Mubadalah.id – Fenomena yang tampak paradoks dalam kehidupan keluarga semakin mudah kita temukan hari ini. Di satu sisi, orang tua mencintai anak-anaknya. Namun di sisi lain, konflik dalam keluarga justru terus terjadi dan terkadang terpelihara tanpa kita sadari. Kehadiran media sosial membuat berbagai persoalan keluarga yang dahulu hanya menjadi urusan privat kini tersebar luas dan menjadi konsumsi publik.
Kita sering mendengar kisah pertikaian warisan yang berujung pada putusnya hubungan saudara, kecemburuan antarsaudara yang tak kunjung selesai, hingga konflik berkepanjangan mengenai aset keluarga. Tidak hanya itu, kerenggangan hubungan antara anak dan orang tua juga semakin mudah kita temukan. Fenomena ini seolah terus berulang dari generasi ke generasi, sementara jalan keluarnya tidak selalu mudah kita temukan.
Padahal, persoalan semacam ini bukanlah masalah baru. Jauh sebelum era media sosial, bahkan lebih dari seribu tahun yang lalu, Imam Asy-Syafi’i telah menyinggung salah satu akar persoalan yang sering muncul dalam hubungan keluarga, yaitu kecenderungan orang tua untuk mengistimewakan sebagian anak daripada anak yang lain.
Dalam kitab Ikhtilaf al-Hadits halaman 117, beliau mengutip hadis dari Nu’man bin Basyir. Salah satu penggalan hadis tersebut berbunyi:
قال الشافعي: وقد سمعت في هذا الحديث أن رسول الله قال: «أليس يسرك أن يكونوا في البر إليك سواء» قال: بلى، قال: «فأرجعه».
Kisahnya bermula ketika Rasulullah ﷺ menegur seorang ayah yang memberikan hadiah khusus kepada salah satu anaknya. Menariknya, Nabi tidak langsung mempermasalahkan nilai atau bentuk hadiah tersebut. Beliau justru mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, “Apakah engkau senang jika mereka semua berbakti kepadamu secara sama?”
Memperlakukan Anak Secara Berbeda
Menurut saya, pertanyaan Nabi ini mengandung filosofi sosial yang sangat mendalam. Hampir semua orang tua menginginkan seluruh anaknya menghormati, menyayangi, dan membantu mereka dengan kadar yang sama. Namun pada saat yang bersamaan, tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar memperlakukan anak-anak mereka secara berbeda.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai pola semacam ini. Ada anak yang selalu dibela meskipun jelas melakukan kesalahan. Lalu ada yang selalu terpercaya meskipun belum menunjukkan tanggung jawab yang memadai. Ada pula yang memperoleh perhatian khusus daripada saudara-saudaranya, entah karena kedekatan emosional, faktor ekonomi, atau alasan lain yang terkadang sulit terjelaskan. Sementara hanya meminta anak yang lain untuk memahami keadaan dan mengalah.
Fenomena ini mengingatkan kita pada berbagai cerita yang viral di media sosial. Salah satunya tentang anak perempuan sulung yang menangis karena selama bertahun-tahun menjadi tempat bertumpunya beban seluruh keluarga. Ada tuntutan terhadapnnya untuk kuat, mengerti, berkorban, dan menanggung banyak hal. Sementara kebutuhan emosionalnya sendiri sering kali tidak mendapat ruang yang cukup untuk terdengar.
Imam Asy-Syafi’i menjelaskan bahwa hati manusia pada dasarnya tercipta dengan kecenderungan untuk merasa berat ketika diperlakukan secara tidak setara. Dampaknya tidak selalu berkaitan dengan harta atau materi. Ketidakadilan dalam perhatian, penghargaan, dan kasih sayang dapat perlahan mengurangi rasa hormat, kedekatan emosional, bahkan bakti seorang anak kepada orang tuanya. Dan tentu saja, ini merupakan sesuatu yang sangat kita sayangkan. Tidak ada keadilan kepada anak.
Konflik Keluarga Bukan Selalu Karena Uang
Banyak orang beranggapan bahwa konflik keluarga muncul karena uang. Menurut saya, uang sering kali hanya menjadi pemicu yang tampak di permukaan. Akar masalah yang sebenarnya kerap berasal dari akumulasi perasaan yang tidak pernah terselesaikan selama bertahun-tahun. Perasaan tidak dianggap, tidak terdengar, tidak dipercaya, tidak mendapat ruang untuk menentukan pilihan hidup sendiri, atau merasa selalu dibanding-bandingkan dengan saudara yang lain. Luka-luka semacam ini mungkin tidak terlihat, tetapi dapat tersimpan lama dalam ingatan seseorang.
Tentu saja, dalam realitas kehidupan, ada kondisi tertentu yang membuat orang tua perlu mempraktikkan keadilan kepada anak. Yakni dengan memberikan dukungan lebih kepada salah satu anaknya. Misalnya karena kebutuhan pendidikan yang lebih besar, kondisi kesehatan tertentu, keterbatasan ekonomi, atau kesulitan hidup yang sedang dihadapi. Tidak semua anak berada dalam situasi yang sama, sehingga perlakuan yang identik tidak selalu berarti adil.
Namun demikian, di luar perbedaan kebutuhan tersebut, rasa dihargai dan dicintai seharusnya tetap kita berikan secara setara. Sebab hubungan darah memiliki sifat saling cemburu yang sangat manusiawi. Anak mungkin dapat memahami mengapa saudaranya mendapatkan bantuan lebih besar dalam kondisi tertentu. Akan tetapi, mereka tetap membutuhkan keyakinan bahwa kasih sayang dan penghargaan orang tua tidak terbagi secara timpang.
Keadilan dalam Keluarga
Di era media sosial, ketidakadilan dalam keluarga tidak lagi tersembunyi di balik dinding rumah. Kini anak-anak memiliki ruang untuk bercerita dan menyampaikan pengalaman mereka kepada publik. Ketika satu anak terus-menerus menerima pujian tanpa memperhatikan pencapaian saudaranya yang lain, atau ketika fasilitas yang diberikan sangat berbeda tanpa penjelasan yang memadai, orang tua tidak bisa begitu saja mengatakan, “Kamu harus mengerti.”
Keadilan kepada anak di dalam keluarga bukan berarti semua anak harus menerima hal yang identik. Keadilan berarti setiap anak merasakan bahwa diri anak dihargai, terdengar, diperhatikan, dan dicintai. Sebab tidak sedikit keluarga yang retak bukan karena kekurangan cinta, tetapi karena cinta dan perhatian terbagikan secara tidak adil.
Barangkali itulah mengapa Rasulullah ﷺ tidak bertanya, “Berapa nilai hadiah yang kau berikan?” Beliau justru bertanya, “Apakah engkau ingin mereka berbakti kepadamu secara sama?”
Sebab sebelum mengharapkan bakti yang setara dari anak-anak, terlebih dahulu menuntut orangtua untuk menghadirkan rasa keadilan yang setara di dalam rumahnya. []











































