini hadir nyata dalam norma-norma hukum Islam, terutama dalam narasi-narasi ajaran keagamaan, terkait seluruh fase kehidupan pernikahan, sesungguhnya kita sedang mengaktualisasikan kaidah dasar “al-umur bi maqashidiha”. Yaitu, bahwa segala aspek kehidupan berumah tangga, terutama relasi pasangan suami istri, harus didasarkan pada tujuan dasarnya. Tujuan ini sudah terekam dalam dan akan terlindungi melalui kelima pilar pasutri yang digariskan al-Qur’an di atas. Melalui kelima pilar ini, tujuan-tujuan pernikahasen (maqashid an-nikah) yang disebutkan al-Qur’an (sakinah, mawaddah, rahmah, QS. Ar-Rum, 30: 21) akan mudah terpenuhi bagi kedua belah pihak, laki-lak dan perempuan.

Dengan cara demikian, kita bisa mengkonseptualisasikan kembali (i’adah at-tanzhir) semua kaidah-kaidah fiqh yang telah dirumuskan para ulama fiqh, mulai dari kaidah induk (qa’idah al-umm), lima kaidah dasar (qawa’id al-khams al-asas), kaidah-kaidah umum (al-qawa’id al-‘ammah), maupun kaidah-kaidah khusus yang sering disebut sebagai adh-dhawabith al-fiqhiyah. Bisa juga, kita melahirkan kaidah-kaidah baru yang lebih responsif terhadap pengalaman dan pengetahuan perempuan. Yang pasti, kita bisa mengaktualisasikannya pada norma-norma hukum yang lebih mubadalah, sehingga relasi yang terbangun antara laki-laki dan perempun, dalam kehidupan berkeluarga, lebih sinergis dan kerjasama.

Melalui usaha-usaha konseptualisasi dan aktualisasi ini, yang bisa disebut sebagai “mainstreaming mubadalah”, harapan memiliki keluarga yang relasinya sehat, kuat, dan tangguh, serta bahagia dan membahagiakan akan lebih mudah tercapai. Dengan usaha ini secara serisu, masing-masing anggota keluarga akan lebih mudah terkondisikan menjadi individu yang baik (salih dan salihah) satu sama lain, sehingga akan terbangun generasi yang baik dan sejahtera (dzurriyah thayyibah), umat terbaik (khairu ummah) dan bangsa baik sejahtera yang diridhoi Allah Swt (baldah thayyibah wa rabbun ghafur). Amin ya rabbal ‘alamin. []

Tags: fiqh mubadalahhukum keluarga Islamkaidah fiqhkaidah induklima kaidah dasarMetodologi MubadalahQira'ah Mubadalah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Meneladani Kisah “Suharti”

Next Post

Perempuan dan Misteri Pernikahan

Faqih Abdul Kodir

Faqih Abdul Kodir

Founder Mubadalah.id dan Ketua LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Related Posts

Poligami Siri
Keluarga

KUHP Baru: Poligami Siri Rentan Menjerat Perempuan

26 Januari 2026
Ketaatan Istri pada Suami
Keluarga

Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami

20 Januari 2026
Akad Nikah
Kolom

Tadarus Subuh ke 170: Menuju Akad Nikah yang Efektif

24 November 2025
Nikah Sirri
Publik

Sudahi Nikah Sirri

21 November 2025
Itsbat Nikah
Keluarga

Tadarus Subuh: Kelindan Itsbat Nikah, Antara Kemaslahatan dan Kerentanan

11 November 2025
Pesta Pernikahan
Publik

Tadarus Subuh: Merayakan Pesta Pernikahan Tanpa Membebani

8 November 2025
Next Post
Mengapa Rumi Memilih Monogami?

Perempuan dan Misteri Pernikahan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Perempuan Dibayangi Kekerasan di Tempat Kerja
  • Fungsi Pernikahan dalam Menjaga Kehormatan Manusia
  • Satu Mawar, Empat Cinta: Transformasi Karakter Huang Yi Mei dalam Drama Cina “The Tale of Rose”
  • Makna Pakaian dalam Relasi Suami Istri Menurut Al-Qur’an
  • Di Era Digital, Apakah Bertetangga Masih Perlu Etika?

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0